Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
81_Nasihat Pernikahan


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*************...


 


"Diana?"


 


Agung memanggil putri bungsunya. Lebih dari tiga kali. Namun, tidak juga mendapat sahutan. Lelaki paruh baya itu menggeleng seraya membaca sebuah undangan di tangan.


 


Dari dapur, Agung bergerak ke kamar Aisyah. Barangkali saja Diana ketiduran di kamar kakaknya. Dibukanya pintu berbahan jati itu dengan pelan. Takut bila Zahra tengah tidur, pikir pria paruh baya itu. Lagi-lagi, tidak ada Diana maupun Zahra–cucunya.


 


"Kemana, ya, anak itu sore-sore begini?" gumamnya seraya berjalan ke teras rumah.


 


"Rara cantik, Rara pinter ... anak ciapa, sih, ini ...." Suara yang berasal dari samping rumah membuat Agung menoleh.


 


"Bapak cari-cari, Di. Dari mana?" tanyanya ketika Diana sudah di hadapannya sambil memberikan Zahra.


 


"Dari rumah sebelah, Pak. Tadi Zahra agak riweh maemnya. Trus aku ajak main. Kenapa, Pak?"


 


"Bukan apa-apa. Ini nanti sore kamu yang datang, ya, Di!" Agung memberikan selembar undangan pada Diana, "biar Zahra, sama bapak," lanjutnya.


 


Diana meringis dengan muka malas. "Biar, Mbak Aisyah aja, ya, Pak. Nanti, kan, Mbak Aisyah pulang sore. Masih keburu buat ke undangan."


 


"Kasihan Mbakmu, Di. Sudah capek pulang kerja."


 


Bukan apa-apa, Diana malas ke undangan. Biasanya jika bertemu kerabat, pasti para lajang sepertinya akan mendapatkan pertanyaan keramat "kapan menikah" dari sanak saudara yang baru bertemu dengannya.


 


"Tenang aja, Pak. Bundanya Zahra pasti mau, kok. Iyakan, Rara, ya," ujarnya memasang wajah cerah sambil mencubit gemas pipi gembul Zahra.


 


Sorenya, Aisyah yang baru turun dari ojek langsung di sambut riang oleh Diana yang sudah menggendong Zahra.


 


"Hoyyyee, bunda sudah datang," seru Diana sambil mengangkat kedua tangan Zahra.


 


Sementara, Aisyah yang berjalan mendekat, seketika hilang rasa lelahnya setelah seharian bekerja begitu mendapati sang anak menyambut kedatangannya.


 


Aisyah menyempatkan untuk mencuci tangan di kran dekat taman kecil. Sementara suara Diana sudah receh menyesuaikan suara Zahra yang kian hari semakin banyak celotehannya.


 


Aisyah menyambut tangan Zahra yang terangkat ingin menggapai dirinya.


 


"Anak Bunda, udah wangi, cantik," ucapnya sambil terus menciumi wajah Zahra.


 


"Bilang makasih dulu sama ounty Diana," sambung Aisyah sambil menoleh pada Diana yang tidak berhenti mengulas senyum.


 


"Sama-sama," sahut Diana riang. Matanya bergantian memperlihatkan wajah lelah Aisyah.  Niatannya ingin memberitahu tentang undangan kerabat tadi ia urungkan.

__ADS_1


 


"Kenapa, Di? Kok, kayaknya ada something?" tebak Aisyah melihat wajah Diana berubah sendu.


 


"Ehm ... begini, Mbak. Bapak ada undangan dari kerabat. Tadi nyuruh aku, tapi males banget aku. Ya ... ada deh, alasannya. E ... mau nggak, Mbak Aish aja yang berangkat?" ujarnya lengkap dengan ekspresi tidak enak.


 


"Oalahhh ... itu aja."


 


Diana mengangguk sungkan.


 


"Iya, wes, kalau gitu. Mbak mau mandi. Ini Zahranya nitip lagi."


 


"Beneran nggak ngerepotin, Mbak?" tanya Diana sambil menerima Zahra dengan wajah berbinar. "Nggak enak sebenarnya sama kamu, Mbak. Baru pulang kerja, eh, aku balik ngerepotin kamu."


 


"Iyaa. Kamu ini, kaya sama siapa aja. Aku juga udah banyak ngrepotin kamu, Di. Saling bantu aja begini, kita, ya. Selalu rukun."


 


"Iya. Makasih, ya, Mbak."


 


Dalam hati, Aisyah merasa lebih banyak merepotkan adiknya. Jika hanya berbagi tugas seperti ini, tidak masalah baginya.


 


Gamis berwarna Rosewood berbahan ceruti itu membungkus tubuh Aisyah. Ia sengaja mengenakan jilbab. Karena Agung sudah mengingatkan jika ini masih hari Midodareni, salah satu acara dari adat istiadat pernikahan di Jawa Tengah. Biasanya akan ada acara pengajian terlebih dahulu, sebelum besok pada hari—H.


 


Dengan menggunakan ojek, Aisyah berangkat menuju tempat undangan kerabat yang cukup jauh.


 


 


Rumah utama tertutup dengan rumah sewaan yang di dirikan sepanjang halaman. Tirai-tirai berwarna putih dan kuning keemasan menutup tempat acara. Sementara ada satu pintu utama yang terbuka. Lengkap dengan hiasan janur kuning melengkung serta dekorasi sederhana di sisi kiri dan kanan pintu masuk itu.


 


Musik yang biasanya mengiring enerjik menyambut kedatangan tamu, kini berganti dengan alunan sholawatan yang berasal dari dalam.


 


Aisyah masuk dan segera disambut sanak kerabat yang sudah duduk berjejer rapi. Ia bersalaman dengan beberapa kerabat lalu duduk di antara ibu-ibu yang kebanyakan hadir mengikuti acara.


 


"Bapak sama Diana mana, Aisyah? Kok, nggak ikut?" tanya kerabat yang berjilbab warna sage lebar sebagai tuan rumah.


 


"Ini Aisyah mewakili bapak, Bude. Bapak sama Diana lagi jaga Zahra. Jadi Aisyah yang berangkat."


 


"Oh, terus suamimu mana? Kenapa nggak ikut masuk?" tanya kerabat yang lain sambil celingukan. Sengaja ikut masuk dalam obrolan. Biasanya jika istri ke kondangan, ada suami yang mengantar, kan? Begitu pikirnya.


 


"Suami ... lagi kerja, Bu," jawab Aisyah sedikit gugup. Tidak mungkin ia mengatakan jika dirinya sedang berjarak, bukan?


 


"Ya sudah, ayo silakan! Duduk senyamannya."


 


Aisyah mengangguk sambil mengulas senyum. Menyapa para undangan di sekitarnya.


 

__ADS_1


Sementara, di depan sana ada seorang ustad yang memberi banyak tausiyah kepada mempelai khususnya. Juga pada mereka yang hadir  di sana.


 


Aisyah ikut larut dalam suasana santai, tetapi penuh makna. Sesekali candaan di selipkan di antara nasihat-nasihat itu. Dari setiap kata yang disampaikan, begitu banyak nasihat-nasihat pernikahan. Juga banyak contoh-contoh perilaku yang semestinya dilakukan sebagai pasangan suami istri.


 


"... Di antara keutamaan istri yang taat pada suami adalah akan dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya. “Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” ini ada di dalam  (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854.


 


"Nikah itu sunnahku. Siapa yang tidak mengamalkan sunahku, bukan bagian dariku. Menikahlah, karena saya merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh umat.” Dikutip dari (HR. Ibnu Majah 1919 dan dihasankan al-Albani)."


 


Mendengarkan nasihat itu, tiba-tiba saja Aisyah mengingat Diana yang kini sudah seharusnya juga sudah berumah tangga. Ia merasa amat bersalah, telah menyita waktu sang adik untuk merawat anaknya. Tugas yang seharusnya dia emban bersama Bayu merawat Zahra.


 


Akan tetapi, bagaimana dengan rumah tangganya yang di ujung jalan ini? Dari perlakuan Bayu yang seolah tidak ada perhatiannya sama sekali. Lalu kedekatan Bayu dengan Indar berikut segala perhatian sang suami yang melebihi batas. Membuat luka demi luka yang Bayu toreh seperti membuatnya tidak kuasa menahan bahtera rumah tangganya.


 


Aisyah manusia biasa. Yang bisa sakit dan terluka. Rapuh bila sosok yang ia harapkan nyatanya tidak seperti yang ia harapkan. Dia tidak sekuat Siti Sarah yang bahkan rela berbagi suami dengan Siti Hajar karena suatu hal. Ia juga bukan Khadijah yang mampu berkorban untuk Sang Rasul dengan kekayaannya. Dia adalah wanita akhir zaman yang penuh kekurangan. Tidak bisa dibandingkan dengan wanita-wanita hebat zaman dahulu.


 


Tanpa sadar Aisyah meneteskan air matanya. Beruntung mereka yang hadir tidak begitu berfokus pada dirinya. Tidak jarang bukan hanya dirinya yang seringkali menghapus bulir bening yang jatuh dari sudut matanya.


 


"... manusia itu tempatnya salah. Ada suami yang pendiam, ada istri yang cerewet. Begitupun sebaliknya. Contoh kecil lagi, istrinya suka lupa naruh barang di mana. Nah, di situ ada suami, yang cemerlang ingatannya. Tugas suami di sini adalah ... melengkapi. Begitupula sebaliknya.


 


"Tidak selamanya kita yang merasa benar, akan terus benar. Ada kalanya kita merasa benar hanya dari pemikiran kita.


 


"Kembali lagi pada sifat manusia, yaitu tempatnya salah. Dan tugas kita adalah saling memaafkan. Begitupula dalam rumah tangga. Jika ada salah satu dari kita tidak sesuai pada jalannya, maka tugas kita adalah mengingatkan bukan menjauhinya.


 


"... Perceraian memang tidak dilarang dalam agama Islam, namun Allah membenci sebuah perceraian.


 


"Bercerai adalah jalan terakhir ketika terjadi permasalahan dan saat semua cara telah dilakukan untuk mempertahankan rumah tangga, namun tetap tidak ada perubahan.


 


"Maka, teruntuk yang mau menjadi istri orang mulai besok." Ustadz itu menatap pada calon mempelai wanita sejenak lalu kembali melempar pandangan pada seluruh seisi undangan, "hindarilah satu kata itu dengan kembali menguatkan diri kita, keimanan kita, juga rasa takut terhadap Allah SWT.


 


"Istri itu pakaian bagi suami. Begitupula sebaliknya. Artinya, apapun yang akan di lakukan istri di luar sana maka ia harus bisa menjaga dirinya dari fitnah. Satu lagi,, saling menjaga aib masing-masing adalah sebuah kewajiban berumah tangga."


 


Serangkaian kalimat tausyiah dari sang ustadz terekam di kepala Aisyah. Tanpa sadar Aisyah kembali merasa tertohok akan nasihat yang baru saja ia dengar. Dari dalam hatinya, ia berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Bayu.


 


Memaafkan. Iya, itulah yang akan ia lakukan untuk memperbaiki kapal rumah tangganya yang hampir karam.


 


Bayangan wajah Bayu yang semakin tirus, membuatnya diterpa rasa iba. Ia sadari, ia sudah lama meninggalkannya sendirian. Ia tidak mengurus dengan baik kebutuhan Bayu, padahal ia masih berstatus sebagai istri.


 


Lagi dan lagi, Aisyah jadi tergugah hatinya. Ia meraup udara sebanyak-banyaknya. Agar sesak yang menderanya mulai memudar. "Maafkan Aisyah, Mas. Maaf, karena Aisyah akhir-akhir ini justru banyak mengabaikan tugas sebagai istri," batinnya seraya menghapus air mata di sudut matanya.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2