Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
13_Memilih Diam


__ADS_3

...Selamat Membaca...


...************...


“Apa benar sikap dan sifat Aish terlalu kekanak-kanakan, Mas? Aish cuma mau Mas Bayu bisa mengerti, kalau kondisi keuangan keluarga kita juga sedang tidak baik-baik saja, Mas. Uang kita pas-pasan. Bahkan untuk membeli beras, dan lauk pauk seperti ayam, daging, dan ikan saja uang Aish tidak cukup. Makanya Ais lebih memilih membeli tahu, tempe, dan telur. Tapi hari ini, dengan gampang Mas Bayu menuruti semua keinginan Erina dengan membelikan tas branded untuknya.” Aisyah mencoba melupakan kekesalannya seorang diri dengan air mata dan isak tangis yang menyayat hati. Seolah-olah dengan seperti itu Aisyah dapat membuat hatinya menjadi tenang.


 


Setelah puas menangis dan melupakan seluruh kekesalannya seorang diri, Aisyah pun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, agar wajahnya tidak terlihat sembab karena habis menangis. Setelah selesai mencuci muka, Aisyah memoles wajahnya dengan riasan sederhana yang tampak natural di wajahnya. Setelah itu, Aisyah pun segera mengunci pintu dan segera menuju ke halte. Tempat biasa ia menunggu angkot yang membawanya menuju ke tempat di mana ia akan mengais rezeki.


 


“Pagi, Aish,” sapa tetangga Ais yang rumahnya berjarak hanya beberapa petak dari rumah Aisyah, yang juga berjalan menuju halte yang sama untuk mencari angkot.


 


“Pagi, Mbak,” jawab Aisyah dengan senyum ramahnya.


 


“Loh, Aish naik angkot juga?” tanya tetangga itu berbasa-basi.


 


“Iya, Mbak,” jawab Ais pelan, tetapi masih dapat didengar oleh lawan bicaranya.


 


“Kok, Aish nggak ikut sama suaminya aja tadi? Soalnya tadi mbak lihat suami Aish lagi manasin mesin motornya. Eh, kenapa sekarang Aish malah di sini? Sama-sama nungguin angkot,” cecar tetangga Aisyah dengan berbagai macam pertanyaan dengan sedikit kekehan kecil, yang membuat Aisyah malas.


 


“Mas Bayunya tadi buru-buru, Mbak. Ais kasihan kalau Mas Bayu harus mengantarkan Ais kerja dulu. Nanti Mas Bayu bisa terlambat pergi ke bengkelnya, Mbak. Makanya Ais memilih untuk berangkat sendiri naik angkot saja.” Aisyah mencoba memberikan alasan yang logis. Agar tetangga keponya itu tidak terus-terusan bertanya pada dirinya.


 


Sesampainya di halte, Aisyah tidak perlu menunggu lama karena angkot yang akan membawanya ke tempat bekerja telah tiba.


 


“Mbak, Ais duluan, ya, angkot Ais sudah datang,” ucap Ais berpamitan pada tetangganya.


 


“Iya, Ais. Hati-hati, ya,”  ucap tetangga tersebut bersamaan dengan lambaian tangannya.


 


Setelah memasuki angkot, perasaan Ais menjadi sedikit tenang. Pasalnya tetangga keponya itu terus saja memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan yang bahkan dirinya sendiri pun tidak dapat menjawabnya. 


 


Hening di dalam angkot, membuat Aisyah kembali berpikir, bagaimana kehidupan yang akan ia lalui dengan Bayu ke depannya. Hingga akhirnya kernet angkot tersebut menyadarkannya jika ia telah sampai pada tempat tujuannya.


 


“Mbak, sudah sampai. Mbak mau turun atau mau terus melamun di sini,” ucap kernet tersebut di barengi dengan kekehannya.


 


“Maaf, Mas. Saya turun di sini,” ucap Aisyah dengan menunduk malu.


 


“Terima kasih, Mas. Ini ongkosnya,” lanjut Aisyah kemudian menyodorkan uang pecahan lima ribuan untuk membayar ongkos angkot yang ia tumpangi.


 

__ADS_1


“Sama-sama, Mbak,” jawab sopir dan kernet tersebut berbarengan.


 


Sesampainya Aisyah di  tempat ia bekerja, Aisyah sudah disambut baik oleh rekan kerjanya. Pak Arseno, Witri, dan Dadan. Mereka menyambut Aisyah dengan senyum yang hangat. Meski hari ini Aisyah datang cukup terlambat.


 


“Pagi, Ais. Kok, tumben pengantin baru kita ini telat datangnya. Biasanya selalu datang lebih awal dari kita-kita,” goda Witri dengan mata yang ia kedip-kedipkan.


 


“Hem ... pasti kamu kesiangan karena semalaman kamu lembur dengan suami kamu, ya,” lanjut Witri lagi. Ia begitu semangat menggoda Aisyah, membuat pipi Aisyah sedikit memerah karena malu. Walaupun dalam hatinya menangis, karena mengingat perlakuan Bayu tadi pagi.


 


“Mbak Witri apaan, sih. Udah, ah, jangan godain Ais mulu. Ais malu, Mbak.” Aisyah menoleh ke kanan dan ke kiri berharap Pak Arseno dan Dadan tidak mendengarkan ucapan sahabatnya itu.


 


“Ais, kamu kalau sama mbak, gak usah malu-malu,” ucap Witri sambil mengedipkan sebelah matanya, tanda bahwa ia sedang menggoda Aisyah.


 


“Udah, ah, Mbak. Buruan sana kerja! Entar malah kena tegur lagi sama Pak Arseno. ‘‘Kan, Ais malu. Malu karena sudah datang terlambat, sama malu kalau harus ketahuan menggosip sama Mbak Witri. Malunya jadi dobel, tahu!” Aisyah mendorong pelan tubuh Witri agar seniornya itu kembali ke kubikelnya, dibarengi dengan senyum kecil yang selalu mengembang di bibir tipis milik Aisyah.


 


Selama di tempat kerja, fokus Aisyah hanya tertuju pada pekerjaannya saja. Aisyah memang cukup profesional dalam bekerja. Aisyah juga wanita yang pandai menyembunyikan masalahnya. Bahkan hingga jam istirahat tiba pun Aisyah harus di ingatkan oleh Witri dan Dadan.


 


“Ais, fokus amat kerjanya, ayo kita  istirahat. Kita makan siang dulu. Nanti habis istirahat baru kita lanjutin lagi kerjanya.” Witri yang melihat Aisyah terlalu fokus pada pekerjaannya akhirnya harus mengingatkan sahabatnya itu. Pasalnya Aisyah sering terlambat untuk menyantap makanan siangnya.


 


Setelah mendapat ajakan makan siang dari Witri, akhirnya membuat Aisyah menghentikan pekerjaannya. Sedangkan Arseno dan Dadan sudah meninggalkan meja kerjanya dari setengah jam yang lalu.


 


 


“Soalnya Ais bawa bekal, mbak.” Lanjut Aisyah lagi.


 


“Ais maunya makan di mana. Di pantry atau di kantin. Soalnya mbak juga bawa bekal dari rumah,” jawab Witri menawarkan pilihan.


 


“Ais ngikut aja mbak.” Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk makan di pantry. Pantry di tempat mereka bekerja cukup luas dengan meja makan panjang serta kursi yang di sediakan untuk karyawan yang membawa bekal dari rumah.


 


Saat sedang menikmati makan dan bercerita ngalor ngidul akhirnya Aisyah memberanikan diri bertanya pada Witri tentang masalah seputar kehidupan berumah tangga.


 


“Mbak Wit, Ais mau nanya, nih,” tanya Aisyah ragu.


 


“Ais, mau nanya apa? Mau nanya seputaran making love, ya,” jawab Witri sambil mengeringkan matanya.


 


“Apa, sih, Mbak. Bukan itu kali,” decak Aisyah dengan wajah memberengut, seolah-olah ia sedang kesal, yang justru membuat Witri semakin tertawa.

__ADS_1


 


“Terus soal apa?”  tanya Witri lagi, masih dengan senyum di bibirnya.


 


“Hem ... gini, Mbak. Suami Mbak pernah gak membeli sesuatu tanpa persetujuan dari Mbak? Misalnya memberikan barang untuk saudaranya tanpa izin dari Mbak gitu,” tanya Aisyah sedikit ragu pada Witri.


 


“Alhamdulillah, suami mbak gak pernah seperti itu. Kalau suami mbak mau memberikan sesuatu untuk keluarganya, suami mbak selalu diskusi dulu sama mbak. Memang, sih, suami mbak bekerja sendiri dan mendapatkan penghasilan sendiri. Tapi, kan, yang mengatur keuangan di keluarga mbak, ya mbak sendiri,” terang Witri panjang lebar.


 


“Memangnya kenapa, Ais? Suami kamu membelikan sesuatu untuk keluarganya tanpa bertanya berdiskusi dulu dengan kamu, ya?” tanya Witri dengan tatapan penasaran..


 


Aisyah sedikit bingung untuk menjawabnya. Ia tidak mau membongkar aib sang suami. "Enggak, Mbak. Mas Bayu tidak melakukan hal itu, Ais cuma mau tahu saja gimana tanggapan Mbak. Soalnya, kan, Ais baru menikah. Buat pelajaran aja,” terang Aisyah dengan kekehan seolah ia sedang menutupi lukanya.


 


“Oh, mbak kira kamu sedang mengalaminya,” ucap Witri dengan senyumnya, yang dibalas oleh senyuman samar.


 


...***********...


 


Sore itu sepulang dari bekerja, Aisyah segera membersihkan tubuhnya. Setelah terasa segar, Aisyah pun bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya. Hari ini ia berniat memasak sayur asam, tempe goreng, dan ikan asin beserta sambal terasi. Menu masakan rumahan yang low budget, tetapi terasa nikmat.


 


Saat sedang asyik memasak, tiba-tiba terdengar  deru motor berhenti tepat di depan rumah kontrakan milik Aisyah. Menandakan bahwa Bayu telah tiba. Sepertinya hari ini Bayu pulang lebih awal. Pintu pun perlahan terbuka. Setelah memberi salam dan masuk, Bayu pun langsung bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bau keringat dan bekas oli. Aisyah selesai memasak bersamaan dengan selesainya ritual mandi Bayu.


 


Perempuan itu pun segera menyiapkan makan malam untuk mereka di meja, lantas Aisyah duduk di depan lauk pauk yang sudah ia sediakan. Tak lama Bayu pun datang, lalu duduk di hadapannya. Lelaki itu terlihat sudah lapar. Aisyah melahap makanannya dengan tenang, begitu juga dengan Bayu. Hingga lama kelamaan Bayu merasa aneh dengan sikap istrinya karena sejak awal kedatangannya, Aisyah tidak berbicara.


 


Setelah selesai makan malam, Aisyah langsung masuk ke dalam kamar untuk melepas rasa lelahnya. Bayu yang sedari tadi merasa diacuhkan oleh Aisyah pun mulai tersulut emosinya.


 


“Dek, kamu kenapa dari tadi mendiamkan mas terus? Kamu masih marah karena mas membelikan Erina tas seperti yang kamu miliki itu?” tanya Bayu dengan tegas. Bayu merasa kesal karena Aisyah terus-menerus mendiamkannya. Bayu merasa tidak bersalah karena sudah membelikan adiknya tas baru. Toh, harganya tidak sebanding dengan tas kado yang dimiliki oleh Aisyah.


 


Mendapat pertanyaan dari Bayu, tidak membuat Aisyah merubah posisi tidurnya. Aisyah terus saja membelakangi tubuh Bayu.


 


“Aku lelah, Mas. Saat ini aku hanya ingin istirahat,” batin Aisyah.


 


“Argh ... Brengsek!” Karena tidak mendapat respons dari Aisyah, akhirnya membuat Bayu kesal sendiri dan mengumpat dengan kasar. Kemudian ia  membanting pintu kamar, sembari berjalan keluar. Bayu pergi meninggalkan rumah begitu saja.


 


Namun, berbeda dengan Aisyah yang saat itu tengah berpura-pura tertidur, ia sangat terkejut karena ternyata suaminya itu bisa berlaku kasar seperti itu.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


__ADS_2