
...Selamat membaca...
...*************...
Hargailah wanitamu selama memiliki kesempatan itu. Sebab, akan terasa perih bila ada lelaki lain yang begitu menghargai wanitamu dan kamu hanya melihatnya dari kejauhan.
..._Diana_...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Akhirnya, Aisyah baru mendapatkan kost setelah mengungkapkan niatannya pada Witri.
Dengan dibantu Witri, Aisyah mendapatkan kamar kost yang jaraknya tidak kurang dari dua ratus meter dari pabrik.
Kamar kost berukuran 3 x 3 meter itu sudah difasilitasi kasur busa single dan satu buah lemari susun plastik di sudut kamar. Ada satu jendela di sisi dinding kamar. Bila dibuka, akan langsung berhadapan dengan sawah yang tiap malam selalu akrab dengan bunyi krik-krik.
Kamar mandi ada beberapa. Tentu berada terpisah dari deretan kamar.
"Kapan kamu bawa barang-barang kamu Aish?" tanya Witri setelah memeriksa sudut kamar Aisyah.
Aisyah menghela napas panjang. "Mungkin besok, Mbak. Rasanya aku masih agak berat berpisah dengan Zahra."
Witri tersenyum dan ikut duduk di tepi kasur bersebelahan dengan Aisyah. "Begini saja, kamu pulang ke kost bila shift siang saja. Kalau shift pagi kan, pulang masih sore. Jadi masih ada ojek atau angkot buat pulang ke rumah."
Aisyah mengangguk, mencoba menerima saran dari Witri. Karena sejak awal pun ia sudah berencana demikian. Ia juga sudah membicarakan hal ini dengan Diana beberapa waktu lalu. Beruntung adiknya begitu mengerti keadaannya sekarang.
...*******...
Di kamar kontrakan di gang Melati, laki-laki berwajah tampan itu sedang resah, sebab panggilan telepon sedari tadi hanya berdering saja. Tidak ada tanda-tanda diangkat oleh sang pujaan hati. Ia begitu putus asa.
Pada akhirnya ia pun memberanikan diri untuk menelepon sang bapak mertua. Namun, sama halnya dengan panggilan tadi. Panggilan ini pun tidak diangkat dengan segera. Tidak putus harapan, ia terus saja menghubungi nomor tersebut. Setelah beberapa saat benda pipih itu pun terdengar suaranya dari seberang sana.
"Asalamualaikum, Pak," ucap Bayu dengan semangatnya.
"Waalaikumsalam, Mas Bayu. Ada apa? Aku Diana. Bapak sedang keluar dengan Zahra." Suara Diana terdengar ketus.
__ADS_1
"Eh, Diana. Maaf, ya, mengganggu," jawab Bayu sungkan.
"Iya, memangnya ada apa nelepon Bapak? Ada hal penting atau hanya ingin menanyakan kabar mbakku," sarkas Diana.
"Iya, aku ingin menanyakan kabar Aisyah dan Zahra," jawab Bayu pelan.
"Mereka berdua baik-baik saja. Ada perlu apa kamu menanyakan kabar mereka berdua? Bukannya kamu senang kalau mbakku pergi menjauh darimu." Diana mencecar pertanyaan tanpa basa-basi kepada kakak iparnya tersebut.
"Bukan seperti itu, Di," sangkal Bayu serba salah.
"Lalu apa? Hah!" Diana terus saja memojokan Bayu dengan kata-kata yang sangat ketus.
"Kamu, bapak dan adikmu itu sama saja, tidak pernah memikirkan perasaan mbakku! Menyakitinya tanpa ampun lewat sikap dan perkataan kalian."
Tangan Diana mengepal menahan kesal. "Pernahkah kalian berpikir, salah apa mbakku pada pada kalian!"
"Jawab jangan hanya diam saja, kamu kepala rumah tangga yang seharusnya melindungin istri dan anakmu. Namun, apa hah! Kamu hanya diam saja ketika Mbak Aish disakiti dan kamu tahu akan hal itu!"
"Maafkan aku, Di. Aku memang laki-laki tidak tahu diri. Ya ... " Bayu mengangguk mengakui, meskipun Diana tidak melihatnya.
"A-aku memang membiarkan Bapak dan Erina berbuat dan bicara seenaknya." Bayu sadari dan baru mengakuinya. Pasrah, lemah dan penuh penyesalan.
"Sekarang kamu mau apa lagi, Mas! Mbakku sedang menata hatinya kembali untuk dapat melangkah. Dan yang pasti tanpa bayangan laki-laki pengecut seperti kamu! Biarkanlah Mbak ku bahagia dengan caranya sendiri. Lepaskanlah Mbak ku dengan cara baik-baik, bila sudah tidak ada cinta di sana," ujar Diana melembutkan suaranya.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskan Aisyah, sampai kapan pun!" suara Bayu mulai meninggi.
"Aku kecewa sama kamu, Mas Bayu. Aku berpikir kamu adalah laki-laki tepat yang dipilih mbakku untuk mengarungi samudra rumah tangga yang bahagia. Seperti impiannya selama ini. Namun, kamu hanya dapat memberikan luka yang tidak berdarah dengan sangat dalam. Lalu dengan mudahnya meminta maaf atas semua hal yang telah kamu lakukan dengan sadar! Apakah kamu pantas disebut laki-laki?" Diana terus saja meluapkan rasa kecewanya.
Bayu hanya bergeming saja dengan semua perkataan Diana. Dalam hati, ia membenarkan semua hal itu.
"Aku sangat penyesal, Diana. Aku menyesal telah memperlakukan mbakmu seperti itu. Aku mohon tolong bantu aku untuk bisa berbicara dengan mbakmu " Suara Bayu sudah mulai terdengar serak menahan tangisnya.
__ADS_1
"Maaf, ya, Mas.Kali ini aku nggak bisa bantu. Coba saja berusaha terus untuk meluluhkan hati yang telah menyimpan banyak goresan luka." Diana sudah sangat malas dengan sikap kakak iparnya tersebut.
"Lagi pula, mbakku sudah menemukan kembali bahagianya. Ia telah bekerja kembali dan aku berharap kamu tidak macam-macam terhadap mbakku," ujar Diana dengan nada suara mengancam.
"Aisyah kerja? Dimana, Di?" tanya Bayu terkejut. Beberapa waktu tidak bersama, wanitanya memutuskan untuk bekerja kembali. Sungguh, tiada guna ia sebagai kepala rumah tangga.
"Kamu nggak perlu tahu, mbakku kerja dimana. Kalau itu bisa membuat dia bahagia, lalu kamu mau apa, Mas? Apakah kamu sudah bisa membuat Mbak Aish bahagia?" terus saja Diana berkata ketus dengan Bayu.
"Mbak Aisyah adalah wanita yang tidak pernah menuntut apa pun darimu, Mas. Apa pun, tapi mengapa kamu tega memberikan begitu banyak luka, bukankah kamu pernah bilang kalau kamu begitu mencintainya!" Ucapan Diana pelan penuh penekanan. Ia dapat merasakan sakit yang Aisyah rasakan.
"Mbak Aisyah selalu menahan tangis, agar kita semua tidak tahu apa yang sedang ia rasakan! Menurutmu, berapa lama ia menahan itu semua? Apakah kamu tahu akan hal itu," suara Diana pelan menahan tangis
"Waktu tidak pernah menyembuhkan luka. Namun, ia hanya sedikit lupa akan luka yang tergores kecil tetapi dalam. Dia sedang mencoba terbiasa dengan perihnya luka kecil itu. Jangan mencoba kembali kalau hanya membuat luka kecil itu semakin membesar dan dalam."
Diana sudah terlalu kecewa dengan Bayu, ia pun mengakhiri panggilan telepon tersebut, ia kesal sebab Bayu terus saja bertanya dimana tempat Aisyah bekerja.
"Ada apa, Di? Bapak dengar kamu sedang bicara. Apa ada yang telpon?" tanya Agung begitu ia masuk ke dalam rumah dengan Zahra yang tertidur di dada lelaki paruh baya itu.
Diana mendekati Agung dan meraih Zahra dalam gendongan Agung. "Ada. Mas Bayu tadi, Pak." Diana tidak berniat memberitahukan maksud Bayu menelpon. Ia lebih tertarik untuk membaringkan keponakannya di kamar setelah Zahra beralih ke dalam gendongannya.
"Diana bawa Zahra, Pak," ucapnya sambil berlalu. Sengaja menghindar dari wajah penasaran Agung yang tidak puas dengan jawabannya.
Agung menghela napas panjang. Lalu ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Memeriksa sebentar dan memang tertera sejumlah menit lama panggilan masuk.
Lelaki yang sudah sedikit beruban di beberapa bagian rambutnya itu mengambil duduk. Pikirannya mulai resah menyayangkan pernikahan anaknya yang sedang diterpa masalah.
Bila sedang seperti ini, ia merindukan sosok mendiang sang istri yang sudah lama meninggalkannya. Biasanya, Aisyah akan mudah melunak bila sang istri yang memberikan nasehat. Tapi sekarang?
Dengan mengambil langkah ke samping rumah, Agung mengambil wudhu. Untuk kemudian ia segera menunaikan kewajibannya. Mendoakan kebaikan dan kebahagiaan anak cucunya.
Ya. Garis takdir setiap manusia memang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Tugas kita sebagai manusia hanyalah menjalaninya. Bila dirasa kita sudah di ujung kebingungan, maka jalan satu-satunya adalah dengan bermunajat. Meminta petunjuk agar tidak salah mengambil langkah.
...***************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1