Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
73_Karma


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


Usai bercerai dengan Tian, Ajeng menikah kembali setelah masa iddahnya selesai dengan rekan satu kantornya yang kebetulan juga seorang manajer di sana. Sardi, pria yang sudah tiga bulan ini menjadi suami Ajeng memperlakukan perempuan itu dengan kasar. Bahkan cenderung semena-mena dan tidak mau dibantah sedikitpun.


Ajeng menjalani kehidupan rumah tangga barunya dengan perasaan tertekan dan selalu diintimidasi. Sikap manis Sardi di awal pendekatan tak semanis dengan sikapnya usai menikah. Ajeng merasa tertipu dengan sikap Sardi selama ini.


Ia baru sadar usai seminggu pesta pernikahannya dengan laki-laki berhidung bangir itu sikap dan perilakunya selalu memperlakukan Ajeng begitu buruk. Seperti pagi ini, keduanya akan bersiap-siap ke kantor. Sardi selalu meminta Ajeng menyiapkan pakaian yang harus rapi dan tidak kusut sedikitpun.


Hal yang jarang dilakukan Ajeng selama menikah dengan Tian kini ia lakukan kepada Sardi. Pasalnya, selama menikah dengan mantan suaminya dulu, Ajeng tidak pernah sekalipun menyiapkan pakaian kerja untuk Tian. Bahkan untuk menyuruh Ajeng, Tian sangat jarang. Namun sekarang, semua harus Ajeng lakukan dengan sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga.


“Apakah ini karma yang aku dapatkan dari perlakuan burukku kepada mas Tian,” gumam Ajeng seraya menyetrika kemeja biru navy Sardi.


Hampir setiap hari, Sardi menyuruh Ajeng menyertika pakaiannya dengan alasan laki-laki itu tidak suka jika baju yang akan dikenakannya kusut. Soal penampilan, Sardi terkenal dengan seleranya yang perfeksionis. Itulah mengapa banyak kaum hawa di kantornya yang merasa kagum dengan gaya berpakaian Sardi. Salah satunya,Ajeng yang sesama manajer. Dulu waktu masih sendiri Sardi selalu mencuci bajunya di tempat laundry. Namun sayang, sekarang ini dibalik penampilan Sardi yang perfek itu membuat seseorang tertekan batin.


“Kamu ini bisa nggak sih menyetrika? Berapa kali aku katakan kalau menyetrika kemeja ini harus ekstra hati-hati. Jangan sampai  ada lipatan!” Laki-laki berkulit kuning langsat itu berdiri di depan Ajeng yang saat ini menyetrika celana Sardi.  “Kamu tahu kan, ini tuh kemeja mahal yang sangat terbatas. Bahkan, sekelas CEO saja belum tentu mendapatkan kemeja ini! ” bentak Sardi. Laki-laki itu sangat marah karena kesalahan yang tidak di sengaja oleh Ajeng. 


“Bahkan gajimu tidak mampu membeli kemeja ini!” lanjut Sardi kembali menghina Ajeng sambil melemparkan kemeja tersebut kepada istrinya untuk disetrika ulang.


Ajeng terpaku di tempatnya sambil menangis. Ia tidak menyangka jika keputusannya menikah dengan Sardi akan sesakit ini.


“Aku harus sabar lagi menghadapai mas Sardi. Ini resiko yang aku ambil setelah bercerai dari mas Tian,” ucapnya lirih, lalu melanjutkan menyetrika kemeja Sardi dengan rapih dan penuh hati-hati.


Ajeng baru saja menyelesaikan setrikaannya, suara Sardi kembali berteriak lagi. “Ajeng, kamu tidak membuat sarapan lagi?” teriak Sardi di depan meja makan seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


Mendengar suara suaminya Ajeng cepat-cepat mendekat. “Iya, Mas ada apa?” tanya Ajeng sudah berdiri tiga meter dari belakang suaminya.


Sardi memutar tubuhnya menatap Ajeng. “Mana sarapan pagi ini? kamu tidak buat lagi?” tanya Sardi sarkas.


“Kamu, ‘kan tahu, Mas kalau aku tidak bisa memasak. Kemarin saja aku masak kamu marah nasinya belum matang kamu protes. Makanya aku tidak masak. Bukannya, Mas biasa delivery makanan.” Kata Ajeng, walau dalam hati ia merasa sedikit takut karena berani berbicara panjang kepada suaminya.


Sardi berjalan menghampiri istrinya. “Oh, jadi sekarang kamu berani membantah, yah!” Sardi mencengkaram kedua sisi rahang tirus Ajeng yang semakin kurus sampai istrinya itu mendesisi merasakan sakit.


Ajeng menggeleng. “Sa-sakit M-mas,” ucap Ajeng dengan merasakan rasa sakit.


Sardi melepaskan cengkaraman itu. “Sekarang kamu berani membantah, yah. Kalau kamu tidak menuruti semua perintahku silahkan angkat kaki dari rumah ini!”


“Apa yang Mas katakan? Mas ngusir aku?” tanya Ajeng tidak percaya.


“Ta-tapi, Mas kita berdua, ‘kan sudah sepakat kalau rumah ini milik bersama. Kita sama-sama membayar rumah ini dengan uang masing-masing.”


Sardi tertawa terbahak-bahak. “Ajeng… Ajeng. kamu kira saya bodoh seperti kamu yang mudah diperalat.” Ck..ck… Pantas saja suamimu itu menceraikanmu dengan cepat karena sadar dengan sifatmu yang membuatnya muak.” Sardi kembali tertawa keras membuat Ajeng berdigik ngeri.


“Satu hal yang perlu kamu tahu Ajeng, surat-surat dan sertifikat kepemilikan rumah ini semua atas namaku jadi kamu jangan macam-macam. Apalagi membantah perintahku. Salah sedikit, kamu aku tendang keluar dari rumah ini.” Sardi kemudian berlalu meninggalkan Ajeng yang masih terpaku di tempatnya.


Kedua bola mata Ajeng membola mendengar fakta yang mengejutkannya. Bukannya sewaktu Sardi melamarnya laki-laki itu memberikannya sertifikat kepemilikan hak rumah atas namanya. Namun, rupanya fakta yang Sardi uangkapkan membuat Ajeng terperangah.


“Jadi kamu menipuku, Mas,” gumam Ajeng dengan lirih. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar dari pelupuk matanya membasahi wajah kurus dan kusamnya. Rasa sesak kian merambat di dalam rongga dada Ajeng hingga ke seluruh tubuhnya. Ia begitu terkejut dengan fakta yang Sardi ucapkan.


Kalimat dan kata-kata manis Sardi sewaktu pendekatan membuatnya luluh hingga terasa terbang ke awan. Ia yang mendambakan suami yang memiliki karir bagus tidak melepaskan kesempatan itu saat Sardi melamarnya. Tanpa perlu berpikir lama, Ajeng langsung menerima pinangan Sardi.

__ADS_1


Ia terlena dengan bujuk rayu laki-laki berhidung bangir itu sampai seluruh tabungannya ludes habis tidak tersisa demi membeli sebuah hunian mewah di kawasan elit dekat kantornya.


Kini Ajeng menyesali perbuatannya kepada Tian. Selama menikah dnegan Tian, mantan suaminya itu tidak pernah memperlakukannya kasar. Walau ia sering mencaci maki Tian dengan merendahaknnya, laki-laki itu tidak pernah berkata kasar bahkan melakukan kekerasan kepadanya.


Saat ini Ajeng meratapi semua nasibnya yang sungguh malang. Ia pikir terbebas dari Tian, akan mendapatkan suami yang lebih baik. Namun, semuanya sudah berlalu. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang perlu disesalkan lagi karena ini semua adalah pilihan Ajeng sendiri.


Ajeng terpekur ke atas lantai mengingat kenangan manisnya di awal pernikahan bersama Tian. Namun sayang, kini semua hanya tinggalah kenangan yang tidak pantas Ajeng ingat lagi karena, dirinya sudah bersuami. Pernikahan kedua yang menurutnya akan membahagiakannya kini sebaliknya membawanya ke jurang kehancuran.


“Mungkin Tuhan saat ini menghukumku karena perilaku burukku kepada mas Tian dulu. Andai aku tidak tergiur oleh jabatan dan karir mungkin rumah tangga kami berjalan baik-baik saja sampai sekarang. Tetapi karena keserakahan, aku melepaskan mutiara tersembunyi yang menghasilkan berlian indah demi batu permata yang ternyata hanya batu palsu belaka,” sesal Ajeng menangisi nasibnya.


...************...


...To be continued ...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


Gaes, karena hari ini hari Senin, jangan lupa kasih Vote, ya😊 biar Author makin semangat nulisnya 😘😘😘


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2