
...Selamat membaca...
...*************...
Aisyah dan Ambar segera melerai pelukannya. Mereka bersamaan berdiri dan menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Keluarga dari saudara Bayu?" tanya dokter itu memastikan, saat Aisyah dan Ambar sudah berdiri di depannya.
"Saya istrinya, Dok."
"Saya ibunya."
Aisyah dan Ambar menjawab bersamaan. Mereka berdua saling menggenggam tangan untuk menguatkan satu sama lain.
"Alhamdulillah, operasi saudara Bayu berjalan lancar, Bu. Namun, untuk saat ini pasien masih belum siuman, dan masih harus di rawat di ruang ICU. Kita tunggu perkembangan selanjutnya, ya, Bu. Kita sama-sama berdoa supaya pasien segera melewati masa kritisnya. Besok kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, setelah pasien siuman. Untuk saat ini pasien hanya boleh di temani oleh satu orang saja, ya! Saya permisi, dulu. Kalau ada apa-apa bisa langsung tekan tombol emergency di dalam ruangan." Dokter itu pun pamit di ikuti beberapa perawat dan tenaga ahli lainnya yang membantu proses operasi Bayu.
"Baik, Dokter. Terimakasih," ucap Aisyah saat dokter itu pamit undur diri.
"Kamu saja yang menjaga Bayu, Nak. Ibu yakin Bayu lebih membutuhkan kamu sekarang. Kamu yang lebih tahu bagaimana suami kamu. Ibu bisa menunggu di luar bergantian dengan Bapak," tutur Ambar sambil mengusap bahu Aisyah. Ambar berharap jika bersama Aisyah, Bayu bisa segera pulih.
"Iya, Bu. Aisyah telepon Diana sama Bapak dulu, ya. Supaya mereka tidak khawatir, soalnya tadi Aisyah buru-buru perginya," ucap Aisyah.
Aisyah segera mengabarkan kepada Diana mengenai kondisi Bayu saat ini, ia juga memberi tahu bahwa akan menginap di rumah sakit sampai kondisi Bayu membaik. Tak lupa ia juga meminta kepada Bapak juga Diana untuk mendoakan kesembuhan Bayu. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Aisyah pun mengakhiri panggilan teleponnya.
***
Seorang laki-laki dewasa dengan balutan kaos polo berwarna putih dan celana chinos warna hitam, sedang memandangi ponselnya sejak beberapa jam yang lalu. Septian terlihat gelisah, pasalnya sudah beberapa pesan yang ia kirimkan untuk Aisyah sama sekali belum terbaca. Beberapa panggilan telepon juga tidak diangkat oleh Aisyah.
Kejadian di kantor kemarin sepertinya benar-benar membuat Aisyah marah kepadanya. Meskipun semua itu bukan salah Tian, tetapi Tian juga menyadari jika kata-kata Ajeng kemarin sangat melukai hati Aisyah. Wajar jika Aisyah marah dengan tuduhan Ajeng yang tidak terbukti kebenarannya sama sekali.
"Lebih baik besok pagi aku temui saja Aisyah di rumah orangtuanya, aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini. Aku tidak ingin Aisyah membenciku karena sikap Ajeng kemarin," lirih Tian sambil kembali menyesap secangkir teh yang sudah tidak mengepulkan uapnya.
Pagi yang sedikit mendung, sekitar pukul 07.30 WIB Tian sudah tiba di rumah Agung. Rumah yang tidak terlalu besar, tetapi selalu terasa nyaman setiap kali Tian menginjakkan kaki di rumah itu.
"Eh, ada Pak Tian. Ada perlu apa, ya? Sepagi ini sudah sampai di sini, mau ketemu Mbak Aisyah?" tanya Diana saat ia sedang menyuapi Zahra di halaman depan rumahnya.
"Ada Nak Tian, Di? Kok nggak di ajak masuk , Nduk? Apa mungkin ada perlu sama Aisyah?" Bapak ikut bertanya saat baru saja membuka pintu rumah dan melihat Tian berada di luar bersama Diana.
__ADS_1
"Iya, Pak, maaf saya berkunjung pagi-pagi supaya terhindar dari kemacetan. Saya ada sedikit perlu dengan Aisyah, Aisyahnya ada, Pak?" tanya Tian setelah mencium punggung tangan Agung.
"Mbak Aish di rumah sakit, Pak Tian. Dari kemarin jagain Mas Bayu." Diana langsung saja menyahut, sebelum Agung menjawab pertanyaan Tian.
"Memangnya Pak Bayu sakit apa?" tanya Tian sambil mengernyitkan dahinya, tak dipungkiri ia sedikit terkejut mendengar jawaban dari Diana.
"Mas Bayu kecelakaan kemarin waktu mau perjalanan ke sini, Pak," tutur Diana lagi.
"Oh .... Ya, Sudah kalau begitu, salam saja buat Aisyah, ya! Saya pamit pulang dulu." Tian pamit kepada Diana, lalu kembali mencium punggung tangan Agung dan berlalu pergi meninggalkan rumah Agung.
Tak dipungkiri, pikiran Tian semakin kacau setelah mendengar kabar dari Diana. Namun Tian sadar, jika Aisyah memang masih istri sah dari Bayu. Tak seharusnya ia merasa khawatir yang berlebihan.
...***********...
Sudah dua hari Aisyah menjaga Bayu di rumah sakit, dengan telaten Aisyah merawat Bayu. Ia selalu mengajak Bayu berinteraksi, mengajaknya berbicara meskipun Bayu hanya diam dan tetap memejamkan matanya.
"Mas, kapan kamu bangun. Apa kamu nggak kangen sama Zahra, Mas? Zahra sekarang udah pinter, Mas. Makannya lahap banget. Pipinya juga makin gembul. Dia anak yang aktif dan cantik sekali, Mas." Aisyah menjeda kalimatnya, ia menghapus air mata yang menetes di pipinya.
Dengan sabar Aisyah menyeka tubuh Bayu. Wanita itu benar-benar menyesal. Setiap saat hanya air mata yang selalu menemaninya ketika ia menyentuh tubuh Bayu yang tidak pernah meresponnya. Aisyah tidak ingin meninggalkan Bayu barang sedetik pun. Ia mengabaikan dirinya. Bahkan sering melewati waktu makan meskipun Ambar berkali-kali menawarkan untuk menggantikan posisinya.
Hari beranjak senja ketika Aisyah membuka tirai jendela kamar Bayu. Saat ini Bayu masih berada di ICU. Selama ini belum ada kemajuan yang berarti dari lelaki itu. Hati Aisyah semakin hancur. Hal-hal terburuk akan kondisi suaminya sering kali berjejalan di otaknya.
"Aish, keluar, gih! Ada teman kamu yang datang," lirih Ambar seraya menyentuh pundak Aisyah.
Aisyah menoleh, ia melihat senyum teduh sang ibu mertua yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya.
"Siapa, Bu?" tanya Aisyah dengan mata sembab.
"Sepertinya teman kantormu. Temui mereka, Aish. Biar ibu yang berjaga di sini."
Aisyah segera menjauh dari Bayu. Ia melepas pakaian khusus yang ia kenakan di dalam ruangan itu sebelum keluar dari ICU. Aisyah melihat Witri dan Septian duduk di kursi tunggu. Kedua orang itu segera berdiri begitu melihat Aisyah muncul dari balik pintu.
"Aish, yang sabar, ya." Witri segera memeluk tubuh ringkih Aisyah sembari mengelus punggungnya. "Mbak doakan semoga Bayu cepat sadar."
__ADS_1
"Terima kasih, Mbak," jawab Aisyah singkat. Wanita itu masih terpukul atas kejadian yang menimpa suaminya.
"Kamu yang kuat, ya, Aish. Ingat, Zahra menunggu kalian di rumah," ujar Tian masih dengan perasaan bersalah. Sebenarnya lelaki itu ingin meminta maaf, tetapi Tian sadar jika ini bukanlah waktu yang tepat. Hingga ia memilih tidak membahas kejadian sore itu.
"Terima kasih, Pak. Maaf, aku jadi merepotkan kalian semua. Pasti kerjaan di kantor berantakan karena aku," lirih Aisyah.
"Kamu nggak usah pikirin urusan kantor, Ais. Pikirkan Bayu dan dirimu sendiri. Ini Mbak bawa nasi padang, kamu pasti belum makan 'kan? Biar nanti kamu sam ibu makan sekalin. Ingat, kamu juga harus jaga kesehatan. Jangan biarkan rasa sedihmu membuat tubuhmu sakit. Kamu harus kuat, karena setelah ini kamu butuh energi yang lebih banyak lagi." Witri tak segan menasihati Aisyah. Ia memahami bagaimana sifat wanita itu jika sedang dalam masalah.
...***********...
"Mas, kapan Mas akan bangun. Tolong jangan bercanda terlalu lama. Aisyah nggak sanggup, Mas." Air mata itu kembali mengalir di kedua pipi Aisyah. Ia meletakkan kepalanya di ranjang Bayu. Beberapa saat Aisyah menikmati rasa perih yang setiap saat meremas hatinya.
"Dek..."
Aisyah terkejut ketika merasakan sentuhan di puncak kepalanya. Ia mendongak mencari sumber suara, Aisya begitu bahagia melihat Bayu siuman.
"Mas, kamu udah sadar, Mas?" ucap Aisyah dengan senyum bahagianya.
Aisyah segera memanggil dokter dan segera mengabarkan kepada semua keluarganya, bahwa Bayu sudah siuman.
Ia begitu bahagia, masa kritis Bayu sudah terlewati. Rasa syukur tak henti ia panjatkan kepada Sang Pemilik Kehidupan yang telah mengabulkan doanya.
...**************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1