
...Selamat membaca...
...**********...
Selain mengutarakan keinginannya meminang Diana, Tian pun mengungkapkan rencananya yang akan berkunjung bersama keluarganya minggu depan.
"Apa tidak terlalu cepat, Nak Tian? Kita belum tau jawaban Diana. Bapak juga belum menanyakan hal ini sama Diana. Apa Nak Tian tidak takut bila lamaran ini tidak sesuai dengan harapan Nak Tian?" Agung bertanya pada Septian seolah mencoba meyakinkan agar jangan terburu-buru untuk mengajak keluarganya berkunjung.
"Saya yakin Diana akan menerimanya, Pak. Bapak percaya sama saya. Yang pasti, saya minta sama Bapak dan juga kamu, Ais. Jangan beritahu tentang rencana saya pada Diana selagi saya menyiapkan segala sesuatunya." Tian pun meyakinkan dengan suara tegas tanpa ada keraguan.
Agung hanya mengiyakan permintaan Tian. Sedangkan Bayu masih tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya saat Tian memanggil nama Aisyah. Terlihat dari sikap Bayu yang acuh dengan Tian.
Sepulang dari rumah Agung, Tian pun memberi kabar pada orang tuanya. Awalnya, orang tuanya kaget mendengar keputusan Tian. Mereka pikir Tian sedang bergurau. Mengingat ia dulu begitu mencintai Ajeng, bagaimana mungkin Tian menemukan pengganti dengan begitu cepat?
Namun, Tian meyakinkan orang tuanya, hingga mereka menyetujui permintaan Tian. Ia juga meminta untuk mengajak beberapa saudara dekatnya untuk ikut berkunjung ke rumah Diana Minggu depan.
...*************...
Seminggu terakhir setelah kedatangan Tian ke rumah Agung, Tian semakin serius mendekati Diana. Tian tidak lagi sungkan menunjukan perhatiannya pada Diana, sebab ia benar-benar ingin menikahi Diana.
Di depan teman sekantornya pun Tian tidak malu menunjukan rasa sayangnya pada Diana, walaupun banyak yang mengatakan jika Diana hanyalah pelampiasan karena tidak mendapatkan Aisyah. Namun, Tian tidak peduli dengan semua gosip yang beredar.
Sedangkan Diana yang masih berpikiran bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan, hanya menganggap bentuk perhatian yang diberikan Tian sekedar untuk seorang adik. Diana tidak berani mengartikan perhatian dari Tian adalah bentuk rasa yang sama dengan apa yang ia rasakan.
"Tidak! Tidak! Perhatian Pak Tian hanyalah sebatas kakak dengan adiknya. Walaupun aku masih berharap Pak Tian juga suka sama aku, sih," gumam Diana setelah mendapat lunch box dari Tian siang ini.
Sama seperti sebelumnya, Diana pun selalu mendapat kiriman dari Tian jika lelaki itu tak sempat mengajaknya makan siang. Siang ini, Tian tidak bisa mengajaknya makan siang, sebab ia ijin untuk bekerja setengah hari. Ia ingin mengecek kembali keperluan lamaran agar tidak ada yang terlewat.
Besok setelah shubuh, Diana juga akan pulang ke rumah. Bahkan, sepulang dari kantor ia sudah mempacking semua keperluannya. Ia pun memberi kabar pada Aisyah dan Agung.
...***************...
Pagi sekali, Diana sudah berada di depan rumahnya. Ia begitu kaget saat melihat rumahnya begitu ramai. Diana pun segera berlari ke dalam rumah dengan menyeret kopernya. Suara putaran roda membuat Aisyah yang berada di ruang tamu menoleh ke luar rumah.
"Kak, kenapa rumah kita ramai? Apa terjadi sesuatu sama Bapak? Bapak di mana?" tanya Diana begitu sampai di ruang tamu, tetapi tidak mendapat jawaban dari Aisyah.
Tanpa menunggu lagi, akhirnya Diana berlari ke kamar Agung. "Bapak!" seru Diana melihat Agung yang sedang mengenakan atasan batik dipadukan dengan celana hitam.
"Bapak nggak apa? Bapak sehat, kan?" Diana pun memutar pelan tubuh Agung.
Diana pun memeluk Agung. Untunglah pikiran buruknya tidak terjadi.
"Alhamdulillah, bapak sehat, Nak. Kenapa?" ucap Agung melerai pelukan Diana.
Sesaat, Diana baru sadar jika Agung terlihat lebih rapi. "Eh! Bapak kenapa pakai batik? Mau ke mana?" tanya Diana heran.
__ADS_1
"Loh? Kamu belum ketemu Mbakmu? Dia juga pakai kebaya, loh. Apa dia belum ngasih tau kamu?"
Kening Diana mengerut. "Bel ...."
"Gimana mau ngasih tau, Pak. Dia aja langsung lari waktu sampai rumah," potong Aisyah saat berada di depan pintu kamar Agung.
Diana dengan sigap menoleh dan melihat Aisyah dengan balutan brokat warna sage dengan rok batik senada dengan milik Agung.
"Kenapa pakai batik kembar? Mbak, ini pada mau pergi ke mana?" tanya Diana yang masih heran.
Aisyah dan Agung tertawa mendengar pertanyaan Diana. "Kamu tidak melihat di ruang tamu ada apa? Di dapur pun juga ramai, loh," jelas Aisyah.
Tanpa menunggu lagi, Diana pun bergegas menuju ruang tamu. Ia melihat beberapa kue tersaji di sana. Berganti ke dapur, sudah ada banyak orang yang memasak hidangan seperti ada hajatan.
Diana kembali ke kamar Agung. "Ini di rumah ada acara apa, Mbak?"
"Di, hari ini Tian datang ke sini mau ngelamar anak bapak. Makanya ini bentuk persiapan untuk acara lamarannya Tian."
Sekejap raut wajah Diana berubah sendu. Ia berpikir jika Tian masih berharap pada Aisyah dan lamaran ini untuk Aisyah.
"Kenapa malah sedih?" Aisyah bertanya pada Diana yang sama sekali tidak menampilkan raut wajah bahagia.
"Heran aja sama Pak Tian, udah tau kalo Mbak Aish rujuk sama Mas Bayu. Kenapa tetep berharap sama Mbak Aish?"
Diana tidak menjawab dan hanya diam saja.
"Maksud kamu apa, Nak?" ulang Agung.
"Dek, jadi kamu pikir Tian melamar Mbak? Jangan ngawur kamu. Tian ke sini untuk ngelamar kamu," tegas Aisyah agar Diana tidak salah paham, apalagi jika sampai Bayu mendengar, bisa bertambah masalahnya.
Syok dan kaget kini yang dirasakan oleh Diana. Berulang kali Agung dan Aisyah memanggil Diana, sama sekali tidak dihiraukan. Sejenak otaknya seakan berhenti berpikir, dan dunianya berhenti berputar. Ia mencerna lebih lambat apa yang dikatakan oleh Aisyah.
"Tunggu deh, Mbak! Maksud Mbak Aish apa? Kenapa aku jadi lemot gini, ya?"
"Dek Diana, Septian datang ke sini untuk ngelamar kamu dan sebentar lagi dia udah sampai karena dia sudah on the way ke sini." Aisyah mempertegas ucapannya.
"Ke ... kenapa jadi gini?"
"Gini gimana, Nak?" Agung semakin geram dengan sikap Diana yang belum mengerti. "Aish, kamu cepat bawa Diana ke kamarnya. Bantu dia merias seadanya dan cepat ganti baju yang kemarin dikirim Nak Tian. Bapak mau ke depan dulu, melihat persiapannya," perintah Agung.
"Iya, Pak. Aish bawa Diana dulu."
__ADS_1
Secepat kilat Aish membantu Diana merias wajah dan mengganti setelan yang sudah diberikan Tian khusus untuk acara lamaran. Sembari membantu Diana, Aish juga menceritakan awal mula lamaran ini terjadi. Diana awalnya sempat bingung, sebab Tian sama sekali tidak ada bicara mengenai acara lamaran. Namun, setelah mendengar penjelasan Aish, ia mengerti dan langsung merasa deg-degan.
"Mbak, aku nanti harus jawab apa?" tanya Diana saat selesai dirias.
"Kamu tanya mbak? Ya itu terserah kamu, Di. Kamu yang tau gimana perasaan kamu sama Tian. Tapi, kalo penilaian mbak sama Tian, orangnya baik, perhatian, pekerja keras."
"Mbak ...." Diana kembali memanggil Aisyah.
Belum sampai berbicara lebih, Agung membuka kamar Diana. "Nak, rombongan Nak Tian sudah datang. Cepat bersiap dan segera ke depan," titah Agung.
"Hayuk, Dek!" ajak Aisyah.
"Aku deg-degan Mbak."
"Bismillah, istighfar, perbanyak sholawat. Insyaallah semua lancar."
Diana akhirnya mengangguk dan mulai berdiri. Ia berjalan ke luar didampingi oleh Aisyah.
Saat sampai di ruang tamu, Diana terkejut karena sudah banyak orang berkumpul di sana. Terlihat Tian juga menggunakan batik yang senada dengan Agung dan rok miliknya. Lelaki itu semakin tampan dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Ini tidak mimpi, kan? Semoga melihatnya di sana dengan senyumnya adalah kenyataan," ucap Diana dalam hati.
Selama acara pembukaan, Diana tak hentinya mengucapkan apa yang diminta Aisyah. Hingga pada bagian inti, yaitu Tian melamar Diana secara resmi di depan keluarganya dan keluarga Diana. Di sini, Diana hampir saja kehabisan napasnya saat mendengar untaian kata yang keluar dari mulut Tian. Ia hampir saja pingsan, jika saja Aisyah tidak menyenggolnya.
"Niat baik, insyaallah akan mendapatkan hasil yang baik. Bagaimana, Diana? Apakah kau bersedia menerima lamaran duda sepertiku?"
Bagai ribuan peluru yang menghantam tubuhnya, tubuh Diana seakan behenti dan tidak mampu digerakkan. Ia seakan membisu, terhipnotis oleh ketampanan Tian. Ia tidak lagi menghafal jawaban untuk ia utarakan pada Tian.
"Dek!" Akhirnya Aisyah kembali menyenggol Diana yang tidak segera menjawab, justru hanya diam mengamati wajah Tian.
"Eh! Iya, aku menerima lamaranmu, Pak!" Reflek jawaban yang sudah disiapkannya dari tadi hilang. Berganti jawaban yang membuat semua tamu menahan tawa akibat tingkah lucu Diana.
Tidak berbeda dengan yang lain, Tian pun menahan tawanya melihat Diana. Ia semakin gemas dengan calon istrinya itu.
Lamaran hari ini bejalan lancar. Diana dengan bahagianya menerima lamaran Tian. Begitu pun Tian, ia berharap jika ini adalah pilihan terakhirnya.
...***********...
...End...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
Readers tersayang. Seluruh keluarga besar Eska'er mengucapkan banyak terima kasih karena telah mengikuti kisah Aisyah dan Bayu hingga akhir di "Tak Semanis Novela"🥰🥰
Sampai jumpa di novel Eska'er selanjutnya 🙏🙏😊😊
__ADS_1