
Ambar yang melihat sikap suaminya, hanya bisa menggelengkan kepala. Suaminya itu benar-benar keras kepala, bahkan saat sudah mempunyai cucu-pun masih saja tidak berubah sikapnya.
"Nggak apa, Dek, jangan dipikirkan. Bapak memang begitu orangnya. Nanti juga luluh sendiri." Bayu yang melihat Aisyah hanya diam menunduk, mencoba menenangkan. Ia tahu, Aisyah pasti merasa tidak enak dengan ucapan Herman tadi.
"Iya Aish, Bayu benar." Ambar turut bicara. "Sudah, sini biar Zahra sama Ibu dulu. Katanya tadi mau bantu suamimu membuat surat lamaran, kan? Mumpung masih jam segini, biar nanti kalian bisa cepat istirahat." Ambar menghampiri Aisyah, lalu mengambil dan menggendong Zahra yang sedang tertidur di pangkuan Aisyah.
"Makasih, Bu. Aish bantuin Mas Bayu dulu kalau gitu," ucap Aisyah.
"Iya, Nak," jawab Ambar disertai anggukan dan senyuman. Ambar sangat bersyukur memiliki menantu seperti Aisyah. Selain cantik, sederhana, Aisyah juga sangat sabar dan penyayang.
Beberapa saat setelah Bayu dan Aisyah beranjak, terdengar suara motor berhenti di teras rumah. Tak lama kemudian Erina pun masuk, dengan wajah yang terlihat kesal.
"Loh, kenapa Ibu yang gendong Zahra? Mbak Aish kemana? Gimana, sih, udah numpang malah malas-malasan. Nggak sopan banget, mertuanya dijadikan babysitter terus. Ibu seharusnya jangan manjain Mbak Aish, terus. Jadi makin malas, tuh, Mbak Aish-nya!" Erina yang baru datang terus saja mengomel dengan mimik wajah yang terlihat semakin kesal.
Entah terbuat dari apa hati Erina, sejak Zahra lahir, sedikit pun ia tidak tertarik untuk mendekat apalagi menggendong Zahra. Padahal keponakannya itu sangat cantik dan menggemaskan. Erina sibuk dengan urusannya sendiri.
"Erina! Kebiasaan, deh, masuk rumah bukannya salam malah ngomel-ngomel enggak jelas. Sudah berapa kali ibu bilang, harusnya kamu itu belajar dari mbakmu. Biar nanti kalau sudah menikah bisa menjaga tata krama, nggak seenaknya aja kayak gitu. Malu ibu, Rin, kalau sampai kamu menikah nanti masih bersikap kekanak-kanakan begini," ucap Ambar sambil memelototi Erina.
"Terus aja belain menantunya. Heran, deh, sama Ibu. Sejak ada Mbak Aish, Erin udah seperti anak tiri. Mbak Aish terus yang diurusin," sahut Erina yang langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya. Ia sudah malas berdebat dengan ibunya, nanti pasti ujung-ujungnya tetap dia yang disalahkan.
Erina begitu kesal, rencananya menginap di rumah salah satu teman gengnya gagal karena tiba-tiba papa dari temannya sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Akhirnya, dengan terpaksa ia dan beberapa teman gengnya pun pulang.
Sesampainya di rumah, Erina malah mendapat omelan dari ibunya. Tak hanya itu, yang membuat Erina semakin marah karena ibunya yang membandingkan dia dengan kakak iparnya. Sungguh membuat mood Erina semakin kacau saja.
__ADS_1
...*************...
Dua hari setelah Bayu menyerahkan surat lamarannya, ia pun mendapat panggilan interview dari pabrik sparepart tersebut. Setelah melewati beberapa tes dan serangkaian prosedur, Bayu akhirnya di terima bekerja di sana. Besok Bayu sudah bisa mulai masuk di tempat kerjanya yang baru.
Begitu senang perasaan Bayu saat ini, ia pun segera pulang dan mengabarkan berita bahagia itu kepada Aisyah.
"Alhamdulillah, selamat ya, Mas. Semoga betah nanti di tempat kerja yang baru," ucap Aisyah saat Bayu menyampaikan berita bahagia itu di ruang tamu bersama dengan keluarganya. Binar kebahagiaan begitu terpancar dari wajah cantik Aisyah.
"Selamat, ya, Yu. Semoga nanti rezeki kamu semakin berkah di sana. Biar bisa mencukupi kebutuhan istri dan anakmu," ucap Ambar.
"Wah ... asyik! Mas Bayu pindah kerja, ya? Pasti nanti gajinya gede, kan? Jangan lupa Erin masih tanggung jawab kamu, loh, Mas. Bukan cuman Mbak Aish sama Zahra aja," seru Erina, sambil melirik sinis Aisyah.
Aisyah terpaku mendengar ucapan Erina. Begitu perih hatinya, karena ternyata selama ini Erina masih tidak menghargai perjuangannya. Bukan Aisyah tidak ikhlas telah membantu Bayu, hanya saja ia kecewa dengan sikap adik iparnya itu. Erina seolah menganggap Aisyah hanya benalu untuk Bayu.
"Rin, sudah! Jangan selalu bergantung sama Masmu. Mas Bayu itu sekarang sudah punya keluarga baru. Dia punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dan membahagiakan istri, juga anaknya. Kasian Masmu kalau kamu masih saja manja seperti itu," hardik Ambar, entah harus dengan apa ia memberi pengertian pada Erina. Nyatanya sepertinya semua yang ia katakan pada putrinya itu selalu diabaikan.
"Mas Bayu, kan, anak pertama, Bu. Sudah kewajiban Mas Bayu buat bahagiakan adiknya. Ibu gimana, sih?" Erina masih saja membela diri.
"Sebenarnya bapak nggak setuju kamu kerja di pabrik. Tapi mau gimana lagi, itu pilihan kamu. Semoga saja kamu nggak menyesal dengan keputusanmu, Yu." Bapak ikut bicara.
"Doakan saja, Pak. Semoga Bayu nggak salah mengambil keputusan ini. Bayu ingin yang terbaik buat Aish dan Zahra, Pak," jawab Bayu.
...************...
__ADS_1
Pagi ini Aisyah begitu semangat, sekitar pukul 05.30 WIB ia sudah selesai membuat sarapan. Bekal makan siang untuk Bayu juga sudah siap. Zahra diasuh oleh Ibu, selama Aisyah memasak dan menyiapkan kebutuhan Bayu.
"Hati-hati, ya, Mas. Semoga lancar nanti kerjanya. Jangan lupa nanti siang bekalnya dimakan, ya!" pesan Aisyah setelah mencium punggung tangan Bayu.
"Iya, Dek. Mas berangkat dulu, ya!" jawab Bayu, lalu mengecup kening Aisyah.
"Terimakasih, Ya Allah, semoga Mas Bayu betah dan bisa secepatnya beradaptasi di tempat kerjanya yang baru," lirih Aisyah.
Aisyah kembali masuk ke dalam rumah setelah melihat motor Bayu semakin menjauh dan tak terlihat dari pandanganya.
...**************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1