
...Selamat membaca...
...*************...
Ingin sekali Aisyah memberi nasihat dalam permasalahan Erina. Namun, ia sadar bagaimana posisinya saat ini. Ia mungkin sudah menikah dengan Bayu, tetapi di hadapan Erina dan Herman, ia masih belum menjadi bagian dari keluarga mereka.
Lebih baik ia menidurkan Zahra terlebih dahulu. Ia takut jika Zahra terbangun karena suara-suara di sana.
"Ayah tanya lagi sama kamu, Er. Siapa yang menghamilimu?" tanya Herman dengan nada tinggi.
"Jadi Bapak belum tahu siapa yang menghamili Erina?" tanya Bayu.
Bayu kira, Herman dan Ambar sudah mengetahui tentang siapa ayah dari anak yang dikandung Erina.
"Gimana cara bapak tau, dia aja ditanya bukannya jawab malah nangis terus. Bapak sudah capek tanya sama Erina. Kamu saja yang tanya sama dia!" perintah Herman dengan menunjuk Erina.
Erina yang melihat Herman murka menjadi lebih takut. Air matanya masih mengalir dengan deras. Ia pun mencari perlindungan pada Bayu, berharap Bayu akan memihaknya.
"Dididik, disekolahin tinggi bukan membuat bangga orang tua, malah bikin malu keluarga!"
Bayu menarik tangan Erina dan membantunya berdiri. Ia merasa tidak tega saat Herman membentak Erina dengan keras. Bayu membawa Erina menuju sofa ruang tamu dan mendudukannya di sana.
"Mas tanya sama kamu, siapa yang menghamilimu?" tanya Bayu dengan menatap Erina.
Erina sadar, ia sedang ditatap dengan tajam oleh Bayu. Jadi, saat ia mendengar pertanyaan Bayu, ia tidak berani menegakkan kepalanya. Ia hanya tertunduk sembari memainkan kuku jarinya.
"Biar mas minta pertanggung jawaban dia ke kamu," imbuh Bayu. Erina masih kekeh diam dan menggelengkan kepalanya.
"Erina, jawab pertanyaan masmu. Biar kita semua tau siapa ayah dari anak yang ada di perutmu. Kamu jangan diam saja, Nak." Ambar pun ikut meminta kejujuran pada anak bungsunya sambil menangis. Tak hentinya Ambar memeluk Aisyah untuk mencari kekuatan begitu Aisyah kembali dari kamar.
Lagi-lagi Erina hanya terdiam. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan dari tiga orang di hadapannya.
"Erin, bicaralah." Akhirnya Aisyah turut meminta Erina untuk berkata jujur. Namun, ia justru mendapat lirikan sinis dari Erina. Membuat Aisyah kembali terdiam dan memilih untuk menenangkan Ambar.
"Mas Bayu tanya sekali lagi sama kamu, Rin. Jika kamu tidak menjawab, jangan harap Mas Bayu akan diam saja dengan masalah ini."
"Jangan kamu manjakan dia lagi, Bayu. Kalau perlu kita usir saja dia! Biar dia tahu. Biar dia belajar."
__ADS_1
Mendengar kata usir, Erina segera berlari menuju Herman dan menangis. "Jangan usir Erina, Pak. Erina mohon! Maafkan Erina. Erina akan ngomong, tapi jangan marahin Erina."
"Siapa Rin? Siapa yang menghamilimu?" tanya Bayu sekali lagi.
Erina mulai mengatur napasnya. Ia menatap Bayu dengan sorot mata yang sedih. "Yang menghamili Erina ... Rudi, Mas."
"Rudi? Pacar kamu?" tanya Herman. Herman tahu siapa Rudi. Dia sudah pernah bertemu dengan lelaki itu. Namun, tidak menyangka bahwa hubungan mereka akan berjalan sejauh ini.
"Antar bapak ke rumahnya sekarang! Bapak akan minta pertanggung jawabannya."
"Aku sudah bilang sama Rudi, Pak. Dia malah marah-marah sama Erina. Dia meragukan anak ini, Pak," jelas Erina masih dengan isak tangisnya. Ia menyesali kenapa dulu ia mengiyakan ajakan Rudi. Mengapa ia percaya pada Rudi yang berkata akan bertanggung jawab padanya.
"Di mana rumahnya?"
"Pak? Biar Erina yang mengurusnya."
"Sampai kapan? Sampai anak kamu lahir? Perut kamu semakin membesar Rin. Jangan sampai para tetangga mendengar masalah ini!" Bentakan Herman tidak berhenti untuk Erina. Ia masih terus mencerca Erina bersama emosi yang menguasainya.
"Antar kita ke sana, Erina. Dia harus segera menikahimu sebelum perutmu membesar." Kali ini, giliran Bayu yang memaksa Erina.
"Kalau ini memang anak Rudi, mengapa harus takut? Antar mas ke sana atau mas cari tau sendiri, tapi jangan sampai kamu menyesal dengan apa yang akan mas lakukan sama Rudi," ucap Bayu seraya berdiri dari sofa.
"Mas! Mas Bayu mau ke mana?" Erina menarik tangan Bayu agar berhenti melangkah.
"Lepas, Rin!" geram Bayu dengan menyingkirkan tangan Erina.
"Iya, iya. Erina kasih tau di mana Rudi tinggal. Tapi Erina ikut."
...***********...
Menjelang sore, Herman dan Bayu pergi menuju rumah Rudi dengan diantar Erina.
Sebenarnya, rumah Rudi tidak sekecil yang terlihat. Hanya saja, rumahnya dikelilingi bangunan yang lebih tinggi dari rumahnya, sehingga membuat rumah Rudi terlihat kecil.
__ADS_1
Setelah beberapa menit menunggu di depan rumah, pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. "Ada perlu apa, ya?" tanya wanita itu.
"Rudi ada, Bu? Kami keluarga dari Erina ingin bertemu dengan Nak Rudi."
Sampai di sini, nada bicara Bayu masih tergolong lembut. Ia masih memiliki sungkan untuk berbicara dengan nada tinggi, sedangkan niat mereka adalah bertemu Rudi untuk meminta pertanggung jawaban.
Mereka dipersilakan masuk oleh wanita itu yang mereka yakini ibu dari Rudi. Sempat mendengar Rudi yang membentak ibunya karena dibangunkan dari tidur siangnya. Namun, akhirnya Rudi menurut.
Betapa terkejutnya Rudi saat mengetahui Erina bersama Herman dan Bayu duduk di ruang tamunya. Menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa terbaca. Antara marah, emosi, geram dan yang pasti tatapan ingin membunuhnya saat itu juga.
"Erina?" Suara Rudi terdengar bergetar karena takut.
"Kamu mengenal mereka, Nak?"
"Iya, Buk. Dia Erina." Hanya sebatas nama, Rudi memperkenalkan Erina di depan ibunya.
Erina tampak sedih dengan pengakuan Rudi. Seperti tidak ada yang spesial dengan dirinya di mata Rudi. Erina menyadari itu. Memang dulu, ia yang mengejar Rudi. Bahkan, banyak sekali wanita yang mengejar sosok Rudi.
"Sebelumnya kami mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu suasana di kediaman Ibu. Kami ingin bertanya apakah Rudi sudah menceritakan tentang permasalahan yang terjadi antara Rudi dan Erina?" tanya Bayu pada Ibu Rudi.
"Langsung saja, Bay," sahut Herman. "Anak Ibu menghamili anak saya, Erina. Dan di sini kami minta pertanggung jawaban dari anak Ibu," sahut Herman.
Wanita yang berada di samping Rudi itu terlihat kaget dengan pernyataan Herman. Mungkin ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Herman. Terlihat ia memegang dadanya yang mungkin terasa sesak.
"Benar begitu, Nak?" Rudi yang ditanya oleh ibunya hanya bisa menunduk pasrah. Bagaimana bisa ia membantah? Jika bersama Erina mungkin ia masih bisa mengelak. Namun, kini Erina datang bersama Bapak dan kakaknya. Sedangkan Rudi ingat betul kapan hal itu terjadi dan memang saat itu Rudi melakukannya dengan sadar tanpa penghalang.
"Baik, Pak. Sepertinya anak saya sudah mengakuinya. Saya sebagai ibunya mohon maaf atas perbuatan yang putra saya lakukan terhadap putri Bapak. Saya akan segera meminta putra saya untuk melamar putri bapak." Suaranya terdengar lembut, tetapi bergetar. Matanya pun sudah terlihat berair, tetapi ia mencoba menahan agar tidak tumpah. Wanita itu mencoba kuat setelah mendengar apa yang putranya lakukan.
"Bu, tapi aku belum bekerja. Bagaimana aku bisa menghidupi mereka nantinya?"
"Insyaallah ada rezeki yang mengalir asal kamu berusaha." Cukup satu kalimat yang membuat Rudi mengiyakan permintaan wanita yang sudah melahirkannya.
...***********...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1