Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
25_Hadiah Dari Witri


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


 Keluarga kecilku adalah kebahagiaanku


               Bayu Laksmana


 


Sore harinya, setelah berkutat dengan beberapa motor di bengkel, Bayu pulang dengan melajukan motornya sedikit kencang agar lebih cepat sampai di rumah. Bayu lapar sekali karena tadi tidak sempat makan siang. Hari ini bengkelnya sangat ramai, dan ia bersyukur bisa membawa uang lebih untuk istrinya.


 


Namun, ia pun menyadari uang yang ia bawa tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apa lagi sekarang istrinya sudah hamil besar, sudah bisa dipastikan memerlukan uang yang lebih banyak. Terkadang ia pun ingin membahagiakan istrinya, apa daya dirinya belum mampu melakukan hal itu.


 


“Semoga sedikit bisa menambah tabungan buat biaya lahiran,” batin Bayu. Sudut bibirnya tertarik ke atas karena uang 300 ribu rupiah sudah ia kantongi. Hasil dari kerjanya selama tiga hari.


 


"Assalamualaikum, Dek.” Bayu mengetuk pintu rumah. Tidak ada jawaban, Bayu mendorong sedikit pintunya dan benar saja pintu itu terbuka. “Loh, kok, nggak dikunci pintunya? Ceroboh sekali,” gerutu Bayu.


 


Sampai di dalam rumah, ia terpaku dengan begitu banyaknya peralatan bayi. Batinnya bertanya-tanya. Apakah Aisyah sudah berbelanja keperluan anaknya, tetapi dengan barang sebanyak ini pasti bukan uang yang sedikit untuk membelinya. Bayu mengernyitkan kening dengan raut wajah yang bingung.


 


Bayu pun bergegas masuk ke dalam kamar dan kebetulan pintu tidak dikunci. Ia pun mendapati Aisyah sedang tertidur pulas. Tidak ingin menganggu, Bayu hanya terdiam memandangi istrinya yang sedang lelap itu.


 


Puas memandang wajah istrinya, Bayu mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi. Gerah dan lengket serta bau oli melekat di badan dan bajunya. Setelah Bayu selesai mandi, Aisyah terlihat masih betah meringkuk di atas kasur busa itu, "Istriku terlihat lelah sekali,” batin Bayu.


 


Bayu berjalan ke ruang tamu dengan maksud ingin memasukan barang yang masih tergeletak di sana untuk dibawa ke ruang tengah. Bayu memindahkan barang itu satu persatu dengan hati-hati agar tidak ada yang rusak. Nanti dia akan tanyakan barang sebanyak ini dari mana asalnya. Setelah selesai dengan kegiatannya, Bayu pun berlalu ke ruang tamu.


 


Bayu menyalakan televisi, berharap ada acara yang menarik. Akan tetapi, setelah menekan tombol demi tombol tak ada satu acara pun yang menarik hatinya. Akhirnya ia berniat rebahan di samping Aisyah. Namun, sebelum niat itu terlaksana istrinya sudah terlebih dahulu bangun.


 


"Mas Bayu, sudah pulang? Sudah lama, ya? Maaf, Ais ketiduran. Badan Aish rasanya lelah banget, Mas,” terangnya sambil mengikat rambut hitamnya. Usai mengikat rambut ia mencium punggung tangan suami tercintanya itu.


 


"Sudah dari tadi. Kurang lebih lima belas menit. Mas datang dan ternyata kamunya tertidur pulas." Bayu memandangi wajah wanita yang sedikit cubby di bagian pipinya. Bayu jadi makin gemes ingin mencubitnya.


 


"Mas, mau langsung makan?" tanya Aisyah.

__ADS_1


 


"Iya, Dek. Mas lapar banget, nih.” Bayu bergegas keluar dari kamar dan berjalan ke arah meja makan kecil itu.


 


"Aish siapkan dulu, ya.” Aish pun bergegas menuju dapur.


 


Ditatanya sayur sawi putih, tahu goreng, dan ikan salem pindang di atas meja. Serta tak ketinggalan sambel tomat yang menjadi kesukaan sang suami tercinta.


 


"Ayo, Mas!” ajak Aisyah sambil duduk dan menyendokkan nasi ke piring hadiah sabun cuci itu.


 


"Segini cukup, Mas?” Ais bertanya dan Bayu mengangguk pelan sebagai jawaban.


 


"Sedikit aja dulu, Dek. Nanti gampang kalau kurang bisa nambah," balas Bayu dengan manisnya.


 


Makan sore menjelang malam yang nikmat dan berkah. Lauk-pauk sederhana yang dimasak dengan cinta menjadi cerita indah di senja itu.


 


 


Waktu sudah menunjukan jam tujuh malam. Bayu dan Aisyah sedang membongkar paket yang diberikan Witri tadi siang. Dengan antusias Aisyah bercerita kepada Bayu, kalau Mbak Witri yang membelikannya semua.


 


"Iya Mas, ini semua hadiah dari Mbak Witri buat si dedek," katanya sambil mengusap perut buncitnya dan tersenyum semanis mungkin. Jelas sekali rona bahagia di wajah wanita cantik itu. Laki-laki berkulit hitam manis tersebut belum sempat bertanya, tetapi sang istri sudah memberitahukan terlebih dulu dari mana semua perlengkapan bayi ini.


 


Membuka satu persatu apa saja barang yang diterimanya tadi. Mulai dari baju, popok, gurita, bedak, minyak telon, dan banyak lagi yang lainnya. Aisyah begitu antusias bercerita dan menjelaskan semua kegunaan alat dan barang-barang tersebut.


 


Bayu hanya bisa melihat dan mendengarkan apa yang istrinya utarakan tanpa mau menyela sedikit pun. Di hati kecilnya ia sedih dan marah pada dirinya sendiri. Ia sadar belum mampu membahagiakan Aisyah Khumairah wanita pilihan hatinya. Wanita yang selalu menerimanya apa adanya.Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat membuat anak dan istrinya bahagia dan tidak lagi medapatkan belas kasihan orang lain.


 


Witri memang sahabat dan kawan kantor Aisyah. Akan tetapi, wanita itu pun pasti punya kehidupan dan keperluannya sendiri.


 


“Mbak Witri baik banget, ya, Mas. Semoga suatu hari nanti kita diberi kesempatan buat balas kebaikannya,” tutur Aisyah.


 

__ADS_1


“Hem, Aamiin.”


 


“Aish capek. Aish tidur duluan, ya.”


 


“Iya. Kamu tidur aja.”


 


Aisyah mengecup pipi Bayu sekilas sebelum beranjak menuju kamar. Bayu kembali memikirkan apa yang harus ia lakukan agar dapat memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.


 


“Masa iya aku harus cari kerja lain? Tapi kerja apa?” tanya Bayu pada dirinya sendiri. Ia mulai melihat daftar kontak yang ada di ponselnya. Siapa tahu salah satu dari mereka bisa memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan.


 


Ada beberapa teman Bayu yang mengatakan belum ada lowongan kerja. Ada juga yang membalas kalau bengkel tempatnya bekerja sedang sepi sehingga mereka pun sama bingungnya seperti Bayu.


 


Bayu menghembuskan napas kasar. Rasa frustrasi menggerogoti hati. Lelah, akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Aisyah di kamar. Duduk di samping ranjang, ia tatap lekat wajah manis yang tengah terlelap.


 


“Maafkan mas yang belum bisa bikin kamu bahagia. Mas janji, mas akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan kita, terutama kebutuhan anak kita. Sabar, ya, Sayang,” lirihnya.


 


Ia tidak ingin mengganggu tidur sang istri. Ia kecup dengan lembut kening sang istri. Lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Aisyah. Mengusap lembut perut buncit Aisyah, hingga ia merasakan tendangan dari dalam perut Aisyah.


 


“Tidur, Nak. Kasihan bunda kamu kalau kamu nggak tidur. Maafin ayah, ya. Kamu harus sehat-sehat di dalam sana.” Bayu mengecup perut sang istri. Lagi-lagi ia merasakan pergerakan di dalam sana. Ia tersenyum simpul sebelum akhirnya memejamkan mata, menyusul ke alam mimpi.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2