Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
55_Membantu Indar


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*************...


Sakit hati sudah pasti iya, tapi Aisyah bisa apa? Memendamnya sendiri dalam diam dan hanya mampu menumpahkan air mata. Tidakkah sang bapak mertua menghargai pengorbanannya selama ini. Dulu saat Bayu masih belum mendapatkan pekerjaan di pabrik, siapa yang menopang kondisi keuangan rumah tangganya jika bukan dirinya.


Pun di saat Bayu memilih untuk bekerja di pabrik, siapa orang yang melarang pertama kali. Lalu sekarang, tidak malukah sang ayah mertua meminta bantuan sang anak sulung untuk sang anak bungsu? Kurang apa Aisyah sebagai menantu, sedangkan menantu yang satunya hanya bermalas-malasan dan menggantungkan hidup pada mertua dan saudara iparnya.


Seminggu berlalu setelah kepulangan mereka dari rumah Herman. Meski tidak mendengar secara langsung omelan dan hinaan dari bapak mertuanya, nyatanya telinganya tetap terasa panas saat mendengarnya melalui ponsel.


Sehari tiga kali Herman meneleponnya hanya untuk mengingatkan, agar Bayu tidak lupa mengirimkan uang dan supaya Aisyah tidak pelit kepada ipar.


“Sabar Aish, sabar,” katanya pada diri sendiri, “jangan khawatir, suatu hari nanti pasti akan kamu temukan bahagiamu sendiri.” Kata-kata manis sebagai penguat diri selalu ia jejalkan di dalam otak dan hati agar ia tidak rapuh dan bisa berdiri.


Namun sayang, semua kata penguat itu hancur tatkala melihat suaminya sendiri tergopoh-gopoh hanya karena ingin membantu orang lain yang bukan tanggung jawabnya.


“Memangnya nggak ada orang lain yang bisa membantu Indar?” tanya Aisyah saat Bayu terburu-buru hendak ke rumah Indar.


“Di rumah Indar nggak ada orang laki, Dek.”


“Tapi kenapa harus Mas Bayu? Dia nggak punya tetangga lain?”


“Hanya mas yang dekat dengan dia.”


“Memang kalian sedekat apa, sampai rela jauh-jauh ke rumah Indar hanya untuk membenahi listriknya yang mati?”


Pertanyaan yang ia lontarkan menghujam ulu hatinya sendiri. Sakit itu kian terasa perih. Terbayang saat dulu ia kesusahan tetapi Bayu memilih abai dan sekarang lihatlah. Indar yang notabene hanya teman biasa tapi menjadi prioritas Bayu. Aisyah kalah telak.


“Kan, kamu tahu, mas dan Indar sudah berteman sejak kecil. Jadi wajar, kan, kalau mas bantu dia.”


“Enggak, Mas. Itu nggak wajar. Mas sudah punya kehidupan sendiri. Ada aku dan Zahra yang harusnya menjadi prioritas Mas, bukan Indar!” Rasa cemburu membuat Aisyah kehilangan kontrol atas emosi yang bergemuruh di dada hingga ia berani meninggikan suaranya.

__ADS_1


“Kamu kenapa, sih?” Bayu balas membentak. Manik matanya menatap nyalang pada Aisyah.


“Jawab dengan jujur. Ada hubungan apa sebenarnya antara Mas dengan janda genit itu? Nggak mungkin kalau hanya sebatas teman harus Mas belain dia sampai segininya.”


“Cukup, Ais!” Aisyah berjengit kaget karena suara keras Bayu. “lama-lama otakmu makin ngawur.”


Bayu pergi begitu saja meninggalkan Aisyah yang didera rasa sakit. Aisyah luruh ke lantai, menangis tersedu. Meratapi nasibnya yang pilu. Suara tangis Zahra dari kamar memaksa Aisyah untuk bangkit dan menenangkan putri kecilnya.


Ia peluk gadis kecil sumber kekuatannya. Lama ia menenangkan Zahra, tapi Zahra masih terlihat rewel. “Tenang, ya, Sayang. Bunda nggak apa-apa. Maafin bunda, ya.”


Aisyah hapus air matanya yang masih berderai membasahi pipi. Kekuatannya sudah luluh lantak. Jika ujiannya hanya berupa hinaan dari bapak mertua, Aisyah masih bisa berdiri tegak dengan dada membusung menyembunyikan luka batinnya. Akan tetapi, saat ujiannya merupakan orang ketiga di mana Bayu sendiri sudah tidak berada di pihaknya, Aisyah kehilangan pijakan kakinya.


Dunianya terasa hancur berantakan. “Tuhan, aku nggak sanggup. Sakit hati hamba diperlukan seperti ini,” raungnya dalam hati.


...************...


Senja sudah lenyap ditelan gelap, tetapi sang suami tak kunjung pulang. Hatinya diliputi gelisah dan juga pikiran buruk. Bagaimana tidak, suaminya mendatangi seorang janda seorang diri. Apa yang mereka lakukan di sana?


Pikiran-pikiran buruk itu terus merongrong, membuat Aisyah semakin kalut. “Sumpah demi Tuhan, aku nggak akan maafin kamu jika apa yang aku pikirkan terjadi, Mas. Kesabaranku ada batasnya, jangan terus kamu uji aku dengan terus menyakitiku.”


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Bayu baru saja datang. Ia melihat Aisyah yang tengah menyusui Zahra. “Kamu belum tidur?”


“Bagaimana seorang istri bisa tidur jika suaminya pergi ke rumah seorang janda tanpa ia tahu apa yang mereka lakukan di sana,” ketus Aisyah.


“Pikiranmu terlalu picik, Aish,” murka Bayu.


“Bela saja terus janda gatelmu itu.”


“Aisyah!” Bayu mengeram menahan amarah. Ia tidak ingin sang anak terbangun karena pertengkaran mereka.


Aisyah balas menatap manik Bayu tanpa gentar. Kekecewaan membuat ia berani melawan. Bodoh jika Bayu mengira ia akan diam saja saat suaminya itu berlaku semena-mena.

__ADS_1


Tanpa banyak kata Aisyah meninggalkan Bayu dengan tatapan penuh luka. Ia lalu menidurkan Zahra di kamar dan ikut berbaring di samping Zahra. Bayu mengepalkan tangan merasa terhina dengan tuduhan Aisyah.


...**************...


Hari-hari berlalu dan masih dengan pertengkaran yang sama. Tentang Bayu yang selalu ada untuk Indar. Aisyah yang lelah akhirnya memilih abai. Ada saatnya suatu hari nanti semua akan berakhir.


“Iya, iya, nanti aku ke sana. Aku masuk pagi ini, nanti pulang kerja aku langsung ke sana. Untuk sementara kamu ambil air dari rumah ibu saja.”


Percakapan Bayu di telepon dengan Indar membuat hati Aisyah semakin teriris. Lupakah Bayu jika ia sudah mempunyai tanggung jawabnya sendiri. Menunggu beberapa saat, akhirnya Bayu mematikan sambungan teleponnya.


“Nanti aku ke rumah Indar mau memperbaiki pipanya yang bocor,” kata Bayu.


Itu adalah sebuah pernyataan bukan meminta izin pada Aisyah. Ternyata pertengkaran kemarin tidak ada pengaruh apa pun pada Bayu.


“Mas lupa kalau nanti jadwal imunisasi Zahra?”


“Makanya aku minta kamu mandiri biar segala sesuatunya nggak harus ngandelin aku. Masa imunisasi aja harus aku yang ngantar. Sudah aku berangkat dulu. Assalamualaikum.” Bayu berlalu begitu saja.


Aisyah menatap hampa kepergian Bayu. Bahkan keperluan untuk anaknya pun harus terkalahkan oleh Indar. Hati yang patah itu semakin hancur. Aisyah mencoba memunguti serpihan hati untuk bisa ia selamatkan, tetapi sepertinya serpihan itu sudah menjadi debu yang tak lagi bisa ia selamatkan.


Aisyah menangis dalam diam. Isaknya tak lagi terdengar. Ia merana dalam kesendirian. “Kuat Ais, kuat. Duh, Gusti, paringi kuat. Berikan aku kesabaran seluas samudra yang tak bertepi.”


Ia usap air matanya kasar. Pepatah jawa membuatnya bangkit, ‘Apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu tuai’ Aisyah berharap dengan kesabarannya ini akan membuahkan hasil di masa depan. Entah itu untuk dirinya sendiri, atau untuk putri kecilnya. Ia percaya jika semua akan indah pada waktunya. Bukankah pelangi terbit setelah hujan? Aisyah akan setia menunggu pelangi di hidupnya muncul.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2