
...Selamat membaca...
...************...
Suasana malam menjadi temaram kala sinar rembulan menerangi alam. Gemerlap bintang pun bertaburan menemani sang rembulan yang kesepian. Seperti hati Aisyah sekarang, perasaan perempuan itu seperti hidup sendirian. Mempunyai suami seperti Bayu, membuat Aisyah tak bisa merasakan bagaimana menjadi seorang istri yang dimanja oleh suami, seperti yang Aisyah mimpikan selama ini.
Di atas motor dari ojek online yang dia tumpangi, Aisyah tercenung seorang diri. Pandangannya kosong menerawang jauh ke depan. Membayangkan bagaimana nasib rumah tangganya di masa depan.
"Kapan, ya, sikap Mas Bayu akan baik terus sama aku? Selama ini sikapnya selalu berubah-ubah. Kadang baik, kadang nyebelin," batin Aisyah seiring dengan embusan napasnya yang terlontar kasar ke udara.
Aisyah yang terlalu fokus dengan kesedihannya. Tanpa ia sadari Septian mengikutinya sedari tadi.
Septian sesekali menatap Aisyah yang terlihat murung di sela kesibukannya mengendarai motor. Lelaki yang sudah beristri itu merasa kasihan melihat kesedihan yang tercetak di wajah Aisyah.
"Entah kenapa aku selalu nggak tega kalau lihat wajah kamu yang selalu muram itu, Aish? Perempuan lembut seperti kamu tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan kasar dari suami kamu itu." Septian bermonolog. Motornya terus mengikuti driver ojek online yang membawa Aisyah ke rumahnya. Hingga perempuan itu tiba dengan selamat di depan pintu pagar rumah mertuanya, Septian baru pergi meninggalkan Aisyah.
...*************...
Pagi ini wajah Aisyah terlihat lebih semringah dari biasanya, dikarenakan perempuan itu bisa menghabiskan banyak waktunya bersama anak tercinta. Di akhir pekan seperti ini, Aisyah libur bekerja. Ia ingin memanfaatkan waktunya tersebut untuk selalu bersama Zahra.
"Eh, anak bunda udah cantik. Kita tunggu Ayah pulang, yuk!" Aisyah mengajak Zahra bercengkerama, walaupun anak kecil itu hanya menanggapinya dengan tertawa kecil tanpa mengerti apa yang Aisyah katakan.
Aisyah membawa Zahra dalam gendongannya menuju teras depan. Wajahnya terlihat cantik dengan polesan make-up tipis untuk menjemput suaminya pulang kerja shift malam. Ia duduk di kursi tamu di depan rumah Ambar, sambil memberikan ASI yang sudah ia perah sebelumnya di dalam botol.
"Kok, ayah belum pulang juga, Sayang? Ini udah jam delapan lewat." Lagi-lagi Aisyah mengajak anaknya berbicara. Sudah tentu anaknya tidak menyahut apa-apa. Hanya celotehan sang bayi yang bisa ia dengar. Sudah beberapa kali ia menengok penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Biasanya Bayu sudah sampai ke rumah setengah jam yang lalu.
Hati Aisyah mulai resah. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap suaminya.
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain, Aish?" Ambar yang keluar rumah sambil membawa sapu pun bertanya, tatkala melihat menantunya tengah berdiri di depan teras rumahnya sambil menggendong Zahra. Pandangan Aisyah yang terus menengok ke arah jalan yang menjadi perhatian Ambar.
Aisyah menoleh ke arah Ambar yang berada di belakangnya. Wajahnya terlihat tegang dengan raut khawatir yang tersirat di sana. "Aish lagi nunggu Mas Bayu, Bu. Kok, jam segini dia belum sampai rumah, ya?" katanya.
"Memangnya sekarang jam berapa?" Ambar bertanya balik. Ia tidak memakai jam tangan seperti Aisyah, dan terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah. Perempuan tua itu tidak terlalu memperhatikan jam.
"Jam delapan lewat sepuluh menit, Bu. Mas Bayu keluar kerja jam tujuh, seharusnya setengah jam sudah sampai rumah, tapi sampai sekarang dia belum pulang juga," jawab Aisyah sedikit panik.
"Mungkin lembur," sahut Ambar.
Aisyah berpikir sejenak. Mungkin benar, tetapi kenapa suaminya tidak memberikan kabar? Dalam hati Aisyah bertanya-tanya. Padahal sudah dari setengah jam yang lalu ia mengirimkan pesan melalui WhatsApp kepada Bayu, tetapi tak kunjung mendapatkan balasan dari lelaki itu. Aisyah tak berani melakukan panggilan telepon, karena takut Bayu sedang mengendarai motor.
"Mungkin iya, Bu." Aisyah segera menepis segala prasangka buruk terhadap suaminya. Lebih baik berpikir seperti yang dikatakan mertuanya saja.
Sampai pukul 11.00 WIB, Bayu belum juga pulang ke rumah. Jangankan pulang, memberikan kabar saja tidak ada. Hal itu membuat Aisyah semakin resah. Apalagi saat ponsel Bayu malah tidak bisa dihubungi oleh perempuan itu.
Hingga terdengar suara mesin motor yang terparkir di halaman, Aisyah segera berlari menuju ke luar. Ia yakin jika suaminya yang datang.
"Mas, ke mana saja?"
Aisyah langsung mencecar Bayu dengan pertanyaan, saat mereka berpapasan di teras depan.
"Mas baru pulang kerja," jawab Bayu dengan wajah lesu. Rasa kantuk yang menyerangnya membuka matanya terlihat sayu.
"Kenapa jam segini baru pulang? Mas lembur?" tanya Aisyah lagi sambil membuntuti Bayu yang melangkah menuju kamar.
__ADS_1
"Nggak, mas tadi abis nganterin Indar ke rumah sakit. Kasihan dia, saat sakit nggak ada yang bisa nganterin berobat. Keluarganya jauh."
Deg!
Penuturan Bayu membuat tubuh Aisyah membeku. Langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu kamar, tatapannya tiba-tiba kabur saat menatap punggung suaminya yang menjauh dan menghilang di balik pintu kamar. Aisyah tersadar beberapa detik kemudian. Rasa sesak di dadanya ingin sekali meledak menjadi amarah. Ia sudah begitu khawatir terhadap keadaan suaminya yang terlambat pulang tanpa kabar, tetapi ternyata yang dikhawatirkan malah seenaknya berkata sudah mendatangi seorang perempuan.
Aisyah segera melangkahkan kakinya untuk menyusul Bayu. Napasnya kian menggebu menahan gejolak amarah yang memuncak sampai ubun-ubun.
"Mas itu benar-benar nggak punya perasaan, ya? Mas tega sama Aish!"
"Kamu kenapa, sih? Mas tega apa? Datang-datang langsung ngomong ngawur aja." Bayu yang tengah mengganti baju merasa heran dengan perkataan istrinya tersebut. Tiba-tiba masuk lalu berkata seperti itu.
"Ya, itu. Aish dari tadi khawatir sama Mas, karena Mas pulang terlambat, lalu HP juga tidak bisa dihubungi. Aish pikir Mas kenapa-napa, tapi ternyata Mas malah menemui perempuan itu. Mas tega banget, sih!"
"HP mas lowbat, jadi mati sebelum mas ngasih kabar ke kamu. Lagian memangnya kenapa kalau mas menjenguk Indar? Dia teman mas," jawab Bayu tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Tapi itu nggak adil, Mas. Selama ini Mas selalu mengomel kalau Aish minta jemput pulang kerja. Alasannya ngantuk, lah, harus mandiri, lah. Tapi kenapa saat Indar butuh bantuan, Mas langsung datang dengan sigap menolong dia." Aisyah meluapkan segala unek-uneknya.
"Dia lagi sakit, Aish. Masa disuruh mandiri? Mas juga pasti akan melakukan hal yang sama kalau kamu sakit."
"Tapi Aish ini istri kamu, Mas. Mas mau samain Aish sama perempuan lain?"
Alasan itu tidak dapat diterima oleh Aisyah. Pasalnya yang meminta bantuan itu hanyalah teman biasa, seorang perempuan pula. Bahkan perempuan itu terlihat jelas menyukai suaminya. Hati Aisyah semakin sakit mendengar Bayu malah membela perempuan itu.
...*****************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1
Kalau readers jadi Aish, kira-kira apa yang akan kalian lakukan pada Bayu?