
...****************...
Selepas kepergian Erina, Bayu menghela napas lantas menoleh pada Aisyah. "Bisa bicara sebentar?" tanya Bayu. Bukan sepatutnya bertanya sebab Bayu tak menunggu jawaban Aisyah. Sudah seperti perintah, bukan.
Mau tak mau Aisyah mengikuti suaminya masuk ke kamar. Dalam hati Aisyah sudah bisa menduga akan apa yang akan di bicarakan oleh suaminya.
Bayu sudah duduk di pinggir kasur. Sedangkan Aisyah lebih memilih di kursi plastik dekat jendela, tetapi cukup dekat dengan Bayu.
Ruangan kamar yang bisa di bilang cukup, membuat keduanya bisa berbicara agak leluasa. Ya, meski di atas rumah belum di plafon. Jadi, barisan genteng di atas sana masih jelas terlihat.
"Ada apa, Mas? Tadi katanya mau bicara?" tanya Aisyah memulai pembicaraan. Karena sejak tadi suaminya itu hanya diam mengadu kukunya.
Bayu mendongakkan wajahnya, hingga matanya bertemu dengan mata Aisyah. Ia bingung harus memulai darimana. Mendengar permintaan Erina tadi membuatnya iba sebagai seorang kakak.
"Kamu masih ada uang, Dek?" ucap Bayu pada akhirnya.
"Uang," jawab Aisyah tertahan, "te-tentu masih ada, Mas. Cukup untuk membeli sayur sampai minggu depan. Kan, Mas, tahu. Aku gajian masih dua minggu lagi," lanjutnya tetap memperhatikan gelagat suaminya yang terlihat ragu.
"Oh, terus uang sumbangan sisa urusan ini-itu, bukannya masih kamu simpan?"
"Ada, Mas. Buat jaga-jaga, kalau saat bayar kontrakan belum ada uang, baru aku gunakan buat bayar. Memang ada apa, si, Mas? Ada ada barang atau keperluan mendesak yang Mas butuhkan?" pancing Aisyah, karena Bayu tak langsung mengungkapkan maksudnya.
"Ah, itu. Sebenarnya bukan kebutuhan mendesak. Hanya saja ..." Kembali Bayu mengadu kukunya. Semakin bingung saja melihat wajah polos Aisyah.
"Hanya saja?" ulang Aisyah.
"Aku yakin kamu tadi juga tahu soal Erina yang menyukai tas yang kamu pakai tadi." Bayu melirik tas istrinya yang di letakkan di meja. Tepatnya di samping Aisyah. Ia rasa tas yang biasa ia lihat di kondangan. Namun, hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya.
Aisyah tidak menjawab, tetapi hanya anggukan pelan sebagai jawaban. Sesuai dugaan Aisyah. Bayu memang mau menyinggung soal tas yang sejak tadi di bicarakan Aisyah.
"Tas kamu itu, kira-kira harganya berapa, sih?"
"Ini ... harganya sekitar tiga ratus ribuan, Mas." Aisyah tersenyum kecil. Ia dulu pernah kepikiran buat beli tas itu. Tapi belum saja kebeli, ada kebutuhan yang lebih penting yang harus ia dahulukan. Ada rasa terharu melihat tas itu. Teman-temannya begitu pengertian. Ah, teman rasa saudara memang sulit di cari.
__ADS_1
"Belinya di mana, sih, Dek? Aku lihat di pasar-pasar gitu, sepertinya tidak ada." Bayu ingat-ingat, saat ikut melangsir membawakan belanjaan ibunya untuk persiapan pernikahannya beberapa waktu lalu.
"Oh, ini memang tak dijual bebas, Mas." Aisyah beranjak mengambil tasnya. Lalu perlahan ikut duduk di samping suaminya. Dengan jarinya, Aisyah meraba pelan tas berbahan kulit sintetis berwarna burgundy.
"Terus?" semakin penasaran saja Bayu melihat istrinya begitu terlihat menyukai pemberian teman-temannya itu.
"Biasanya, merek-merek seperti ini dijual di kios-kios khusus. Ada juga lewat online."
Sedikit banyak Bayu tahu tentang pembelian secara online. Karena ia sendiri juga sering membeli sparepart lewat online. "Seperti yang di shopia atau di tokopadia, gitu?" tebak Bayu membuat Aisyah mengangguk dengan senyum manisnya.
"Mahal juga, ya, kalau sekitar tiga ratus ribu," gumam Bayu ikut memerhatikan tas dalam pangkuannya Aisyah.
"Jelas mahal, Mas. Waktu aku masih lajang aja, mau beli kayak sayang uang, gitu." Aisyah bukan orang yang fashionable. Tapi juga bukan merupakan orang yang buta fashion. Ia tahu perihal tas merek itu, tapi ia masih bisa menekan keinginannya. Dua ratus ribu bisa buat beli empat tas, kan.
Bayu menimang lagi jika ia meminta Aisyah untuk membelikan tas yang sama untuk Aisyah. Kemarin saja, bengkelnya sepi. Jika uang yang di pegang Aisyah ia minta, akan makan apa ia dan Aisyah nanti. Tapi mendengar rengekan adik satu-satunya membuatnya tak tega.
"Dek, aku kasihan sama Erina. Bisa tidak jika uang yang ada, kamu belikan tas buat Erina dulu." Meski ragu, tetapi akhirnya Bayu keluarkan juga uneg-unegnya.
"Mas, aku pegang uang tak seberapa. Jika aku membelikan tas buat Erina, lantas kita mau makan apa buat dua minggu ke depan. Belum lagi untuk ongkos angkot tiap hari."
Bayu membenarkan Aisyah kali ini. Namun, itu hanya tersimpan di dalam hatinya saja. "Begini saja, bagaimana kalau kamu belikan tas yang mirip dengan punyamu. Setidaknya, Erina mempunyai tas yang inginkan."
Aisyah terdiam, ia tak yakin akan cara suaminya.
"Dengan begitu, masih ada sisa uang buat kebutuhan kita, bukan?" terang Bayu lagi masih berusaha membujuk Aisyah.
"Erina itu sudah dewasa, Mas. Bukan anak kecil yang bisa dibohongi. Dia jelas tahu mana yang KW dan yang asli." Meski sudah kepalang kesal Aisyah tetap menyahut dengan lembut, agar tak memicu keributan dengan suaminya.
"Jika memang bisa buat beli tas yang mirip, belum tentu juga sisa uang bisa untuk bayar listrik dan air." Kali ini, Aisyah baru tersadar jika bulan ini memang belum membayar biaya listrik. "Belum lagi keperluan mendesak, seperti yang tidak terduga," terang Aisyah lagi.
Kali ini Bayu dibuat kicep. Ia semakin sadar jika ia belum bisa memberi uang lebih untuk semua kebutuhan rumah tangganya. Bahkan terkesan pas-pasan.
Namun, mengingat adik satu-satunya, membuat Bayu memutar ide lain. Meski ia sendiri tak yakin akan berhasil.
__ADS_1
Perlahan tangan kokoh Bayu melingkar di pinggang Aisyah dan menyandarkan dagunya di bahu sang istri. Ia memejamkan matanya untuk mengutarakan ide yang lain.
Aisyah sendiri tentu terkejut akan tingkah suaminya. Ada senyum kecil yang tercetak di bibir mungilnya. Sejujurnya ia ingin Bayu seperti ini setiap harinya. Namun, ah, sudahlah. Jalani dulu seperti apa adanya. Ia tak mau berangan seperti sebelumnya.
"Dek," bisik Bayu membuat darah Aisyah berdesir dibuatnya.
"Hm," jawab Aisyah seraya memutar lehernya sedikit. Ingin tahu saja suaminya kenapa tiba-tiba begitu amat manis. Ternyata, saat Aisyah meliriknya, Bayu sedang memejamkan matanya. Alis tebal yang terlihat hampir tertaut dengan hidung sedang, tapi terlihat mancung menjadi pemandangan yang pertama Aisyah lihat. Mungkin suaminya begitu kepikiran akan permintaan Erina. Sebagai saudara, Aisyah paham betul bagaimana nyerinya tidak bisa memenuhi keinginan saudaranya. Karena ia sendiri juga seorang kakak.
"Kamu punya adik, kan, Dek!" Bayu kini melepas tangannya di ikuti dagunya terangkat dari bahu Aisyah.
"Iya. Mas sendiri sudah kenal, kan, dengan Dinda."
Bayu mengangguk lalu menopang kedua sikunya di lutut. Tak lupa tangannya tertaut kembali, sekedar untuk mengumpulkan keyakinannya. Bahwa apa yang akan ia sampaikan akan membuat Aisyah luluh.
"Saudara itu adalah tempat kita berbagi, setelah orang tua kita. Bukan begitu?"
Aisyah mengangguk untuk membenarkan.
"Apa jika aku memintamu untuk memberikan tasmu pada Erina kamu akan memberikannya?" pinta Bayu. Ia sudah tidak punya ide lagi. Hanya ini satu-satunya cara yang terakhir agar sang adik dapat terpenuhi keinginannya.
Terkejut sudah pasti. Namun, merelakan pemberian teman-temannya untuk Erina, itu sangat tidak bisa ia lakukan. Seperti tak menghargai saja. Bukan hanya itu, ia menginginkan tas ini sudah lama. Namun, begitu sudah di tangan, ada saja ujian yang membuatnya bimbang.
Aisyah terdiam sambil memandangi tas di pangkuannya. Sampai kapan pun ia tak akan rela memberikan apa yang ia punya. Terlebih ini adalah sebuah pemberian. Teman-temannya menyisihkan uang mereka untuknya. Pasti mereka menyisihkan sebagian uang itu dengan berbagai cara. Lalu, apa pantas ia memberikan apa yang mereka beli dengan susah payah untuk orang lain. Tidak.
"Mas, ini adalah pemberian teman-temanku. Di mana letak aku menghargai mereka jika pada akhirnya aku lemparkan pada orang lain. Maaf, Mas. Aku tidak bisa."
Percayalah, Aisyah juga setengah mati mengungkapkan keberaniannya untuk menentang suaminya, tetapi mau bagaimana lagi. Ia rasa, keputusannya sudah benar.
...****************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1