
...Selamat membaca...
...*************...
Usai jam kantor, Aisyah menapaki halaman rumah mertuanya dengan lesu. Pekerjaan yang bertambah seharian tadi membuat tubuhnya begitu lelah. Ditambah dengan kebijakan baru yang baru saja ia dengar beberapa saat sebelum pulang, membuat Aisyah bingung bagaimana mengatasinya. Pasalnya selama ia ditempatkan di bagian produksi, baru kali ini dirinya mendapat kerja shift.
"Bunda sudah pulang sayang." Ambar yang membawa Zahra di gendongan tersenyum melihat menantunya datang.
Pandangan Aisyah tertuju pada sosok malaikat kecil yang berada di samping rumah. Senyumnya mengembang, hanya bayi itu satu-satunya pengobat penat dalam diri Aisyah.
"Assalamualaikum, Bu. Zahra sudah cantik aja." Aisyah menghampiri Ibu mertuanya dan mencium punggung tangannya.
"Kamu bersih-bersih dulu, gih. Habis itu segera makan!" perintah Ambar. Wanita paruh baya itu sedikit prihatin melihat Aisyah yang tampak lelah.
"Iya, Bu. Ais ke dalam dulu," pamit Ais. Ia bergegas menuju kamarnya dan bersiap-siap mandi.
...************...
... ...
Selepas isya, Aisyah menyusui Zahra sambil merebahkan tubuhnya di kasur. Bayu duduk bersandar pada kepala ranjang sambil memainka game di ponselnya.
"Mas, untuk mempersiapkan bulan Ramadhan, mulai besok di bagian produksi memberlakukan kebijakan baru. Jadi mulai besok jadwal Ais berubah. Mas Bayu besok shift pagi, kan?" Aisyah memancing Bayu. Ia ingin mengetahui bagaimana suaminya menanggapi kebijakan baru di kantornya.
"Hu um. Emangnya kenapa, Dek?" Bayu sekilas melirik Aisyah dan kembali fokus pada ponselnya.
"Ais besok shift dua, Mas."
"Lalu?" respon Bayu datar.
"Ya, kalau mas Bayu shift pagi kan malamnya bisa jemput Ais."
"Hhmm."
Sudah tidak heran jika Aisyah mendapati respon suaminya seperti itu. Aisyah sudah terbiasa dengan sikap Bayu yang datar dan dingin. Ya, memang sudah bawaan, Aisyah yang harus banyak bersabar menghadapi suaminya. Walau bagaimanapun, Bayu adalah suami pilihannya sendiri.
...**************...
... ...
Hari pertama shift dua, Aisyah mempersiapkan bekal seperti biasa. Aisyah berangkat ketika Bayu belum sampai rumah. Setelah menitipkan Zahra pada Ambar, Aisyah menuju mulut gang untuk menunggu angkot yang akan membawanya ke pabrik. Aisyah merasa bersyukur memiliki ibu mertua sebaik dan sesabar Ambar. Tanpa beliau, Aisyah pasti sudah putus asa dengan perlakuan ayah mertua dan adik iparnya.
"Ais, tumben jam segini udah rapi. Mau ke mana?" tanya ibu sebelah rumahnya yang kebetulan baru turun dari angkot.
"Mau kerja, Bu. Ais dapat shift dua," jawab Ais sopan tanpa meninggalkan senyum yang selalu terukir dari bibirnya.
"Oh, gitu. Tumben banget. Biasanya juga kamu masuk pagi."
__ADS_1
"Iya, Bu. Biasalah, karyawan hanya mengikuti perintah atasan," terang Aisyah dengan sedikit tawa.
"Ya, sudah, hati-hati di jalan. Ibu duluan, ya." Wanita itu berlalu setelah berpamitan pada Aisyah.
Sesaat kemudian, Aisyah sudah memasuki angkot menuju pabrik. Kota Surabaya yang begitu terik membuat Aisyah gerah. Beruntung dalam angkot hanya ada beberapa orang saja hingga Aisyah bisa leluasa membuka jendela agar udara bisa masuk dengan bebas.
Sesampai di pabrik, Aisyah bergegas menuju ruangannya. Ruangan itu tampak sepi, Witri tidak terlihat berada di mejanya. Namun, Aisyah melihat tas Witri masih tergeletak di tempatnya. Hal ini menandakan bahwa Witri belum pulang.
"Wah, udah datang aja, Aish." Suara yang mulai tak asing itu terdengar dari arah pintu. Aisyah mendongak dan menyambut orang itu dengan senyuman.
"Iya, Pak. Kebetulan tadi masih sepi, kalau barengan jam bubar pabrik pasti saat ini Ais belum nyampai sini."
"Good job, Ais. Kamu memang pekerja yang bertanggung jawab." Septian mengacungkan jempolnya ketika melewati meja Aisyah.
Sesaat kemuadian, Witri masuk ruangan bersama seorang staff lainnya. Dia segera menenggak air mineral yang ia bawa begitu mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Aisyah.
"Alhamdulillah, kelar juga," ucapnya setelah menghabiskan hampir satu botol air di tangannya.
"Kayak habis maraton aja, Mbak. Dari mana?" selidik Aisyah. Meskipun matanya tertuju pada layar monitor di depannya, tetapi Aisyah juga penasaran dengan apa yang dilakukan sahabatnya.
"Bayangin, Ais. Dari jam sebelas aku turun langsung ke lapangan menggantikan Pak Seno. Beliau ada rapat darurat yang nggak bisa diwakilkan. Jadilah aku yang turun ke lapangan. Capek juga ternyata, sampai aku belum sempat makan siang." Witri membuka roti dari kantong plastik yang ia bawa dan memasukkan ke mulutnya.
"Nih, buat kamu." Witri menyodorka satu buah roti pada Aisyah.
"Aku beli banyak Ais, ini buat kamu. Percayalah, ini nanti akan sangat berguna." Witri meletakkan roti itu di meja Aisyah.
Aisyah menoleh dan tersenyum, " Terima kasih, Mbak."
"Buat aku mana, woy?" teriak Septian dari arah pojok.
"Nih, ambil sendiri," jawab Witri menunjuk ke arah kantong plastik di atas mejanya.
Hari beranjak sore. Satu per satu penghuni ruangan bagian produksi meninggalkan tempat itu. Kini, tinggal tiga orang yang betugas shift sore. Aisyah dan seorang staff lainnya terlihat begitu sibuk di depan layar monitornya. Sedangkan Septian, hilir-mudik dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai job disk-nya.
Tidak terlalu banyak interaksi di antara keduanya. Disamping karena Aisyah masih canggung dengan lelaki itu, juga karena pekerjaan yang tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengobrol.
Pukul tujuh malam Septian tiba di ruangan itu setelah beberapa saat yang lalu turun ke lapangan. Dia membawa tiga cup kopi yang ia buat di pantry. Sebenarnya ada office boy yang bisa ia mintai tolong untuk menyiapkan kopinya. Akan tetapi, Septian ingin memberikan kesan berbeda pada Aisyah. Septian ingin menunjukkan perhatian dengan hal-hal kecil seperti itu agar tidak terlihat mencolok di mata Aisyah.
"Malam semuanya, time is coffe break." Septian meletakkan satu cup kopi yang ia bawa di meja staff lelaki yang duduk di dekat pintu, satu cup di meja Aisyah dan satu lagi ia bawa ke mejanya.
"Wah, terima kasih pak Tian. Bapak memang pengertian. Saya baru akan meminta OB untuk membuat kopi," seloroh lelaki itu dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Ini kopi special buatanku. Di bagian sebelumnya, aku dikenal sebagai barista handal. Bahkan kepala bagianku dulu ketagihan sama kopi buatanku," ucap Septian sedikit jumawa.
"Ini bener-bener special, Pak." Lelaki di dekat pintu itu memuji kopi buatan Septian setelah menyesapnya. " Bapak belajar ilmu ini dari mana? Sungguh ini seperti kopi dari kafe Cangkir di dekat Plaza Mall itu, Pak."
Septian tersenyum mendengar pujian itu. "Kamu pinter sekali. Waktu aku masih kuliah dulu, aku jadi salah satu barista di sana. Sepertinya kamu penggemar kafe Cangkir. Sampai-sampai hapal sama rasanya."
Aisyah yang saat itu sedang menyesap kopinya hanya diam saja. Ia tidak begitu paham dengan rasa kopi yang mereka bicarakan. Yang ia tahu, kopi buatan Septian memang nikmat. Pahit dan manisnya sesuai dengan seleranya. Takaran yang pas, itulah yang ada dalam benak Aisyah tanpa ia mengerti kopi dari kafe tertentu.
"Hm, kopi bikinan Pak Tian memang enak. Awalnya Ais tidak begitu suka sama kopi. Tapi setelah dua kali merasakan kopi buatan Pak Tian, sepertinya Ais bakalan ketagihan juga deh." Ais manggut-manggut memuji kopi yang masih ia genggam.
Mendengar hal itu hati Septian begitu bahagia. Ia merasa hasil kerjanya benar-benar dihargai. Tidak seperti di rumah. Jangankan dipuji, ucapan terima kasih saja tidak pernah ia dapatkan.
...*************...
... ...
Lampu jalanan di depan pabrik terlihat begitu kontras dengan suasana gelap malam ini. Aisyah duduk di halte sambil sesekali melihat jam di pergelangan tangannya. Dua puluh menit sudah ia lewati dengan duduk di sana. Hingga satu per satu orang-orang yang tadi berada di halte itu mulai pergi. Namun, yang Aisyah tunggu tidak juga menampakkan batang hidungnya.
Septian yang dengan sengaja menunggu Aisyah dari jarak beberapa meter, memberanikan diri untuk mendekati Aisyah. Motornya berhenti tepat di hadapan Aisyah.
"Jemputannya belum datang, Ais?"
"Belum, Pak. Mungkin Mas Bayu ketiduran habis ngelonin Zahra," jawab Aisyah mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
"Coba ditelpon lagi. Apa pulang bareng aku saja. Toh, kita searah," tawar Septian.
Aisyah menghubungi Bayu. Nada sambung terdengar, tetapi tidak ada respon dari seberang. Bahu Aisyah melorot. Terlihat kekecewaan dari sorot matanya.
Septian menepikan motornya, ia duduk di halte dengan jarak aman dari Aisyah. "Aku temenin sampai suamimu datang."
Aisyah menoleh, " Pak Tian nggak usah repot-repot. Kasihan istri Bapak menunggu si rumah."
Septian tersenyum getir, " Nggak papa, Ais. Aku juga akan melakukan hal yang sama ke semua teman wanita jika dalam posisi seperti ini."
"Terima kasih, Pak." Aisyah menunduk, ia merasakan ada luka di balik kalimat Septian.
Suara motor yang Aisyah kenali berhenti tepat di hadapan Aisyah. Aisyah mendekat dan menerima helm dari suaminya.
"Nih, merepotkan saja. Berkali-kali aku bilang, kamu harus belajar mandiri. Untung kita masih tinggal sama Ibu. Coba kalau di kontrakan. Siapa yang mau jaga Zahra. Besok kita beli sepeda aja biar kamu bisa pulang pergi pakai sepeda. Nggak harus ngerepotin orang lain kayak gini." Bayu mengomel tak habis-habisnya tanpa menghiraukan perasaan Aisyah.
Aisyah hanya diam duduk di motor Bayu. Ia mengangguk ke arah Septian sebagai ungkapan pamit yang tidak mungkin ia katakan. Septian membalas anggukan Aisyah dengan hati yang begitu sakit.
"Aisyah seharusnya tidak mendapat perlakuan seperti dari suaminya," batinnya menangis menatap kepergian Aisyah.
...***************...
...To be continued...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏