Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
30_Satu Bulan Bekerja


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*************...


 


Waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa, Bayu sudah menjalani kehidupan barunya selama tiga puluh hari. Waktu yang terbilang begitu singkat untuk proses penyesuaian diri dari pekerjaan lamanya, yang tentu saja hal itu juga berpengaruh pada fisik lelaki yang baru saja menjadi seorang ayah tersebut.


 


Terlihat dengan jelas lingkaran hitam di sekitar matanya, sebagai pertanda bahwa dirinya kurang beristirahat. Di saat orang lain mempersiapkan diri untuk menjemput mimpi, Bayu justru mempersiapkan diri untuk mengais rezeki.


 


Untuk siapa?


 


Tidak lain hanyalah demi memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan putri mungilnya. Sebulan bekerja di pabrik, sedikit banyak membuat Bayu menyadari jika selama ini Aisyah sudah bekerja berat untuk keluarga kecilnya. Apalagi dengan membawa Zahra dalam perutnya, pasti Aisyah begitu kerepotan. Oleh sebab itu, Bayu bertekad akan selalu bekerja keras.


 


"Zahra sayang, ayah pergi kerja dulu, ya. Zahra baik-baik di rumah sama Bunda. Jangan rewel, ya. Jangan bikin Bunda kerepotan. Ayah percaya Zahra anak pintar.  Temani Bunda, ya." Bayu mencium pipi Zahra yang mulai gembul. Bayi itu hanya menggeliat yang membuat siapa pun yang melihatnya menjadi gemas.


 


"Kopi sama rotinya sudah Aish siapin, Mas. Kalau sekiranya Mas lelah, istirahat barang sebentar. Jangan terlalu dipaksakan," pesan Aisyah dengan membawa tas bekal yang selalu ia siapkan untuk Bayu.


 


Bayu bangkit dari sisi Zahra dan menghampiri Aisyah yang berdiri tidak jauh darinya. "Terima kasih, ya, Dek. Maafkan Mas selalu merepotkan kamu."  Bayu memeluk Aisyah dan mendaratkan kecupan ringan di kening wanita pujaannya.


 


"Kok gitu, sih, Mas. Mas Bayu enggak merepotkan. Sudah, buruan berangkat! Nanti terlambat." Aisyah melerai pelukan Bayu. Bayu tersenyum melihat wajah imut Aisyah ketika cemberut seperti ini.


 


"Kenapa aku jadi malas berangkat, ya, Dek?" Bayu kembali mendekap tubuh Aisyah. Bahkan kali ini lebih erat dari pelukan tadi.


 


"Mas, udah, ah! Cepetan nanti terlambat!" Aisyah mendorong tubuh suaminya agar menjauh. Aisyah tidak mau terjadi sesuatu yang lebih dari itu dan tentunya akan membuat Bayu terlambat pergi ke pabrik.


 


"Iya, Dek. Maaf," cicit Bayu. Wajahnya sedikit lesu, pasalnya sudah sekian lama ia melatih kesabaran untuk mengalahkan ego yang terkadang menguasai dirinya.


 


"Ayo, Aish anter sampai depan!"


 


Mereka beriringan keluar kamar. Aisyah hanya mengantar sampai pintu ruang tamu. Setelah bayangan suaminya menghilang, Aisyah segera mengunci pintu dan kembali ke kamarnya.


 

__ADS_1


Seperti itulah rutinitas yang mereka jalani ketika Bayu mendapatkan shift malam. Aisyah harus begadang di rumah menemani Zahra. Padahal di saat Bayu mendapat shift pagi, Bayulah yang selalu menemani Zahra begadang. Saai ini, mereka harus sama-sama berjuang untuk masa depan keluarga kecil mereka.


 


Sudah beberapa hari ini Ambar tidak enak badan. Ibu mertua Aisyah mengalami flu dan sedikit demam. Aisyah pun meminta Ambar untuk beristirahat lebih awal. Aisyah tidak ingin membuat wanita paruh baya itu kerepotan. Sehingga sudah dua malam ini Aisyah sendirian menjaga Zahra di malam hari.


 


...************...


 


Matahari beranjak tinggi, sinarnya terasa begitu hangat menyentuh kulit Aisyah dan Zahra yang tengah berada di samping rumah. Aisyah sengaja membawa Zahra keluar agar Bayu bisa tidur nyenyak tanpa terganggu tangisan Zahra.


 


Sementar di dalam rumah, Erina baru saja keluar dari kamarnya. Dengan mata yang masih berat, gadis itu menuju meja makan dan membuka tudung saji yang tertata di atasnya.


 


"Ck! Apa ini? Kenapa nggak ada masakan?" gerutunya sambil menutup kembali tudung saji tersebut. Gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk menunaikan panggilan alam.


 


Tidak lama kemudian, Erina kembali duduk di meja makan. "Bu, apa nggak ada masakan lain? Bukannya masak malah keluyuran aja kerjaan, ya." Erina tidak henti mengumpat. Kata-kata yang terlontar dari mulutnya, ia tujukan untuk Aisyah.


 


"Rin, sampai kapan kamu mau seperti itu? Kamu itu sudah besar, tapi sikapmu masih saja kekanak-kanakan." Ambar yang sedang menonton televisi pun angkat bicara. Wanita itu sungguh dibuat kesal akan tingkah putrinya.


 


 


"Erina, jaga bicaramu! Aisyah dari sebelum subuh sudah berkutat di dapur. Ibu nggak enak badan, jadi ibu nggak bisa bantu jagain Zahra. Harusnya kamu yang sibuk di dapur, bukan Aisyah." Ambar sedikit menaikkan nada bicara. Pasalnya ia benar-benar geram dengan tingkah Erina.


 


"Ada apa lagi, sih, jam segini udah ribut?" Bayu menimpali pembicaraan ibu dan adiknya. Ia terbangun akibat suara dari kedua wanita itu.


 


"Ini, loh, Mas. Masa udah jam segini nggak ada sayur. Kita makan apa, dong?" ucap Erina dengan entengnya.


 


Bayu melangkah mendekati meja makan. Dilihatnya semangkuk oseng kacang panjang kemarin yang warnanya sudah semakin gelap, sepiring bakwan dan secobek sambal terhidang di atas meja. Tidak ketinggalan satu toples kerupuk yang selalu menjadi menu wajib dalam keluarga ini.


 


"Nah, ini sudah komplit. Kurang apa lagi, sih?" Bayu menatap wajah Erina yang masih ditekuk.


 


"Itu 'kan, sayur kemarin, Mas."


 

__ADS_1


"Memang apa bedanya? Kalau kamu nggak suka, tinggal makan pakai sambel sama kerupuk aja. Gitu aja kok, repot." Bayu duduk di hadapan Erina sembari menyesap teh hangat yang selalu Aisyah sediakan di meja itu.


 


Ambar yang mendengar jawaban Bayu sedikit tersenyum. Wanita itu senang jika Bayu mulai berani menyanggah kata-kata Erina. Sesekali Erina perlu diberi pelajaran agar bisa menghargai orang lain.


 


"Mas Bayu, kok, gitu, sih! Jangan-jangan Mas Bayu sekarang juga lebih mentingin Mbak Aish ketimbang Erin, ya."  Erina makin emosi melihat sikap Bayu yang begitu tenang.


 


"Ya, iyalah. Sekarang tanggung jawab mas yang utama adalah Mbak Aish dan Zahra. Kamu memang masih tanggung jawab mas, tapi cuma sesuai dengan kemampuan mas. Mas hanya mampu memberi uang belanja seperti yang sudah tersedia di meja ini. Kalau kamu tidak suka, ya, cari sendiri. Kerja biar kamu bisa merasakan perjuangan setiap butir nasi yang selama ini kamu makan."


 


Mendengan jawaban Bayu, Erina merasa kalah. Memang selama ini dia hanya bermalas-malasan. Gadis seusianya di kampung ini sudah pada bekerja. Ada yang menjadi pramuniaga, ada juga yang bekerja di pabrik. Sedangkan Erina, dia hanya menjadi pengangguran dan selalu mengikuti gaya hidup teman-temannya yang notabene anak orang berada.


 


Tak ayal, Erina segera mengambil nasi dan sayur yang sudah tersedia di meja. Dengan cepat ia melahap makanan itu hingga habis. Hal itu tentu membuat Bayu tersenyum.


 


...************...


 


"Gimana kondisi Ibu? Apa sudah baikan?" tanya Erina ketika mereka duduk di depan televisi.


 


"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Ibu kangen gendong Zahra. Jadi ibu berusaha untuk segera sembuh," jawab Ambar penuh semangat.


 


"Jangan dipaksakan, Bu. Ibu harus benar-benar banyak istirahat."


 


"Bukan hanya Ibu yang harus beristirahat, Bayu juga. Kerja shift malam itu tidak sehat. Harusnya, siangnya dia tidur. Ini malah gendong Zahra." Ucapan Herman yang ikut menimpali, bagaikan belati yang menusuk jantung Aisyah. Pasalnya, saat ini Bayu sedang menggendong Aisyah.


 


Aisyah hanya menunduk, ia berusaha menenangkan  hatinya yang bergemuruh. Sejujurnya Aisyah ingin menjerit, ia lelah menghadapi bapak mertua dan adik iparnya yang selalu memojokkan dirinya.


...**************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2