Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
75_Kembalilah Padaku, Tian!


__ADS_3

...Selamat membaca...


...***************...


"Tian!"


Suara tak asing itu membuat Tian menoleh. Dilihatnya Ajeng berada di belakangnya hanya berjarak dua orang anak remaja.


"Totalnya seratus tiga puluh lima ribu, Kak." Belum sempat Tian menyapa, suara kasir di depannya membuat Tian kembali fokus pada urusannya kali ini.


"Baik, Mbak. cash, ya."


Setelah selesai dengan urusannya, Tian segera pergi.


"Ajeng? Sama siapa?" sapanya berbasa-basi. Lelaki itu merasa tidak enak jika pergi begitu saja. Padahal sejatinya ia enggan untuk menanggapi Ajeng.


"Sendirian. Ada waktu? Bisa kita bicara sebentar?" tanya Ajeng.


"Maaf, aku shift siang. Ini mau berangkat. Waktunya juga mepet. Mungkin lain kali jika kita bertemu di saat waktu senggang. Aku pergi dulu, ya."


Tian berlalu begitu saja tanpa berkeinginan menunggu jawaban Ajeng. Sedangkan Ajeng hanya menatap nanar kepergian mantan suaminya. Wanita itu sungguh menyesal mengapa dulu mengabaikan lelaki sebaik dan setulus Tian.


Bahkan hingga detik ini, Tian tidak mengungkit rumah yang pernah mereka tinggali bersama. Ajeng belum bisa menepati janjinya untuk memberikan harta gono-gini sebab tabungannya sudah habis untuk patungan membeli rumah barunya bersama Sardi.


Sebenarnya Ajeng malu, ia ingin menjelaskan masalah ini dengan mantan suaminya. Akan tetapi, sepertinya waktu belum mengizinkan untuknya membicarakan hal itu lebih lanjut.


...**********...


Begitu tiba di kantor, Tian membagikan kopi dingin yang ia beli di minimarket tadi kepada rekan-rekan satu ruangannya. Tidak terkecuali Aisyah. Tian melakukan hal itu semata hanya karena ia merasa tidak enak dengan wanita itu.


Tian merasa, akhir-akhir ini Aisyah mulai membentengi dirinya lagi, dan Tian tidak ingin hal itu terjadi. Oleh sebab itu, kali ini Tian membagikan minuman itu kepada semua penghuni tim produksi agar Aisyah merasa ia tidak diistimewakan oleh Septian.


"Wuih, tumben-tumbenan kamu tahu aku lagi butuh ini, Ian!" seru Witri dengan mata berbinar.


Beberapa hari ini cuaca di kota itu tidak menentu. Dampak dari Siklon Herman membuat cuaca terasa begitu panas di beberapa wilayah di Indonesia. Khususnya di pagi hingga siang hari. Termasuk di Surabaya. Namun begitu sore menjelang, cuaca akan berganti dengan hujan deras disertai angin kencang.


Mendengar celotehan Witri, Tian hanya tersenyum. "Bukan hanya kamu, Mbak, yang butuh didinginkan. Tapi aku juga yang lainnya. Iya 'kan Aish?"


Aisyah yang sedang menginput data menoleh ke arah Tian. "Benar, Pak."


Tian segera menuju ke tempatnya setelah selesai membagikan es kopi tersebut. Tidak menunggu lama untuk mereka mengosongkan cup tersebut. Sebab cuaca saat ini benar-benar sangat mendukung.


Selang beberapa saat, langit kota Surabaya mulai muram. Tampak mendung menggantung begitu tebalnya membuat Witri yang saat ini mendapat shift pagi segera bersiap-siap untuk pulang. Wanita itu bergegas meninggalkan ruangan sebelum hujan tiba.


"Aku duluan, ya. Takut kehujanan. Bye, semua!" serunya sambil berlari kecil.


Berbeda dengan Pak Seno yang saat ini akan lembur, lelaki paruh baya yang menjadi orang nomor satu di bagian produksi itu masih duduk tenang di ruangannya.

__ADS_1


...*************...


[Tian, besok Sabtu kamu ada waktu? Aku ingin membicarakan masalah rumah kita.]


Tian membaca setiap kaliman yang Ajeng kirimkan.


[Nggak usah dibicarakan lagi, Jeng. Rumah itu buat kamu,] balas Tian.


[Aku nggak mau seperti itu. Makanya aku ingin diskusi bagaimana baiknya. Tolong diusahakan, ya. Biar tidak ada lagi yang mengganjal di hati aku.]


[Baiklah, kita ketemu di mana?] tanya Tian.


[Besok aku kabarin tempatnya.]


Tian meletakkan ponsel di atas meja. Ia menghela napas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Tidak biasanya Ajeng seperti ini. Pasti ada sesuatu," tebaknya dalam hati.


Tian mengingat kejadian tadi di minimarket. Sebenarnya Tian terkejut melihat Ajeng yang tampak berbeda dengan Ajeng yang dulu. Wanita itu tampak lebih kurus. Wajahnya pun tidak secerah dulu. Seperti bukan Ajeng saja.


Selama Tian menjadi suaminya, Ajeng adalah orang yang sangat memedulikan penampilan. Ia ingin selalu tampak sempurna di mana pun ia berada. Namun, hal itu berbalik dengan Ajeng yang ia temui tadi siang. Hingga Tian yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan wanita itu.


"Pak Tian, Pak! Halo!" Tangan Aisyah melambai-lambai di depan wajah Tian yang menerawang.


Sudah lima menit Aisyah berdiri di depannya untuk meminta tanda tangan Tian. Akan tetapi, lelaki itu tidak menanggapi omongannya. Bahkan Aisyah terkesan mengoceh sendiri.


"Astaghfirullah, Aish! Kamu ngagetin aja," seru Tian ketika tangan Aishah melambai tepat di depan wajahnya.


"Ada apa?" tanya Tian. Tidak biasanya Aisyah mendatangi mejanya.


"Ini berkas yang harus Bapak cek sebelum ditandatangani. Silakan dipahami!" Aisyah meninggalkan berkas itu di atas meja Septian kemudian berlalu dari tempat itu.


Ternyata hujan deras yang baru saja turun membuat pikiran Tian lemah hingga ia tidak bisa fokus.


...***********...


Sabtu sekitar pukul sembilan, Ajeng sudah berada di sebuah kafe. Ia bisa pergi dengan bebas hari ini karena sang suami sedang dinas ke luar kota. Jika semua berjalan sesuai rencana, maka Sardi akan tiba kembali di Surabaya pada Minggu sore.


Beberapa saat kemudian, Tian datang dan menghampiri wanita itu. Ajeng tampak berbeda ketika mereka bertemu di minimarket. Kali ini wajah Ajeng lebih segar.


"Apa yang perlu kamu bicarakan?" Tian langsung membuka percakapan begitu ia duduk di hadapan Ajeng.


"Kamu tidak pesan minuman dulu? Bukankah waktu kita masih panjang? Kenapa harus buru-buru?" cerca Ajeng.


"Maaf, Jeng. Aku nggak bisa lama. Ada urusan lain yang harus aku lakukan."


Kali ini Ajeng tidak bisa memaksa. Sebab Tian yang ada di hadapan sekarang, bukanlah Tian yang dulu. Tian yang selalu menuruti semua keinginannya. Ajeng menghela napas dalam sebelum ia memulai berbicara.

__ADS_1


"Maafkan aku, Tian. Selama ini aku banyak salah. Bahkan untuk harga gono-gini, aku juga belum mampu mengembalikannya," lirihnya.


"Bukannya aku sudah bilang. Hal itu tidak perlu dimasalahkan. Aku ikhlas," ucap Tian dengan muka datar.


"Aku menyesal berpisah denganmu. Suamiku saat ini terlalu kasar dan curang. Bahkan tabungan aku habis untuk membeli rumah yang ternyata atas namanya." Ajeng menjeda kalimatnya. Dadanya begitu sesak mengingat perlakuan Sardi.


Sedangka Tian hanya diam, ia tidak mau menanggapi sebelum jelas apa yang diinginkan perempuan yang pernah menjadi istrinya itu.


"Bisakah kita kembali seperti dulu, Ian? Bisakah kita bersama lagi? Aku janji akan bercerai dari Sardi jika kamu bersedia menerimaku kembali." Ajeng menatap mata Tian penuh harap. Dari sorot matanya, ia terlihat benar-benar tertekan.


"Jadi itu yang kamu inginkan?"


Ajeng mengangguk menjawab pertanyaan Tian.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Apa sebenarnya arti pernikahan bagimu? Kenapa kamu berpikir semudah itu untuk mengakhiri sebuah ikatan yang suci? Masalahnya ada dalam dirimu. Seberapa besar rasa syukurmu atas pasanganmu. Kalau kamu selalu merasa kurang pada pasanganmu, maka selamanya kamu akan menderita."


"Tapi aku tersiksa, Ian. Dia kasar, bukan hanya batinku yang tersakiti. Tapi juga tubuhku," seru Ajeng.


"Maaf, itu sudah melebihi batasanku sebagai orang lain. Tidak seharusnya kamu mengatakan hal ini padaku. Selesaikan melalui jalur hukum jika memang itu maumu. Tapi ingat, jangan lagi libatkan aku dalam kehidupanmu. Aku sudah punya masa depan sendiri. Tidak mungkin aku akan kembali untuk luka yang pernah ada dalam hidupku."


Tian bangkit dari kursinya dan bergegas meninggalkan wanita itu. Waktu tiga puluh menitnya terbuang percuma. Ia tidak peduli teriakan Ajeng yang memanggil namanya. Baginya masa lalu adalah sebuah pelajaran agar tidak melakukan kesalahan di masa depan.


...************...


"Zahra sayang, bunda kangen banget!" seru Aisyah begitu ia membuka pagar rumah Agung.


Dilihatnya Zahra berada dalam pangkuan Agung di teras depan. Sedangkan Diana berada di sisi Agung setelah selesai menyuapi bocah itu.


"Dari sana jam berapa, Nduk? Kok jam segini sudah sampai sini?" tanya Agung menyambut putri sulungnya.


"Sekitar jam delapan, Pak. Tapi tadi bisnya lama. Trus Aish mampir pasar bentar buat beli bahan makanan untuk Zahra." Aisyah mencium punggung tangan ayahnya dan segera menggendong Zahra untuk ia bawa ke dalam.


"Mbak Aish ke sini sama siapa? Itu kenapa temannya nggak diajak masuk?" tanya Diana yang masih bergeming di depan pintu.


"Mbak sendirian, Di. Emang ada siapa?" Aisyah melongok keluar, mengedarkan pandangan ke setiap sudut yang terlihat dari rumahnya.


"Itu!" tunjuk Diana, "loh, kok, nggak ada? Tadi ada seseorang di situ melihat arah sini terus. Diana pikir dia temen mbak Aish."


"Ngaco kamu, Di!"


"Beneran, Mbak. Dia bukan mas Bayu, makanya Diana tanya ke Mbak Ais."


Aisyah pun termangu mendengar penuturan Diana. Wanita itu benar-benar tidak tahu.


...*************...


...To be continued...

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


__ADS_2