Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
22_Hanya bisa makan buah


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


Setelah puas menangis dan meluapkan kesedihannya seorang diri dibalik selimut, akhirnya  kini Aisyah terlelap dengan sendirinya. Ia sudah tidak memedulikan lagi keberadaan Bayu yang masih asyik bermain game online seorang diri di depan tv.


 


Tanpa terasa hari sudah mulai beranjak sore, dan Bayu baru saja menyelesaikan acara mabar bersama teman-temannya, itu pun karena handphone milik Bayu yang sudah kehabisan baterai. Jika baterai handphone Bayu masih terisi full, mungkin ia tidak akan beranjak dari posisinya yang tengah asyik menghadap pada layar.


 


Setelah selesai mencharge handphone-nya, Bayu segera memasuki kamar untuk mengambil handuk yang tergantung di belakang dinding pintu. Saat itu Bayu mulai memperhatikan Aisyah yang tengah tertidur lelap dengan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Bayu yang khawatir melihat cara tidur Aisyah yang seperti itu mulai di landa panik. Ia pun segera membuka selimut itu dengan perlahan, dan melihat betapa menyedihkannya istrinya saat itu. Tidur meringkuk dengan sisa airmata yg mengering di pipinya.


 


“Apa benar anakku yang menginginkan makan buah pir itu, atau sebenarnya Aisyah hanya mengada-ngada,” gumam Bayu.


 


“Tapi melihat Aisyah yang selalu saja memuntahkan makanannya, mungkin saja apa yang dikatakannya benar, kalau calon bayi kami yang menginginkanya,” lanjut Bayu lagi, kemudian berlalu meninggalkan Asiyah seorang diri di dalam kamar menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya.


 


Setelah menyelesaikan acara mandinya, Bayu kembali memasuki kamar, namun Bayu masih melihat Aisyah tertidur dengan posisinya sebelum ia tinggal mandi. Bayu yang merasa kasihan kepada istrinya akhirnya gegas mengambil baju di lemari kemudian mengambil kunci motor lalu pergi ke toko buah dan membelikan Aisyah buah pir yang sedari siang di idam-idamkan oleh istrinya.


 


Menjelang waktu Magrib, akhirnya Aisyah terbangun, Aisyah merasa sedikit lemas karena ia memang belum makan sesuatu sedari siang, karena apa yang ia makan selalu ia muntahkan. Saat Aisyah ingin bangun, ia mulai mendengar suara motor berhenti dan sesaat ada suara pintu di buka dari luar.


 


“Apakah selama aku tidur Mas Bayu pergi meninggalkanku, tapi ke mana?” tanya Aisyah dalam hati.


 


Saat Aisyah masih berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Bayu muncul dari balik pintu yang tertutup, dan bertanya, “Dek, kamu sudah bangun.”


 


“Ini mas belikan buah pir buat kamu. Sekarang ayo bangun, nanti biar mas kupaskan buahnya,” Lanjut Bayu lagi.


 


“Iya Mas, Ais baru saja bangun. Sepertinya tadi Aish terlalu lama dan terlalu pulas, ya, tidurnya? Sampai Aish gak tahu kalau Mas Bayu pergi keluar,” jawab Aisyah, kemudian membangunkan dirinya dan bersandar pada sandaran tempat tidur.


 


Bayu yang melihat istrinya sedikit lemas pun mulai bergegas pergi ke dapur mencuci, mengupas dan memotong buah pir yang tadi ia belikan untuk Aisyah. Setelah selesai melakukan itu semua Bayu pun mulai kembali ke kamar dan memberikan kepada Aisyah potongan buah pir tersebut. Mata Aisyah langsung berbinar saat melihat buah yang ia idam-idamkan sedari siang sudah berada di hadapannya.


 


“Ini, Dek, buah pir yang tadi kamu mau. Mas sudah jauh-jauh membelikannya, mana harganya mahal lagi. Jadi jangan sampai tidak dihabiskan, apa lagi dimuntahkan,” ucap Bayu yang seketika membuat perasaan Aisyah menjadi sedih.


 


“Iya mas, terima kasih. Nanti pasti Aish habiskan, dan semoga apa yang Aish makan kali ini tidak akan Aish muntahkan lagi,” jawab Aish dengan senyum yang mengembang.


 


 


...****************...


 


Dua minggu telah berlalu, akhirnya kehamilan Aisyah menginjak usia delapan minggu, tidak banyak perubahan pada berat badan Aisyah. Aisyah malah semakin kurus. Mungkin karena Aisyah selalu memuntahkan apa yang ia makan, terkecuali buah. Setiap memakan buah apa saja Aisyah selalu bersemangat dan lahap, padahal Aisyah sendiri tahu kalau terus-terusan membeli buah uang belanja yang di berikan Bayu padanya serta gaji yang ia miliki pun tidak akan cukup untuk satu bulan. Namun, Aisyah berusaha menekan itu semua demi janin di dalam perutnya. Melihat Aisyah yang setiap hari hanya memakan buah membuat Bayu akhirnya berbicara.


 


“Dek, kenapa kamu beli buah terus, sih? Kemarin pir dan apel, hari ini jambu kristal dan mangga, terus besok apalagi, Dek? Memangnya uang kita banyak? Kan, kamu sendiri yang bilang kalau uang kita pas-pasan.” Bayu mulai kesal karena semenjak tahu jika sedang hamil, Aisyah selalu membeli buah-buahan, yang harga per kilonya setara dengan uang harian yang selalu ia berikan.


 


Mendengar gerutuan dari suaminya, membuat Aisyah yang semula tengah asik mengunyah jambu kristalnya balas berucap.

__ADS_1


 


“Maaf Mas, hanya buah-buahan saja makanan yang bisa Aish makan dan tidak Aish muntahkan. Kalau makan-makanan yang lain perut Ais selalu mual dan selalu Ais muntahkan.” Aisyah mencoba memberikan alasan yang masuk akal.


 


“Halah, itu pasti cuman alasan kamu saja, Dek. Coba sini kamu makan makanan yang sudah kamu masak sendiri, itu ada terong balado, telur dadar dan kerupuk. Jangan coba-coba mencari alasan karena kehamilanmu itu ya, Dek.” Setelah mengucapkan hal itu Bayu mulai membawa Aisyah yang semula duduk di depan tv menuju ke ruang makan untuk makan malam.


 


“Tapi Mas, Aish ....” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Bayu sudah mengambilkan nasi beserta lauk pauknya dan disimpan di hadapan Aisyah.


 


“Sekarang kamu makan, Dek. Mas gak mau mendengar alasan kamu lagi.” Mendengar ucapan Bayu barusan membuat Aisyah terdiam dan mulai menyantap makanan yang berada di hadapannya. Namun, baru satu suapan Aisyah sudah merasa mual. Aisyah pun segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh makanan yang ia makan, hal itu membuat Bayu segera mengikuti Aisyah yang kebetulan saat itu pintu kamar mandinya tidak dikunci oleh Aisyah.


 


“Dek, kamu gak papa?” tanya Bayu yang mulai dilanda kepanikan.


 


“Aish masih lemes, Mas,” jawab Aisyah lirih.


 


“Ayo, dek, kita ke Bidan Siti. Mas takut terjadi apa-apa denganmu. Aisyah yang merasa kondisi tubuhnya sangat lemah hanya bisa mengangguk lemah.


 


Setelah mengganti bajunya, Bayu dan Aisyah pun segera bergegas menuju ke tempat praktik Bidan Siti. Saat ini tempat praktik bidan Siti cukup ramai dikunjungi oleh para ibu hamil, dan ibu-ibu yang ingin melakukan kontrasepsi mencegah kehamilan dengan cara KB. Setelah mengantre sekitar lima orang, akhirnya nama Aisyah pun dipanggil.


 


“Ibu Aisyah Khumaira, ”panggil asisten bidan yang baru saja keluar dari ruang praktik.


 


Bayu yang mendengar nama istrinya di panggil pun berdiri dan menjawab panggilan tersebut.


 


 


“Silahkan masuk Pak, Bu.” Asisten bidan tersebut mempersilahkan Bayu dan Aisyah masuk.


 


“Terima kasih, Bu,” jawab Bayu kemudian mengikuti asisten bidan tersebut.


 


Setelah masuk ke ruang bidan, dan menemui Bidan Siti, Aisyah pun mulai melakukan serangkaikan pemeriksaan seperti, memeriksa tekanan darah, dan berat badan.


 


Tanpa basa basi bidan Siti pun mulai bertanya pada Aisyah dan Bayu.


 


“Wah, Ibu Aisyah dan Pak Bayu datang lagi. Padahal belum satu bulan dari tanggal pemeriksaan. Apakah ada keluhan atau ada yang sakit, Bu, Pak?” tanya bidan Siti dengan ramah.


 


Melihat kondisi Aisyah yang lemah akhirnya Bayu-lah yang menjawab pertanyaan bidan Siti.


 


“Begini Bu, istri saya selama hamil ini selalu muntah terus. Setiap memakan sesuatu selalu saja dimuntahkan,” jawab Bayu.


 


Setelah mendapat jawaban dari Bayu bidan Siti pun mengajak Aisyah untuk menimbang berat badannya.


 

__ADS_1


“Ibu Aisyah, mari kita timbang dulu berat badannya, setelah itu baru kita periksa tekanan darahnya, ya.” Setelah itu bidan Siti mulai mengarahkan Aisyah menuju timbangan. Setelah mengetahui hasil timbangan Aisyah bidan Siti sedikit terkejut.


 


“Hmm ... baru dua Minggu yang lalu tapi berat badan Bu Aisyah turunnya lumayan banyak, ya. Padahal di catatan terakhir berat badan Bu Aisyah 50kg, tapi sekarang jadi 47kg. Berarti berat badan Bu Aisyah turun sebanyak 3kg. Sekarang coba  kita cek dulu tekanan darahnya, ya, Bu Aisyah.” Setelah mengatakan itu Bidan Siti mengajak Aisyah untuk duduk di kursi dan mulai memeriksa tekanan darah Aisyah.


 


“90/80, tekanan darahnya cukup rendah, ya. Apa terasa pusing, Bu Aisyah?” tanya Bidan Siti lagi.


 


 Aisyah pun mengangguk dan menjawab, “Kepala saya sedikit terasa pusing, Bu.”


 


  “Apa vitamin yang saya berikan diminum terus?” tanya bidan Siti lagi.


 


“Saya minum terus, Bu, vitamin yang ibu berikan, tapi saya tetap merasa mual dan muntah,” jawab Aisyah dengan lemah.


 


“Apakah ada makanan yang jika ibu Aisyah konsumsi tidak menyebabkan mual dan muntah?” tanya Bidan Siti.


 


“Ada ibu. Saya tidak muntah jika saya memakan buah-buahan saja,” jawab Aisyah lagi, dan memang benar hanya buahlah makanan yang tidak membuat Aisyah mual dan muntah. Mendengar jawaban dari Aisyah itu membuat Bayu mengernyitkan kening. Pasalnya harga buah lebih mahal dari pada uang belanja yang sering Bayu berikan pada Aisyah.


 


“Baiklah, Bu Aisyah, saya akan menjelaskan sesuatu. Karena berat badan ibu Aisyah yang tidak mengalami peningkatan, dan malah justru turun, saya menyarankan agar ibu makan-makanan yang bergizi, tidak papa kalau ibu tidak bisa makan nasi karena rasa mual, tapi saya sarankan ibu Aisyah untuk makan buah dan sayur. Pilih sayur dan buah yang tidak membuat ibu merasa ingin mual dan muntah. Serta jangan lupa selalu mengonsumsi susu khusus ibu hamil seperti frenagen Emeses khusus mual dan muntah. Minum susu hamil dua kali sehari dapat membantu dan memberikan nutrisi pada janin dalam kandungan ibu.” Terang bidan Siti pada Aisyah dan Bayu.


 


Aisyah yang diberikan penjelasan dari Bidan Siti mengangguk paham, tetapi berbeda dengan Bayu yang justru tertegun mendengar penjelasan dari bidan tersebut. Pasalnya, ia berpikir jika apa yang di sarankan Bidan Siti tidak sesuai dengan pendapatannya yang bekerja sebagai karyawan di bengkel kecil.


 


Berbeda dengan Bayu, Aisyah justru lebih bersemangat.


 


“Terima kasih, Bu, atas penjelasannya. Saya akan melakukan semua saran yang ibu berikan,” ucap Aisyah disertai elusan di perutnya yang belum membuncit sama sekali.


 


“Semangat, ya, sayang. Ibu akan memberikan nutrisi yang baik untukmu. Maka dari itu, bekerja samalah dengan ibu, agar ibu tidak terus-terusan muntah,” batin Aisyah. 


...***************...


...to be continued...


jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


   


__ADS_2