Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
53_ Bisakah Kamu Membantu Erina?


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**************...


 


"Hhhhmmh. Baru juga jadi pengantin baru, udah kena ceramah mertua," dengus Rudi saat sudah sampai kamar.


 


Erina yang mendengar gumaman suaminya hanya melirik sekilas lalu kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya. Entah karena memang ia sedang capek atau memang malas, ia justru merebahkan diri di kasurnya. Rasanya, untuk menyapu kamarnya sendiri ia begitu enggan. Risih memang mendengar ibunya mengomel, tapi entahlah ia rasa sudah nyaman dengan kesehariannya. Terlebih, ia sudah ada suami yang menanggung hidupnya.


 


"Erina, kamu bilangin ke ibu, lah. Kalau aku ini juga capek karena acara kemarin. Mana aku sendiri yang mengembalikan kursi ke balai. Tapi, masih aja ibumu mengomel."


 


"Heh, Rud. Ibuku juga ibumu sekarang, ya. Jangan salah-salahin Ibu. Udah semestinya kamu juga ikut bantu-bantu di sini."


 


"Kamu sendiri hanya rebahan," cibir Rudi sambil ikut merebah di kasur. Sejajar dengan Erina.


 


Beberapa menit mereka terdiam dengan fokus pada ponsel masing-masing. Rudi kini beralih memeluk Erina.


 


"Apa sih peluk-peluk." Erina sedikit ketus karena  kesenangannya terganggu akan jemari Rudi yang beberapa kali mengelus perutnya.


 


"Pagi-pagi gini, enaknya kelonan kan. Apalagi kita ini masih pengantin baru." Rudi mendaratkan dagu di pundak Erina. Membuat wanita yang kini tengah berbadan dia itu meremang.


 


Dengan senyum malu-malu, Erina berusaha menepis wajah Rudi. "Jangan mancing-mancing, deh. Rambut belum kering nih," ucapnya membuat Rudi terkekeh.


 


"Enak kali, ya, kita olah raga pagi-pagi." Rudi tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Erina.


 


"Ssssstt." Erina menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Ngawur banget bicaramu, sih. Gimana kalau ibu atau yang lain denger. Bisa ngomel tujuh hari tujuh malam ibu sama aku." Sedikit panik Erina memperingatkan suaminya. Takut-takut suara Rudi bisa terdengar di luar kamarnya.


 


"Ish, lagian. Ibu, tuh, apa nggak pernah muda. Harusnya ibu tau dong, pengantin baru itu emang butuh waktu sejenak untuk berdua. Istirahat dulu sebelum kembali pada aktivitas seperti biasanya, kan."


Kali ini Erina menempelkan jari di bibir suaminya. "Di bilangin jangan keras-keras!" 


 


"Ck. Apa-apa di larang apa-apa di tegur, huhh," keluh Rudi kali ini ia meletakkan lengan untuk menutupi matanya yang ia pejamkan. Ia yang tidak biasa kerja berat merasa sakit semua badannya. Karena hampir 30 kursi yang kemarin ia kembalikan.


 


Pagi perlahan beranjak siang. Tanpa Rudi dan Erina sadari mereka terlelap sudah lebih dari tiga jam. Bunyi perut yang sedang berdemo membuat Erina terbangun.


 


"'Rud... Rud. Bangun! Udah siang!" Erina sedikit menggucang tubuh Rudi.


 


"Apa, sih, ganggu orang tidur," ucap Rudi sembari menggeliat untuk kemudian membuka mata.


 


"Aku lapar, nih. Pengen makan," rengek Erina dengan tangan terus mengguncang tubuh Rudi.


 


"Makan, ya, tinggal makan, Erina. Jangan kaya anak kecil."


 


"Ambilin, bawa ke sini," rengek Erina kembali. "Kamu mau apa, anak kita nanti ileran karena bapaknya nggak sayang. Ini yang mau anaknya, loh," lanjutnya membuat Rudi beranjak dari tidurnya dengan malas.


 


Setelah Rudi keluar dari kamarnya, Erina tersenyum puas. Kehamilannya bisa membuat orang-orang di dekatnya memberi perhatian lebih padanya. Membayangkan seperti apa nantinya membuat Erina terkekeh puas.


 


Tidak tahu saja, Herman yang muncul dari halaman belakang habis dari menanam ubi akar mendapati menantunya dengan wajah kusut tengah mengambil nasi berserta lauknya. Ia menggeleng samar karena ia hendak membersihkan kakinya ke kamar mandi.


 


"Anak itu harus ditegur. Waktu makan siang saja, dia bangun. Dari pagi kerjanya cuma tidur. Dia pikir ini rumah Mak bapaknya," gerutu Herman yang kini telah menyikat bekas telapak kakinya yang kotor.


 


Lelaki paruh baya itu hendak makan siang juga, terapi ia urungkan dan memilih pergi mencari Ambar terlebih dahulu.


 


Herman mendapati Ambar yang tengah bercanda dengan menggendong Zahra di pagar depan. Lengkap dengan Aisyah yang ikut tertawa melihat wajah ceria Zahra.

__ADS_1


 


"Buk," panggil Herman membuat Ambar menoleh penuh pada suaminya.


 


"Iya, Pak."


 


"Dipanggil bapak, Buk. Ayo kita ke dalam!" Aisyah berjalan sejajar dengan Ambar untuk masuk ke dalam rumah. Kedua wanita beda usia itu baru pulang dari posyandu untuk mengetahui tumbuh kembang Zahra. Mereka hanya berjalan kaki karena memang jarak dari rumah tidak terlalu jauh.


 


"Sini, Bu. Biar Zahra aku bawa ke kamar, sudah waktunya bobok juga."


 


"Iya, deh." Ambar melepaskan kaitan gendong Zahra untuk kemudian Zahra sudah berpindah tangan pada Aisyah.


 


 "Bobok cantik, ya, cantiknya Uti," ucap Ambar lagi seraya me-noel pipi gembul Zahra.


 


"Iyaa Uti. Makasih ya udah anterin Zahra di ayun-ayun," ucap Aisyah sengaja menirukan logat anak kecil pada Ambar.


 


"Sama-sama," sahut Ambar sebelum berlalu, sedangkan Aisyah membawa Zahra ke dalam kamar.


 


"Kenapa sih, Pak?" tanya Ambar pada suaminya yang masih terdiam tanpa membuka tudung saji. Ia tahu ini sudah waktunya makan siang. Tidak biasanya Herman riweh untuk urusan makan saja.


 


"Itu, loh, Buk. Menantu barumu, dari pagi hanya tidur terus. Bangun-bangun matahari udah di atas kepala. Mikirnya gimana, sih," ujar Herman dengan kesalnya membuat Ambar menghela napas.


 


"Terus bagaimana, Pak. Dia itu sudah besar. Sebentar lagi punya anak. Masa' iya harus di tegur terus. Malu kalau di denger tetangga, Pak."


 


"Dasar nggak tahu etika anak jaman sekarang."


 


"Sudah-sudah, Pak. Zahra baru mau bobok. Nanti suara Bapak jadi mengganggu Zahra lagi." Ambar lekas mengambil piring dan mengisinya dengan nasi berserta lauknya.


 


 


"Udah, Pak. Cepat makan, nggak baik ngomel-ngomel di depan makanan."


 


...************...


 


"Kata bidan tadi apa, Rud. Aku harus banyak minum susu kan. Biar dedek bayinya sehat. Kamu, sih, dibilangin ngeyel."


 


"Ya kan, dari bidan sudah dapat vitamin," jawab Rudi sembari memarkirkan motor di teras sedangkan Erina sudah berjalan dengan menghentak kakinya ke dalam rumah.


 


Keduanya baru dari rumah bidan terdekat untuk memeriksakan kandungannya.  Kini kandungan Erina sudah memasuki Minggu ke ***. Sudah menjadi jadwal rutin setiap bulan untuk memeriksakan kandungannya.


 


"Kenapa lagi kamu, Erina?" tanya Herman ketika melihat wajah Erina yang sudah di tekuk.


 


Dengan jujur Erina mengungkapkan permasalahan yang ia ributkan tadi di teras pada bapaknya. Membuat Herman kini menunggu Rudi masuk ke dalam rumah.


 


Rudi yang sempat terdiam di teras akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam rumah. Ia mengangguk ketika di ruang tamu sudah ada Herman yang duduk memangku sebelah kakinya. "Pak," sapanya sambil mengangguk.


 


"Eh, Rudi. Bapak mau bicara,"


 


"Ada apa ya, Pak?" dengan ragu Rudi kembali bertanya.


 


"Kamu itu suami yang bagaimana. Istri hanya minta susu aja kamu bikin dia sedih. Itu kan juga demi anak kamu. Apa bapak-ibu kamu nggak pernah ngajarin bagaimana memperlakukan orang hamil!"


 


"Rudi belum ada uang, Pak. Sudah buat periksa hari ini. Masih ada sedikit , itu buat jaga-jaga kalau Erina minta jajan yang aneh-aneh, Pak."

__ADS_1


 


"Ya makanya kamu kerja. Karena Erina sekarang sudah jadi kewajiban kamu."


 


"Pak. Sudah-sudah, ini kopinya." Ambar datang membawa kopi permintaan Herman kemudian meletakkannya di meja. Tepat di depan Herman duduk.


 


"Jangan sampai Bapak mikir berat lagi. Takut tensinya naik , loh, Pak," tegur Ambar pelan agar ribut yang akhir-akhir sering terjadi di keluarganya mereda. Apalagi semenjak Erina menikah.


 


"Bagaimana bapak nggak naik tensinya kalau anak-anak tidak bisa ditegur. Tidak bisa dinasehati."


 


"Maaf, Pak. Ini karena Rudi belum bekerja, Pak."


 


"Masih bisa juga menyahut kamu. Makanya cari kerja yang ada dulu. Jangan muluk-muluk. Kalau begini, kebutuhan Erina bagaim_"


 


"Assalamualaikum,"


 


Seruan salam membuat Herman berhenti bicara. Untuk kemudian Bayu muncul dari balik pintu. Ia terlihat lelah karena baru pulang dari pabrik.


 


Ambar dan Rudi juga mengalihkan atensi mereka pada Bayu yang kini duduk di kursi dekat Ambar.


 


"Nggak lembur, Mas?" tanya Ambar berbasa-basi. "Mandi dulu, sana. Pasti capek, kan habis kerja, biar seger," lanjut Ambar begitu melihat Bayu melepaskan sepatu.


 


"Nanti saja, Buk. Ini tumben ngumpul di ruang tamu. Ada apa?" tanya Bayu mengabsen wajah-wajah penghuni ruang tamu, " Ais sama Zahra mana?" Lanjutnya sambil celingukan.


 


Herman hanya mendengkus lalu menyeruput kopi di hadapannya. Tidak berniat menjawab pertanyaan Bayu. Ada rasa kasihan melihat wajah anak lelakinya baru pulang dari bekerja.


 


Sementara Aisyah yang mendengar Bayu pulang segera bergabung di ruang tengah dengan menggendong Zahra. "Mas, mau makan dulu atau bebersih dulu? Biar Aish angetin dulu lauknya,"


 


"Nanti aja, Dik." Bayu kembali melihat pada Rudi dan Herman yang saling berdiam diri. "Pak, Rud ada masalah?"


 


"Masalahnya, ya, cuma satu. Dia itu kalau nggak bekerja mau mencukupi kebutuhan Erina dari mana?"


 


"Rudi baru cari-cari lowongan, Pak," jawab Rudi tidak mau kalah. Merasa terhimpit sejak tadi membuat jiwa lelakinya tidak terima.


 


Herman hanya mendengkus mendengar jawaban Rudi. Sementara Bayu mulai memahami masalah di dalamnya.


 


"Bayu, adikmu itu cuma mau beli susu. Tapi si Rudi ini nggak mau membelikan. Alasannya terus aja ada. Bapak pusing denger mereka ribut tiap hari. Kamu bantu, lah, keuangan mereka. Dari awal hamil dia belum minum susu sama sekali."


 


"Oh, jadi soal susu ibu hamil," batin Bayu mengangguk paham.


 


"Padahal, kebutuhan orang hamil itu banyak. Sedangkan si Rudi belum juga bekerja. Kamu bisa bantu mereka, kan!"


 


Bayu melirik Aisyah yang diam sambil mengelus dahi Zahra dalam gendongan. Kembali hatinya di buat kesal tanpa bisa ia keluarkan.  "Kenapa jadi aku yang kena? Mencukupi kebutuhan mereka bagaimana? Aisyah saja baru resign. Itu artinya pendapatan jelas berkurang. Ini lagi, masih disuruh mencukupi kebutuhan Erina. Hhhuuh," keluhnya dalam hati.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


Hay gaes kira-kira ada pesan gak buat Herman. kalau ada nanti biar Author sampaikan 😂😂


.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2