
...Selamat membaca...
...***********...
Pagi itu, Aisyah beraktifitas seperti biasa. Bangun sebelum azan subuh berkumandang. Ia mencuci beras dan memasaknya di magicom. Setelah itu, ia mencuci piring dan perabotan lain sambil menunggu suara azan di sekitar kompleks.
Tidak lama menunggu, Aisyah mengambil wudhu. Ia mencoba membangunkan suaminya. Namun, Bayu hanya berpindah posisi saja.
"Kamu sholat duluan, aja, Dek. Aku masih ngantuk," gumam Bayu sambil menarik selimutnya.
Akhirnya Aisyah melaksanakan dua raka'atnya seorang diri. Dalam munajatnya, Ia berdoa untuk kesehatannya juga anak dalam kandungannya. Kelancaran rezeki serta dicukupkan segala kebutuhannya. Ia sadari saat persalinan nanti pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Tidak lupa ia memohon pada Sang Khalik agar Bayu dibukakan pintu hatinya. Ia ingin suaminya bisa setiap saat menjadi imam salatnya.
Yah, seperti tokoh impian pada novel online yang sering ia baca. Lagi-lagi Aisyah segera sadar, jika tokoh fiksi itu hanyalah kehaluan dari penulisnya semata. Dalam dunia nyata, semua itu ternyata butuh proses dan kesabaran.
Berharap, apa salahnya.
Dengan berdoa, setidaknya ia sudah menumpahkan segala keinginannya. Selanjutnya ia hanya bisa berpasrah kepada pemilik kehidupan.
Selesai dengan kewajibannya, Aisyah menyalakan kompor dan meletakkan teko siul untuk merebus air.
Sambil menunggu mendidih, Aisyah menyempatkan untuk berjalan tanpa alas kaki di sekitar kompleks.
"Sendirian aja, Aish. Suamimu mana?" tanya seorang tetangga yang sedang jalan pagi.
"Ada, Bu, di rumah."
"Kok, nggak nemenin jalan. Biasanya, kan, kehamilan pertama itu membuat suami pun antusias. Dengan menemani jalan kaki atau berbelanja perlengkapan bayi misalnya."
Aisyah tersenyum kecil. "Mas Bayu sedang capek, Bu. Lain kali pasti Aish ajak." Aisyah tentu menjawab jujur. Hanya saja tidak mungkin, kan, ia menjawab jika suaminya masih tidur.
Hanya sebentar bercakap-cakap ringan, Aisyah lekas kembali ke kontrakannya. Teringat akan air yang sudah ia masak.
Begitu ia membuka pintu, dilihatnya Bayu sedang menuang air ke dalam termos. Ada segurat senyum bahagia melihatnya. Namun, ia juga sedikit merasa bersalah karena ia meladeni tetangga untuk berbincang di depan.
"Mas," panggil Aisyah seraya berjalan mendekat.
Bayu menoleh sebentar lalu kembali fokus pada kegiatannya. "Dari mana, Dek?"
"Maaf, ya, Mas. Aku tadi jalan-jalan di depan. Saat mau masuk halaman, ada tetangga depan, ngobrol dikit. Jadi sedikit terlambat buat angkat airnya," jelas Aisyah begitu tiba di samping Bayu.
"Ooh," jawab Bayu singkat seraya meletakkan teko di tempatnya.
Jika beberapa bulan yang lalu Aisyah sedikit lalai saja, pasti Bayu akan mengomel. Beruntung kali ini Aisyah dapat selamat dari gerutuan suaminya. Dalam hati ia bersyukur, sedikit demi sedikit Bayu mulai bisa memahaminya. Mungkin karena ia tengah mengandung anaknya.
__ADS_1
...**************...
Menjelang hari perkiraan kelahiran, Aisyah lebih rajin untuk berjalan-jalan setiap pagi. Kata ibu mertuanya, banyak jalan dapat memudahkan proses pembukaan nanti. Selain itu, jalan santai memudahkan kepala bayi masuk panggul dengan sempurna. Karena gaya gravitasi pergerakan otot-otot panggul merangsang kontraksi.
Maka tidak heran, saat sudah pembukaan awal pun biasanya bidan akan menyuruh calon ibu untuk jalan-jalan lebih dulu.
Aisyah sudah berkali-kali menarik nafas dan membuangnya melalui mulut. Ia sesekali melirik jam di ponselnya berharap Bayu segera pulang.
Sepuluh menit yang lalu ia sudah mengirimkan pesan pada Bayu, jika ia sudah mengalami kontraksi yang lebih sering.
Bayu tidak membalasnya melainkan langsung melakukan panggilan.
"Gimana, dek? Apa yang dirasain?" tanyanya panik.
"Ini Mas, mules banget," jawabnya sambil meringis. Namun, Aisyah tidak hanya berdiam diri saja. Sebisa mungkin ia bersikap tenang sambil merapikan barang-barang yang hendak ia bawa.
"Ini mas udah selesai. Mas segera pulang, kok. Nggak sampai lima menit."
"Iya, Mas. Hati-hati, ya."
Setelahnya Bayu menutup panggilan, sedangkan Aisyah mulai merasa ada cairan yang merembes dari pusat intinya. Seperti ada benda besar di belakang punggungnya dan jatuh dengan sendirinya. Jatuhnya cairan bening itu tidak bisa ia tahan.
"Apa ini yang dinamakan pecah ketuban," ringisnnya lagi.
Jantung Aisyah berdegup sambil berusaha tenang dengan mengelus perutnya. "Sabar sebentar ya, Dek. Pasti ayah segera sampai," ucapnya. Lebih pada menyemangati diri.
Begitu keluar dari kamar, Bayu sudah datang dan memeriksa kening dan perut Aisyah. Melihat raut panik Bayu membuat Aisyah tersenyum karena merasa begitu diperhatikan.
"Ayo, Dek. Kita ke tempat bidan!" ajak Bayu sambil memegang bahu Aisyah.
"Mas. Ini kadang sakitnya ilang, kok. Kamu bisa mandi dulu," saran Aisyah.
"Tapi, kamu udah kesakitan begitu, Dek."
"Mandi seberapa lama, sih, Mas. Nggak apa, aku masih bisa tahan, kok. Kata bidan, saat seperti ini jangan terlalu panik."
Bayu menurut karena memang ia masih kotor dan bau oli.
Secepat mungkin Bayu membersihkan diri, sedangkan Aisyah sudah bersiap dengan perlengkapannya.
Tidak sampai lima menit Bayu selesai. Sepasang suami-isteri itu lekas ke bidan dengan motor. Berkali-kali Bayu melihat wajah Aisyah. Ia meringis kala Aisyah tengah kepayahan naik di atas motor dengan perut besarnya.
"Gimana, udah nyaman?" tanya Bayu memastikan istrinya duduk dengan benar terlebih dahulu. Mengingat hal ini, tersentil hati Bayu dibuatnya. Ia tidak bisa memberikan fasilitas yang layak pada istrinya. Harusnya ia bisa menyewa mobil tetangga. Namun, demi menghemat biaya, hal itu masih ia tekankan.
__ADS_1
Bayu membawa motornya pelan. Ia tidak mau jika rasa paniknya akan membahayakan semuanya.
Beruntung, jarak dari kontrakan ke rumah bidan tidaklah jauh.
Sampai di sana, Aisyah segera mendapat penanganan dengan Bayu yang senantiasa berada di samping Aisyah.
"Alhamdulillah, sudah bukaan delapan. Sebentar lagi kepala dedek akan terlihat. Bisa dipapah atau digendong istrinya, Pak, buat ke ruangan bersalin di sebelah?" tanya Bu Bidan pada Bayu.
Bayu menatap Aisyah yang terlihat tenang. "Gimana, Dek. Bisa jalan sendiri?"
"Bisa kok, bisa."
Dengan segera Bayu membantu Aisyah untuk bangun dan memapah Aisyah ke ruang bersalin seperti instruksi bidan tadi.
Peralatan persalinan telah disiapkan. Bayu yang melihatnya hanya bisa meringis dengan perut yang terasa ngilu. Ada berbagai jenis jarum dan gunting dari stainless. Membayangkan seperti apa selanjutnya membuat dadanya seperti diremas-remas.
Peluh sebiji jangung kini hinggap di kening Aisyah. Bayu dengan segera megusap pelan kening Aisyah. Di saat seperti ini kepanikan memang tidak bisa dihindari. Apalagi ini adalah momen pertama bagi calon ayah dan ibu itu.
"Mas, Aisyah mohon maaf bila sampai saat ini masih banyak kekurangan dalam melayani, Mas," bisik Aisyah saat rasa sakitnya kian bertambah.
"Kamu bicara apa, Dek. Justru Mas yang belum bisa berbuat banyak untuk keluarga kita."
Aisyah tersenyum tulus. "Aisyah minta doanya, ya, Mas ...."
"Tanpa kamu memintanya, mas sudah tentu mendoakan kamu, Dek."
Dengan arahan dari bidan, Aisyah menghirup udara dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut. Begitu seterusnya sampai ia mengejan untuk pertama kalinya.
Aisyah sungguh pintar dan tenang, meski bibirnya tidak berhenti merapal doa yang ia bisa. Tangannya berpegangan erat pada Bayu yang setia mendampinginya. Sesekali Bayu mendaratkan bibirnya di kening Aisyah sebagai dukungan.
Tiga kali mengejan, akhirnya tangis bayi pun menguar menguasai ruangan. Tangisannya kencang dengan kulit kemerahan bercampur darah.
Bayu dibuat mematung di tempatnya. Jerit tertahan istrinya baru saja selesai dan kini sambutan tangis bayi mungil yang membuatnya masih dihujani rasa yang bercampur aduk.
"Terima kasih, Aisyah. Terima kasih," ucapnya sambil mendaratkan bibirnya di kening sang istri.
...****************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1