
...Selamat membaca...
...***********...
Hari Sabtu adalah hari libur bagi Ajeng. Ia sengaja bangun lebih siang setelah semalam lembur. Pukul sebelas Ajeng tiba di rumah. Meskipun raganya begitu lelah, tetapi ia puas telah menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan, bahan meeting untuk Senin pagi sudah selesai ia persiapkan. Ia ingin mempergunakan hari liburnya kali ini untuk sejenak menikmati hidup.
Rencana yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari untuk melakukan perawatan tubuh di salon, harus terlaksana sebelum pekerjaan kantor membuatnya seperti robot lagi.
Ajeng yang sedang mendapatkan tamu bulanannya, bangun setelah cahaya matahari menyelinap melalui tirai jendela kamarnya. Ia mengucek matanya. Jam di dinding kamar dengan nuansa krem itu menunjukkan pukul enam.
"Ah, ternyata nikmat juga bisa malas-malasan seperti ini." Ajeng menggeliat merenggangkan otot-otot tubuhnya. Ia bangkit karena panggilan alam. Mungkin, jika hal itu tidak terjadi bisa-bisa Ajeng bangun jam tujuh.
Setelah menuntaskan hajatnya, Ajeng menggosok gigi dan mencuci muka. Kemuadian ia duduk di meja rias, ia menatap pantulan dirinya di depan cermin sambil menyisir rambut hitamnya.
"Duh, mataku seperti panda." Ajeng sedikit kecewa melihat wajahnya yang tidak secantik dulu. Padahal di mata orang lain, Ajeng masih terlihat begitu cantik. Memang definisi cantik untuk setiap kalangan itu berbeda. Bahkan, status sosial juga menjadi faktor utama perbedaan itu.
"Jeng, jam 10 jadi kan? Aku sudah reservasi untuk tiga orang, loh." Suara dari seberang melalui benda pipih yang saat ini menempel di telingan Ajeng, membuat Ajeng tersenyum.
"Ya, jadi dong. Pokokya hari ini aku ambil paket lengkap. Kamu lihat nggak? Mataku ini sudah kayak panda." Ajeng begitu antusias membicarakan perihal perawatan kecantikan yang akan mereka lakukan hari ini tanpa memedulikan suaminya.
Kalimat yang sering ia ucapkan untuk menyiapkan sarapan di hari libur, sering kali ia ingkari dengan dalih sepele seperti itu. Ajeng tidak pernah merasa bersalah, dan Tian pun sudah hafal dengan kebiasaan Ajeng.
Ajeng keluar dari kamar mendapati meja makan masih dalam posisi seperti tadi malam. Tidak ada aroma kopi, pun tidak juga dengan nasi goreng seperti hari-hari kemarin. Ia baru sadar kalau Tian tidak ada di rumah.
"Mas Tian kemana, sih? Kok sepagi ini sudah pergi," gumamnya setelah melihat di setiap sudut rumah tidak menemukan lelaki itu.
Ajeng bergegas ke dapur dan menyeduh kopi untuk dirinya. Sesaat ia menikmati keharuman aromanya yang sudah seperti candu baginya. Tidak lupa sebungkus biskuit sebagai pelengkap di pagi itu sebelum ia memulai aktivitas hari ini.
Ajeng segera membuat sarapan dengan bahan seadanya yang masih tersimpan dalam kulkas.Tidak membutuhkan waktu lama, dua piring nasi goreng, telur mata sapi dan sepiring orak-arik sudah terhidang di meja makan. Ajeng segera menikmati sarapannya tanpa ada niatan untuk menunggu Tian.
__ADS_1
Baru beberapa suap Ajeng menikmati sarapannya, terdengar pintu ruang tamu dibuka. Sesaat kemudian, tampak Tian melewati ruang makan yang menyatu dengan ruang tengah. Lelaki itu masih memakai baju olah raga. Sepertinya ia baru saja joging di arena olahraga yang disediakan di cluster tempat mereka tinggal. Rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil di lehernya sudah menjawab pertanyaan dalam hati Ajeng.
"Sarapan sekalian, Mas!" ucap Ajeng ketika Tian menenggak air putih dari dalam lemari pendingin.
"Aku sudah kenyang. Tadi makan bubur ayam bareng sama bapak-bapak komplek." Tian melewati Ajeng begitu saja dan menjatuhkan tubuhnya di sofa depan televisi.
Tian segera menyalakan televisi. Ia tidak peduli dengan apa yang dilakukan Ajeng. Sebab kepeduliannya selama ini hanya akan berakhir dengan emosi yang akan menyakitkan hatinya.
"Kenapa sekarang kamu jarang sarapan di rumah, Mas? Kalau kamu sampai sakit, pengeluaran kita akan bertambah. Lagian mubazir kan, makanan ini nggak ada yang makan. Kalau lama-lama begini, uangku bisa habis terbuang," gerutu Ajeng.
Tian awalnya sempat tersenyum mendengar Ajeng mengkhawatirkannya, tetapi mendadak emosi menguasai hatinya ketika ujung dari kalimat Ajeng lagi-lagi tentang uang.
"Kamu sungguh keterlaluan, Jeng!" Ingin sekali Tian mengumpat. Namun, kalimat itu hanya ia telan sendiri meskipun hati kecilnya terasa sakit.
"Makanan itu kan bisa dimakan nanti lagi, Jeng. Toh masih ada siang, ada sore. Semua tidak harus habis saat ini juga kan." Tian berlalu ke kamar mandi, ia tidak ingin mendengar ocehan Ajeng yang bakal makin menjadi.
...*************...
... ...
Ajeng pergi bersama teman kerjanya ke sebuah spa. Setelah kepergian Ajeng, Tian menumpahkan segala kekesalannya. Ia meninju sofa yang saat ini ia duduki. Sebagai lelaki, dia benar-benar merasa tidak dihargai oleh istriya sendiri.
"Maafkan aku, Jeng. Selama ini aku sudah berusaha untuk bertahan. Tapi sepertinya stok kesabaranku begitu mengkhawatirkan. Aku tidak ingin ketika kesabaranku habis, aku masih berada di sini. Aku takut jika suatu saat aku berbuat sesuatu di luar kendaliku."
Septian mengambil kunci motornya. Ia bergegas membawa motornya ke sebuah perumahan kecil di dekat kantornya. Sudah beberapa hari ini ia menimbang-nimbang setelah melihat sebuah iklan rumah dikontrakkan. Hari ini ia membulatkan tekadnya untuk segera pergi dari rumah itu.
Jalanan hari itu begitu lengang. Kebanyak dari para pekerja menghabisakan waktu libur dengan keluarga mereka. Begitu pula dengan rekan-rekan Tian. Mereka sibuk mengantar anak mereka ke sekolah, atau sekedar mengantar istri pergi belanja keperluan sehari-hari di supermarket. Hal sepele seperti itu terlihat begitu berharga bagi Tian. Sebab, hari libur bagi Tian adalah hari yang sama seperti jaman ia masih lajang dahulu.
__ADS_1
Tian menghabiskan waktunya sendiri dalam kesepian. Sementara Ajeng menghabiskan waktu bersama teman-temannya pergi ke salon, ke mall, atau bahkan menonton di bioskop.
Tanpa ia sadari, motor Tian sudah berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan tulisan 'Dikontrakkan' tidak jauh dari kantornya.
"Selamat siang, Pak. Saya sudah berada di depan rumah yang akan Bapak kontrakkan. Bisa saya melihat-lihat bagian dalamnya?" ucap Tian pada seseorang melalui ponselnya.
"Baik, Pak. Saya akan menunggu."
Tidak lama kemudian, terlihat seorang lelaki paruh baya berhenti di depan sebuah rumah mungil dan berjabat tangan dengan Tian.
"Mari, Mas. Silakan dilihat-lihat. Rumahnya memang kecil, sih. Tapi masih okelah untuk keluarga muda seperti Mas."
Tian mengikuti lelaki itu. Mengamati setiap sudut rumah dengan seksama. Rumah itu memang kecil, tetapi terlihat begitu terawat. Terlihat dari taman mungil di depannya yang tertata begitu apik. Ruangannya pun begitu rapi, lengkap dengan perabotan meskipun tidak seindah perabotan di rumah Ajeng.
"Ini dulu rumah anak saya, Mas. Tapi semenjak suaminya pindah tugas ke Jakarta, rumah ini kosong. Sayang jika tidak ada yang menempati. Bisa-bisa rusak dengan sendirinya," terang Bapak itu sembari menunjukkan bagian-bagian dalam rumah tersebut.
"Sepertinya rumah ini lebih nyaman dari pada rumah Ajeng," batinnya. Sudut bibir Tian terangkat. Ia ingin segera terlepas dari masalah yang selama ini menyiksa batinnya.
"Dan akan lebih nyaman jika Aisyah dan bayinya menempati kamar ini." Sekali lagi Tian berangan-angan ketika membuka pintu kamar utama dengan jendela yang menghadap langsung ke taman kecil di samping rumah.
Tian segera menepis pikiran pikiran itu. Ia menggeleng dan menepuk kepalanya mengingat kegilaannya.
"Kenapa, Mas. Masnya pusing? Perlu Bapak ambilkan obat pusing di rumah Bapak?"
...************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1