Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
28_Mencari Pekerjaan Baru


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*********...


“Aku minta maaf.” Ucapan maaf yang keluar dari mulut Erina sama sekali tidak terlihat tulus. Terlebih wajahnya memberengut saat mengucapkan maaf itu. Ia benar-benar terpaksa meminta maaf pada Aisyah karena ibunya mengancam tidak akan memberinya uang jajan jika tidak mau meminta maaf pada kakak iparnya itu.


 


Mereka semua yang sedang melihat acara di televisi di ruang tengah seketika mengalihkan atensinya ke sumber suara. Aisyah, Bayu, dan Herman tampak bingung dengan permintaan maaf yang Erina lontarkan.


 


“Kamu minta maaf pada siapa?” Herman yang tidak mengerti asal muasal ceritanya pun bertanya.


 


Erina masih menekuk wajah. Bibirnya manyun lima senti. Sungguh ia merasa dianak tirikan oleh ibunya sendiri. Bisa-bisanya sang ibu justru membela Aisyah yang notabene hanya seorang menantu di keluarga itu daripada dirinya yang jelas-jelas anak kandung.


 


“Ibu nggak pernah ngajarin cara minta maaf seperti itu,” tegur Ambar.


 


Menghentakkan kaki, Erina berjalan mendekat ke arah Aisyah. Ia pun duduk di depan Aisyah sambil mengulurkan tangan. Herman dan Bayu dibuat semakin kebingungan dengan keadaan itu.


 


“Erin minta maaf, Mbak,” katanya dibuat selembut mungkin. Padahal di dalam hati tengah mengeluarkan sumpah serapah untuk kakak iparnya itu.


 


Aisyah sejenak menoleh pada Bayu, lalu pada Ambar. Ambar yang mengerti kebingungan Aisyah hanya memberi isyarat dengan anggukan. Aisyah pun menerima uluran tangan Erina. “Iya. Mbak maafkan.”


 


“Memangnya kamu buat salah apa sampai harus minta maaf seperti itu?” tanya Herman.


 


“Cuma masalah kecil, kok, Pak.” Ambar yang menjawab pertanyaan Herman, membuat Herman menaikkan sebelah alisnya.


 


“Kalau masalah kecil kenapa harus minta maaf segala?” protes Herman.


 


“Meskipun hanya masalah kecil, tidak masalah, kan, Pak, kalau minta maaf jika memang salah?” Ambar benar-benar tidak habis pikir dengan sikap suaminya.


 


“Kalau cuma masalah kecil, ya, tinggal dilupakan saja. Tidak perlu pakai drama seperti ini. Bikin malu saja.” Herman berlalu pergi bersama Erina.


 


Ambar hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang suami. “Maafin bapak, ya, Aish.”


 


Aisyah tersenyum canggung, “Nggak apa-apa, Bu.”


 


“Ya udah, kalian istirahat, gih. Ajak istrimu ke kamar, Yu!” perintah Ambar pada putranya.


 


Sungguh rasanya ia malu sekali pada Aisyah atas kelakuan suaminya. Benar apa yang pernah ia dengar, bahwa umur tidak bisa menjadi patokan seseorang bisa bersikap dewasa. Nyatanya kelakuan suaminya makin tua makin bikin kesal.


 


...************...


 

__ADS_1


Aisyah baru saja meletakkan Zahra di kasur kecilnya. Lalu membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Bayu yang penasaran sejak tadi segera ikut membaringkan tubuh di sebelah sang istri.


 


“Memangnya Erina bikin salah apa, Dek?”


 


“Hanya salah paham, Mas.”


 


“Salah paham gimana?” Bayu semakin penasaran dengan apa yang terjadi.


 


Aisyah terdiam sejenak untuk berpikir, perlukah ia menceritakan kejadian tadi pada suaminya.


 


“Dek?” Bayu yang dibalut rasa penasaran semakin mendesak Aisyah untuk cerita. Akhirnya Aisyah pun menceritakan kejadian tadi pagi. Bayu mengembuskan napas dengan kasar setelah mendengar semuanya.


 


“Mungkin ibu bilang sama Erina kalau bakwan tadi Aish yang bikin, Mas. Makanya Erina minta maaf,” tutur Ais.


 


“Anak itu benar-benar!”


 


“Sudahlah, Mas. Aish bener-bener nggak apa-apa, kok.”


 


Aisyah tersenyum manis. Netra cokelatnya tak lepas menatap wajah sang suami. Hening sejenak. Bayu hanya bisa mengusap lembut pipi istrinya. Bersyukur ia memiliki Aisyah sebagai istrinya. Wanita sederhana yang tidak banyak menuntut akan kekurangan yang ia miliki.


 


Bayu sadar jika ia belum bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Oleh sebab itu, tekadnya sudah bulat untuk mencari pekerjaan lain, agar bisa memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Jika kebutuhan Aisyah masih bisa dipilah, tetapi tidak dengan kebutuhan Zahra.


 


 


...**************...


“Aku dengar pabrik sparepart buka lowongan,” ucap salah satu pelanggan bengkel tempat Bayu bekerja.


 


“Oh, ya? Butuh berapa orang?” tanya Bayu antusias.


 


“Kalau soal itu aku kurang tahu. Mas Bayu minat?”


 


“Kira-kira aku bisa diterima nggak, ya?”


 


“Dicoba dulu aja, Mas. Siapa tahu rezeki. Setidaknya kalau di pabrik ada penghasilan pasti daripada kerja di bengkel seperti ini,” ucapnya sedikit berbisik, takut jika sang punya bengkel mendengar.


 


Bayu membenarkan dalam hati apa yang dikatakan oleh pelanggannya itu. Senyum Zahra menjadi penyemangat untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. “Aku pikir dulu, deh.”


 


“Cepetan, Mas. Daripada nanti keduluan orang lain.”


 

__ADS_1


Bayu manggut-manggut. Setelah selesai mengganti oli sepeda motor pelanggannya, Bayu bergegas mencuci tangan. Ia ingin segera pulang dan meminta pendapat keluarganya.


 


“Aku pulang duluan, ya,” pamit Bayu pada rekan-rekannya. Mereka hanya mengangguk sebagai jawaban.


 


Penuh semangat Bayu memacu sepeda motornya. Sampai di rumah ia lekas mandi dan makan. Aisyah dan Ambar tampak heran melihat Bayu yang penuh semangat, tetapi mereka tidak berani bertanya hanya menunggu Bayu untuk bercerita.


 


Saat berkumpul di ruang tengah, Bayu mengutarakan niatnya untuk melamar kerja di pabrik sparepart.


 


“Mas Bayu serius?” tanya Aisyah dengan binar bahagia. Pasalnya sudah dari dulu Aisyah menyarankan pada Bayu untuk mencari pekerjaan lain, tetapi tidak digubris oleh suaminya itu.


 


“Aku serius, Dek. Tolong buatkan aku surat lamaran, ya. Besok biar bisa segera aku serahkan ke pabriknya.”


 


Aisyah mengangguk semangat. Ia tidak bisa menutupi kebahagiaan yang tengah ia rasakan, hingga suara bapak mertua menyurutkan semangatnya.


 


“Ngapain kerja di pabrik? Di sana nggak ada pengalamannya. Sudah bagus kerja di bengkel, banyak pengalaman yang bisa diambil. Sudah, nggak usah kerja di pabrik.”


 


Getir. Hanya itu yang Aisyah rasakan. Ada ketakutan dalam dirinya jika kali ini Bayu tetap menuruti perintah sang bapak.


 


“Pak, kerja di bengkel gajinya nggak pasti, sedangkan kebutuhan Zahra sudah pasti banyak. Bayu juga pengin ngerasain kerja di pabrik itu seperti apa,” terang Bayu.


 


“Sudahlah, Pak. Biarkan Bayu mencoba. Siapa tahu dengan kerja di pabrik nanti Bayu dan Aisyah bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.” Ambar mencoba meyakinkan Herman.


 


“Memangnya kamu bisa kerja di bawah tekanan?” tanya Herman pada putranya.


 


“Maka dari itu, biar Bayu coba,” jawab Bayu.


 


“Terus kalau nggak cocok cari kerja lagi?”


 


Bayu diam. Ia pun merasa gamang kali ini. Bagaimana jika ia tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pabrik? Namun, melihat putri kecilnya, tekadnya sudah bulat kali ini.


 


“Tekad Bayu sudah bulat, Pak. Bayu ingin mencoba kerja di pabrik. Entah nanti cocok atau tidak cocok, Bayu akan pikirkan jalan keluarnya.”


 


“Kamu itu cari penyakit. Mengorbankan sesuatu yang pasti demi sesuatu yang masih tidak jelas.” Herman melengos pergi.


 


Untung Erina sedang tidak ada di rumah, katanya menginap di rumah teman. Coba saja Erina di rumah, sudah pasti semakin panas saja adu pendapat antara mereka.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏🙏

__ADS_1


Readers tersayang, karena hari ini, hari Senin. Jangan lupa kasih Vote ya. Biar Author yang ketche badai ini semangat nulisnya 😊


 


__ADS_2