
...Selamat membaca...
...***************...
Saat jam istirahat kantor tiba, Aisyah sejenak rehat untuk salat dan dilanjutkan makan siang di warung makan depan kantornya. Bersama Witri, Aisyah memesan dua porsi nasi padang dengan es teh manis. Sembari menunggu pesanan mereka berdua, sejenak mereka mengobrol sampai pelayan datang dengan dua porsi nasi padang yang disajikan di atas meja.
Aisyah begitu lahap menghabiskan makanannya. Bahkan, ia sampai memesan satu porsi lagi untuk ia makan. Witri yang duduk di depannya menyeka ujung bibirnya, mengernyit heran melihat selera makan Aisyah bertambah.
“Tumben nambah?” tanya Witri yang sudah menyelesaikan makanannya.
“Abisnya enak, Mbak,” jawab Aisyah sembari menyuap nasi ke dalam mulut.
“Lah, bukannya hampir setiap hari kita makan nasi padang, tapi kamu jarang banget menghabiskan lauknya. Hari ini malah kamu pesan dua porsi kayak orang ngidam saja,” kekeh Witri.
“Mbak, jangan ngadi-ngadi, deh. Memangnya ciri orang hamil suka nambah makanan? Kan, wajar kalau aku kelaparan, soalnya tadi pagi nggak sempat sarapan,” keluh Aisyah masih kesal pada Bayu, makanya ia melewatkan sarapan pagi. Ia masih belum sadar kalau dirinya sudah telat datang bulan beberapa hari.
“Ya sudah, makannya pelan-pelan aja. Nggak ada, kok, yang mau ngambil makananmu itu.”
Keduanya kembali ke kantor usai membayar makanan. Di tengah perjalanan, Aisyah melihat penjual es cendol yang sedang mangkal di bawah pohon. Ia pun ke sana untuk membeli.
“Mbak, mau es cendol?” tawar Aisyah kepada Witri.
“Nggak, deh. Terima kasih. Ini udah kenyang,” sahut Witri mengelus perutnya. Bagi Witri seporsi nasi padang dengan segelas es teh membuatnya sudah kenyang maksimal. Kalau ditambah makan es cendol, bisa-bisa perutnya over kekenyangan dan membuatnya tidak fokus bekerja gara-gara ngantuk.
“Memangnya kamu belum kenyang, Aish?” tanya Witri lagi-lagi heran. Karena di warung tadi Aisyah sudah memesan dua porsi makanan.
Aisyah malah nyegir. “Lagi pengen, Mbak. Udah lama nggak nyobain es cendol.” Aisyah pun menghampiri penjual es cendol. Aisyah minta dibungkus saja karena tidak enak hati membuat Witri menunggu. Apalagi waktu istriahat tersisa lima menit lagi. Lagian tidak ada larangan membawa makanan dan minuman masuk ke dalam kantor asalkan kebersihannya tetap dijaga. Nanti Aisyah menghabiskan es cendolnya di sela-sela mengecek laporan masuk.
Menjelang sore, Aisyah merapikan mejanya. Pesan yang ia kirim ke Bayu belum mendapatkan balasan. Sudah berapa kali Aisyah berbicara kepada suaminya itu agar mengutamakan dirinya sebagai seorang istri, tetapi lagi-lagi Bayu kembali mengabaikannya.
Turun dari ojek online Aisyah tiba di rumah menjelang magrib. Melihat rumah masih gelap dan tidak ada satu pun lampu yang menyala, Aisyah menebak kalau suaminya belum tiba di rumah.
__ADS_1
“Mas Bayu ke mana, sih, dari tadi dihubungi nomornya nggak aktif.” Aisyah melangkah masuk ke dalam rumah usai membuka pintu. Menyalakan lampu dan menutup gorden. Belum sampai masuk ke dalam kamar untuk ganti baju, tiba-tiba perutnya terasa mual. Ia cepat-cepat berlari menuju kamar mandi belakang dan memuntahkan semua isi perutnya.
“Huwwekkk...”
“Apa karena tadi siang aku makan banyak, yah?” gumam Aisyah.
Merasa lemas karna terlalu banyak muntah, Aisyah pun mengakhiri sambil membilas mulutnya lalu mengelap dengan tisu. Merasa dirinya sudah lebih baik, Ia pun melangkah masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan menunaikan salat Magrib.
Sambil menunggu suaminya pulang, Aisyah sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk suaminya. Hidangan sudah tersaji di atas meja, tetapi Aisyah tidak berselera untuk makan malam. Hanya ngemil sepotong brownis yang tersisa kemarin, ia ambil dari kulkas untuk mengisi perutnya yang kosong. Merasa matanya sudah mulai ngantuk Aisyah memutuskan kembali ke kamar sembari menunggu suaminya pulang.
...***********...
Subuh-subuh sekali Aisyah merasa perutnya kembali mual. Ia lekas bangun dan berlari menuju kamar mandi. Sama seperti kemarin, Aisyah memuntahkan semua isi perutnya. Ia merasa tidak sanggup untuk berjalan kembali. Untung saja, Bayu datang menghampiri istrinya itu sekaligus mengambil air wudhu untuk solat subuh ke masjid.
“Terima kasih, Mas.”
“Hmm … lain kali jangan terlalu capek dan makan tepat waktu. Ingat kamu punya sakit maag yang kadang kambuh.”
“Iya, Mas. Oh, iya kemarin ke mana saja Mas. Aku hubungi tidak dibalas. Pulangnya jam berapa?” tanya Aisyah.
“Kamu ini banyak nanya, sih. Aku itu kemarin anterin ibu ke rumah temannya arisan. Sudah jangan tanya-tanya lagi. Mas mau ke masjid, Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam,” jawabanya lirih, “lagi-lagi kamu mengutamakan keluargamu, Mas.” Air mata Aisyah lolos begitu saja dari tempatnya. Ia pun bangkit dan mengambil air wudhu lalu melaksanakan salat Subuh.
Sampai di kantor tidak seperti biasanya, Aisyah gelisah menunggu kedatangan Witri. Padahal sebelum-sebelumnya ia tidak pernah seperti ini. Arseno yang sedang melewati meja Aisyah berhenti kala melihat anggotanya itu gelisah.
“Kamu kenapa, Aish? Kok, bingung gitu?” tanya supervisor Aisyah yang tidak lain Pak Arseno.
__ADS_1
“Eh, nggak, Pak. Nungguin Mbak Witri aja,” ujar Aisyah.
“Oh ... ya sudah, saya ke dalam dulu,” pamit Arseno.
“Iya, Pak.”
Tidak sampai lima menit orang yang ditunggu-tunggu Aisyah akhirnya datang juga. Mba Witri datang sembari membawa anaknya yang sedang rewel tidak ingin ditinggal. Untung saja kantor ini memiliki ruangan kosong yang dilengkapi berbagai mainan anak-anak. Sengaja pihak memiliki visi misi yang ramah anak dan tidak membatasi para ibu-ibu yang membawa anak mereka. Kantor tempat Aisyah bekerja menyediakan fasilitas ruang kosong untuk para karyawan yang sedang mengasuh anak sekaligus menjadi tulang punggung keluarga. Mereka memberikan keringanan agar pekerja wanita tidak terbebani dengan tugasnya sebagai ibu dan karyawan. Pihak pengelola pun menyediakan dua orang baby sitter yang membantu para karyawan mengasuh anak mereka selagi masih jam kerja.
“Mbak, ada yang mau aku omongin!” ucap Aisyah membuka pembicaraan saat Witri sudah kembali ke meja kerjanya dari ruang penitipan anak.
“Ada apa, Aish?” tanya Witri yang sudah mengaktifkan komputer di mejanya.
Aisyah menggeser kursinya mendekat ke Witri. “Mbak, kayaknya aku udah telat seminggu, deh,” bisik Aisyah.
“Coba kamu cek! Udah beli tespak?” tanya Witri.
Aisyah hanya menggeleng. Lalu Witri pun mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam tasnya yang ia beli minggu lalu.
“Nih, aku ada sisa tespak. Kira aku hamil. Ternyata hasilnya negatif. Sebaiknya kamu cek sana!” titah Witri gemes. Ia dari kemarin sudah curiga dengan Aisyah yang porsi makannya banyak. Karena tidak biasanya rekan kerjanya itu lahap sekali sampai menambah porsi makanan. Bahkan sangat jarang Aisyah seperti itu.
“Nanti aja, deh, Mbak. Aku juga belum yakin. Bisa jadi ini hanya pengaruh hormon saja yang tidak teratur seperti waktu masih gadis,” kekeh Aisyah. Nanti sampai di rumah ia membicarakan ini dengan suaminya.
“Ya sudah terserah kamu. Lebih baik sekarang kita kerja! Sebentar lagi akhir bulan dan lembur!”
“Iya, Mbak.” Mereka berdua pun kembali fokus pada komputer di depannya masing-masing untuk mengecek laporan.
...*************...
...to be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1