
...****************...
"Dek, hari Sabtu kamu libur, kan?" Bayu bertanya ketika dirinya baru selesai mandi. Sedangkan Aisyah tengah duduk bersandar di kepala ranjang. Perempuan itu tengah menunggu suaminya untuk diajak makan.
"Libur, Mas. Memangnya kenapa?" tanya Aisyah, mendongakkan pandangannya pada sang suami.
"Ibu menyuruh kita berkunjung ke rumahnya, katanya dia pengen ketemu. Hari Sabtu kita ke sana, ya. Mas juga udah lama nggak ke sana." Bayu berbicara sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
"Boleh," sahut Aisyah, lalu menurunkan kakinya dari atas ranjang, "Mas, udah selesai? Kita makan, yuk!" ajaknya kemudian.
"Ayo!" Setelah menggantungkan handuk bekas mandinya di tempat semula, Bayu melangkah menuju keluar kamar. Aisyah pun mengekor dari belakang.
...******...
Akhir pekan pun tiba. Aisyah sudah berdandan cantik untuk pergi ke rumah mertuanya. Dengan senang hati Aisyah juga memakai tas baru pemberian teman-temannya sebagai kado pernikahan.
"Aisyah, buruan, dong! Lama banget, sih, dandannya? Kayak mau ke kondangan aja!" Dari arah luar, Bayu berteriak kencang.
"Iya, sebentar," sahut Aisyah sambil berlari keluar, lalu mengunci pintu kontrakan. Terlihat Bayu sudah nangkring di atas kuda besinya. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarganya.
"Lama banget!" Bayu mengomel lagi saat Aisyah sudah berdiri di dekatnya mengambil helm.
"Sabar, dong, Mas. Ini masih pagi. Kita cuma mau ke rumah kamu, bukan mau kerja," seloroh Aisyah.
"Cepet naik, ah. Kalau kamu ngomong terus malah tambah lama."
Aisyah menghela napasnya. Ia merasa serba salah. Bukannya dari tadi Bayu yang banyak bicara? Setelah memasang helm di kepalanya dengan benar, ia pun naik ke atas motor membonceng di belakang suaminya. Tanpa basa-basi lagi, Bayu segera melajukan motornya melesat di jalan raya.
...*****...
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, Bayu dan Aisyah sampai di pekarangan rumah yang berwarna cat hijau tua. Di depan teras, terlihat Ambarwati dan Herman Abdullah—kedua orang tua Bayu sedang duduk dengan santai.
Herman dan Ambar tengah menikmati secangkir teh hangat di pagi hari sembari menunggu anak mereka datang.
__ADS_1
"Nah, itu mereka udah datang." Ambar langsung beranjak berdiri ketika melihat motor anaknya terparkir di halaman.
Herman masih bergeming di tempatnya. Ia hanya menatap kedatangan anak dan menantunya sambil menyesap air teh dari cangkirnya.
"Assalamu'alaikum." Aisyah dan Bayu mengucapkan salam hampir bersamaan.
"Waalaikumusalam," jawab Ambar dan disusul oleh Herman setelah menyimpan cangkir tehnya di atas meja. Bayu dan Aisyah meraih tangan kedua orang tuanya, lalu mencium punggung tangannya bergantian.
"Ayo, masuk, Nak. Kita ngobrol di dalam!" ajak Ambar yang langsung memboyong menantunya. Ambar memang mertua yang ramah dan penyayang. Berbeda dengan Herman yang sedikit keras hati dan agak kritis mengenai kehidupan anak-anaknya.
"Mas Bayu." Seorang perempuan muda berusia dua puluh tahun langsung memeluk Bayu ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah. Dia adalah Erina—adik kandung Bayu yang bungsu, "lama banget nggak ke sini, Mas? Aku, kan, kangen. Udah lama juga nggak ngajakin jalan-jalan sama ditraktir makan sama Mas Bayu," tambahnya dengan manja.
Aisyah hanya berdiam menatap kelakuan Erina. Semenjak menikah dengan Bayu, Erina sepertinya tidak pernah mau berusaha akrab dengan Aisyah. Walaupun Aisyah sudah berusaha mengakrabkan diri dengan adik iparnya tersebut.
"Iya, nanti. Kalau Mas gajian, kita jalan-jalan," tutur Bayu. Erina pun bersorak senang.
...******...
Sinar mentari kian terik dan merangkak naik. Setelah berbincang cukup lama, Aisyah mengajak Bayu untuk pulang, tetapi Bayu tidak mau. Sebenarnya, Aisyah merasa tidak betah karena risih dengan sikap Erina. Sedari tadi Aisyah perhatikan, adik iparnya itu selalu melirik tas yang Aisyah pakai. Bahkan perempuan itu berusaha menyindir Aisyah kalau dia menyukai tas milik Aisyah tersebut. Meski paham maksud Erina, Aisyah berusaha tidak menanggapi.
"Mas Bayu, sekarang pasti gajinya besar, ya?" Erina mulai merajuk pada kakaknya. Mereka tengah menonton acara televisi di ruang tengah rumah mereka.
"Mas cuma kerja di bengkel, gajinya masih pas-pasan. Memangnya kenapa?" tanya Bayu penasaran.
"Tapi, kok, bisa beliin tas mahal buat Mbak Aisyah?"
Aisyah merotasikan kedua matanya, malas, mendengar perkataan Erina yang mulai memancing kepekaan kakaknya. Ia tidak mau berkomentar dulu, menunggu apa yang akan dikatakan Bayu.
"Tas?" Pandangan Bayu langsung beralih pada tas yang sedang dipangku Aisyah, "oh, yang itu. Tas itu pemberian teman kerjanya Aisyah, bukan Mas yang beliin," sanggah Bayu selanjutnya.
"Oh, teman-temannya Mbak Aisyah baik, ya. Aku juga mau dikasih tas kayak gitu."
Aisyah tersenyum pelik mendapatkan kode dari adik iparnya tersebut.
__ADS_1
"Kamu mau tas kayak gitu?"
"Mau." Erina langsung menyahut dengan semangat ketika Bayu bertanya kepadanya.
"Nanti kalau kamu nikah juga dikasih sama teman kamu. Tunggu aja!" kelakar Bayu, lalu tertawa kecil. Aisyah pun ikut tertawa mendengarnya.
"Hish, masa harus nunggu aku nikah dulu. Itu juga kalau ada yang ngasih. Kalau nggak, gimana?" Wajah Erina memberenggut kesal. Ia lipat kedua tangannya di depan dada.
"Bay, Aish, kalian nginep di sini saja malam ini! Udah lama, kan, kalian nggak nginep?" Obrolan mereka terganggu dengan kedatangan Ambar. Aisyah merasa sedikit tenang. Setidaknya Erina tidak terus-menerus merengek kepada kakaknya perihal tas yang dia inginkan.
"Gimana, Dek? Kamu mau nginep di sini?" Bayu bertanya kepada Aisyah.
Aisyah sejenak berpikir, jika mereka menginap malam ini, tentu saja Erina mempunyai kesempatan untuk merengek kepada kakaknya lagi. Jika begitu, mungkin saja Bayu akan terpengaruh dengan bujukan adik iparnya itu. Namun, jika Aisyah menolak, dia merasa tidak enak.
"Udah, Aish. Nginep aja, ya! Besok hari Minggu. Kalian kerjanya masih libur, kan?" bujuk Ambar lagi.
"Sebenarnya aku nggak libur, Bu. Tapi aku bisa izin nggak masuk dulu." Bayu yang menanggapi perkataan ibunya. Kerja di bengkel memang tidak terlalu ketat peraturannya.
"Asyik ... Mas Bayu mau nginep di sini." Erina bersorak kegirangan, walaupun Aisyah belum memberikan persetujuan.
"Nah, tuh. Gimana, Aish? Kamu mau, kan?"
"Udah, lah, Bu. Nggak usah nanya dia lagi. Malam ini kami bakal nginep di sini. Aisyah istri aku, dia harus ikut apa kata aku." Bayu menukas dengan penuh penekanan dan tidak mau dibantah.
"Kalau memang kayak gitu, kenapa tadi kamu minta persetujuan aku, Mas?" Tentu saja kalimat itu hanya bisa terlontar dalam hati Aisyah saja. Kedua matanya menatap Bayu dengan tatapan tidak suka. Apalagi ketika melihat senyuman penuh makna yang terukir di bibir adik iparnya. Aisyah yakin, Erina pasti sudah punya rencana.
"Aish ikut kata Mas Bayu aja, Bu."
"Gitu, dong. Kamu memang istri yang penurut, Aish. Beruntung sekali Bayu dapatin kamu. Ibu senang kalian bisa menginap di sini. Rumah ini jadi ramai lagi," tutur Ambar sambil tersenyum senang.
Aisyah pun berusaha tersenyum, walau sedikit dipaksakan. Dalam hatinya dia berkata, "Seorang istri memang harus menurut pada suami, tetapi seorang suami juga harus peka terhadap keinginan sang istri."
...****************...
__ADS_1
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏