
...Selamat membaca...
...**********...
Jangan pernah menyalahkan orang lain atas rasa kecewa yang kau rasakan.
...*Aisyah Khumaira *...
...*********...
Keputusan Aisyah Khumairah sudah bulat, ia akan mengugat cerai Bayu Laksmana, ayah dari putri kecilnya Zahra jika Bayu tidak segera mengurusnya.
Agung dan Diana sudah tidak bisa lagi melemahkan hati wanita itu. Namun, ia tetap memberikan semangat untuk semuanya agar menjadi lebih baik.
...********...
Sore itu langit memancarkan kehangatannya, sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan sedang. Di dalamnya musik terdengar melow mengambarkan kesenduan sang pengendara. Ajeng Kartini berniat menemui sang mantan suami di tempat kerjaannya, ia ingin mempertegas kembali soal permintaannya tempo hari, untuk kembali membina rumah tangga seperti beberapa waktu yang lalu.
Gerbang pabrik di mana Tian bekerja sudah terlihat. Senyum terbit di wajah wanita yang sedikit kurus dan pucat. Ajeng berharap bisa bertemu dengan lelaki yang telah membuatnya menyesal dengan keputusan mengakhiri pernikahan mereka.
Ajeng memarkir mobilnya tak jauh dari gerbang pabrik. Dari posisinya saat ini, ia lebih leluasa untuk menunggu dan mengawasi orang-orang yang keluar masuk pabrik. Wanita yang memakai dress berwarna coklat itu pun selalu menebar senyum terbaiknya. Dalam hati kecilnya, Ajeng masih berkeyakinan jika Tian akan menerimanya kembali.
Beberapa saat lamanya Ajeng menunggu. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat Tian memperlakukan seorang wanita cantik dengan begitu baiknya. Ajeng begitu geram, ia cemburu melihat keduanya berjalan beriringan. Ajeng lupa, jika Tian memang selalu bersikap baik kepada wanita.
Ada emosi yang melanda dalam jiwanya. Dulu, ia yang mendapat perlakuan manis seperti itu, tetapi ia tak pernah menghargai Tian. Bahkan, Ajeng selalu abai dan acuh dengan perlakuan suaminya kala itu.
Sebenarnya Tian adalah orang yang romantis. Sampai hal-hal kecil sekalipun. Dulu, bunga selalu hadir di kamar mereka, sarapan nasi goreng berbentuk hati sudah tersaji ketika Ajeng membuka mata, dan banyak lagi hal-hal sepele yang selalu Tian lakukan untuk memuliakannya.
Namun, semua itu ia balas dengan perlakuan buruk. Sekarang, ketika Tian memperlakukan wanita lain dengan manis, mengapa hatinya sakit? Apa yang dilihatnya saat ini membuat hatinya luka tak berdarah. Ia bertekad akan menggapai kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Ada rasa penyesalan yang sangat dalam di hatinya.
Dengan begitu percaya dirinya Ajeng menghampiri Tian dan Aisyah yang sedang berjalan menuju ke arah gerbang pabrik.
Banyak karyawan lain yang berhamburan keluar gerbang, karena saat ini memang jam bubar untuk shift pagi.
"Tian!" seru Ajeng dengan wajah berbinar.
"Ajeng?" Alis lelaki itu menyatu. Tian terkejut, ia tidak menyangka jika mantan istrinya mau bersusah payah datang ke tempat kerjanya. "Sedang apa kamu disini?"
"Aku datang ke sini sengaja untuk menemuimu. Bisakah kita berbincang sebentar? Aku traktir kamu kopi di tempat kemarin," ujar Ajeng penuh harap.
Sedangkan Aisyah yang berada di antara dua orang yang tengah bercakap, seketika jadi tidak nyaman.
"Maaf, aku nggak bisa. Aku tidak mau ada fitnah di antara kita," jawab Tian dengan ketus.
__ADS_1
"Kenapa Tian? Kenapa kamu tidak mau? Bukannya dulu kamu begitu mencintaiku dan apa pun akan kamu lakukan untuk mendapatkanku?"
Suara Ajeng sedikit meninggi. Ia tidak memedulikan karyawan lain yang mulai memperhatikan mereka.
"Jaga bicaramu, Ajeng. Kamu itu istri orang. Jangan lupa hal itu. Mengapa kamu berkata seperti itu padaku? Hubungan kita sudah berakhir dan kamu yang mengakhiri cerita itu. Mengapa kamu menganggapku seolah-olah aku masih lelaki yang tidak pernah kamu hargai!"
Kata-kata Tian penuh penegasan. Ia masih berusaha untuk menjaga nama baik mantan istrinya.
Hal itu juga terdengar oleh Aisyah. Wanita itu merasa semakin tidak nyaman berada dalam situasi seperti itu. Aisyah pun memilih menjauh dari pertengakan mereka yang tidak seharusnya ia dengar.
"Kamu!" sarkas Ajeng memanggil Aisyah dengan lantang.
Aisyah tetap melangkah, ia tidak menghiraukan panggilan Ajeng, sebab ia tidak tahu wanita itu berbicara kepada siapa.
"Hei! Kamu yang memakai blazer warna hitam!" seru Ajeng dengan emosi yang semakin mencuat.
Aisyah masih tetap melangkah meskipun ia menyadari bahwa pemakai blazer hitam di tempat itu hanya dirinya seorang. Aisyah tidak peduli sebab ia memang tidak mengenal siapa wanita itu dan Aisyah juga tidak ingin tahu urusan wanita itu dengan Tian.
"Namanya Aisyah. Panggil yang sopan! Lagian mau apa kamu panggil dia?" tanya Tian kepada Ajeng.
Aisyah yang dipanggil dengan sebutan itu tentu saja merasa kaget. Ia langsung menghentikan langkahnya dan membalikan badan dengan cepat.
"Maaf, Mbak. Apakah kita saling kenal sampai Mbak memanggil saya seperti itu? Dan siapa lelaki yang sudah saya rebut dari Mbak?" ketus Aisyah dengan wajah memerah menahan amarah.
"Kita memang tidak saling kenal, tapi kamu yang membuat Tian tak ingin kembali lagi kepadaku, paham kamu pelakor!" Ajeng tak kalah marahnya. Ia mendekati Aisyah dan menunjuk Aisyah dengan tatapan nyalang.
"Saya merebut Tian?" Telunjuk Aisyah menunjuk pada dirinya. Wanita itu terkekeh kecil sebelum melanjutkan kalimatnya, "Mbak nggak salah bicara?"
"Ajeng, jaga ucapan kamu!" bentak Tian dengan lantang. "Kalau kamu tidak tahu apa-apa, lebih baik kamu diam! Aisyah itu rekan kerja aku, paham kamu!" Tian menarik tangan Ajeng agar menjauh dari Aisyah.
Namun, Ajeng meronta dan maju untuk mendekati Aisyah lagi. Tian tetap memegang tangan Ajeng hingga ia sedikit tenang. Setelah Ajeng terlihat bisa menguasai diri, Tian pun melepaskan tangan Ajeng. Namun siapa sangka, jika Ajeng kembali mendekati Aisyah.
Plak!
"Dasar pelakor," ketus Ajeng sambil menampar Aisyah dengan kencang.
__ADS_1
Karena tidak siap Aisyah pun hampir saja jatuh kalau saja Tian tidak menghampiri dengan cepat.
Aisyah meringis dengan alis hampir tertaut. Bingung salah apa dirinya dengan wanita itu, kenal saja tidak. Lalu mengapa dia disebut pelakor.
Sambil memegangi pipinya Aisyah hanya memandangin Ajeng dengan wajah marahnya.
"Kesalahan apa yang telah kamu perbuat dengan mantan suamimu, Mbak. Hingga kamu begitu marah padaku. Rasa bersalahmulah yang membuat kamu marah tanpa terkendali!" Aisyah berujar pelan.
Mereka sudah menjadi nontonan karyawan dan orang-orang lewat. Sambil berbisik pelan ditelinga Ajeng
"Hargailah kesempatan yang hadir dalam hidupmu sebelum penyesalan datang diakhir jalan cerita hidupmu," bisik Aisyah dengan tenang walau merasakan panas dipipinya. Ia tidak mau terpancing amarah dan memaki Ajeng. Namun, ia hanya memberikan pesan kepada wanita yang sedang membulatkan bola matanya.
Ajeng heran mengapa wanita dihadapannya tidak membalas perlakuannya. Ajeng berpikir kalau Aisyah pasti bersalah, maka dari itu dia diam saja kala Ajeng menamparnya.
"Bagaimana? Sudah puas dengan tuduhan yang tidak pernah aku lakukan. Lalu setelah kamu mempermalukan aku, apakah Tian akan kembali padamu?" sarkas Aisyah.
"Ajeng, keterlaluan kamu, Aisyah itu hanya teman kantor ku dan aku tidak ada hubungan apa-apa sama dia. Jika seandainya pun kami ada hubungan, kamu mau apa! Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi," bentak Tian.
Ia baru tersadar dengan tingkah Ajeng sedari tadi ia bergeming melihat kelakuan Ajeng kepada Aisyah.
"Kamu itu istri orang, Ajeng. Jagalah pernikahanmu jangan sampai hal yang dulu kamu lakukan padaku. Jangan kamu ulangin kembali dengan suamimu sekarang ini," seru Tian begitu marahnya.
"Tian kembali padaku, aku terlambat menyadari kalau aku cinta kamu," jawab Ajeng melemah.
"Itu bukan cinta tapi hanya obsesimu saja, setelah apa yang kamu rasakan sekarang tidak sesuai dengan harapanmu, Ajeng," seru Tian lagi.
"Pulanglah, Ajeng. Perbaiki semuanya dengan baik-baik," kembali Tian bersuara.
Sore pun semakin menjauh kearah barat, setelah drama itu, semua para pekerja menjadikan bahan gosip baru dan kasak kusuk pun terdengar tentang Aisyah sang pelakor.
...**********...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1