Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
46_Rasa Yang Tak Bisa Di Cegah


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


Seperti biasa, Tian membawakan makanan untuk Aisyah. Ia berniat meminta maaf pada Aisyah atas kejujurannya kemarin. Dengan langkah ragu, ia menghampiri meja Aisyah. Tampak Aisyah sudah berkutat dengan lembaran file di tangan meski waktu kerja belum dimulai. Karena ruangan kantor yang masih terlihat sepi, Tian memberanikan diri untuk membahas masalah kemarin.


Tidak ada lagi senyum ramah yang Aisyah berikan untuknya, membuat hati Tian meringis ngilu. “Ais?” sapanya lirih.


Aisyah hanya mendongak sebentar, sebelum akhirnya kembali menekuri pekerjaannya. Tian menghela napas berat. Ia tahu semuanya tidak akan mudah sekarang. Namun, ia tidak akan berhenti mencoba. Hatinya sudah terpaut dengan wanita lugu ini. Maka dari itu, ia akan berusaha keras untuk meluluhkan hati Aisyah walau ia tahu jalannya tak mudah.


“Ais?” panggilnya kembali, tetapi tidak mendapat respons apa pun. “aku bawakan sarapan buat kamu. Dimakan, ya!” Tian meletakkan bok nasi di meja Aisyah, bersiap melangkah pergi. Mungkin, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kembali perasaannya.


“Saya sudah sarapan. Silakan berikan pada yang lain saja,” jawab Aisyah dengan nada dingin. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Tian.


Tian menatap lekat wajah manis di depannya. Langkah yang ingin ia ayunkan pun menjadi urung. Tanpa banyak bicara, Tian mengambil sebuah kursi lalu duduk di depan meja Aisyah.


“Kita harus bicara, Ais.”


Aisyah diam. Ia masih sibuk membolak-balik kertas di tangan, meski sesungguhnya tidak ada hal yang mesti ia kerjakan dari laporan produksi itu. Aisyah memilih abai dan berdoa dalam hati semoga Tian segera pergi dari hadapannya.


“Ais aku tahu kamu sedang tidak melakukan apa pun. Please dengerin aku.” Tian memelas, “aku tahu perasaanku ke kamu adalah sebuah kesalahan, tapi rasa itu datang dengan sendirinya, Ais. Kamu nggak bisa nyalahin aku atas sesuatu yang berada di luar kendaliku.”


Aisyah masih terdiam. Diam-diam ia mendengarkan setiap kata yang Tian ucapkan. Ia hanya berpura-pura membolak-balik kertas itu.


“Ais, kamu tahu, kan, kalau rumah tanggaku sudah tidak harmonis. Dan aku juga sudah tidak menemukan kembali cinta untuk istriku di dasar hatiku. Justru rasa cinta itu aku rasakan buat kamu. Aku mohon jangan hindari aku, Ais.” Tian menghela napas berat, “kamu adalah penyemangatku, Ais. Aku nggak tahu gimana jadinya aku tanpa kamu.”


Aisyah menutup lembaran file-nya. Dengan berat hati ia memberikan atensi pada Tian. Bagaimanapun masalah ini harus segera selesai karena berada dalam satu tim. Ia tidak mau merasa canggung saat membahas pekerjaan bersama Tian. Bagi Aisyah lebih cepat selesai lebih baik.

__ADS_1


Aisyah menghela napas dalam sebelum mulai berbicara. Ia pandang wajah tampan yang ada di depannya. Tian terlihat begitu menarik. Akan sangat mudah baginya dicintai banyak wanita. Apalagi ia adalah sosok yang humble.


“Begini Pak Tian. Sebelumnya terima kasih atas perhatian Bapak selama ini pada saya dan anak saya.” Aisyah kembali menghela napas dengan dalam.


“mungkin benar, Bapak tidak bisa mencegah rasa itu datang, tetapi mengingat posisi kita berdua yang masing-masing sudah memiliki pasangan, harusnya Bapak lebih bisa mengontrol perasaan Bapak pada saya. Bukan malah memupuknya dengan memberikan perhatian pada saya. Usia kita sudah tidak lagi muda, Pak. Harusnya kita punya kontrol diri yang baik.”


Aisyah mencoba memilih kata yang tepat agar tidak melukai perasaan Tian, sedangkan Tian tidak ada keinginan untuk menyela. Ia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari bibir Aisyah.


“masalah yang ada dalam rumah tangga Bapak, tidak bisa dijadikan alasan untuk berpaling ke hati yang lain. Bapak adalah pemimpin dalam rumah tangga Bapak. Tidak seharusnya Bapak lari dari masalah dengan mengejar cinta yang lain sedangkan masalah di dalam rumah Bapak belum terselesaikan, itu hanya akan menambah masalah.”


Lagi-lagi Aisyah menghela napas untuk mengisi paru-parunya yang mulai terasa sesak. Ia berkata seperti itu, bukan hanya untuk menasihati Tian, tetapi juga untuk mengingatkan dirinya sendiri mengingat masalah yang ada dalam rumah tangganya sendiri.


“Dan saya yakin, perasaan Bapak buat saya itu hanya perasaan semu. Di mana saya ada di saat Bapak sedang  membutuhkan orang untuk menjadi support system bagi Bapak. Saya akan tetap menjadi teman Bapak, asal bapak menyadari dengan sungguh jika perasaan itu adalah sebuah kesalahan. Apa Bapak bisa?”


Tian menatap lekat wajah Aisyah. Ia ikut menghela napas. Ia sangat sadar jika ini semua salah. Aisyah bukanlah gadis lajang yang bisa dicintai sembarangan.


“Kamu tidak bisa menyuruhku untuk berhenti mencintai kamu, Ais, karena aku sendiri tidak bisa mengontrol perasaanku. Dan aku yakin perasaan aku untuk kamu bukan perasaan semu semata. Aku yang merasakannya Ais. Aku mencintai kamu meski rasa ini terlarang untuk aku miliki.”


Tian berlalu begitu saja meninggalkan Ais. Tekadnya sudah bulat untuk mempertahankan cintanya. Ia pasrahkan perasaannya pada sang pemilik rasa.


Aisyah menghela napas lelah. Ia memijit pelipisnya yang terasa sakit. Sekarang ia harus bagaimana. Tian begitu keras kepala.


Hari itu, suasana di kantor terasa begitu canggung. Aisyah memutuskan untuk mengecek barang yang digunakan untuk produksi selanjutnya daripada harus kikuk di depan Tian.


...**********...


Jiwa dan raganya terasa begitu lelah. Usai membersihkan diri, ia bergegas mengambil putrinya dari sang ibu mertua. Bagi Aisyah, putrinya adalah pelipur lara yang menentramkan jiwa.

__ADS_1


Baru saja ia bermain di kamar dengan Zahra, Bayu ikut masuk ke dalam kamar. Setelah menimang baik buruknya Aisyah memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi pada Bayu.


“Aku harus gimana, Mas?” tanya Aisyah setelah menceritakan semuanya.


“Ya, sudah, biarkan saja. Memangnya kamu mau apa?” Bayu terlihat menanggapi seadanya.


“Kamu nggak ada perasaan gimana-gimana gitu, Mas?” Aisyah memberikan perhatian penuh pada Bayu yang tengah asyik bermain ponsel.


“Memangnya aku harus ngerasa kayak giman?” Bayu melirik sekilas ke arah Aisyah.


“Kamu nggak cemburu atau marah gitu, Mas?”


“Ngapain aku harus cemburu dan marah? Sudah, aku percaya, kok, sama kamu. Yang penting itu saling percaya, Dek,” tutur Bayu.


“Sebenarnya kamu cinta sama aku nggak, sih, Mas? Kamu anggap aku ini apa? Aku tahu saling percaya itu penting, tapi adanya rasa cemburu dalam rumah tangga juga tak kalah penting. Kalau seperti ini, rasa-rasanya seperti kamu udah nggak cinta sama aku. Atau mungkin memang cinta itu nggak pernah ada di hati kamu, Mas?”


Kalimat panjang lebar itu hanya ada dalam pikiran Aisyah. Sesak itu kembali menghantam dadanya, hingga butiran bening tiba-tiba saja menetes dari sudut mata. Melihat Zahra yang sudah terlelap dalam dekapannya, ia memilih untuk ikut membaringkan tubuhnya membelakangi Bayu. Diam-diam air mata itu kian merembas semakin deras.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2