
...Selamat membaca...
...**************...
Aisyah merasa suaminya sangat cuek menanggapi ceritanya tadi. Ia sengaja bercerita kepada Bayu guna meminta pendapatnya, tetapi malah laki-laki di depannya itu sangat terlihat santai mengunyah potongan martabak ke lima yang masuk ke dalam mulutnya dan hanya sekedar berkata ‘oh’ saja tanpa rasa curiga, cemburu ataupun marah sama sekali terhadap rekan Aisyah yang baru saja ia utarakan tadi.
Merasa kesal karena suaminya tidak peka Aisyah beranjak keluar dari kamar meninggalkan suaminya yang masih asyik menghabiskan martabak yang ia taruh di atas meja rias.
“Mas, kamu dengar nggak, sih, semua omongan aku tadi?” tanya Aisyah yang saat ini sudah berbaring di atas tempat tidur bersama suami dan anaknya. sejak tadi Zahra sudah terlelap duluan usai diberi ASI. Untung saja gadis kecilnya itu tidak rewel usai menjalani imunisasi kemarin.
Sementara Bayu yang ditanya itu tengah asyik bermain game di ponselnya lagi-lagi tidak merespons ucapan istrinya. Melihat sikap suaminya yang sangat cuek, Aisyah kembali berkata, “Apa Mas tidak curiga dengan sikap dan perhatian pak Tian kepada aku, Mas?”
“Ck! Berisik! Kamu mengganggu konsentrasiku tahu. Bisa nggak sih, kamu nggak usah cerewet. Sebaiknya tidur saja. Bukannya besok kamu bekerja kembali. jangan sampai kamu telat bangun dan terlambat!” seru Bayu menaruh secara asal ponselnya ke atas nakas dekat tempat tidurnya. Kesal karena tadi ia konsen dengan game di ponselnya yang sudah hampir sampai garis finish, tetapi tiba-tiba mendadak kalah saat Aisyah bercerita kembali. Hal itulah yang membuat Bayu kesal dengan istrinya bahkan ia pun sengaja tidur membelakangi Aisyah.
Melihat sikap suaminya seperti itu, hati Aisyah merasa dongkol. Lagi dan lagi ia pun kecewa dengan Bayu. Ia pun memilih merebahkan badan menghadap Zahra sembari memeluk putri kecilnya.
...***************...
Pagi ini Aisyah sengaja berangkat kerja lebih awal. Ia sengaja datang lebih pagi dari biasanya karena ia ingin memastikan di atas meja kerjanya sudah tidak ada bekal ataupun bingkisan untuknya. Mulai hari ini ia ingin memasang dinding untuk seseorang yang berusaha merusak keharomonisan rumah tangganya. Ia tidak ingin dicap sebagai pelakor seperti yang marak terjadi pada artis-artis tanah air. Walaupun sikap Bayu masih terkesan cuek dan membuat hati Aisyah serasa mendidih setiap kali mengeluh, sebagai istri ia tidak ingin memanfaatkan kebaikan orang lain. Maka dari itu, ia harus membentengi dirinya agar tidak tergoda dengan segala perhatian dan kenyamanan yang diberikan Septian kepadanya.
“Aku tidak ingin merusak rumah tanggaku.” Gumam Aisyah berdiri di depan kantornya memandangi gedung tempat ia mencari nafkah. Melangkahkan kedua tumitnya secara bergantian, Aisyah berjalan masuk ke dalam. Namun, di tengah langkahnya yang hampir sampai pada pintu ruangan, Aisyah menghentikan langkah kakinya karena seseorang memanggilnya dari belakang. Kedua tumitnya pun berputar seraya melihat siapa yang memanggil namanya.
“Pak Tian,” sapa Ais dengan datar. Jujur ia terkejut saat mengetahui laki-laki berkemeja abu-abu dengan celana chinos krem juga sudah berada di kantor jam segini. Padahal ia berangkat dari rumah lebih awal 30 menit dari berangkat biasanya sehari-hari. Namun, justru yang ada ia mendapati Tian sudah ada di kantor pagi-pagi sekali seraya menenteng dua kresek hitam.
Hati Aisyah pun mendadak gelisah. Sejenak ia menggerakkan lehernya dan menarik nafas agar tidak kelihatan gugup bertemu dengan Tian pagi ini. Mana lagi suasana di kantor masih sepi karena dirinya dan Tian menjadi penghuni awal yang datang pagi ini.
Laki-laki berkemeja abu-abu itu melangkah cepat menghampiri Aisyah. “Tumben cepat datang? Biasanya ‘kan kamu datang sekitar sepuluh menit sebelum waktu ceklok.” Ujar Tian menatap kedua bulu mata lentik wanita yang ia kagumi di depannya.
Aisyah tercekat dengan pernyataan Tian baru saja. "Bahkan Tian hapal jam aku datang ke kantor." Batin Aisyah. Keduanya saat ini tengah berjalan menuju ruangan admin.
“Apa Pak Tian tidak langsung ke lapangan saja? Kenapa singgah ke mari?” tanya Aisyah mengalihkan pertanyaan. Keduanya sudah sampai di meja kubikel Aisyah.
Tian tersenyum. Seperti biasa ia membuka kresek hitam yang sejak tadi menggantung di tangannya dan menaruh di atas meja kerja Aisyah.
“Ini bubur Ayam. Kita sarapan bareng, yah. Jangan tolak. Sayang ‘kan mubazir. Lagian, anak-anak di sini tidak ada yang doyan makan bubur ayam. Hanya kamu saja ‘kan yang menyukai makanan ini. Jadi jangan banyak tanya lagi sebaiknya temani aku sarapan!” paksa Tian seraya membuka dua kotak berwarna putih.
Aroma bubur ayam yang masih mengepul di dalam sterefoam putih itu sungguh sangat menggugah selera. Aisyah yang sarapan beberapa suap nasi goreng harus mengelus dada karena semua nasi goreng sudah dimakan habis oleh Erina tanpa rasa bersalah. Padahal, ia bangun lebih pagi menyiapkan sarapan tadi.
__ADS_1
Aisyah menggeleng. “Terima kasih, Pak Tian. Tapi saya sudah sangat kenyang. pak Tian kalau sarapan silahkan makan saja. Buburnya saya ambil, tapi nggak apa-apa ‘kan kalau saya berikan pada pak Cipto di depan. Anggap aja ini sedekah pagi pak Tian. Aku yakin, pak Cipto juga belum sarapan karena semalam ia jaga malam,” ucap Aisyah menolak halus pemberian Tian. Mulai sekarang ia harus terbiasa menolak pemberian Tian apapun itu.
Sejenak Tian menghentikan suapan yang baru saja mau masuk ke dalam mulut. Ia pun menganggukkan kepala pertanda setuju dengan permintaan Aisyah.
“Ya sudah. Nggak apa-apa.” Lanjut Tian.
Asiyah membawa kotak bubur ayam itu ke depan dan memberikannya kepada pak Cipto selaku satpam yang menjaga kantor ini.
...************...
Siang hari menjelang waktu istirahat, Tian baru saja kembali dari survey lapangan. Kebetulan Aisyah dan Aldi sedang berjalan menuju warung nasi padang di depan kantor. Tian sengaja mengikuti dua orang itu dari belakang. Sampai di warunh makan, Aisyah dan Aldi terkejut melihat Tian ada di sini juga.
“Loh, Pak Tian sejak kapan ada di sini?” tanya Aldi basa-basi. Karena saat ini keduanya sudah duduk di salah satu kursi meja makan. Sedangkan Tian, memilih duduk di kuris depan meja mereka yang hanya berjarak setengah meter.
“Baru saja.” Jawab Tian.
“Berarti kita bersamaan datang dong?” tanya Aldi kembali.
“Iya, Di. By the way boleh nggak saya gabung ke meja kalian?” Tian melihat banyak pengunjung yang datang dan hampir semua meja yang ada di sana sudah terisi penuh. Maklum saja sekarang jam istirahat kantor sehingga hampir semua warung makan yang ada di depan kantor ramai dikunjungi karyawan.
“Iya, silahkan.” Tanpa ragu Tian sengaja duduk di samping Aisyah yang sejak tadi diam fokus pada makanannya saja tanpa menanggapi obrolan Aldi dan Tian.
“Meja nomor tiga Mas.” Kata Tian ke tukang kasir. Lalu menoleh ke Aisyah dan Aldi. “Aku yang traktir,” ucapnya kembali.
Aisyah merasa tidak enak lagi. Ia curiga kalau Tian sengaja datang makan bersama sekaligus mentraktirnya karena tadi pagi ia menolak bubur ayam dan kebetulan ia bersama dengan Aldi jadi ia memanfaatkan waktu ini.
“Terima kasih, Pak Tian sudah mentraktir kami berdua,” ujar Aldi tersenyum. Ia senang karena hari ini tidak mengeluarkan uang makan siang. Uang itu ia gunakan untuk membeli susu anaknya ketika pulang bekerja.
...**************...
Sudah beberapa hari ini Aisyah sengaja menjaga jarak dengan Tian. Hal itu ia lakukan karena tidak ingin mendapatkan gosip di kantor yang akan merusak reputasinya mencari nafkah. Oleh karena itu, ia memilih menghindar dari Tian. Karena sudah ada beberapa karyawan yang curiga dengan Septian yang selalu perhatian kepada Aisyah dibandingkan dengan karyawan lainnya. Maka untuk mencari aman ia pun setiap hari membawa bekal dan beberapa cemilan ke kantor.
Sementara itu, Septian merasa akhir-akhir ini sikap Aisyah berubah dan sedikit menghindar. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada wanita pujaannya sampai beberapa kali ia berusaha mendekati, selalu saja ada halangan. Maka dari itu, sebentar sore nanti saat pulang kerja, ia akan menunggu Aisyah di depan ruangannya.
Jam sudah menujukkan pukul lima sore. Aisyah sudah bersiap-siap pulang dengan merapikan meja kerjanya. Ia pun sudah memesan ojek online terlebih dahulu dan ojek pesanannya itu ternyata sudah ada di depan kantor menunggunya.
“Mbak, aku duluan yah!” pamit Aisyah pada Witri yang sudah datang.
__ADS_1
“Iya, hati-hati, Aish,” sahut Witri yang masih fokus pada layar komputer yang menunjukkan laporan masuk. Ibu dua anak itupun dengan cekatan melakukan pekerjaannya.
Setelah berpamitan, Aisyah pun segera keluar dari ruangannya dan betapa terkejut dirinya saat mendapati Septian berdiri di depan ruangannya. Mau tak mau, ia pun menyapa laki-laki berkemeja mocca itu. Karena sesama karyawan mereka harus bertegur sapa sesuai dengan visi misi kantor ini.
“Pak Tian ngapain di sini?” tanya Aisyah heran.
“Aku sengaja menunggumu Aish dan ingin menanyakan sesuatu,” kata Tian.
“Maaf Pak, sepertinya sekarang ini saya harus pulang karena ojek pesanan saya sudah menunggu. Lagian, saya tidak bisa lama-lama karena anak saya sedang membutuhkan saya sekarang. Maaf saya permisi,” tolak Aisyah. Lalu melanjutkan langkahnya keluar gedung.
Merasa ditinggalkan, Septian kembali mengejar Aisyah yang sudah hampir sampai di ojek pesanannya.
“Apa kamu sengaja menghidariku akhir-akhir ini Aish?” tanya Tian dengan menahan tangan Aisyah untuk berhenti. Sebelumnya Tian sudah memberi tahu ojek pesanan Aisyah untuk menunggu sekitar sepuluh menit dengan memberikan tip uang biru.
Aisyah bergeming menatap Tian. Ia menunggu laki-laki di hadapannya melanjutkan kembali ucapannya.
“Baiklah. Aku jujur kalau sikapku akhir-akhir ini membuatmu tidak nyaman itu karena aku jatuh hati padamu. Kamu tahu, keberadaanmu membuatku selalu semangat berangkat bekerja. Dan itu tidak aku dapatkan pada wanita manapun termasuk istriku. Aku tahu dan sadar ini salah. Namun, perasaan ini tidak bisa dipungkiri kalau aku sudah jatuh cinta padamu,” terang Septian dengan raut wajah kusut.
Ia tidak peduli dengan orang-orang yang lalu lalang di depannya. Bahkan, beberapa dari rekan mereka sengaja berhenti hanya untuk mendengar apa yang akan dilakukan Septian kepada Aisyah. Karena merebaknya isu tentang perhatian Tian kepada Aisyah di kantor membuat mereka mencari tahu kebenarannya.
Penjelasan yang keluar dari mulut Septian membuat Aisyah membeku beberapa saat. Angin menerpa raut wajahnya sore itu membuatnya pikirannya sadar. Tanpa bicara, ia pun meninggalkan laki-laki itu dengan naik ke ojek pesanannya.
...**************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1