Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
84_Kembali Bersama


__ADS_3

...Selamat membaca...


...***********...


Di sebuah ruang tunggu khusus untuk keluarga pasien ICU, Ambar dan Herman duduk beralas karpet plastik. Mereka bersandar pada tembok yang dingin.


"Pak, kenapa selama ini Bapak tidak menyukai menantu kita?" tanya Ambar perlahan.


Herman menoleh, ia menatap wajah istrinya yang terlihat begitu lelah. Ia tidak menjawab pertanyaan Ambar.


"Sekarang ibu tanya. Seandainya Bapak berada di posisi Bayu, bagaimana perasaan Bapak jika ibu dibenci oleh orang tua bapak sendiri?" Ambar menjeda kalimatnya beberapa saat. Ia melihat suaminya melengos dan mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan itu.


 "Terus apa yang akan Bapak lakukan jika Ibu memilih meninggalkan Bapak? Apa Bapak siap untuk kehilangan ibu dan putra Bapak?" lanjut Ambar.


"Ngawur kamu kalau ngomong, Bu. Memang siapa yang mau ninggalin Bapak?" seru Herman sambil menatap mata tajam istrinya.


"Semua orang mempunyai batas kesabaran, Pak. Begitu juga dengan Ibu, Bayu, dan Aisyah. Kalau Bapak tetap egois membenci Aisyah tanpa sebab yang jelas, bisa jadi suatu saat kami akan meninggalkan Bapak," terang Ambar penuh penekanan.


Herman terdiam, pikirannya kembali menerawang jauh pada kejadian-kejadian yang sudah terlewati. Ia menyadari jika sikapnya selama ini sudah kelewatan kepada Aisyah dan Bayu. Bahkan ia juga yang menyuruh mereka bercerai meskipun Bayu dengan tegas menolaknya. Saat ini Herman dilanda rasa bersalah.


"Seandainya Bapak tidak bersikap seperti itu, mungkin kalian akan hidup bersama dan kecelakaan itu tidak pernah terjadi," lirih Herman dalam hati.


"Bapak tidak mau Ibu dan Bayu ninggalin Bapak. Bapak harus bagaimana sekarang?" ucapnya di samping Ambar.


Ambar tersenyum, ia merasa bersyukur doanya telah dikabulkan oleh Allah.


"Minta maaflah kepada Aisyah," ucap Ambar mantap.


"Minta maaf? Nggak mungkin, Bu. Bapak malu!" sungut Herman seperti anak kecil.


"Bapak memilih menahan malu atau menyesal jika terjadi sesuatu yang tidak Bapak inginkan?" tanya Ambar.


Mereka terdiam. Herman tampak berpikir keras untuk menjawab pertanyaan istrinya hingga suara Aisyah dari arah pintu mengejutkan mereka.


"Ibu! Bapak! Mas Bayu sudah sadar."


Kedua orang yang tak lagi senja itu segera berdiri menyambut Aisyah. Melihat binar kebahagiaan dari mata sang menantu membuat Herman sadar, bahwa kebahagiaan putranya hanya ada pada Aisyah.


"Alhamdulillah, benarkah, Aish?" seru Ambar yang tertular aura bahagia dari Aisyah.


 


"Benar, Bu. Sekarang Dokter sedang memeriksa kondisi Mas Bayu. Kemungkinan besar, sebentar lagi Mas Bayu bisa pindah ke bangsal biasa," terang Aisyah.


 


"Alhamdulillah," ucap Herman lega. Sejak kemarin lelaki itu bingung memikirkan biaya perawatan di ICU yang tidak murah. Meskipun urusan pihak asuransi sudah selesai, tetapi Herman tidak yakin jika semua biaya bakal tercover.


 


...**********...


 


Berita mengenai kondisi Bayu saat ini disambut gembira oleh keluarga dan rekan-rekan Aisyah. Selama masa pemulihan, Aisyah selalu menemani Bayu. Bahkan wanita itu semakin memantapkan hatinya untuk tetap berada di sisi Bayu. Mereka berjanji untuk memulai segalanya dari awal dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah mereka lakukan di masa lalu.


 


"Apa kalau aku tidak mengalami kecelakaan ini, kamu bakalan mau bertahan di sisiku, Dek? Aku rela harus merasakan sakit seperti ini asal kamu bersedia menarik kata-katamu," ucap Bayu menggoda Aisyah yang sedang menyiapkan minum untuknya.


 

__ADS_1


"Apaan, sih, Mas! Sudah ini diminum dulu susunya." Aisyah tersipu setiap kali Bayu mengingatkan rengekan Aisyah ketika ia masih berada di ICU.


 


"Wajahmu yang kayak gitu bikin aku kangen, Dek. Kapan, sih, mas boleh pulang?" Bayu pura-pura merajuk.


 


"Sabar kenapa, sih, Mas. Kalau Dokter belum memperbolehkan, ya, belum boleh."


 


"Aku sudah bosan di sini," lirih Bayu.


 


"Mas Bayu kayak anak kecil aja. Udah sekarang nurut kata Dokter biar bisa segera pulang!" seru Aisyah kepada sang suami.


 


Tanpa mereka sadari, Tian sudah berdiri di depan pintu kamar Bayu. Lelaki itu hanya bisa menatap kehangatan sepasang suami-istri yang tampak bahagia. Hatinya perih, luka lamanya akibat ulah Ajeng, seolah kembali tersiram air garam. Bahkan lebih perih.


 


Septian yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan Aisyah, memberanikan diri untuk datang ke ruang rawat inap Bayu hanya untuk melihat wanita itu. Kerinduannya pada sosok Aisyah benar-benar membuatnya nekad berbuat di luar nalar. Septian tidak pernah menyerah untuk mendekati Aisyah meskipun pernah terjadi baku hantam dengan lelaki yang masih berstatus sebagai suami Aisyah.


 


"Apakah tidak ada kesempatan untukku meraih bahagia, Ais. Kenapa kamu selalu menolak kehadiranku. Bahkan kamu tidak pernah mengizinkan aku barang sebentar saja untuk mengenalmu lebih dekat," lirih Septian dalam hati.


 


"Pak Tian?" pekik Diana. Ia terkejut melihat lelaki tampan itu berdiri di depan kamar Bayu.


 


 


Diana yang bingung hanya menurut saja. Ia tidak paham dengan sikap Tian. Mereka akhirnya berhenti di sebuah taman yang agak jauh dari kamar Bayu.


 


"Pak Tian kenapa? Kalau mau berkunjung kenapa tidak masuk aja?" tanya Diana yang masih heran dengan sikap Tian.


 


Septian menghela napas panjang. Ia duduk di bangku besi yang berada di taman tersebut.


 


"Aku tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka berdua, Di. Apalagi Aisyah terlihat begitu bahagia," lirih Tian dengan pandangan kosong.


 


Diana yang mendengar hal itu merasakan adanya luka dari setiap kata yang terucap dari bibir tipis Septian.


 


"Pak, mas Bayu memang sumber kebahagiaan Mbak Aish. Begitulah Mbak Aish, dia kalau udah cinta, meskipun disakiti akan tetap cinta," ucap Diana. Wanita itu duduk di samping Septian.


 

__ADS_1


"Begitukah?" tanya Tian pada wanita di sampingnya.


 


Diana hanya mengangguk. Ia tahu benar bagaimana kakaknya. Meskipun beberapa waktu lalu kakaknya mengatakan ingin berpisah dari Bayu, tetapi dalam hati kecilnya Aisyah masih mencintai suaminya itu.


 


"Apa aku terlalu buruk, Di?" tanya Septian lagi.


 


"Kenapa Bapak bicara seperti itu? Nggak ada yang bilang Bapak buruk. Bapak adalah orang tertampan dan terbaik yang selama ini aku temui," ucap Diana dengan mata berbinar. Diana tidak sadar bahwa lelaki di sampingnya melirik tajam ke arahnya.


 


"Tapi kenapa Aisyah menolakku, Di? Kenapa rumah tanggaku juga gagal?" lirih Septian.


 


"Pak, yang namanya cinta itu tidak bisa dipaksakan. Cinta itu pengorbanan. Bentuk cinta yang sesungguhnya adalah melihat kebahagiaan dari orang-orang yang kita cintai. Bukan begitu, Pak?" jawab Diana.


 


"Kamu pinter banget ngomongnya, seperti sudah berpengalaman saja." Septian terkekeh mendengar jawaban Diana.


 


"Lah, emang begitu 'kan, Pak. Diana sering heran sama mereka yang mengatakan cinta, tapi selalu saja memaksakan kehendak pada pasangannya. Itu, sih, namanya bukan cinta. Tapi obsesi. Menurut Diana, Bapak adalah lelaki hebat yang sangat menghargai arti cinta yang sesungguhnya. Bapak jangan khawatir, saat ini jodoh terbaik Bapak sedang dipersiapkan oleh Allah. Jodoh Bapak sedang memantaskan diri untuk layak bersanding di sisi Bapak. Jadi Bapak harus tetap semangat, ya."


 


Sesaat mereka diam menikmati semilir angin yang berembus melalui celah dedaunan.


 


"Pak Tian jadi mau menjenguk mas Bayu apa tidak? Kalau enggak, gimana kalau Diana minta tolong Pak Tian buat nemenin Diana jenguk mas Bayu?" tanya Diana. Ia bangkit dari duduknya dan menunggu jawaban Tian.


 


Alis tebal lelaki itu hampir bertautan mendengar permintaan Diana.


 


"Lah, kalau itu bukannya sama saja, Di?"


 


Mereka terkekeh setelah Tian menyadari kejahilan Diana. Ia pun bangkit dan menerima permintaan Diana.


 


"Ayo, Di!"


 


...***********...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏

__ADS_1


 


__ADS_2