
...Selamat membaca...
...*************...
Wanita paruh baya itu meyakinkan kepada anak laki-lakinya untuk tetap berusaha walau seberapa pun hasilnya nanti.
Setelah kepulangan Herman, Bayu dan Erina, Rudi bersimpuh dikaki ibunya. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi, malu terhadap sang ibu yang telah membesarkannya dengan penuh perjuangan. Namun, ia mencorengnya dengan noda.
"Kamu harus tetap bertanggung jawab, Nak!" seru sang ibu. "Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Makanya sebelum melakukan sesuatu, pikirkan dulu akibatnya" dengan lembut wanita itu memberikan pengertian kepada Rudi.
"Sekarang semuanya sudah terjadi, kamu harus menikahinya, Nak!" perintah wanita itu.
"Iya, Bu. Tapi aku belum bekerja, belum ada penghasilan yang akan aku berikan untuk Erina," ucap Rudi sendu. Ia begitu menyesali perbuatannya.
"Berusahalah, Nak! Ibu hanya bisa membantu dengan do'a, ya, agar semuanya cepat terlaksana."
Rudi hanya mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi memang, itulah kenyataannya.
Seminggu sudah setelah hari dimana keluarga Erina menyambangi kediaman Rudi dan inilah waktunya mereka melakukan ijab kabul di KUA setempat. Acaranya pun sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan sebagian warga sekitar.
Erina merasa tidak puas, sebab pernikahannya dengan Rudi tidak semeriah pernikahan Bayu dan Aisyah. Dengan wajah kesalnya Erina menghampiri sang Ibu.Ia merasa dianaktirikan oleh kedua orang tuanya dan menurutnya itu tidak adil.
"Bu, kenapa hari pernikahanku tidak sama seperti Mas Bayu dan Mbak Aisyah, sih," celetuk Erina kesal.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, apakah kamu tidak menyadari semua kesalahan yang kamu dan Rudi lakukan?" bentak Ambar penuh emosi.
"Kamu tidak terima? Lalu apa yang harusnya orang tua lakukan setelah tahu anak gadisnya hamil? Ibu kecewa sama kamu Erina. Sebagai wanita, kamu tidak bisa menjaga diri. Kita hanya tidak ingin kamu malu telah hamil sebelum hari pernikahan. Inilah cara yang terbaik sebelum perutmu semakin besar. Tapi kamu malah membandingkan dirimu dengan Masmu, ya bedalah." jawab Ambar dengan wajah memerah menahan amarah.
Anak bungsunya itu memang terlalu keras kepala dan mau menang sendiri tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Apa ini akibat karena Herman dan Bayu terlalu memanjakan Erina, jadinya lepas kontrol dalam pergaulan. Entahlah Ambar semakin sakit kepala memikirkan kehidupan anak bungsunya kelak.
Di ruang tamu masih ada beberapa tamu sedang menikmati santap siang bersama, Aisyah memasak sedari subuh tadi. Herman dan Ambar tidak banyak memiliki uang untuk menyewa tukang masak, jadinya ia dan Aisyah yang mengolah semuanya.
Rudi dan ibunya pun masih ada di rumah Ambar. Dengan air mata yang bercucuran ia meminta maaf kepada keluarga Erina atas ulah anaknya. Ia bukan orang yang mampu dalam keuangan, kehidupannya pun pas-pas-an saja. Hanya cukup untuk hidup sehari-hari.
"Iya, Bu. Ini salah kita sebagai orang tua, sebab terlalu memberikan kebebasan kepada anak-anak kita," ujar Ambar sendu.
"Kalau Bapak dan Ibu mengizinkan, biarlah mereka tinggal di rumah saya untuk sementara waktu sampai Rudi mendapatkan pekerjaan," wanita itu memberikan pendapatnya.
"Nanti saya bicarakan dulu dengan Erina, semoga ia mau tinggal di sana," jawab Ambar lembut.
Siang pun mulai beranjak sore dan rumah kembali sepi. Semuanya telah kembali ke rumah masing-masing. Bayu, Aisyah dan juga sang besan telah telah pulang selepas makan siang bersama.
__ADS_1
Erina dan Rudi telah berada dikamarnya untuk beristirahat. Hanya Ambar yang sedang membereskan perabotan ke rak piring, setelah sebelum kembali ke rumahnya, Aisyah mencuci semua. Jangan harapkan Erina mau membantu, yang ada ia hanya marah-marah saja sebab merasa kesal dengan hari penikahannya yang ala kadarnya.
Herman duduk termenung di teras rumah sambil menyeruput kopi dan ada potongan bolu di piring kecil, wajah marahnya masih terlihat dengan jelas.
"Erina lagi apa, Bu?" tanya Herman ke Ambar yang kebetulan keluar hendak memberitahukan agar kursi secepatnya dikembalikan lagi.
"Ada di dalam kamar, Pak," ucap Ambar pelan.
"Di kamar! bukannya membantu merapikan kursi, kok malahan di kamar," ceteluk Herman kesal lalu ia bangkit hendak memanggil Rudi agar segera membereskan kursi-kursi plastik yang dipinjamnya dari Pak Rt setempat.
"Erina!" panggil Herman lantang.
"Ada apa, sih, Pak. Pelan-pelan saja manggilnya, nggak usah pake marah-marah gitu," jawab Erina kesal.
"Ajak suamimu keluar dari kamar lalu bereskan kursi dan kembalikan ke balai Rt, jangan diam saja. Setidaknya bantulah sedikit pekerjaan yang lain."
"Iya, tunggu bentar. Erina bangunin Rudi dulu," jawab Erina sambil menutup kembali pintu kamarnya tersebut.
"Rudi, dipanggil Bapak, tuh. Disuruh bantuin beberes di luar, sudah sana!" ujar Erina pelan.
"Iya, nanti dulu kenapa, sih. Baru juga rebahan dah disuruh aja," gerutu Rudi kesal.
Setelah mendapat paksaan dari Erina, akhirnya Rudi keluar dari kamar dan menghampiri Herman.
"Mau dianter ke sana semua kursi-kursi ini, Pak?" tanya Rudi pelan.
"Kamu antar semuanya ke balai Rt yang ada di depan taman gang Melati."
Dengan wajah kesal Rudi pun berjalan ke arah kursi yang akan dikembalikan. Diangkatnya benda plastik berwajah hijau itu.
Setelah selesai mengembalikan kursi-kursi itu, Rudi membereskan ruang tamu yang belum disapu dan dipel. Sampah gelas-gelas air mineral pun masih berserakan. Dengan cepat ia membersihkannya.
Perutnya sudah berbunyi ingin diisi. Sedari tadi ia belum makan karena tegang meghadapi Pak Penghulu. Setelah semuanya selesai, ia pun mandi dengan harapan setelah itu bisa makan. Namun, bayangan itu harus sirna ketika melihat Erina tertidur pulas di kasur busa berseprai motif bunga tersebut.
"Erina, Na. Bangun dong. Aku lapar nih, mau makan," ucap Rudi sambil mengoyangkan kaki Erina.
"Apaan, sih! Ganggu orang istirahat aja. Bisa kan ambil sendiri," jawab Erina kesal.
__ADS_1
"Aku nggak enak, Na, sama orang tua kamu. Malu tau," jawab Rudi tak kalah kesalnya.
"Yah sudah sebentar, aku cuci muka dulu!" wanita berdaster batik itu hanya mengomel saja. Rudi melihat baju kebaya yang dipakai Erina sewaktu akad tadi teronggok di lantai.
"Dasar pemalas!" seru Rudi kesal.
Setelah disediakan makan oleh sang istri, Rudi pun makan dengan lahapnya. Tak lama suara azan pun terdengar di masjid depan gang Melati.
Warna jingga telah pergi dan gelap pun hadir mengantikan tugas sang senja.
...*************...
Dinginnya air di subuh hari tidak mengurungkan Ambar untuk menjalankan 2 raakatnya. Hanya ia dan Herman yang terbangun sepagi ini. Sedangkan Erina dan Rudi belum nampak batang hidungnya. Mereka belum bangun.
Diketuknya pintu kamar anak bungsunya agar bangun dan salat subuh. Namun, tak ada suara yang terdengar dari dalam.
"Erina, bangun sholat subuh dulu, ajak suamimu sekalian. Jangan bangun siang-siang kalau lagi hamil!" sarkas Ambar kesal di depan pintu kamar Erina.
Namun, tetap saja tidak ada sahutan dari dalam kamar bergorden marun itu.
Jam sembilan pagi, Erina keluar dari kamar dengan membawa handuk dan daster ganti. Tak lama Erina mandi, Rudi pun melakukan hal yang sama.
Dengan rambut yang masih basah, mereka berdua berjalan ke arah meja di tengan ruangan. Tanpa rasa malu, pasangan pengantin baru itu sarapan dengan lahapnya.
Dari ruang sebelah Ambar hanya memperhatikan kelakuan kedua mahluk bernyawa itu. Selesai sarapan, tanpa rasa bersalah mereka masuk kembali ke kamar tanpa memindahkan piring kotor bekas makan mereka berdua.
"Ya Allah, Erina. Kamu keterlaluan sekali, piring kotor bekas kamu makan saja tidak mau kamu bawa ke dapur, apalagi mencuci nya," bentak Ambar penuh amarah melihat kelakuan mereka.
"Kamu juga, Rudi. Nggak malu, ya, sudah bangun siang terus tinggal sarapan. Benar-benar kamu ya, baru aja satu hari kamu tinggal di rumah ini, makin sakit kepala saya," bentak Ambar tanpa melihat ke arah Rudi.
...*************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
Yuk gaes tinggalkan pesan kalian untuk Erina dan Rudi.
__ADS_1