Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
57_Kedekatan Indar di keluarga Bayu


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


Sementara itu di rumah kediaman mertua Aisyah, Erina sibuk mempersiapkan baju-baju menjelang kelahiran anaknya yang disusun di dalam koper. Ia tidak ingin keteteran jika sewaktu-waktu mengalami kontrakasi, ia dan suaminya langsung berangkat ke rumah sakit. 


 


Disela kesibukan Erina  menyusun perlengkapan melahirkan, terdengar suara salam dari luar rumah. Sejenak, Erina meletakkan kembali baju yang baru saja ia lipat ke atas ranjang lalu menuju ke depan membuka pintu melihat siapa tamu yang datang.


 


“Eh, Mba Indar. Ayo masuk, Mba!” Erina mempersilahkan Indar masuk ke dalam rumah. Kedua perempuan itu sudah akrab sejak dulu saat Indar dan Bayu berteman di bangku sekolah.


 


Aisyah yang baru muncul dari dalam dapur terkejut melihat tamu yang datang. Ia risih jika Indar sering berkunjung ke mari. Karena semua keluarga mertuanya berpihak pada Indar. Kecuali, Ambar. Ibu mertuanya itu kurang setuju kalau Indar terlalu akrab dengan Bayu. Berbeda dengan sang suami, Herman--mertua laki-lakinya--itu sering memuji Indar seorang wanita yang mandiri dan berkelas. Tidak ingin mendengar obrolan adik ipar dengan teman suaminya, Aisyah memilih masuk ke dalam kamar melihat Zahra yang tidur.


 


“Kamu sedang apa, Rin?” tanya Indar, keduanya duduk di kursi ruang tamu. Indar hanya melirik sekilas pada Aisyah yang masuk ke dalam kamar.


 


“Lagi nyiapin keperluan melahirkan, Mbak. Kan bentar lagi mau lahiran jadi sebaiknya dipersiapkan dari awal. Takutnya pas kontraksi semuanya terlupakan. Mumpung aku nggak ada kegiatan, sih.”


 


“Oh, kebetulan ini aku bawa hampers buat calon anak kamu. Semoga bisa membantu,” ucap Indar menyerahkan paperbag berwarna putih berlogo merek salah satu brand khusus bayi.


 


“Wah… terima kasih banyak, Mba,” ucap Erina senang menerima paperbag tersebut. “Mba, nggak perlu repot-repot, loh. Diliat dari brandnya aja ini pasti harganya mahal,” lanjut Erina.


 


“Nggak repot, kok. Justru aku senang. Kebetulan pas pulang kerja nggak sengaja lewat di depan toko itu. Terus tiba-tiba kamu terlintas di pikiranku. Makanya aku langsung ambil buat calon anak kamu.”


 

__ADS_1


“Tuh, dengar itu Ais. Indar yang bukan bagian dari keluarga ini sangat perhatian dengan adik kamu. Beda dengan kamu yang sangat perhitungan sekali dengan Erina. Apa-apa dihitung dan dipertimbangkan dulu baru ngasih. Emang dasarnya kamu pelit!” cibir Herman yang baru saja masuk ke dalam rumah, setelah memberi makan pada burung peliharaannya di samping teras rumah.


 


Kebetulan Herman mendengar ucapan mereka berdua tadi, jadi sengaja ia mengeraskan suaranya agar di dengar oleh Aisyah yang berada di dalam kamar.


 


Aisyah yang di dalam kamar tidak menggubris ucapan bapak mertuanya. Ia diam saja menyusui Zahra kembali karena bangun. Menurutnya itu hal yang biasa ia lakukan kala Indar berkunjung ke rumah. Ia pun sadar dengan posisinya sebagai menantu di keluarga ini. Namun di sisi lain hati kecil Aisyah, ia pun merasa kecewa dengan sikap Herman, sampai kapan ia terus dibandingkan dengan Indar oleh bapak mertuanya. Ingin rasanya Aisyah menumpahkan segalanya. Namun ia tidak berani melawan orang tua yang notabene adalah mertuanya sendiri.


 


Sementara itu di ruang tamu, Indar tersenyum mendengar ucapan Herman. Ia pun semakin senang karena dipuji seperti itu. Tidak hanya satu paperbag yang ia bawa, Indar pun mengambil paperbag lainnya untuk di serahkan kepada Herman.


 


“Om, ini ada hadiah dari, aku. Semoga Om dan Tante senang dengan hadianya.” Indar menyerahkan kepada Herman dua kantong dari salah satu butik ternama.


 


Herman yang duduk di samping Erina dengan senang hati mengambil hadiah dari Indar. Sejenak ia melihat sepasang baju kokoh lengkap dengan sajadah dan kopiah. 


 


 


“Ada apa, Pak? Manggilnya keras sekali. Kalau sampai Zahra bangun gimana, kasian Aisyah. Dia masih lelah baru selesai beres-beres di dapur,” sahut Ambar keluar dari dalam kamar menyusul suami bergabung di ruang tamu.


 


Herman menyerahkan salah satu paperbag itu kepada istrinya. “Ini hadiah dari, Nak Indar. Bagus, kan. Ini tuh, baju mahal yang dibeli di toko terkenal. Aisyah mana mampu ia belikan kita baju sebagus ini. Paling juga bisanya beli baju di pasar yang harganya di bawah miring itupun kainnya tidak selembut dengan baju pemberian Indar.” Lagi-lagi Herman kembali menyinggung Aisyah dengan membandingkannya dengan Indar.


 


“Bapak, kok,  ngomongnya seperti itu. Nggak boleh, loh, bandingin Aisyah dengan Indar. Walau bagaimanapun, Ibu senang sekali dibelikan baju oleh Aish. Mau dari toko terkenal atau bukan, yang penting niatnya tulus, ibu nggak masalah. Malah, ibu bersyukur punya menantu yang rajin dan perhatian.” Ambar tidak ingin harga diri menantunya jatuh di depan Indar yang notabene teman Bayu dan Erina.


 


 Sebagai seorang wanita tentu Ambar tahu bagaimana perasaan Aisyah yang ada di dalam kamar. Maka dari itu, ia terus membela menantunya dan menjadi pelindung Aisyah di garda terdepan.

__ADS_1


 


“Terima kasih, Nak Indar, atas hadiahnya. Tante sarankan kalau ke sini nggak usah repot-repot bawa hadiah segala. Datang saja seperti tamu lainnya jika ada perlu. Lama kelamaan, Tante nggak enak, loh sama kamu. Kamu tahu, kan tante nggak enak hati berhutang budi pada orang lain. Walau, Tante tahu kamu tulus memberikan hadiah ini kepada kami, tapi menurut Tante itu berlebihan sekali jika setiap ke sini kamu selalu membawa hadiah.” Ambar sengaja berkata sehalus mungkin agar Indar tidak tersinggung.


 


Hari sudah menjelang sore, tidak terasa Indar dan Erina mengobrol santai sampai lupa waktu. Indar pun tidak sadar jika ia sudah lama berada di rumah Bayu. Baru saja ingin berpamitan pulang, di saat yang bersamaan Bayu sampai di rumah.


 


Sementara itu Aisyah yang mendengar suara motor suaminya, ia lekas keluar kamar sambil menggendong Zahra yang sudah selesai mandi. Ia berniat ingin mengajak suaminya kembali ke kontrakan. Namun sayangnya, langkahnya di dahului oleh Indar yang langsung ke depan mendekati Bayu usai memarkirkan motor.


 


“Bayu minta tolong antarkan aku pulang. Sebentar lagi magrib,” ucap Indar. Meski ia melihat Aisyah sudah berdiri di bibir pintu ia tidak segan meminta temannya itu mengantarnya pulang.


 


Bayu melirik Aisyah yang berdiri di teras rumah. “Ya sudah, buruan naik!” kata Bayu menyalakan kembali motor  tanpa meminta izin pada sang istri.


 


Indar tersenyum bahagia lalu naik ke jok motor dengan sengaja merapatkan tubuhnya ke Bayu. Melihat hal tersebut membuat darah Aisyah mendidih naik ke ubun-ubunnya. Mata dan wajahnya sudah sangat marah menandakan hati dan pikiran wanita itu hancur. Istri mana yang tak sakit hati melihat suami yang begitu dicintai jalan berdua dengan wanita lain. Ia terpaku di tempat menatap nanar kepergian Bayu membonceng Indar sampai hilang dari pandangannya.


 


Dengan hati yang dipenuhi rasa cemburu dan amarah, Aisyah berpamitan pada Ambar--ibu mertuanya--untuk pulang ke kontrakan tanpa menunggu Bayu. Di sepanjang perjalanan pulang, air mata Aisyah terus saja membasahi kedua pipinya. Untung saja Zahra tidak rewel di gendongan sampai tiba di rumah kontrakannya.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2