Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
14_Seharusnya kamu mengerti.


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


Tanpa terasa air mata Aisyah mengalir begitu saja. Membasahi bantal yang menjadi sandarannya. Ia pikir jika mendiamkan Bayu, akan membuat lelaki itu peka. Namun, justru hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Malah semakin membuatnya sakit hati.


 


Aisyah menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Melakukannya berkali-kali agar hatinya bisa sedikit lebih tenang. Tangisnya pecah dalam sesegukan yang tidak bisa ditahan. Seolah sedang meluapkan emosi yang meradang. Hingga perempuan itu terlelap karena kelelahan.


 


...************...


 


Rintik hujan di pagi hari membuat mata yang terpejam tak ingin terbuka, ketika azan subuh sudah berkumandang. Nyatanya, kehangatan di balik selimut tebal lebih menggiurkan daripada menjalankan kewajiban.


 


Namun, Aisyah adalah perempuan yang taat. Meskipun berat, ia tetap terbangun untuk menjalankan salat. Saat kedua matanya terbuka, ia melihat suaminya masih terlelap di sampingnya. Entah lelaki itu pulang pukul berapa? Aisyah tidak tahu. Tubuhnya terlalu lelah, lantaran menangis semalam.


 


Tangan Aisyah hendak mengguncang bahu suaminya, berniat untuk membangunkan lelaki itu. Namun, saat tangannya sedikit lagi mencapai tubuh sang suami, dengan cepat ia tarik kembali. Aisyah masih sakit hati. Perempuan itu pun turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil jam weker di sana. Ia sengaja mengatur alarm agar berbunyi beberapa menit kemudian. Tepatnya, setelah Aisyah pergi ke kamar mandi. Dengan begitu, suaminya akan bangun sendiri.


 


...************...


 


Sinar mentari sudah merangkak naik di ufuk timur, ketika Aisyah dan Bayu hendak sarapan. Waktu sudah menunjukkan pukul enam. Keduanya masih sama-sama diam. Bayu menatap wajah Aisyah yang terlihat berbeda. Kedua matanya terlihat sembab karena habis menangis semalam. Ada rasa menyesal karena sudah membuat istrinya menangis seperti itu. Ia sadar, mungkin semalam sikapnya terlalu kasar.


 


"Maaf!"


 


Satu kata yang terlontar dari mulut Bayu membuat Aisyah sontak mendongak. Menatap Bayu dengan mata sembabnya. "Kamu ngomong apa, Mas?" tanyanya memastikan.


 


"Maaf ... mas minta maaf soal kejadian semalam. Mas sudah bersikap kasar sama kamu, lalu pergi tanpa bilang dulu. Mas salah."


 


"Bukan hanya itu, Mas. Apa kamu nggak merasa salah juga tentang membelikan tas untuk Erina?" Tentu saja kalimat itu hanya terlontar dalam hati Aisyah saja. Faktanya, Aisyah belum menanggapi permohonan maaf suaminya.

__ADS_1


 


"Mas tahu kamu juga kecewa masalah tas yang mas belikan untuk Erina. Tapi di sini kamu seharusnya mengerti, kalau mas hanya ingin membahagiakan adik mas sendiri. Sekarang mas tanya sama kamu. Kalau semisalnya keluarga kamu ada yang membutuhkan bantuan kita, apa kamu akan diam saja? Nggak, kan? Kamu juga pasti nggak akan tega. Kamu juga pasti melakukan hal yang sama seperti mas. Membantu mereka tanpa berpikir panjang. Selama kita mampu, apa salahnya, kan?"


 


Perkataan Bayu selanjutnya membuat Aisyah berpikir keras untuk mencernanya. Jadi selama ini pikiran Bayu masih seperti itu. Ia masih mengutamakan kepentingan keluarganya, walaupun dirinya sudah menikah dengan Aisyah. Sebenarnya Aisyah tidak keberatan, tetapi semuanya harus diukur dari segi kemampuan. Apakah Bayu sudah berhasil membuat hidup istrinya berkecukupan? Setidaknya tanpa harus Aisyah ikut kerja banting tulang.


 


"Tapi setidaknya Mas harus izin dulu sama aku, kalau mau membelikan sesuatu buat adik kamu. Mungkin aku punya solusi yang lebih baik, kan?"


 


"Mas udah pernah nanya ke kamu, ya, Ais. Tapi respon kamunya kayak gitu. Kamu nggak mau beliin Erina tas itu, bahkan mas minta kamu kasih tas kamu juga nggak mau. Jadi, jangan salahkan mas kalau mas membelikan tas itu dengan gaji mas sendiri."


 


Aisyah menghela napas kasar. Sikap keras kepala suaminya itu benar-benar membuatnya harus ekstra sabar. Ia seolah lelah, lalu mencoba untuk mengalah. Mungkin memang sifat suaminya itu tidak dapat diubah. Aisyah sadar jika Bayu begitu menyayangi keluarganya. Meski ada sedikit sesak di hati Aisyah karena Bayu selalu mengutamakan keluarganya dibanding dia sebagai istrinya.


 


"Sudahlah, Mas. Nggak usah dibahas lagi. Aku juga minta maaf kalau semisalnya sikapku terlalu egois dan kekanakan menurunkan kamu. Tapi untuk ke depannya, aku cuma minta kamu lebih terbuka sama aku. Sebagai suami istri, sudah semestinya kita saling terbuka satu sama lain."


 


 


...*************...


 


"Pulangnya bisa jemput aku lagi, kan?" tanya Aisyah saat dirinya turun dari motor. Bayu sengaja mengantarkan Aisyah ke tempat kerja, lantaran ingin menarik hati perempuan itu lagi. Bayu ingin istrinya kembali bersikap lembut kepadanya. Ia pun berinisiatif untuk mengantarkan Aisyah pergi bekerja.


 


"Kalau kerjaan di bengkel nggak ramai, mas bisa aja jemput kamu."


 


Aisyah tersenyum lebar. Perempuan itu sangat senang, Bayu pun demikian. Sangat mudah membuat hati Aisyah luluh kembali, karena bentuk perhatian suami adalah kelemahan para istri.


 


"Ya, udah. Nanti aku telepon kamu, ya, kalau jam kerjaku mau selesai. Jadi aku bisa mastiin buat nungguin kamu atau naik angkot lagi," tutur Aisyah. Bayu hanya menganggukkan kepalanya.


 


"Mas pergi dulu, ya. Kamu kerjanya yang bener. Inget, loh, jangan genit-genit sama cowok lain!" kekeh Bayu, tetapi dengan gaya mengancam. Aisyah pun tertawa pelan.

__ADS_1


 


"Apaan, sih, Mas. Memangnya kamu pernah lihat aku genit sama laki-laki lain? Sama teman perempuan aja sikapku terkenal cuek, apalagi sama teman laki-laki."


 


Bayu ikut melebarkan senyuman mendengar istrinya berkata seperti itu. Jujur, ia sangat beruntung mempunyai istri seperti Aisyah. Perempuan sederhana yang bersikap apa adanya. Walaupun menurut Bayu terkadang sikap Aisyah sedikit kekanakan jika menyinggung masalah perasaan.


 


"Ya, pokoknya kamu harus bisa jaga diri aja. Jangan terlalu deket sama temen laki-laki. Aku juga bisa cemburu, loh, Dek."


 


"Tumben Mas bilang cemburu. Bukan kayak Mas banget, deh." Aisyah mencebikkan bibirnya. Walau tak pelak hatinya merasa bahagia.


 


"Eh, kok, bilangnya gitu? Rasa cemburu itu nggak perlu dikatakan setiap waktu. Setiap pasangan pasti mempunyai rasa itu. Namun, cara setiap orang nggak akan sama dalam penyampaiannya. Mungkin pasangannya aja yang kurang peka."


 


Aisyah melongo takjub mendengar ungkapan suaminya tersebut. Terdengar lebih dewasa dan bijaksana. Sungguh berbeda dengan sikapnya tadi malam, membuat Aisyah bingung dengan sikap suaminya yang suka berubah-ubah.


 


"Malah ngelamun. Udah, sana kerja. Nanti keburu ditutup pintu gerbangnya." Perkataan itu membuyarkan lamunan Aisyah. Ia pun melemparkan senyuman pada sang suami, dan mencium punggung tangannya sebelum lelaki itu pergi.


 


"Ciyeeee ... udah dianterin lagi, nih. Udah pasti semangat dong, kerjanya." Kedatangan Witri membuat Aisyah memutar kedua bola matanya, malas. Rekan kerjanya itu tidak pernah bosan menggoda dirinya seperti itu. Padahal Aisyah bukan lagi pengantin baru.


 


"Apa hubungannya diantar suami sama semangat kerja, Mbak. Tiap hari aku emang semangat terus, kok, kerjanya," sanggah Aisyah sembari berjalan.


 


"Eh, ada. Aku perhatiin wajah kamu lebih berseri-seri daripada kemarin. Itu tandanya, kamu lebih happy kalau kamu diantar sama suami kamu. Bener, kan?" cetus Witri dan dibalas senyuman oleh Aisyah. Dalam hatinya ia membenarkan.


 


Keduanya pun berjalan berdampingan sambil berbincang. Aisyah sesekali tertawa mendengar celotehan Witri tentang pernikahan. Dari Witri, Aisyah benar-benar banyak belajar.


...*****************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2