Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
43_Kesabaran Tian


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*************...


"Rumah adalah tempat awal untuk cinta, harapan, dan impian. Tempat ternyaman untuk kembali pulang dari segala lelah dan penat."


 


...             🌹🌹🌹...


... ...


Selalu itu yang terucap dari Ajeng Kartini, wanita cantik nan ayu yang Tian halalkan dua tahun lalu. Apakah salah jika Tian memberi izin kepada Ajeng untuk bekerja kembali? Tian berpikir agar sang istri tidak jenuh dengan kegiatan rumah tangganya. Maka dari itu, ia memperbolehkan Ajeng untuk melanjutkan kegiatannya sama seperti sebelum mereka  menikah.


 


Namun nyatanya, keputusannya  justru menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Tian selalu diremehkan hanya karena jabatan dan pendapatannya jauh di bawah sang istri. Ia pun tidak memungkiri karena kenyataannya memang seperti itu .


 


Pembicaraan yang awalnya damai dan mesra, lama kelamaan berujung perdebatan yang pada akhirnya membuatnya terluka. Tian menekan egonya, menahan gejolak di hati yang bergemuruh setiap kali mereka bertengkar hanya untuk menahan emosinya agar tidak meledak.


 


Sampai kapan semua ini mereka jalani? Rumah tangga terasa hampa. Ditambah lagi belum hadirnya momongan di antara mereka. Tian yang awalnya begitu mencintai Ajeng, tetapi semakin hari rasa itu pergi dengan perlahan. Ia pun tidak mengerti akan isi hatinya. Yang ia tahu, rasa nyaman yang dulu hadir ketika bersama Ajeng, kini tidak pernah lagi ia rasakan.


 


Setiap kali Tian menyinggung masalah momongan, Ajeng selalu mengelak dengan berbagai macam alasan. Tian hanya bisa menuruti saja. Ia masih berharap suatu saat Ajeng akan berubah.


...************...


"Aku lelah, Mas. Maaf, ya. Kita langsung tidur aja." 


 


Terlalu sering jawaban seperti ini mengisi malam-malam mereka. Jawaban yang sangat dilematis untuk Tian dengar. Di satu sisi Tian tidak tega melihat Ajeng kelelahan, tetapi di sisi lain nalurinya berontak untuk sekedar mendapatkan haknya sebagai suami.


 


Malam cepat sekali berlalu, seperti hari biasa, Ajeng sudah berangkat lebih dulu. Tian menghabiskan waktu dengan berolahraga agar tidak bosan menunggu waktu kerja. Lelah berolahraga, ia pun menghabiskan waktu di ruang baca, hingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan waktu keberangkatan untuk mengais rezeki.


Tian melajukan motor matic kesayangaannya, dengan perasaan yang begitu lelah. Akan tetapi, ia harus tetap tersenyum dan memberitahukan kepada dunia bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak mau kalah dengan matahari yang selalu memancarkan senyum meronanya setiap hari.


 


Tian berlomba dengan waktu. Ia melaju secepat mungkin agar tidak terjebak macet. Akhirnya ia sampai di tempat yang membuat hatinya lebih hangat.


 


"Aisyah mengapa senyummu selalu menghiasi hampir seluruh isi kepalaku?"  tanyanya dalam hati. Ia tahu itu salah, tetapi ia tidak dapat melarang hati dan pikirannya untuk tidak memikirkan Aisyah.


 


Memasuki gerbang pabrik,  Tian melajukan motornya ke parkiran yang hampir penuh. Ia menyapukan pandangannya ke setiap sudut, berharap sosok wanita itu bisa ia lihat di pagi ini.


 


Langkah kakinya berjalan menuju kantin kantor. Beberapa stand sudah buka sepagi ini. Mereka menyediakan sarapan untuk sebagian kecil pekerja yang belum sempat sarapan di rumah. Termasuk Tian salah satunya. Dua buah lontong dan dua pastel isi sayuran memanjakan perutnya. Tidak ketinggalan air mineral yang menjadi senjata pendorong menuju lambungnya untuk dua menu ternikmat di pagi ini.


 


Setelah menghabiskan sarapannya, Tian berjalan menuju gedung kantornya. Tian yang dikenal ramah tanpa segan menyapa beberapa rekan kerjanya yang ia temui. Lelaki itu tampak begitu gagah. Tubuh tingginya dibalut hem berwarna biru laut dipadukan dengan celana biru dongker. Tidak ketinggalan, tas kantor ia letakkan di bahu kanannya. Hal itu menambah pesona lelaki tampan berusia 26 tahun itu.


 


Begitu tiba di ruangannya, ia mendaratkan tubuh di kursi ternyamannya. Sengaja ia membuka benda pipih berwarna putih tersebut, berharap sang istri memberi kabar atau hanya sekedar meminta maaf atas pedebatan kecil kemarin. Namun, semuanya hanya sekedar harapan. Ajeng terlalu keras kepala. Sebuah keajaiban jika istrinya mengucapkan kata maaf. Tian pun masih harus bersabar dengan situasi ini.


 


Ternyata, sabar itu mahal. Satu kata yang mudah diucapkan, tetapi begitu sulit untuk dijalankan.


 

__ADS_1


"Aku akan terus bersabar. Bahkan sampai kesabaran itu lelah dengan kesabaranku." Tian tersenyum miris mengingat gejolak yang terjadi dalam rumah tangganya.


 


Tanpa ia sadari, wanita cantik berkemeja putih dan celana panjang berwarna coklat itu memperhatikan dari tadi. Aisyah merasa aneh dengan sikap Tian pagi ini. Beberapa kali Aisyah memberi salam, tetapi rekan satu ruangannya itu tidak mendengarnya menjawab. Padahal biasanya Tianlah yang menyapa duluan kepada seluruh penghuni ruangan itu.


 


"Selamat pagi, Pak Septian," sapa Aisyah dengan senyumnya. Perempuan itu menggerak-gerakan tangannya tepat ke wajah Tian. Namun, yang disapa masih saja asik dengan dunianya.


 


Melihat Tian hanya diam, Aisyah mengambil penggaris dan ia tusuk-tusukkan kecil kearah lengan lelaki itu.


 


"Eh, Aish. Bikin kaget saya."  Septian berjingkat dengan wajah kagetnya. Ia memandang Aisyah dengan tatapan bingung.


 


"Lagian Bapak kenapa pagi-pagi sudah melamun? Dari tadi Aish memberi salam dan manggil Pak Tian. Eh, Bapak malahan asyik ngelamun. Jangan bilang Bapak sedang ngebayangin yang aneh-aneh!" seru Aish menahan tawa melihat ekspresi Septian.


 


"Ah, masa, sih, saya ngelamun. Ngawur kali, Aish," elak Tian dengan wajah yang sedikit memerah. "Kamu sudah sarapan, Aish?"


 


"Sudah, Pak. Sebelum berangkat, Aish selalu sarapan di rumah," jawab Aisyah antusias.


 


"Wah, sayang dong lontong dan pastelnya. Padahal aku beliin buat kamu, loh, Aish," canda Tian ke Aisyah.


 


"Sudah Bapak aja makan yang banyak, biar kuat menghadapi kenyataan," canda Aisyah dengan kekehan kecil melihat wajah Tian yang menegang.


 


 


"Nggak ada, Pak. Aish cuma mau memastikan saja kalau Bapak baik-baik saja," jawab Aish sekenanya sambil berlalu menuju tempat duduknya.


 


Septian bengong. "Apa aku terlihat begitu menyedihkan sampai Aisyah tahu kalau aku lagi nggak baik-baik saja?" Tian bertanya dalam hatinya.


 


"Yah, sudah, Pak. Kita mulai pekerjaan pagi ini dengan doa. Semoga semua berjalan lancar dan sukses." Aisyah berteriak dari tempat duduknya untuk memberi semangat.


 


Langit kota siang ini begitu terik. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat Tian untuk mentraktir Aisyah di rumah makan depan pabrik. Tadi pagi Tian menghubungi Aisyah melalui chat pribadi bahwa siang ini Tian akan mengajaknya makan siang.


 


Mereka berjalan beriringan dengan karyawan lainnya menuju rumah makan di seberang kantor. Kali ini mereka tidak bersama Witri. Wanita itu minggu ini mendapat gilir shift sore. Awalnya Aisyah menolak ajakan Tian. Namun, setelah Tian merayu akhirnya Aisyah menyetujui untuk makan siang di luar bersamanya.


 


Mereka memilih kursi yang dekat dengan jendela agar tidak terlalu panas. Selain itu mereka juga dapat melihat kendaraan yang berlalu lalang. Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang menanyakan apa yang akan mereka pesan.


 


"Kamu mau pesan menu apa, Aish?" tanya Tian ke Aisyah.


 


"Apa, ya?" Aish berpikir sebentar, "ehm, Aish mau pesan nasi pecel lengkap dan teh tawar hangat aja deh, Pak."


 

__ADS_1


"Kalau begitu samain aja, deh. Tapi yang satu minumnya es teh manis aja, Mbak," ucap Tian pada seorang gadis yang berdiri di sampingnya.


 


"Baik, Pak. Mohon ditunggu, ya." Pelayan itu meninggalkan mereka setelah mencatat pesanannya.


 


"Aish?” panggil Tian dengan wajah serius.


"Iya, Pak.” Aisyah memberikan perhatian penuh pada Tian. “ada masalah, Pak? Sepertinya serius sekali."


"Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," jawab Tian sambil membuang napasnya kasar.


"Apa, tuh, kok jadi penasaran," canda Aish sambil melihat layar pipih segiempat miliknya,  khawatir ibu mertuanya menelepon.


"Apa pendapatmu tentang wanita pekerja?” tanya Tian


"Kalau menurut pendapat Aish, ya, ada beberapa alasan, Pak. Mungkin ingin membantu meringkan beban suami ada juga yang memang sudah cinta sama pekerjaannya atau mungkin karena jenuh dirumah, bingung apa yang mau dikerjakan, itu sih menurut pandangan Aish, ya, Pak." Aish berusaha menjelaskan dengan caranya sendiri.


"Oh gitu, ya?" Tian menganggukkan kepalanya.


"Mungkin istriku adalah pekerja yang sudah jatuh cinta dengan kerjaannya. Jadi, seolah kerja adalah dunianya tanpa memedulikan aku sebagai suaminya," cerocos Tian tanpa sadar mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya.


"Loh, memang kenapa? nggak salahkan kalau dia mencinta pekerjaannya, itu namanya totalitas dan loyalitas,” jawab Aisyah sambil tertawa pelan.


"Iya, tapi rumah tanggaku semakin hari semakin hambar. Yang ada hanya perdebatan dan ego masing-masing." Tian terus berceloteh dan Aisyah hanya terbengong mendengarkan itu semua.


Tidak disangka kalau rumah tangga kawan seruangannyan itu bermasalah.


"Pasti ada jalan keluarnya, Pak. Tak ada masalah yang tak ada solusinya." Aisyah menjawab ragu.


"Bukan solusi yang didapat tapi selalu tersulut emosi." Wajah Tian tampak keruh.


"Ujian rumah tangga memang macam-macam, Pak. Ada yang diuji dengan istrinya, suaminya, anaknya, hartanya dan pekerjaannya. Semuanya itu Ujian yang harus dijalani. Allah tidak akan pernah menguji hamba-Nya, di luar batas kemampuan hamba-Nya.” Aisyah mencoba berkata sebijak mungkin kepada Tian.


"Coba ajak pasangan Bapak jalan-jalan kesuatu tempat yang romantis dan mengingat perjalanan dan perjuangan cinta hingga saat ini. Berbicara dari hati kehati tanpa adanya emosi dan ego yang tinggi, cobalah, Pak. Belum pernah, kan? Nggak ada salahnya mencoba. Memperbaiki sesuatu yang belum koyak akan lebih mudah dibanding mempertahankan hal yang sudah hancur." Aish berkata dengan suara yang tercekat.


Entah dari mana ia punya kekuatan dan untaian kata untuk bisa menguatkan Laki-laki didepannya itu. Aisyah pun sama punya permasalahan rumah tangga. Namun, Witri lah yang selalu bisa membuat hatinya tenang dan nyaman.


Nggak ada salahnya juga ia memberikan hal itu kepada Tian, lewat untaian kata dan doa, semoga semuanya baik-baik saja.


"Selalu ingat, ya, Pak, apabila sesuatu yang bapak senangi tidak terjadi maka senangilah apa yang terjadi," saran Aisyah.


Tanpa terasa pelayan sudah datang dan menyajikan pesanan mereka dimeja.


"Selamat menikmati, Pak, Bu,” kata pelayan itu, lalu mengangguk sopan pada Aisyah dan Tian.


"Terima Kasih, Mbak," sahut mereka berbarengan.


"Makan sayur yang banyak Aish biar ASI-nya makin banyak dan jangan terlalu sering minum es, ya, kasian dedek Zahranya," ucapTian penuh perhatian memberi masukan kepada Aish.


...***********...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2