Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
38_Shift Sore


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*************...


"Atau mungkin ini memang sudah takdir Tuhan, kita dipertemukan sekarang. Supaya aku bisa menjadi pelipur laramu, Aisyah." Tian tersenyum, ia yakin jika pertemuannya dengan Aisyah bukan semata karena kebetulan.


 


"Mungkin ini adalah awal dari kisah kita, Aisyah. Mungkin kamulah jodohku," monolog Tian. Bayangan wajah manis Aisyah saat pertama mereka bertemu masih begitu melekat dalam benak Tian. Sejak pertemuan itu, Tian seolah terhipnotis oleh paras cantik Aisyah.


 


Awalnya Tian mencoba menepis perasaan yang sedikit mengusik hatinya itu, ia sadar Aisyah sudah berkeluarga. Tidak sepantasnya ia menaruh hati pada wanita yang sudah bersuami. Tian tak ingin menjadi perusak rumah tangga orang. Namun, saat Tian berniat mundur, entah ini kebetulan atau memang sebuah kesempatan. Ia tak sengaja mendengar perbincangan Aisyah dengan Witri. Semua itu seolah menjadi penenang dalam kegaduhan hatinya.


 


Tak ingin membuang waktu, Tian pun segera melancarkan aksinya. Ia ingin sedikit menarik simpati Aisyah.


 


"Hai, ada di sini kalian rupanya. Pasti belum makan siang kan? Ini aku bungkusin nasi Padang pake rendang," ucap Tian sambil meletakkan 2 bungkus nasi Padang di atas meja pantry.


 


Aisyah yang sedikit terkejut, segera menghapus air matanya. Ia tak ingin Tian melihatnya menangis. "Maaf, aku ke toilet bentar ya." Tanpa menunggu jawaban Tian dan Witri, Aisyah segera beranjak dari duduknya.


 


Tian mencoba bersikap biasa saja, untuk sementara ia akan berpura-pura menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Tujuan pertamanya adalah ia ingin mengenal Aisyah lebih dekat. Lebih tepatnya menjadi teman baik Aisyah.


 


"Eh... Tian. Memangnya kamu tadi makan siang di mana? Kok bisa bawa nasi Padang?" tanya Witri.


 


"Tadi aku nyari kalian berdua di kantin nggak ketemu, aku kira kalian ke warung nasi Padang yang di depan. Ternyata sampai sana, masih nggak ada juga." Tian tersenyum sambil mengusap tengkuknya karena sedikit malu.


 


"Alah, kamu tu Yan, bilangnya kolesterol-lah, banyak minyaknya-lah, apalah, itulah. Ujung-ujungnya keracunan masakan Padang juga kan? Makanya jangan kebanyakan teori kalo belum praktek." Witri meledek Tian lalu tertawa dan mencebikkan bibirnya.


 


"Loh .... Apa hubungannya, sih, Mbak?" Tian merasa bingung menanggapi ocehan Witri.


 


"Makan dulu, baru komenter. Gimana? Mantab kan, rendang nasi Padangnya? Apalagi kepala kakapnya, beuh... Bikin nagih deh pokoknya." Witri sangat antusias jika bicara masakan Padang. masakan Padang adalah salah satu menu favoritnya.


 


Setelah beberapa menit, Aisyah kembali dari toilet. Ia sudah merapikan kembali wajahnya dengan sedikit polesan make up. Aisyah terlihat lebih segar, meski matanya masih sedikit sembab.

__ADS_1


 


Tian tak bisa menutupi kekagumannya pada Aisyah, hampir saja ia tak bisa mengendalikan diri untuk segera mengalihkan pandangannya. Hingga Suara Witri yang mengajak Aisyah untuk segera menyantap makan siang yang dibawakan oleh Tian, mengalihkan perhatian Tian.


 


"Aish, sini buruan. Nanti jam istirahat kita keburu habis. Mumpung Tian baik, kita makan gratis lagi hari ini," ucap Witri, ia segera membuka bungkusan nasi Padang dari Tian dan segera memakannya.


 


"Mbak Witri, jangan gitu dong. Nggak enak sama Pak Tian," jawab Aish.


 


"Udah nggak apa-apa Aish, mumpung ada rezeki juga. Ehm... Jangan panggil Pak dong, berasa tua aku." Tian berpura-pura sedikit merajuk.


 


"Masih belum terbiasa Pak, eh, itu maksudnya. Aduh, jadi salah lagi kan Aish manggilnya." Aisyah kembali tersenyum meski agak sedikit canggung.


 


Tak dipungkiri suasana di tempat kerja Aisyah sedikit bisa membuat Aisyah melupakan kesedihannya. Teman-teman yang begitu baik dan saling mendukung, juga saling menghargai satu sama lain, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Aisyah.


 


Bagi Aisyah, tempatnya bekerja adalah rumah kedua untuknya. Karena hampir separuh waktunya setiap hari berada di sana. Tempatnya mengais rezeki dan juga bertemu dengan orang-orang yang baik.


 


 


Suasana ceria yang jarang Aisyah dapatkan saat berada di rumah mertuanya. Apalagi Bayu yang sikapnya masih sulit ditebak, kadang baik, kadang begitu perhatian, dan kadang masih terlihat masa bodoh padanya juga Zahra.


 


Entahlah, kadang Aisyah lelah dengan semua ini. Ingin menyerah, tetapi semua perasaan itu segera ia tepis. Kehadiran Zahra selalu menjadi penyemangat dalam hidupnya.


 


"Mungkin bunda harus belajar lebih sabar dan bersyukur, ya, Nak," batin Aisyah di sela canda tawa bersama Witri dan Tian. Aisyah harus berusaha tegar, meski banyak beban yang saat ini ia simpan sendiri.


...************...


Pukul 15.00 WIB, Pak Seno yang baru saja selesai rapat dengan beberapa kepala divisi kembali ke ruangan produksi. Terlihat Tian, Aisyah, juga Witri yang masih serius dengan pekerjaan mereka masing-masing.


 


Mungkin karena sudah mendekati jam pulang kantor, sehingga mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Jika bisa segera selesai, mereka bisa pulang tepat waktu tanpa harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.


 


"Tian, Witri, Aisyah." Seno memanggil semua anggota yang ada di ruangannya.

__ADS_1


 


"Iya, Pak." Mereka bertiga menjawab bersamaan. Lalu memerhatikan Pak Seno yang sepertinya akan memberikan pengumuman hasil dari rapat tadi.


 


"Alhamdulillah teman-teman, seperti tahun-tahun sebelumnya. Setiap menjelang bulan puasa, perusahaan kita selalu mengalami peningkatan produksi. Dan untuk saat ini, peningkatan itu mengalami dua kali lebih besar dari tahun kemarin. Oleh karena itu, perusahaan mengambil kebijakan untuk membuat shift pada divisi produksi. Supaya bisa memenuhi kebutuhan produksi yang semakin meningkat ini. Sudah saya putuskan, saya dan Witri yang akan mengawasi di shift pagi. Untuk Tian dan Aisyah di shift sore. Bagaimana, apa semuanya setuju? Atau mungkin ada yang perlu ditanyakan?" tutur Seno panjang lebar.


 


"Setuju Pak," Tian begitu semangat dengan keputusan yang diberikan Pak Seno. Tanpa pikir panjang ia langsung menyetujuinya. Bukan tanpa alasan, bagi Tian ini adalah kesempatan untuknya agar bisa mendekati Aisyah. Apalagi mereka satu shift, sudah pasti mereka akan lebih banyak punya waktu bersama. Tian tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


 


"Yah, bakalan kangen sama kamu lagi dong, Aish. Baru juga temu kangen, udah harus jauh-jauhan lagi," ucap Witri sambil melihat ke arah Aisyah. Ia berpura-pura cemberut dengan keputusan Pak Seno.


 


"Mbak Witri, apaan sih. Kan kita masih bisa ketemu saat pergantian shift, Mbak," jawab Aisyah, ia tersenyum melihat tingkah Witri.


 


"Oke semuanya, berarti sudah setuju, kan? Semoga dengan kebijakan baru ini perusahaan kita semakin jaya dan maju pesat," tutur Seno.


 


"Aamiin," jawab mereka serentak.


 


"Ya sudah, silakan lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing. Mumpung masih jam segini. Mulai besok kita kerja shift, ya," tutur Seno lagi, ia pun segera meneruskan beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda saat rapat tadi.


 


"Siap, Pak." Mereka kembali menjawab serempak.


 


Aisyah kembali dilanda kegalauan, pikirannya mulai memikirkan keputusan dari Pak Seno tadi. Meskipun bibirnya menyatakan setuju, tetapi di hatinya tersimpan banyak kegalauan.


 


"Kalau Aish masuk shift sore itu artinya pulangnya malam, kan? Terus kalau nunggu angkotnya lama, gimana, ya? Udahlah, jalani aja dulu. Kalau dipikir dari sekarang, nanti bikin nggak semangat. Nanti biar  Aish, bicara sama mas Bayu aja." monolog Aisyah dalam hati.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2