
...****************...
Sementara itu, Erina yang berada di dalam kamar tengah menonton drakor di ponselnya, mendapat pesan dari grup genknya, ‘syantiQ’ di mana salah satu sahabatnya memposting sebuah tas dengan merek ternama. Anggota genk yang berjumlah lima orang termasuk Erina, ramai-ramai mengomentari tas Sheina yang memiliki ekonomi paling bagus. Walau anggota genk mereka semuanya pengangguran, tetapi tidak dengan Sheina. Ia memiliki usaha salon yang didirikan oleh ibunya. Sehingga walau tanpa susah-susah kuliah dan bekerja, Sheina masih bisa bergaya hedon.
Melihat postingan dan komentar teman-temannya yang lain memuji tas Sheina, membuat Erina tidak mau kalah. Ia pun ikut berkomentar di grup tersebut.
^^^@Erina : Tasnya bagus banget. Tapi nggak kalah bagus dari tas milikku. ^^^
Komen Erina, yang dalam hal ini mengakui tas Aisyah. Walau ia belum yakin, dalam waktu dekat mas Bayu akan membelikannya tas yang sama persis dengan milik Aisyah, baginya tidak masalah walau harus mengambil tas milik kakak iparnya itu. Nanti saja ia akan berpikir rencana untuk mendapatkan tas tersebut.
@Lulu : Wah … Erina posting juga dong tasnya di grup. Penasaran pengen liat tasmu itu.
@Susi : Betul itu. Jangan cuma omdo @Erina. Ayo posting juga. Aku penasaran dengan tasmu itu. Benerkan ‘kan betie @Sheina.
@Sheina : Ayo @Erina coba pap di sini.
Melihat komentar teman-temannya yang lain membuat Erina tidak ingin kalah. Ia pun segera keluar kamar, lalu menuju ke kamar Bayu.
“Mas Bayu!” panggil Erina yang berdiri di depan pintu kamar kakaknya.
Bayu muncul dengan mengucek kedua matanya. Ia yang baru saja tidur siang dikagetkan suara Erina.
“Ada apa, sih?” tanyanya yang masih mengantuk.
Sementara Erina sendiri langsung masuk ke dalam kamar kakaknya tanpa permisi. Ia tidak peduli dengan larangan Bayu yang tidak mengizinkannya masuk ke dalam kamar.
“Mas, aku pinjam bentar tas Mba Aisyah, yah!” kata Erina seraya mengambil tas yang menggantung di dinding kamar. Namun, aksinya tersebut langsung dicegah oleh Aisyah yang baru saja masuk ke dalam kamar.
“Jangan berani mengambil barang milikku!” ucap Aisyah yang baru saja masuk ke dalam kamar. Baru beberapa menit ia keluar dari kamar menuju kamar mandi, ia sudah mendapati adik iparnya itu hendak mengambil tas miliknya.
Aisyah sangat kesal dengan tingkah laku adik iparnya yang tidak tahu diri itu. Baru beberapa hari tinggal di rumah mertuanya, Aisyah sudah dibuat stress oleh kelakuan Erina yang tidak tahu sopan santun.
Padahal menurut Aisyah, ibu mertuanya baik. Namun, mengapa sifat Erina sangat jauh berbeda dengan Ibu Ambar. Apa karena sifat dari bapak mertuanya itu menurun ke Erina sehingga sifatnya hampir sama?
__ADS_1
“Yaelah, Mbak. Bentar doang kok, pelit amat!” ucap Erina memutar bola matanya. Ia merasa kesal dengan Aisyah yang pelit.
“Sekali lagi saya katakan, kalau bukan barang milikmu, jangan sekali-kali mencoba mengambil tanpa seizin dari pemiliknya!”
Bayu yang berdiri di bibir pintu hanya diam menatap dua orang wanita terpenting dalam hidupnya sedang adu mulut di depan matanya. Ia tidak tahu harus membela siapa. Karena dua-duanya sama penting.
“Mba, aku sudah ngomong sama mas Bayu, yah! Bukan hanya asal langsung ambil.”
“Memangnya Mas Bayu yang punya tas. Walaupun statusnya sebagai suami, tapi Mas Bayu tidak berhak memberikan barang milikku tanpa seizin dariku juga. Asal kamu tahu, ini hadiah dari teman aku. Bukan teman Mas Bayu. Jadi, jangan seenaknya kamu mengambil tas ini!”
Bayu yang sejak tadi diam di tempatnya kemudian mendekati keduanya. “Erina, apa yang dikatakan Mbak Aisyah benar. Tas itu pemberian dari sahabatnya. Jadi, jangan memaksa kalau kakak iparmu tidak mengizinkannya," ucap Bayu. Aisyah yang mendengar ucapan yang tidak biasa dari suaminya pun terkejut karena jarang-jarang Bayu mengerti dirinya.
Erina memberengut kesal. Tanpa sepatah kata ia langsung keluar dari kamar kakaknya sambil membanting pintu kamar. Sontak membuat Bayu berjengit kaget karena kelakuan adiknya itu.
Sepeninggal Erina, Aisyah menarik napas panjang sampai memenuhi rongga dadanya lalu membuangnya. Baru saja ia ingin tidur siang dengan tenang, terpaksa gagal karena kehadiran Erina yang tidak tahu diri ingin mengambil tasnya. Hingga ia pun beradu mulut dengan adik ipar yang tidak tahu malu itu.
Di dalam kamar Erina membalas pesan dari grup ‘syantiQ’
Sheina: Ya, sudah. Gak papa. Besok kan ada acara, nanti kamu pakai aja di sana.
^^^Erina: Yuppp… bestie ^^ ^^^
***
Malam hari usai menunaikan salat Isya, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Termasuk Aisyah dan Bayu bergabung bersama kedua orang tua mereka dan tidak lama kemudian sosok Erina muncul setelah makanan sudah siap tersaji di meja makan. Selama Aisyah tinggal di rumah mertua beberapa hari, Erina tidak pernah membantu pekerjaan rumah tangga, karena menurutnya sudah ada Aisyah yang membantu ibunya. Jadi ia bebas bersantai nonton drakor sambil menelpon pacarnya.
Di tengah makan malam bersama, Erina membuka suara. “Pak, besok ada teman yang pesta terus aku nggak punya tas buat dipake ke sana. Malu dong nanti dicibir sama teman-teman yang lain," kata Erina sok sedih. Ia mulai berakting agar mendapat dukungan dari bapaknya.
“Loh, tas yang hitam waktu masmu menikah ke mana, Rin?” tanya Ambar.
“Sudah jelek, Bu, ketinggalan zaman. Lagian, itu tas sudah Erina pakai berkali-kali ke acara kondangan. Nanti apa kata teman-teman kalau Erina pakai tas itu lagi. Yang ada di sana Erina dipermalukan. Nah, kalau sudah begitu yang malu ‘kan Bapak sama Ibu juga.” Erina mulai mencari dukungan dari Herman dengan pura-pura berakting layaknya artis antagonis.
“Benar juga, sih!” timpal Bayu usai mengunyah ayam goreng kecap di piringnya.
__ADS_1
Sementara Aisyah, hanya diam saja melanjutkan makannya. Ia tidak ingin berkata apa pun selama makan malam berlangsung.
Herman yang mengingat kado dari teman-teman Aisyah ada yang memberikannya tas, pun lantas membuka suara. Pandangannya tertuju pada menantunya.
“Aisyah, kamu punya tas baru pemberian dari teman-teman kamu sewaktu pesta kemarin, ‘kan. Kasih satu buat Erina pakai ke kondangan besok, yah!”
Dalam hati Erina senang karena bapaknya kini berada di pihaknya. Bahkan dengan terang-terangan ia meminta tas itu untuknya.
“Nggak usah, Pak. Tas itu kan kado dari teman-teman Mbak Aisyah. Kemarin aku mencoba pinjam, tapi Mbak Aisyah larang bahkan sampai membentakku. Padahal aku hanya mau posting saja di sosial media,” dusta Erina sambil menyeringai. Ia sengaja memprovokasi Aisyah.
“Benar begitu, Aisyah!” bentak Herman. Ia tidak terima anak bungsunya diperlakukan seperti itu oleh menantu yang baru beberapa hari menikah dengan anaknya.
“I-iya, Pak. Tapi ceritanya ti-“ belum selesai Aisyah menjelaskan, Herman sudah mengangkat tangan.
“Diam kamu!” seru Herman emosi.
Senyum kemenangan mengembang di sudut bibir Erina. “Aku baru tahu kalau kak Aisyah pelit. Padahal kemarin aku mintanya baik-baik, loh.”
Tatapan sangar Herman kembali tertuju pada Aisyah.
“Sudah, Pak. Nggak enak makan kalau ribut begini. Mungkin hanya salah paham antara Erina dan Aisyah.” Ambar mengelus punggung suaminya yang sudah naik turun karena emosi seketika usai penjelasan Erina.
“Bayu, ajari istrimu baik-baik agar tidak membuat ulah! Baru menjadi mantu kelakuannya sudah kasar pada Erina. Kalau kamu tidak sanggup mendidiknya, biar Bapak yang kasih dia pelajaran!” Herman masih melanjutkan perkataannya.
“Iya, Pak,” jawab Bayu.
Aisyah kecewa pada suaminya. Dalam hal ini, Bayu sebagai suami tidak membela istrinya padahal kemarin ia menjadi saksi saat istri dan adiknya adu mulut. Namun, bagi Aisyah percuma saja. Walaupun ia membela diri tetap saja ia kembali disalahkan. Karena bapak mertuanya lebih memilih mendengarkan penjelasan Erina dibandingkan dirinya.
...****************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1