Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
63_Memutuskan Untuk Berpisah


__ADS_3

...Selamat membaca...


...***********...


Setelah kepergian Aisyah dari rumah, Bayu hanya berdiam diri tanpa pergi bekerja. Selama satu hari kemarin, Bayu bolos bekerja tanpa pemberitahuan. Ia tidak peduli dengan pekerjaannya. Saat ini hatinya sedang kacau karena Aisyah pergi dari rumah dan meminta cerai.


 


Tentu saja ucapan Aisyah membuat Bayu terperangah. Selama ini ia tidak menyangka Aisyah memiliki keberanian yang besar untuk mengakhiri rumah tangganya. Sejenak, Bayu mengusap wajahnya lalu bangkit dari kursi. Ia bergegas mengganti baju lalu memutuskan ke rumah ibunya.


 


Selama dua hari Aisyah pergi dari rumah, kondisi Bayu memprihatinkan. Bagaimana tidak, selama Aisyah di rumah ia tidak pernah mengalami kelaparan. Sekarang, jangankan makanan yang tersedia, beras dan lauk pauk pun sudah habis tak bersisa membuat tubuh Bayu begitu terasa lemas. Selama dua hari ini, Bayu selalu makan di warteg. Namun na’as uang yang ada di saku sisa gaji kemarin tidak mencukupi kebutuhannya jika terus makan di warung. Maka dari itu ia pun bertolak ke rumah orang tuanya.


 


***


 


Mendengar suara motor sang anak, Ambar yang ada di dapur segera ke depan menyambut kedatangan cucunya. Ia sangat  berharap Bayu datang bersama Aisyah menantunya dan Zahra cucunya.


 


“Loh, istri dan anakmu di mana, Bayu?” tanya Ambar menyusul sang anak masuk ke dalam rumah. Ia celingukan mencari keberadaan sang cucu dan menantu. Wanita paruh baya itu sedikit bingung karena tidak dilihatnya Zahra dan Aisyah.


 


Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Bayu langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Ambar pun ikut duduk di samping putranya.


 


“Bayu, Zahra dan Aish mana, kok tumben mereka nggak ikut?” tanya Ambar kembali.


 


“Aish ke rumah bapak mertua, Bu,” jawab Bayu seraya memijit keningnya.


 


“Apa mereka bermalam di sana?”


 


“Bayu, nggak tahu Bu. Kalo dari ucapan Aish, sih, sepertinya mereka menginap di sana. Kan sudah lama juga Aish tidak menjenguk bapaknya semenjak kelahiran Zahra.”


 


Tidak ingin diintrogasi terus oleh ibunya, Bayu memutuskan langsung masuk ke dalam dapur untuk mengisi perutnya yang kosong sejak semalam.

__ADS_1


 


Ambar menatap kepergian anak sulungnya itu menghilang di balik dinding rumah. Sebagai seorang ibu, ia merasa ada yang disembunyikan Bayu. Entah itu masalah apa. Yang jelas tidak biasanya Aish pergi ke rumah bapaknya tanpa pamitan kepada dirinya. Walaupun selalu buru-buru, Aish selalu singgah pamit kepadanya.


 


Semenjak kedatangan Bayu di rumah, Ambar merasa ada yang janggal dengan rumah tangga putranya. Ini sudah malam kedua Bayu bermalam di sini tanpa kehadiran Aisyah dan Zahra. Fisik Bayu pun akhir-akhir ini kurang sehat. Bagaimana tidak, kedua kantung matanya menghitam seperti habis bedagang. Kedua tonjolan pipinya cekung ditambah kulit yang kering dan kurus.


 


Bukannya ia ingin mencampuri masalah rumah tangga anak dan menantunya, hanya saja Ambar penasaran kenapa Bayu tidak menyusul Aisyah ke rumah pak Agung jika memang menantunya itu di sana.


 


Seusai makan malam, Ambar menyusul Bayu yang duduk di depan televisi bersama sang suami menyaksikan pertandingan bola. Sambil membawa kue putu dan teh, Ambar mengambil tempat di samping Bayu.


 


“Bayu, besok jemput Aish dari rumah Pak Agung, ya. Ibu kangen sama Zahra.” Ambar membuka pembicaraan usai meletakkan kudapan tersebut.


 


Herman yang sedari tadi fokus menonton sejenak menoleh kepada istrinya.


 


 


“Bapak kok ngomong gitu, sih! Mereka itu menantu dan cucu kita. Tentu saja kehadiran mereka itu tanggung jawab Bayu yang harus selalu membantu Aisyah merawat Zahra. Bukan malah menjadi beban bagi Bayu. Heran Ibu, kenapa, sih Bapak itu nggak suka sama Aish? Apa salah Aish yang membuat Bapak tidak menyukainya? Padahal Aish menantu yang rajin dan selama ia pernah bekerja, Aish juga sering membantu kita!”


 


Bayu yang duduk di samping mereka hanya diam saja mendengar kedua orang tuanya berdebat masalah rumah tangganya.


 


Herman diam dan tidak tahu harus berkata apa. Entah apa yang membuat ia kurang setuju Aisyah menjadi menantunya. Memang sih selama Aish bekerja, mereka berdua selalu mendapatkan bingkisan dari menantunya berupa baju, sendal, atau celana. Namun, hati kecil Herman sangat kukuh tetap membenci kehadiran Aisyah.


 


“Ini kenapa, Bapak dan Ibu malah bertengkar, sih!” seru Bayu menghentikan perdebatan kedua orang tuanya. Ia yang sedang membutuhkan ketenangan malah harus menyaksikan keributan yang disebabkan perdebatan kedua orang tuanya gara-gara dirinya. Terpaksa Bayu meninggalkan kedua orang tuanya dan bergegas masuk ke dalam kamar.


 


“Pokoknya besok kamu harus jemput Aisyah di rumah pak Agung. Ibu sangat kangen sama Zahra.” Ambar berkata sebelum Bayu lenyap di balik pintu kamar.


 


...**************...

__ADS_1


 


Kehidupan Tian tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh Aisyah. Laki-laki berkulit sawo matang itu tiap hari lelah menghadapi ocehan istrinya yang selalu merendahkannya. Meskipun Tian sudah pergi dari rumah mereka dan memilih tinggal di kontrakan, tetapi sesekali Tian pulang ke rumah untuk menengok Ajeng. Walau bagaimanapun Ajeng masih istrinya.


 


Seperti pagi ini, ia kembali berdebat dengan Ajeng hanya karena masalah sepele. Padahal sebagai seorang istri tugasnya menyiapkan sarapan untuk suaminya. Namun, tidak dengan Ajeng. Wanita itu lebih memilih sarapan di kantor bersama teman-temannya ketimbang sarapan bersama dengan Tian.


 


“Bisa nggak sih, kamu sarapan di rumah saja. Hitung-hitung untuk penghematan. Kalau kamu tiap hari makan di luar itu pemborosan. Ingat, sekarang apa-apa serba mahal,” kata Tian seraya meletakkan dua piring nasi goreng ke atas meja makan berserta lauknya.


 


“Apa kamu bilang, Mas? Pemborosan?” Perempuan berambut hitam panjang dengan setelan blazer krem itu menghampiri Tian dengan senyuman smirk.


 


“Jangan pura-pura lupa, Mas. Uang yang aku pakai itu uang aku. Bahkan, untuk membeli skincare saja gajimu tidak cukup,” ucap Ajeng.


 


Wanita itu berdiri di depan Tian seraya melipat tangan di dada. “Ingat gajimu tidak seberapa dibandingkan dengan gajiku yang tinggi. Jadi lebih baik kamu tidak usah ikut campur. Mendingan segera urus perpisahan kita.” Ajeng berlalu dari hadapan Tian. Namun baru beberapa langkah, ia mendengar suara Tian begitu nyaring, sejenak Ajeng menghentikan langkahnya.


 


“Kamu tidak perlu khawatir, perempuan seperti kamu memang tidak pantas dipertahankan. Aku sudah menjatuhkan talak. Dan sebentar lagi tunggu saja surat cerai dari pengadilan. Dengan begitu kamu bisa berbuat sesuka hatimu!” sarkas Tian, penuh emosi yang membuncah di dalam dada.


 


Usai mengatakan hal tersebut, Tian pun berlalu tanpa mengucap sepatah kata pun pada Ajeng. Sayang sekali nasi goreng yang ada di meja lagi-lagi kembali dingin tidak dimakan dan berakhir di tempat sampah.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2