Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
60_Lebih Baik Aku Pergi.


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*************...


"Kamu pasti bercanda, kan?" Bayu memastikan apa yang diucapkan oleh Aisyah. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilontarkan oleh istrinya


 


"Aku serius, Mas. Dan aku akan bawa Zahra. Dia pasti akan lebih terurus dan nggak akan ditelantarkan demi wanita lain!" tegas Aisyah kemudian meninggalkan Bayu.


 


Aisyah berjalan menuju kamar kemudian mengunci pintunya. Ia mengemasi barang-barangnya pun dengan barang milik Zahra yang akan ia bawa nantinya.


 


Aisyah sudah tidak peduli lagi dengan teriakan Bayu di depan kamar sambil menggedor pintu dengan kencang. "Aku nggak ada apa-apa dengan Indar, Ais. Kamu tolong mengerti, dia itu nggak punya siapa-siapa di sini. Yang bisa dia mintai bantuan cuma aku. Cemburu kamu itu berlebihan."


 


Mendengar Bayu masih membela Indar, membuat Aisyah lebih semangat lagi untuk menyiapkan semua kebutuhannya. "Bela saja terus mas, jandamu itu. Tapi setelah ini jangan pernah kamu menyesal dengan apa yang kamu ucapkan," gerutu Aisyah dengan air mata yang tidak berhenti menetes.


 


Setelah selesai bersiap, ia segera menggendong Zahra dan membawa semua barangnya keluar kamar.


 


Melihat pintu terbuka dan Aisyah yang membawa barang begitu banyak, membuat Bayu terdiam. Ia pikir Aisyah hanya menggertak untuk membuat Bayu takut. Ternyata salah.


 


"Ais, apa yang kamu lakukan? Kamu mau pergi ke mana? Kamu jangan bercanda, ya."


 


"Bukannya tadi Aish sudah bilang, Mas. Aish capek, Mas. Aish capek tiap hari nahan sakit hati melihat Mas Bayu dan janda itu. Dan sekarang Mas lebih memilih dia daripada aku, istrimu? Baik, Aish turutin apa yang Mas Bayu minta." Aisyah kembali mengeluarkan seluruh emosinya. Padahal, ia sudah berjanji agar tidak emosi dan menahannya di depan Zahra.


 


"Kamu jangan bercanda Aish. Mas nggak akan izinin kamu!"


 


"Terserah, Mas! Sebagai istri, Aish sudah nggak mampu lagi ngingetin Mas Bayu. Aisyah menyerah, Mas."


 


Setelah ucapan terakhir Aisyah, Bayu masih saja meneriakkan namanya dan mencegahnya. Apalah daya, kesabaran Aisyah sudah pada titik tertingginya. Setidaknya, ia sudah mencoba mempertahankan apa yang ia miliki.


 


***


"Assalamualaikum ...," ucap Aisyah begitu sampai di depan rumahnya. Ia pun langsung masuk melihat pintu rumahnya yang terbuka, tetapi tidak ada jawaban.


 

__ADS_1


Aisyah meletakkan barang-barangnya di ruang tamu, kemudian berjalan mengelilingi halaman rumahnya. "Bapak ngapain? Kok nggak istirahat?" tanya Aisyah saat melihat Agung berkebun.


 


Mendengar suara Aisyah, Agung menoleh ke belakang. "Loh, Aisyah? Kamu kapan datangnya?" tanya Agung.


 


"Waah! Cucu kakek ikut, ya?" ucap Agung antusias. Agung pun mencuci tangan setelah membereskan peralatan berkebunnya. Ia tidak sabar untuk menggendong Zahra.


 


Beruntung saat Agung selesai mencuci tangan, Zahra sudah bangun dari tidurnya. Padahal bayi mungil itu begitu lelap tidurnya sejak berangkat dari rumah.


 


Sudah dua jam Agung dan Aisyah sedang duduk di ruang tamu, bermain-main dengan Zahra yang kini mulai mengeluarkan ocehannya. "Bapak senang, Nak. Kalian sering-seringlah main ke sini, biar tambah ramai rumahnya. Oh ya, kamu nggak sama Bayu?" tanya Agung sambil menoel hidung mungil Zahra.


 


Sayangnya, Agung tidak mendengar jawaban dari Aisyah, melainkan melihat putrinya melamun sambil menarik-narik rambutnya Asiyah. Agung memperingatkan Aisyah dengan menepuk tangannya pelan. Apabila diteruskan, Zahra akan menangis kesakitan.


 


"Eh! Iya, Pak?"


 


Agung menggelengkan kepalanya. "Ck ck ck! Bapak tadi tanya, Bayu ke mana? Kok nggak ikut?"


 


 


 


Sebagai orang tua, tentu memiliki feeling yang kuat terhadap anaknya. Begitupun Agung. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Aisyah. Melihat tingkah Aisyah, banyaknya barang yang Aisyah bawa dan Bayu yang tidak mengantar Aisyah, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Namun, Agung memilih diam, mungkin Aisyah belum siap untuk menceritakan masalahnya.


 


Sudah dua hari Aisyah menutup akses Bayu terhadapnya. Ia menonaktifkan ponselnya agar Bayu tidak bisa menghubungi. Setiap hari, ia mengajak Agung jalan-jalan untuk menghindari kemungkinan Bayu datang ke rumahnya.


 


Dalam dua hari itu, dugaan Agung semakin kuat. Aisyah pun meminta agar Agung tidak menghubungi Bayu untuk sementara waktu karena suaminya itu sedang sibuk dengan pekerjaannya


 


Semakin kuat dugaan Agung, ia pun berencana menghubungi Diana tanpa sepengetahuan Aisyah, barangkali Diana mengetahui duduk permasalahan yang dialami oleh Aisyah .


 


"Hallo, assalamualaikum, Diana," sapa Agung begitu sambungan telepon diterima.


 


"...."

__ADS_1


 


"Baiklah, Bapak tanyakan langsung saja nanti. Wassalamu'alaikum."


 


Diana yang tidak tahu apa-apa tentang permasalahan kakaknya hanya kebingungan saat ditanya oleh Agung. Aisyah tidak menceritakan apa-apa tentang apa yang terjadi dalam rumah tangganya.


 


***


 


Paginya, Agung masih melihat Aisyah murung saat sedang memasak di dapur. Bahkan, hampir saja Aisyah membakar seisi rumah karena kompor didepannya tidak dimatikan setelah menggoreng.


 


Agung pun banyak-banyak mengucapkan istighfar saat melihat tingkah Aisyah.


 


Hingga Agung berada di titik di mana ia sangat khawatir dengan Aisyah, ia akhirnya memutuskan untuk menanyakan langsung. Cukup sudah kemarin ia hanya berdiam diri melihat Aisyah murung.


 


"Aish, sini, Nak!" pinta Agung saat Aisyah selesai menidurkan Zahra.


 


Dipanggilnya putrinya untuk duduk di sampingnya di ruang tamu. "Kamu kenapa, Nak? Bapak lihat, akhir-akhur ini kamu sering banget melamun. Apa benar dugaan bapak jika kamu ada masalah dengan suamimu?"


 


Diam. Itu yang bisa Aisyah lakukan saat ini. Niat ingin membuat Agung tidak kepikiran, justru semakin menbuatnya cemas. "Enggak, Pak," jawab Aisyah.


 


"Bapak tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Yang namanya rumah tangga pasti akan ada badai yang menerjang. Namun, kembali lagi pada diri sendiri, bagaimana cara melewati badai tersebut," tutur Agung lembut.


 


Namun, ternyata benar dugaan Agung. Putrinya sedang tidak baik-baik saja. Ia membiarkan Aisyah menceritakan semuanya.


 


Dalam sekejap, air mata Aisyah pun tumpah tampa bisa dicegah. Ia menceritakan semua yang ia alamai kepada Agung, bapaknya. Tentang sikap Bayu yang kini mulai berubah dan tidak lagi peduli terhadapnya. Tentang hinaan yang ia terima dari keluarga Bayu, dan yang terakhir tentang kedekatan Bayu dengan sahabatnya, Indar. Kedekatan yang jika dilihat lebih dekat adalah kedekatan yang tidak wajar.


 


Agung hanya bisa memeluk putrinya, memberikan ketenangan. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tahu, Aisyah sudah dewasa, pasti tau apa yang terbaik untuknya dan keluarganya. Ia hanya mendukung apa pun jalan yang Aisyah pilih selama itu masih dalam tahap yang wajar dan tidak menyimpang.


 


Ia pun tidak bisa langsung menyalahkan Bayu, karena ia hanya mendengar dari sisi Aisyah, belum dari sisi Bayu. Tentu Bayu memiliki alasan tertentu mengapa ia sampai melakukan hal tersebut hingga menyakiti istri dan anaknya.


...*************...

__ADS_1


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan, gift ya 🙏


__ADS_2