
...Selamat membaca...
...***********...
Aisyah langsung pergi dari kerumunan para karyawan yang sedang membicarakannya. Ia tidak peduli dengan panggilan Tian yang terus memanggil namanya. Aisyah langsung naik ke ojek online pesanannya yang sejak tadi terparkir di depan gerbang.
Merasa panggilannya tidak dihiraukan oleh Aisyah, Septian terus mengejar Aisyah sampai ke depan gerbang. “Aisyah … tunggu!” Laki-laki berkemeja biru muda itu berusaha menghentikan laju ojek online yang dinaiki Aisyah.
“Langsung jalan saja, Pak! Jangan hiraukan orang itu,” ucap Aisyah yang ingin segera berlalu dari pandangan semua orang.
“Baik, Mbak,” sahut driver berjaket hijau dengan tulisan salah satu nama aplikasi penyedia jasa transportasi.
“Huuuh…!” Tian menyeka keringat di pelipisnya, seraya membungkukkan setengah badannya dengan kedua tangan berpegangan pada kedua lutut. Tian merasa capek mengejar Aisyah yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia semakin bersalah kepada Aisyah, karena ulah Ajeng—mantan istrinya.
Sejenak, Tian menepi dan mendaratkan tubuhnya di pinggiran trotoar. Ia begitu marah pada Ajeng dan akan memberikan peringatan pada wanita itu. Sebelum masalah ini semakin besar, Tian tidak mau ambil resiko. Ia juga harus menjaga nama baiknya di depan suami Ajeng agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Tian memandangi langit senja yang perlahan berubah gelap. Sebentar lagi waktu Magrib tiba, sehingga Tian lekas kembali ke kantor dan pulang ke rumah. Ia akan memikirkan cara agar Ajeng tidak akan menemuinya di kantor lagi. Terlebih menuduh Aisyah yang tidak-tidak.
...**************...
Aisyah sampai di depan rumah bapaknya. Usai membayar ojek online dengan uang dari aplikasi, Aisyah segera masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” kata Aisyah sembari membuka pintu berbahan jati putih.
“Wa’alaikum salam,” jawab Diana yang baru saja keluar dari dapur seraya membawa susu Zahra yang baru saja dipanaskan. Melihat raut wajah kakaknya yang lelah, Diana tidak banyak bertanya. Ia tidak ingin membuka beban masalah yang dihadapi Aisyah saat ini. Nanti juga Aisyah sendiri yang curhat kepadanya, jika butuh saran.
“Sebaiknya Mba Aish langsung membersihkan diri dan salat Magrib. Zahra aman, kok, sama aku,” ujar Diana.
Aisyah mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Usai salat Magrib, Aisyah masih berdiam diri di atas sajadah. Wanita itu mengadukan semuanya kepada Sang Pencipta atas permasalahan yang ia hadapi akhir-akhir ini. Aisyah merasa Allah sayang kepadanya, karena masih diberikan ujian yang mampu ia hadapi.
__ADS_1
Menurut Aisyah, Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kesanggupannya. Allah ingin melihat dirinya kuat, sabar, dan bertawakal selalu mengingat kepada-Nya.
“Ya Allah, hamba hanya wanita biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Hamba menerima ujian ini dengan sabar dan mohon kepada-Mu agar segera diberikan jalan keluar dari permasalahan ini. Aamiin ya Rabbal Alaamiin.”
Aisyah mengakhiri doanya dengan mata yang sembab. Baru saja ia akan keluar dari kamar, Aisyah sudah mendapati Diana yang terlebih dahulu membawa Zahra masuk ke dalam kamar.
“Mbak, makan, yuk! Bapak sudah nunggu di dalam,” ajak Diana seraya menggendong Zahra yang semakin gembul. Balita itu tersenyum melihat mamanya, lalu merentangkan kedua tangannya di depan Aisyah agar segera diambil.
“Zahra kangen, ya, sama bunda?” tanya Aisyah seraya mencium pipi gembul itu.
“Terima kasih ya, Di, sudah menjaga Zahra.”
“Ya elah, Mbak masih aja sungkan. Santai aja kali. Zahra juga, ‘kan, ponakan aku,” sahut Diana. Keduanya berjalan masuk ke dalam ruang makan di mana Agung sudah duduk di salah satu kursi sembari menunggu kedua anaknya.
Malam semakin larut, Aisyah sudah menidurkan Zahra sejak tadi. Untung saja balita menggemaskan itu tidak rewel sehingga tidak butuh waktu lama Zahra langsung terlelap dengan dot yang masih bertengger di mulutnya.
Beda dengan sang anak, Aisyah masih terjaga. Kedua matanya belum menampakkan tanda-tanda mengantuk. Sudah berulang kali ia berpindah posisi ke samping kiri dan kanan agar segera terlelap, tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Akhirnya Aisyah memilih keluar dari kamar menuju ruang tamu yang lampunya sudah padam setelah makan malam.
Di sana Aisyah duduk di kursi panjang sendirian, memori di dalam kepalanya kembali berputar seolah mengingat kembali kejadian tadi sore, atas tuduhan dirinya sebagai pelakor oleh Ajeng— mantan istri Tian.
Lamunan panjang Aisyah lenyap saat Diana membuka pintu kamar yang kebetulan berhadapan dengan tepat ruang tamu. Diana terkejut melihat bayangan seseorang duduk di kursi. Ia pun mendekat. Saat tahu itu Aisyah, ia pun bertanya. “Loh, Mbak belum tidur? Ngapain duduk di sini sendirian, lagi ada masalah?” tanya Diana usai mengambil tempat di samping Aisyah.
Awalnya Diana keluar dari kamar dengan niat mengambil air minum di dapur karena botol persediaannya di kamar sudah habis. Namun, urung karena melihat kakaknya duduk di ruang tamu tengah malam begini. Sebagai adik, ia sangat tahu betul kalau Aisyah sangat jarang begadang. Walau disibukkan dengan pekerjaan, Aisyah tidak pernah begadang mengerjakan tugas kantor. Akhirnya, Diana pun menebak jika kakaknya itu sedang ada masalah.
Merasa butuh seseorang untuk berbagi masalahnya, akhirnya Aisyah pun menceritakan kejadian tadi sore pada Diana. Selama penjelasan Aisyah, Diana tenang dan menyimak tanpa memotong ucapan Aisyah sampai kakaknya itu selesai menjelaskan permasalahannya.
__ADS_1
“Oh … masalahnya itu. Lah, salah Mbak Ajeng juga, sih. Lagian sudah jadi mantan istri ngapain gangguin mas Tian lagi, dan nuduh Mbak Aish sebagai pelakor. Dasar wanita tidak tahu diri! Sudah jadi istri orang, ngapain ngajak mas Tian kembali rujuk. Dasar sinting, tuh, orang!” geram Diana. Ia tidak terima kakaknya difitnah sebagai pelakor.
Ia pun memberikan saran dan masukan agar tidak terlalu memedulikan omongan Ajeng. Jika Ajeng kembali berulah, Diana sendiri yang akan turun tangan melabrak wanita itu. Baginya kehormatan dan nama baik kakaknya harus ia bersihkan di kantor, agar tidak ada lagi Ajeng-Ajeng selanjutnya yang mencari masalah.
“Ya, sudah. Mbak sebaiknya tidur. Kasian Zahra sendirian di kamar. Lagian, Mbak besok pagi harus kerja juga,” lanjut Diana lagi.
Aisyah mengangguk dan masuk ke dalam kamar, sementara Diana kembali ke dapur mengambil air minum.
...***********...
Pagi ini kasak kusuk tentang berita Aisyah yang dilabrak oleh mantan istri Tian di kantor menyebar begitu cepat. Hampir semua karyawan membicarakan Aisyah. Ada yang mencibir Aisyah sebagai perempuan tidak tahu diri, bahkan ada yang dengan sengaja menghina dan mengatainya sebagai pelakor. Mereka berani berkata seperti itu, karena sudah lama mereka tidak melihat Aisyah tidak diantar jemput oleh suaminya—Bayu. Sampai berita tentang keretakan rumah tangga Aisyah juga menyebar bagaikan virus influenza yang penyebarannya sangat cepat.
Namun, Aisyah tidak ingin ambil pusing memikirkan semua omongan orang lain terhadap dirinya. Aisyah seakan mati rasa dengan semua ocehan negatif terhadap dirinya itu. Baginya, yang lebih tahu dirinya hanya dia dan Tuhan. Manusia tidak berhak menilai benar atau salah. Aisyah hanya mengerjakan yang menurutnya benar dan tidak merepotkan bahkan membebani seseorang.
Sebagai sahabat Aisyah, Witri turut prihatin atas apa yang menimpa Aisyah. Pada jam makan siang Witri tidak melihat Tian sejak tadi pagi. Sebenarnya ia pun ingin meminta agar Tian menyelesaikan masalahnya dengan Ajeng, agar nama Aisyah tidak buruk di mata karyawan lain. Walau tidak bertemu dengan Tian, Witri yakin rekannya itu bisa segera menyelesaikan masalah ini dengan cepat.
“Kamu yang sabar, ya, Aish. Aku yakin, sebentar lagi orang-orang yang menggunjingmu akan tahu fakta sebenarnya. Kamu fokus saja pada permasalahan rumah tanggamu sama Bayu. Semoga segera menemukan jalan keluar yang terbaik untuk kalian,” ujar Witri di tengah keduanya menyantap nasi padang di warung langganan mereka.
Aisyah menghentikan kunyahannya. “Terima kasih, Mbak adalah sahabat yang selalu ada buat aku dalam masalah apa pun. Aku bersyukur mendapat sahabat seperti Mbak Witri di kantor.” Aisyah melanjutkan menghabiskan makanannya, karena sebentar lagi jam isoma selesai.
...***********...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏.
Gaess karena hari ini hari Senin, jangan lupa kasih vote, ya buat Author. Biar Author makin semangat nulisnya 🙏
__ADS_1