
...Selamat membaca...
...***************...
Semenjak Herman meminta Bayu untuk membantu keuangan Erina, keluarga kecil Aisyah sedikit mengalami masalah. Ada beberapa plot keuangan yang terpaksa harus mereka kalahkan. Salah satunya adalah dana diapers untuk Zahra. Beruntung saat ini mereka hidup di musim kemarau. Hingga Aisyah tidak terlalu khawatir Zahra akan kehabisan celana akibat belum kering. Hanya saja, Aisyah harus bekerja lebih keras, karena sudah bisa dipastikan jika cucian akan semakin banyak.
Sebenarnya hal itu terlalu berat untuk Bayu. Akan tetapi, ia tidak bisa menolak titah Herman. Lagi pula, Bayu juga tidak sampai hati melihat Erina bertengkar dengan suaminya hanya gegara masalah susu yang baginya adalah masalah sepele.
Di sisi lain, Bayu tidak tega melihat Aisyah tiap malam kelelahan. Pagi-pagi sekali Aisyah harus menyiapkan makanan, kemudian mencuci pakaian kotor yang menumpuk setiap harinya. Padahal ketika Zahra masih memakai diapers, cucian Aisyah tidak sebanyak itu. Meskipun Aisyah tidak pernah mengeluh, tetapi hati kecil Bayu sering menangis.
“Maafkan aku, Aish. Aku belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga kita.” Bayu menatap wajah ayu sang istri yang pulas di sampingnya. Tampak sekali gurat kelelahan di wajahnya.
Tangan Bayu terulur untuk menyematkan anak rambut Aisyah yang menutupi sebagian wajahnya. Bayu semakin miris ketika meyadari tulang pipi wanita itu tampak begitu jelas. Hal itu menandakan jika berat badan Aisyah mulai berkurang.
Aisyah menggeliat merasakan wajahnya terusik. Ia membuka mata yang terasa begitu berat. Wajah Bayu yang pertaman kali wanita itu lihat. Senyum Bayu mengembang. Meskipun samar, tetapi hal itu merupakan fenomena langka dalam kehidupan Aisyah. Melihat suaminya tersenyum membuat hati Aisyah menghangat.
“Ada apa, Mas? Mas lapar?” tanya Aisyah dengan suara berat khas bangun tidur.
“Nggak apa-apa. Sudah tidur lagi aja!” seru Bayu seraya menarik selimut hingga menutupi tubuh Aisyah. Sedangkan ia memilih membalikkan tubuh memunggungi istrinya untuk kemudian terlelap dalam dengkuran halusnya.
...***************...
Matahari mulai menjelang tinggi ketika Zahra memasuki jam tidur paginya. Aisyah mempergunakan kesempatan itu untuk merapikan baju kerja Bayu dan pakaian Zahra. Dengan menggelar tumpukan kain tak jauh dari posisi Zahra, Aisyah mulai menyeterika baju-baju yang menumpuk dalam keranjang. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan hal itu. Sebab Aisyah dengan cekatan mengerjakannya meskipun tidak serapi hasil kerja dari jasa laundry.
Ketika Aisyah membereskan tumpukan baju-baju itu, ponsel yang tergeletak di karpet plastik itu bordering. Tidak ingin hal itu mengusik tidur putrinya, Aisyah segera menyambar benda pipih tersebut untuk kemudian menggeser ke atas tombol terima, setelah muncul nama ibu mertuanya di layar.
“Assalamualaikum, Bu. Apa kabar?” sapa Aisyah sembari menjauh dari tempat itu. Ia tidak ingin suaranya membangunkan Zahra.
“Waalaikum salam, ibu baik-baik saja, Nak. Kabar kalian gimana? Sudah lama kalian tidak ke tempat ibu. Ibu kangen cucu ibu yang cantik,” balas Ambar dari seberang.
“Alhamdulillah kami baik-baik saja, Bu. Maafkan Aish belum mengunjungi Ibu. Akhir-akhir ini mas Bayu sering lembur tiap akhir pekan. Jadi mas Bayu belum bias mengajak Aish untuk menemui Ibu,” terang Aisyah. Ia tahu pasti ibu mertuanya merindukan Zahra, sebab sudah sebulan mereka tidak mengunjunginya.
“Alhamdulillah kalau kalian baik-baik saja. Oya, cucu ibu sedang apa?”
“Zahra masih bobok, Bu. Lumayan, Aish jadi bisa membereskan baju-baju yang masih berantakan,” jawab Aisyah.
__ADS_1
“Minggu besok kalian bisa datang ke rumah ibu? Ibu benar-benar kangen sama Zahra.”
“Nanti Aish tanya mas Bayu, Bu,” lirih Aisyah.
“Kalau kalian nggak bisa datang, biar ibu yang datang. Nanti kabarin ibu,ya,” pinta Ambar.
“Iya, Bu. Oya, kabar Bapak dan Erina bagaimana?” tanya Aisyah.
“Bapak sehat-sehat saja. Erina juga sama. Tapi malasnya itu, loh, nggak hilang-hilang. Ibu sampai malas ngomong sama dia.” Ambar kemudian menceritakan perihal Erina dan suaminya yang membuat jengkel.
Aisyah dengan sabar mendengarkan curahan hati Ambar. Aisyah menyadari jika ibu mertuanya butuh teman berbagi. Ambar tidak mungkin akan berbagi cerita dengan suaminya, sebab hal itu justru akan memperburuk suasana hati Herman hingga bisa dipastikan tekanan darahya akan naik lagi. Maka dari itu, Aisyah selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Ambar. Hanya itulah satu-satunya cara Ambar untuk menumpahkan unek-uneknya. Itu lebih baik daripada Ambar menyimpan sendiri dalam hati yang tentu akan mengganggu kesehatannya.
...*************...
“Mas, akhir pekan besok mas ada lembur apa enggak?” tanya Aisyah perlahan ketika Bayu menikmati makam malamnya di depan televisi. Aisyah berdiri di samping Bayu dengan menggendong Zahra.
“Belum tahu, Dek. Kenapa?” tanya Bayu. Ia menoleh sesaat pada Aisyah untuk kemudian beralih lagi acara televise sambil menikmati nasi sambel dan tempe bacem kesukaannya.
“Tadi ibu telpon. Beliau ingin Minggu ini kita ke sana. Ibu sudah kangen sama Zahra,” terang Aisyah.
“Memangnya kenapa, Mas?” tanya Aisyah lembut.
“Bapak pasti akan meminta macem-macem supaya aku bantu Erina. Sebenarnya, sih, aku senang jika bisa membantu. Tapi tahu sendiri kan, keuangan kita juga seperti ini.” Akhirnya Bayu pun menceritakan apa yang ada dalam hatinya.
Selama ini Bayu diam, ia hanya memendam sendiri rasa dongkol yang menggunung dalam hatinya ketika ia berhadapan dengan Herman. Terkadang hal itu membuat Aisyah merasa sedih. Ia bisa melihat dengan jelas gurat amarah yang terlukis di wajahnya. Akan tetapi, Aisyah lebih memilih diam daripada rasa penasarannya akan membuat murka sang suami.
“Mas, biarkan Bapak mengutarakan semua isi hatinya. Mas cukup mendengarkan dengan baik. Untuk urusan membantu Erina, Mas enggak perlu terlalu memaksa. Kalau Mas memang belum mampu, Mas harus terus terang. Jangan sampai hal itu membuat Mas merasa terbebani.”
Bayu menatap mata teduh istrinya. Ucapan yang baru saja keluar dari bibir tipisnya terasa begitu menyejukkan. “Kamu memang baik, Aish.”
“Jadi bagimana? Besok Sabtu kita ke tempat ibu?” Sorot mata penuh harap dari wanita itu mampu membuat Bayu terbuai hingga ia menganggukkan kepalanya begitu saja.
...***********...
__ADS_1
“Assalamualaikum,” sapa Aisyah yang baru saja turun dari motor bebek bersama Bayu.
“Waalaikum salam, cucunya Uti.” Ambar sudah menyambut di teras. Ia sudam mendapat kabar dari Aisyah jika hari mereka akan datang.
Tampak rona bahagia terpancar dari wajah wanita yang tidak lagi muda itu. Senyumnya tak henti melihat cucu gembulnya mendekat. Dengan cepat wanita itu mengambil alih Zahra dari gendongan Aisyah. Meski pada awalnya tangisan Zahra menyambut uluran tangan Ambar, tetapi wanita itu dengan cekatan membujuk Zahra. Hingga dalam waktu yang tidak lama, Zahra sudah tersenyum dalam dekapan Ambar.
Bayu dan Aisyah masuk, mereka disambut senyum datar dari Herman. Setelah mengucap salam, Bayu membawa tas merka ke dalam kamarnya. Sementar itu, Aisyah menghampiri Erina yang sedang duduk di ruang tengah. Perut Erina terlihat semakin membuncit.
“Apa kabar, Na? Kamu dan debay-nya sehat-sehat aja kan?” sapa Aisyah.
“Anggap saja iya.” Erina hanya melirik sekilas ke arah kakak iparnya, untuk selanjutnya ia fokus kembali pada ponsel di tangannya.
Hari semakin siang, tidak terasa Bayu sudah dua jam berada di rumah Herman. Bayu menghampiri Herman di teras depan dan bergabung di sana.
“Lama kamu nggak ke sini, Yu. Kenapa?” tanya Herman tanpa menatap putranya.
“Bayu sibuk, Pak. Tiap akhir pekan ada lemburan, jadi Bayu nggak libur.”
“Berarti uang kamu banyak, dong.”
Mendengar hal itu, Bayu terdiam. “Aku salah ngomong, ya,” Rutuknya dalam hati.
“Bantu Erina beli perlengkapan bayi, tuh. Udah mau tujuh bulan dia belum punya apa-apa!” seru Herman.
“Pak, untuk beli perlengkapan bayi itu biayanya enggak sedikit. Bayu mana mampu. Lagian itu kan tanggung jawab suaminya. Bayu hanya bisa bantu semampu Bayu,” terang Bayu. Inilah salah satu alasan kenapa Bayu malas untuk berkunjung. “Kebutuhan rumah tangga Bayu juga banyak, Pak. Nggak mungkin kan Bayu sebutkan satu per satu,” imbuhnya.
“Kalau kebutuhan kalian banyak, suruh Aisyah kerja! Jangan biarkan ia bermalas-malasan di rumah sementaranya suaminya kerja banting tulang. Nggak malu apa, Cuma numpang makan sama suami!”
Sekali lagi Bayu terdiam. Rahangnya mengeras mendengar ucapan Herman yang menurutnya keterlaluan. Namun, Bayu tidak ingin membuat suasana menjadi keruh. Jika ia menimpali kalimat bapaknya, pasti akan ada kalimat-kalimat pedas yang akan muncul kemudian. Bayu tidak menginginkan hal itu, hingga ia lebih memilih diam menahan semua amarah.
Sementara itu di ruang tamu, Aisyah terpaku mendengar kalimat yang terucap dari mulut Herman. Hatinya terasa begitu sakit. Sudut matanya sudah dijejali cairan bening yang membuatnya pedih. Hingga tanpa bisa dicegah, butiran itu lolos begitu saja melalui pipinya.
“Kenapa kamu diam saja, Mas? Tidak adakah rasa sakit di hatimu mendengar istrimu dikatakan seperti itu? Lantas apa artinya aku untukmu?” Aisyah tidak bisa menahan luka yang kembali tercipta. Ia urung membawa dua gelas teh panas untuk suami dan bapak mertuanya. Aisyah memilih kembali ke dapur dan meletakkan nampan berisi dua gelas teh panas itu di meja dapur.
...*************...
...To be continued...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏