Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
42_Pertengkaran Tian dan Ajeng


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*************...


 


Tugas seorang nakhoda adalah membawa sebuah kapal mengarungi samudra luas untuk mencapai tujuan. Ia bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penumpang dan awak kapal. Terkadang ia harus menerjang badai dan gulungan ombak besar di setiap pelayarannya.


 


Seperti halnya nakhoda, seorang suami pun memiliki peran yang sama. Ia harus mampu membawa rumah tangganya ke arah tujuan yang sama. Tidak peduli seberapa besar masalah yang dihadapi.


 


Dalam kehidupan pernikahan, seorang suami akan menjadi kepala dalam rumah tangganya. Perannya dalam menjadi seorang pemimpin membuatnya harus lebih tegas dalam mengambil keputusan.


 


Namun, hal itu tidak berpengaruh bagi lelaki yang bernama Septian. Ia lebih memilih acuh dengan masalah rumah tangganya daripada harus berdebat yang akan berujung dengan pertengakaran, dan pada akhirnya ia yang harus kecewa.


 


Sebenarnya bukan perkara malas menyelesaikan masalah, tetapi akhir dari perdebatan mereka adalah Septian yang akan dianggap remeh oleh istrinya.


 


Apa yang diharapkan Septian dari istrinya? Bahkan setiap pulang kerja, tidak ada wajah sang istri yang menyambutnya. Di awal pernikahan, ia menghargai keputusan Ajeng yang ingin tetap bekerja, asalkan tidak meninggalkan tanggung jawabnya. Namun, sepertinya Ajeng lupa akan hal itu.


 


Kini, sudah larut malam, tetapi Ajeng belum datang. Seperti biasa, Ajeng akan menyelesaikan pekerjaannya dahulu sebelum pulang.


 


Dengan malas, Tian segera membersihkan dirinya dan merebahkan tubuhnya.


 


Baru beberapa jam ia terlelap, ia terbangun dan meraba sampingnya. Belum ada Ajeng di sana. Ia melihat jam sudah menunjukan pukul 1 malam. Tian mencoba menghubungi Ajeng, karena tidak biasanya sampai selarut ini. Berulang kali ia menghubungi, tidak ada jawaban.


 


Tian berpikir, bagaimana jika ada bayi hadir di antara mereka? Pasti suasana akan semakin ramai. Namun, apa Ajeng akan tetap memaksa untuk bekerja?


 


Tidak berselang lama, deru mobil terdengar memasuki garasi rumah. Tian beranjak dari kamar menuju pintu untuk menyambut Ajeng. "Nggak biasanya selarut ini. Tumben," ucap Tian mengikuti istrinya dari belakang.


 


"Iya, rasanya capek banget, soalnya menyiapkan bahan untuk meeting besok." Tian memaklumi keluhan istrinya. Memang terlihat dari wajah Ajeng yang begitu lelah.


 


Akhirnya ia mengusap pelan kepala istrinya. "Mandi dulu, aku siapkan pakaian ganti untukmu."


 


 


Setelah menyiapkan semua keperluan istrinya, ia menunggu istrinya di tempat tidur sambil bermain ponsel.


 


"Kalo sudah selesai, sini, ya. Aku mau ngobrol sebentar," ucap Tian saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi.


 


Sepertinya memang ini perlu dibicarakan. Jika tetap berlanjut, akan berpengaruh terhadap pernikahan mereka. Jujur, Tian masih ingin mempertahankan rumah tangganya.

__ADS_1


 


Ajeng yang sudah benar-benar lelah ikut merebahkan dirinya setelah semua urusannya selesai. "Ah! Capeknya hari ini," keluh Ajeng dengan merenggangkan otot tubuhnya.


 


"Kerjaan banyak banget sepertinya," tanya Tian.


 


Ajeng mengangguk. "Iya, besok ada presentasi produk."


 


"Kamu jangan capek-capek. Aku masih butuh kamu buat ngurusin aku. Ya, Sayang?"


 


"Iya. Maaf, aku jarang di rumah."


 


"Aku mau tanya," tanya Tian memulai obrolan.


 


Ajeng yang sudah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya menatap Tian. "Apa?"


 


"Kalau seandainya kita punya momongan, apa kamu tetep kerja?"


 


"Mungkin tetap kerja, Mas. Kenapa?" jawab Ajeng dengan memejamkan matanya.


 


 


Mungkin karena rasa capek yang Ajeng rasakan, membuat pertanyaan dari Tian begitu sensitif untuknya. "Maksud kamu selama ini aku nggak pernah ngurusin kamu?"


 


 


"Bukan gitu, tapi aku rasa belakangan ini kita jarang punya waktu berdua. Kamu selalu berangkat pagi, terus pulang malam."


 


Ajeng menghembuskan napasnya. "Mas, kita udah bahas ini saat awal pernikahan kita. Kamu menghargai keputusan aku yang ingin tetap kerja. Kenapa sekarang berubah?"


 


"Ya udah, kita tidur aja, ya. Katanya kamu capek?" ajak Tian. Ia lebih memilih untuk menghindar terlebih dahulu.


 


 


Bangun pagi, Tian mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Seperti biasa, Ajeng akan selalu bangun lebih dulu. Sedangkan Tian tidak langsung mandi, ia memilih untuk pergi ke dapur untuk membuat kopi.


 


 


Dua cangkir kopi telah tersaji dalam tiga menit. Tidak ada yang berubah dalam rumah tangganya. Walaupun ia jago dalam membuat kopi, bukan berarti ia tidak ingin dibuatkan kopi oleh istrinya. Ia tentu sangat ingin merasakan kopi buatan Ajeng. Namun, permintaan itu tidak pernah dikabulkan oleh Ajeng dengan alasan kopi buatan Tian lebih enak daripada buatannya.


 

__ADS_1


Bau kopi yang merebak, membuat Ajeng menghampiri meja makan dan duduk bersama Tian. "Makasih ya, Mas," ucap Ajeng sambil menyesap kopinya.


 


Tian hanya membalas dengan senyuman masam. "Kamu langsung berangkat?"


 


"Iya, Mas. Kenapa?"


 


"Ini yang aku maksud semalam. kamu ingat, kapan terakhir kali kamu menyentuh dapur?"


 


Merasa tidak ada jawaban dari Ajeng, Tian pun kembali berucap, "Bahkan hanya sekedar membuatkanku sarapan kamu sudah tidak pernah."


 


Ajeng mneyadari tentang kesalahannya karena sudah jarang pergi ke dapur. Membuatkan suaminya sarapan, makan malam atau hanya sekedar membuatkan kopi. Ia selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Namun, bukankah itu untuk kebutuhan keluarga juga?


 


"Aku kan harus berangkat pagi, Mas. Maaf ya, nggak sempat bikin sarapan. Lain kali, deh, kalo aku libur."


 


"Kamu udah sering bilang seperti itu. Tapi buktinya apa? Tidak ada yang terwujud, kan? Hari libur pun kamu pasti ada jadwal dengan teman sekantormu. Apa aku boleh bilang jika kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu?"


 


"Mas, itu lagi yang dibahas. Kamu sendiri yang menyetujui keputusanku untuk tetap bekerja. Kalau kamu tidak ingin aku bekerja, seharusnya dulu kamu bilang tidak setuju. Kamu pikir, aku kerja untuk siapa? Aku bekerja untuk kebutuhan kita juga."


 


"Kan aku sudah bekerja. Aku punya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan kita."


 


Ajeng menghembuskan napas kasar. "Berapa sih, Mas, gaji yang kamu dapatkan dalam sebulan? Apa cukup untuk membelikan barang-barang yang selama ini kita beli? Enggak, kan? Kalau bukan karena gajiku, rumah ini mungkin masih kosong dan tidak ada isinya. Aku itu capek Mas, tiap hari kerja. Berangkat pagi pulang malam. Di rumah terkadang masih dapat tekanan dari kamu."


 


Setelah beberapa detik, Ajeng baru tersadar apa yang baru saja ia ucapkan. Namun, ia sama sekali tidak mengucapkan maaf atas apa yang sudah keluar dari mulutnya. Ajeng merasa apa yang diucapkannya adalah benar.


 


Rahang Tian mulai mengeras. Ia kembali dibandingkan dengan Ajeng yang penghasilannya lebih besar. "Kamu pikir aku nggak capek? Yang kerja nggak kamu aja. Kita sama-sama kerja. Selama ini aku udah sabar, kamu nggak pernah ngurusin aku. Aku juga khawatir tiap kamu pulang malam. Kamu nggak mikir sampai ke situ, kan? Jelas, kamu hanya mikir kerja kerja dan kerja. Kamu nggak pernah berpikir perasaan aku gimana. Asal kamu tahu, kalo kamu capek, itu juga berpengaruh sama kandungan kamu. Itu yang bikin kita lama punya momongan. Kamu tahu itu?"


 


Ajeng berdiri dari kursinya dan menatap tajam Tian. "Jadi maksud kamu kita belum memiliki keturuan juga karena salahku? Karena salahku yang terlalu capek membuat aku susah mengandung? Itu maksud kamu?"


 


Amarah Ajeng tidak terbendung. Membuat pertengkaran kembali terjadi dengan topik dan pembahasan yang sama. "Terserah deh, Mas. Aku mau berangkat kerja. Aku nggak punya waktu buat debat nggak jelas kayak gini. Lama-lama aku nggak betah di rumah kalau dapet tekanan terus tiap hari," gerutu Ajeng sambil melangkah meninggalkan Tian.


 


...**************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


Hemm, karena hari ini, hari Senin jangan lupa kasih vote, ya buat Authornya. Biar Author makin semangat nulisnya 😘😘


 

__ADS_1


 


__ADS_2