
...Selamat membaca...
...************...
Belum hilang rasa geram Aisyah pada Septian karena bertamu tanpa izinnya. Aisyah kini kembali dibuat geram karena perkelahian antara Bayu dan Septian. Tidak bisa dibayangkan betapa malunya Aisyah saat ini pada tetangganya. Sekarang, Bayu masih duduk di teras rumah, meringis kesakitan akibat ulahnya sendiri.
Mungkin jika Bayu sudah tidak menjadi suaminya, Aisyah sudah pasti akan mengusirnya. Namun, saat ini Bayu masih berstatus suaminya. Aisyah masih berkewajiban untuk merawat lelaki itu.
Aisyah masuk ke dalam meninggalkan Bayu, kemudian ia mengambil handuk kecil dan baskom berisi air dingin dari dapur.
"Untuk siapa Ais?" tanya Agung saat Aisyah selesai mengisi air di baskom.
"Untuk Mas Bayu, Pak."
"Belum pulang dia?"
Aisyah tersenyum dan menggeleng. "Cuma Pak Tian yang pulang, Pak. Mas Bayu masih di depan."
Mendengar jawaban Aisyah, Agung hanya mengganggukkan kepala. Ia memahami bagaimana perasaan Bayu untuk memperjuangkan Aisyah dan Zahra, walaupun ia juga masih menyimpan amarah pada lelaki itu.
Kini, Aisyah mendudukkan dirinya tepat di samping Bayu. Ia membasahi handuk kemudian memerasnya. Dengan telaten Aisyah mengompres wajah Bayu di bagian-bagian yang terlihat lebam.
Bayu menahan untuk tidak merintih, walaupun perih dan sakit ia rasakan. Itu semua seakan tertutup oleh keteduhan wajah Aisyah yang kini tepat berada di depannya. Wanita cantik yang selama ini ia sia-siakan.
"Maafkan Mas, ya. Mas terlalu sering membuatmu kecewa."
Mendengar permintaan maaf dari Bayu, Aisyah hanya membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk pelan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
"Terbuat dari apa hatimu, Ais? Mengapa masih begitu baik padaku setelah semua perlakuanku padamu?" batin Bayu masih memperhatikan wajah Aisyah.
"Mas, sudah," ucap Aisyah membuyarkan lamunan Bayu.
"Makasih, ya. Kamu masih peduli denganku."
"Ya sudah, Ais ke dalam dulu untuk melihat Zahra. Mas silakan pulang karena sebentar lagi gelap. Angin malam nggak baik untuk kesehatan."
__ADS_1
Aisyah merapikan perlengkapannya dan hendak beranjak, tetapi ia merasa langkahnya tertahan. Sejenak Aisyah berhenti. Ia membalikkan badannya dan mengamati tangannya yang ditahan oleh Bayu. Jujur, Aisyah merasa tidak tega dengan Bayu, lelaki itu memandangnya dengan sorot mata mengiba.
"Apa tidak ada lagi kesempatan untukku memperbaiki semuanya Ais? Apakah kesempatan itu benar-benar sudah hilang? Apa kita sudah tidak bisa lagi bersama untuk kmbali membangun rumah tangga kita dari nol bersama anak kita, Zahra?" mohon Bayu.
Aisyah memutuskan untuk kembali duduk di kursi rotan itu. Menatap genggaman tangan Bayu yang semakin mengerat. Ia hanya sebatas diam dan mendengar Keluhan yang selalu dilontarkan lelaki itu. Mengapa penyesalan selalu datang di akhir? Sedangkan kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Perlahan, Aisyah melepaskan tangan Bayu, tetapi Bayu bersikeras mempertahankan genggaman itu. "Mas," panggil Aisyah menandakan penolakan.
"Kenapa Ais? Apa kamu sudah tidak ingin menggenggam tangan ini lagi? Apa kamu menyerah untuk menuntunku? Sekalipun demi Zahra apa itu tidak bisa, Ais?" Bayu kembali mengiba pada Aisyah.
Aisyah memutus kontak mata dengan Bayu. Ia akan hilang kendali jika terus menatap matanya. Mata yang dulu membuatnya jatuh cinta.
Selama beberapa menit, Aisyah hanya terdiam. Ia memilih bungkam daripada menjelaskan apa yang ia rasakan, karena ia tidak yakin jika satu kata yang terucap dari mulutnya tidak akan membuat air matanya jatuh.
Sedangkan Bayu tidak bisa lagi menahan air tangisnya. Air mata yang sudah ia tahan akhirnya luruh dengan deras. Ia menangisi nasib pernikahannya yang sudah diambang perceraian dan penyesalan atas apa yang sudah dilakukannya selama ini.
...*************...
Semalam, saat Bayu sampai di rumah, Ambar dibuat terkejut dengan penampilan Bayu yang acak-acakan dan wajah penuh memar. Ambar pun mencerca Bayu dengan banyak pertanyaan.
Kali ini, Ambar hanya pergi seorang diri tanpa ditemani Bayu, karena melihat kondisi putranya yang masih belum memungkinkan. Pergi bersama suaminya juga tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah beban Aisyah.
Ambar hanya ingin mendengar langsung dari Aisyah tentang tanggapannya mengenai perceraiannya.
Setelah sampai di depan rumah Aisyah, Ambar tidak langsung masuk ke dalam halaman rumah. Ia pandangi wanita yang sedang bermain dengan putrinya di depan rumah. Wanita yang terkadang tertawa, lalu dengan sekejap merenung. Hingga terlintas pertanyaan dalam pikiran Ambar, apa yang dipikirkan wanita itu?
Ambar memberanikan diri masuk ke dalam halaman yang tidak terlalu luas tersebut. Berjalan pelan lalu menghampirinya. "Ais ...."
Aisyah yang sedang termenung seketika tersentak kaget saat mendengar seseorang memanggilnya. "Ibu?"
Melihat Ambar berdiri di depannya, ia segera mencium tangan Ambar. "Duduk dulu, Bu. Aisyah buatkan minum dulu, ya," tawar Aisyah.
__ADS_1
"Tidak usah, Nak. Ibu hanya sebentar di sini. Ibu kangen sama cucu ibu," ucap Ambar sambil tersenyum. Tidak lupa ia mencubit gemas pipi Zahra yang semakin tembam.
"Halo Nenek, Zahra juga kangen sama Nenek," ucap Aisyah seraya menirukan suara anak kecil.
"Gimana kabar Zahra, Ais? Sepertinya berat badannya bertambah, ya?"
"Alhamdulillah baik, Bu. Zahra juga sudah sedikit cerewet dan mulai ngambek ala bayi." Aisyah menjawab pertanyaan Ambar dengan tertawa kecil.
"Kalau kamu kerja, bagaimana dengan Zahra?"
"Zahra Aisyah titipkan di sini, Bu. Setiap akhir pekan Aisyah akan pulang."
"Apa Zahra tidak rewel? Maksud ibu, kalau kamu sama Bayu, kamu tidak perlu repot menitipkan Zahra, Nak. Kamu akan sepenuhnya mengurus dan tahu tumbuh kembang Zahra seperti apa."
Aisyah tahu ke mana arah pembicaraan Ambar. "Alhamdulillah Zahra tidak rewel Bu. Dia anak yang baik dan mengerti tentang kondisi orang tuanya."
Ambar menghela napasnya. Tujuannya datang ke sini adalah ingin membuat Aisyah berpikir kembali tentang perceraiannya. Berpikir kembali dampak negatif dan positif yang akan ia dapatkan setelah perceraian.
"Nak, kamu pasti sudah tahu tujuan ibu datang ke sini. Yang jadi pertanyaan ibu, apa kamu sudah memikirkan tentang dampak yang akan kamu dan orang lain terima setelah perceraian ini?"
Seperti responnya pada Bayu, kali ini Aisyah pun memilih diam. Ia tidak ingin banyak bicara. Yang dilakukannya hanyalah mencubit gemas pipi Zahra.
Ingin Aisyah menumpahkan segala keluh kesahnya pada wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandung. Namun, ia tidak akan sanggup menyakitinya jika mendengar apa yang ia ucapkan. Ambar terlalu baik untuknya. Selalu membelanya di saat yang lain memojokkan dirinya.
"Ibu tidak tahu separah apa Bayu menyakitimu, hingga kamu tidak ingin berpikir ulang mengenai perceraian itu. Ibu hanya ingin melihat kalian kembali seperti dulu. Mungkin permintaan ibu terlalu tinggi, ya? Maafkan ibu dan Bayu ya, Nak."
Jawaban Aisyah masih sama, ia hanya diam dan tersenyum..
Agung dan Diana hanya mengintip dari balik jendela. Tidak ingin banyak ikut campur dengan keputusan Aisyah.
...************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1