
...Selamat membaca...
...**************...
"Dek, jangan sembarang kalau ngomong!" Bayu tersentak. Kalimat itu sudah ia dengar semenjak terakhir mereka bertengkar di kontrakan. Namun, sepertinya hati Aisyah sudah beku. Ia tetap kekeh pada pendiriannya.
"Aku nggak sembarangan ngomong, Mas. Aku berani ngomong seperti itu setelah apa yang kamu lakukan padaku. Selama ini aku diam saja mendengar cercaan bapak kamu. Bahkan, sampai aku dihina pun aku masih diam. Kamu tahu, Mas, apa yang aku rasakan? Sakit. Sangat sakit. Dan lebih sakit ketika suamiku sendiri, orang yang seharusnya melindungiku hanya diam saja mendengar hinaan itu."
Aisyah menumpahkan semua yang ia pendam selama ini. Sudah tidak ada lagi air mata yang mengalir. Aisyah sudah bebal dengan rasa sakit yang selama ini ia terima.
"Nduk, makanan Zahra sudah siap? Ini, loh, Zahra rewel. Sepertinya dia sudah lapar." Agung berusaha mengalihkan pertengkaran mereka.
Agung tahu, menantunya pasti capek. Ia hanya ingin agar Bayu bisa beristirahat barang sebentar, hingga ketika mereka berbicara nanti tidak akan ada emosi yang membuat mereka salah mengambil keputusan.
"Iya, Pak. Ini sudah selesai, kok," jawab Aisyah. Ia segera meninggalkan Bayu yang termangu di dapur.
"Kita sarapan dulu, Nak. Kamu pasti belum makan." Agung menyentuh bahu Bayu.
"Eh, iya, Pak. Bayu tadi sudah sarapan di jalan." Bayu terpaksa berbohong. Ia merasa tidak enak ikut sarapan di rumah mertuanya. Apalagi Aisyah tidak mempersilakan untuk sarapan. Meskipun di balik kata-katanya, perut Bayu sudah keroncongan sejak di perjalanan.
"Kalau begitu temani bapak makan. Mumpung kamu ada di sini, bapak ingin makan bareng menantu bapak."
Mau tidak mau Bayu mengekori langkah mertuanya menuju ke meja makan. Ia segera mengambil nasi dan sayur setelah Agung. Mereka hanya diam. Bayu begitu menikmati masakan istrinya yang beberapa hari terakhir tidak pernah ia dapatkan.
Agung yang melihat Bayu makan dengan lahap hanya tersenyum. Mungkin bibirnya bisa berkata tidak, tetapi hati dan sikapnya tidak pernah bisa membohongi lelaki paruh baya tersebut.
Sementara itu, Aisyah yang sedang menyuapi Zahra di ruang tamu tidak memedulikan sedikit pun tentang Bayu. Jarak ruang tamu dengan ruang makan itu tidak jauh, hingga Bayu bisa leluasa melirik ke arah Aisyah.
Hatinya perih ketika mengingat permintaan Aisyah untuk bercerai. Bayu tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya tanpa Aisyah dan Zahra.
"Masakannya nggak enak, Yu? Bapak perhatikan dari tadi cuma dibolak-balik saja. Apa kamu lagi nggak enak badan?" Pertanyaan Agung membuat Bayu terkejut.
"Enggak, Pak. Bayu sehat-sehat aja." Bayu pun segera melanjutkan sarapannya yang sangat terlambat.
__ADS_1
Hari semakin siang, tetapi Aisyah tak juga memberi kesempatan kepada Bayu untuk berbicara. Wanita itu menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Ia menyeterika baju-baju Zahra ketika putri kecilnya bermain bersama ayahnya.
"Andai sebelumnya kamu bersikap seperti ini, mungkin aku nggak akan senekad ini, Mas," ucapnya dalam hati.
Keputusan Aisyah sudah bulat. Ia tidak ingin merasakan sakit hati lebih lama lagi. Ia butuh bahagia, sebab ia hanyalah seorang wanita yang rapuh. Meskipun semua itu ia tutupi dengan sikap diamnya selama ini.
"Nduk, kamu nggak mau memberi kesempatan pada suamimu?" Suara Agung yang sudah berdiri tidak jauh dari Aisyah, membuat wanita itu terlonjak kaget.
"Bapak ngagetin Aish aja," gerutunya.
"Soalnya dari tadi bapak perhatikan, kamu melamun menatap suamimu terus," jawab Agung.
"Enggak, Pak. Aish tidak mau sakit hati lagi. Masalah orang tua mas Bayu, Aish masih bisa terima, Pak. Tapi jika sudah ada wanita lain, Aish nggak mau ambil resiko. Lebih baik Aish pergi dari kehidupan mas Bayu daripada harus sakit hati melihat mereka."
Agung sudah kehabisan kata untuk membujuk putri sulungnya. Sebenarnya ia tidak tega, bagaimana nasib cucunya kelak jika Aisyah dan Bayu bercerai?
"Dek, sepertinya Zahra ngantuk. Sana dikelonin dulu. Biar mas yang setrika baju Zahra," ucap Bayu.
"Nduk, bapak ke rumah pak RT dulu, ya. Tadi bilang ada sesuatu yang mau dibicarakan sama bapak."
"Iya, Pak," jawab Aisyah. Menatap kepergian Agung hingga bayangannya menghilang di balik pintu.
Sebenarnya Aisyah sedih melihat bapaknya. Karena di usianya yang tak lagi muda, Aisyah belum bisa membahagiakan beliau. Aisyah malah menambah beban pikiran Agung dengan masalah rumah tangganya.
"Maafkan Aish, Pak," lirihnya.
...**************...
Zahra sudah terlelap ketika Bayu masuk ke kamar. Dilihatnya, Aisyah juga ikut terlelap di samping putri kecilnya. Ingin sekali ia membangunkan Aisyah untuk membicarakan masalah mereka. Akan tetapi, Bayu tidak mempunyai keberanian untuk mendekatinya. Bayu hanya duduk di sudut ruangan. Beralaskan tikar plastik yang sering digunakan sebagai tempat bermain untuk Zahra.
__ADS_1
Lama-lama, Bayu ikut merebahkan tubuhnya di sana. Semilir angin yang berembus dari celah jendela kamar itu seolah meninabobokkan jiwanya yang lelah.
Tidak lama Bayu terlelap. Mungkin sekitar 30 menit. Ia bangun dan mendapati Aisyah sudah tidak ada di kasur. Sedangkan Zahra, putri kecilnya itu masih lelap dalam mimpi indahnya.
Bayu keluar mencari sosok istrinya. Wanita itu sedang mencuci piring kotor di dapur. Perlahan Bayu mendekati wanita itu.
"Dek, nanti sore ikut mas pulang ke rumah, ya!" pinta Bayu memelas.
"Maksud Mas, rumah yang mana? Sekarang rumah Aish di sini, Mas," jawab Aish tanpa mengalihkan pandangannya pada piring-piring di dalam wastafel.
"Pulang ke kontrakan kita, ya, Dek," pinta Bayu lagi.
"Pulang ke kontrakan untuk melihat mas Bayu memberi perhatian lebih pada wanita itu? Maaf, Mas. Aish tidak bisa," tegas Aisyah.
"Tolong, Dek. Jangan siksa mas seperti ini."
"Siksa? Apa mas tidak merasa telah menyiksa Aish lebih kejam dari apa yang mas rasakan saat ini?" Aish tersenyum sinis.
"Mas tidak bisa hidup tanpa kalian. Tolong, pulanglah ke kontrakan kita." Bayu sudah putus asa untuk membujuk Aisyah.
Bagi Bayu, wanita di hadapannya kini telah berubah. Dia bukanlah Aisyah yang ia kenal dulu. Aisyah yang selalu menuruti semua yang di minta oleh Bayu.
"Mas nggak usah repot-repot kalau tujuan Mas ke sini hanya untuk membujuk Aish agar mau kembali. Mas salah. Seharusnya Mas mendatangi wanita itu. Dia lebih membutuhkan Mas daripada Aish dan Zahra." Sejenak Aisyah menghela napas. Ia mencoba meredam emosi.
"Insyaallah, Aish dan Zahra bisa hidup sendiri. Masih ada Bapak untuk Aish bersandar. Aish yakin, Bapak tidak akan menyakiti perasaan Aish, seperti mas Bayu yang telah menorehkan luka di hati Aish."
Bayu hanya diam, lelaki itu tidak bisa membalas ucapan Aisyah. Sesal itu sudah menghantam hatinya terlalu keras, dan terlalu menyakitkan. Hingga saat ini yang Bayu rasakan hanyalah sesak di dadanya.
...************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
Seluruh keluarga besar Eska'er mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H.
__ADS_1
Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Minal aidzin walfa idzin
Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏