
...Selamat membaca...
...************...
Pertanyaan dari pemilik rumah kontrakan sontak membuat Tian terkejut. Dengan malu-malu Tian pun menjawab.
“Hah, tidak perlu, Pak. Saya tidak apa-apa, kok. Saya hanya sedang berandai, bagaimana jika nanti saya tinggal di rumah ini bersama keluarga kecil saya,” jawab Tian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Oalah, Mas. Bapak kira Mas Tian sedang sakit kepala sampai mukul-mukul kepala Mas Tian seperti itu. Kalau begitu, bapak doakan semoga mas Tian cocok dengan rumah ini dan dapat dengan segera memboyong keluarga kecil mas Tian kemari,” ucap pemilik rumah kontrakan dengan harapan Tian juga bersedia meminang rumahnya.
Mendengar doa dari sang pemilik rumah membuat Septian menerawang jauh ke depan. Ia berharap doa yang ia dan pemilik rumah panjatkan dapat dengan cepat diijabah oleh Allah. Walaupun itu semua hanya harapan semu yang tidak mungkin dapat terjadi.
...*************...
Satu bulan telah berlalu, dan hari ini pun masih sama seperti hari kemarin. Tian masih selalu memberi perhatian kepada Aisyah. Perhatian-perhatian kecil yang justru membuat Aisyah jengah. Setiap hari Tian selalu menaruh bungkusan berisikan sarapan, dan pada siang harinya Tian juga selalu mengikuti kemana pun Aisyah pergi untuk mencari makan siang.
Bahkan saat Aisyah memilih makan siang di kantor pun Tian juga memilih untuk makan siang di kantor dengan cara delivery order. Begitu juga di siang menjelang sore hari, Tian juga selalu memberikan perhatian kecil dengan cara menaruh makanan ringan seperti biskuit, roti dan salad buah di kubikel Aisyah. Tian berharap agar wanita yang ia cintai tidak kelaparan karena wanita yang sedang memberikan ASI eksklusif cenderung sering merasakan lapar.
“Pak Tian,” panggil Aisyah dengan dingin.
“Iya Aish, ada apa?” Tian merasa senang karena akhirnya usahanya berhasil. Kini Aisyah mau memanggil namanya lagi. Karena sejak ia mengungkapkan isi hatinya pada Aisyah, Aisyah mulai menjauhi dirinya.
“Maaf, Pak. Bisakah Bapak hentikan semua perbuatan konyol Bapak, ini! Harus berapa kali Aish bilang, kalau Bapak tidak perlu melakukan ini semua. Bersikaplah seperti dulu, Pak. Seperti layaknya atasan dan bawahan. Bapak sebagai atasan saya dan saya sebagai bawahan Bapak,” tegas Aisyah yang seketika membuat Tian terpaku, pasalnya baru kali ini Aisyah berbicara dengan cukup tegas padanya.
“Aisyah, saya hanya ingin kita seperti dulu lagi,” ucap Tian dengan lembut.
“Seperti dulu yang bagaimana maksud Bapak. Sikap Bapak yang seperti ini justru malah membuat saya ilfil sama Bapak. Jadi saya mohon mulai dari sekarang berhenti mendekati saya, serta berhenti memberikan makanan untuk saya,” ucap Aisyah kemudian pergi menjauh tanpa menunggu jawaban dari Tian.
Setelah selesai meluapkan kekesalannya pada Tian, Aisyah gegas pergi menuju ruang rapat. Karena hari ini adalah akhir bulan, Arseno meminta seluruh staf yang berada di divisi produksi untuk melakukan rapat bulanan. Sehingga Witri serta beberapa staf lain yang berada di shift kedua pada hari ini diminta untuk datang lebih awal.
Saat berada di ruang rapat, Tian dan Aisyah menjadi pusat perhatian, pasalnya sedari awal berjalannya rapat, Aisyah tampak tidak fokus. Sering kali ia salah dalam menjawab pertanyaan dari Arseno. Begitu juga dengan Tian, selaku kepala bagian di tim Aisyah, ia melakukan presentasi yang tidak sesuai dengan laporan yang ada. Hal itu membuat Arseno geram. Sehingga setelah rapat berakhir Arseno pun memanggil mereka berdua.
“Septian. Aisyah. Ada apa dengan kalian berdua? Tidak biasanya kalian seperti ini. Aisyah, kamu di sini merupakan salah satu karyawan kebanggaan saya. Bahkan kamu tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun sebelumnya, tapi kenapa hari ini kamu jadi seperti ini. Melamun di saat rapat berlangsung. Dan kamu Septian, seharusnya sebelum kamu masuk ke dalam ruang rapat. Kamu baca dulu seluruh proposal yang akan kamu presentasikan. Karena satu kesalahan saja dapat menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan kita.” Arseno nampak kecewa dengan kinerja dua staf kebanggaannya hari ini. Karena tidak biasanya Aisyah dan Tian melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam bekerja.
“Maaf, Pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Aisyah lirih dengan wajah yang menunduk malu.
“Maaf.” Hanya itu yang diucapkan Septian pada Arseno.
Setelah mengucapkan kata ‘maaf’ pada Arseno, akhirnya Aisyah dan Tian pamit undur diri. Mereka pun pergi meninggalkan ruang kerja milik Arseno.
Di luar ruangan Arseno, Witri sudah menunggu Aisyah sedari tadi. Ia khawatir pada sahabatnya itu. Witri juga ingin bertanya pada Aisyah tentang alasan mengapa Aisyah bisa melakukan kecerobohan seperti tadi. Melamun dan tidak fokus pada jam rapat bulanan. Karena tidak pernah sekali pun Aisyah melakukan kesalahan seperti itu.
__ADS_1
“Apakah hubungan Aisyah dengan suaminya yang membuat Aisyah menjadi seperti ini.” Witri mulai menduga-duga.
Namun, pikiran itu terhenti ketika Aisyah muncul dari balik pintu ruang kerja milik Arseno. Melihat Aisyah berjalan dengan lunglai membuat Witri segera menghampirinya.
“Aish, kamu nggak gak papa kan?” tanya Witri dengan wajah khawatir.
“Aish, nggak papa mbak. Di dalam, Aish cuman diberikan teguran, dan itu memang pantas Aish dapatkan,” terang Aisyah.
“Ya, sudah kalau gitu. Sekarang kamu harus tenang dulu, biar ASI kamu enggak mampet. Biar kamu merasa tenang dan enggak stres, aku akan mentraktirmu coklat panas yang ada di kafetaria.” Tawar Witri dengan tulus.
Melihat wajah kusut Tian yang juga baru keluar dari ruang yang sama dengan Aisyah, sontak membuat Witri menawarkan hal yang sama pada atasannya itu.
“Tian, kamu mau ikut sekalian, nggak?” tanya Witri pada Tian.
Mendengar tawaran yang Witri berikan pada Tian, sontak membuat Aisyah menatap Witri dan menggelengkan kepalanya, seolah ia tidak mau Tian ikut. Namun, hal itu malah membuat Witri bingung. Tian yang melihat hal itu pada akhirnya menolak tawaran Witri dengan halus.
“Terima kasih atas tawarannya, tapi masih ada pekerjaan yang harus aku perbaiki, Wit,” tolak Tian dengan halus. Walau sesungguhnya di lubuk hati yang paling dalam, pria itu ingin sekali ikut dan berada di sisi Aisyah.
Setelah berada di kafetaria dan memesankan dua gelas coklat panas untuk dirinya dan Aisyah, akhirnya Witri tidak sabar untuk bertanya. Hal apa yang membuat Aisyah sampai menjadi seperti ini.
“Aish, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu seperti ini karena masalah pribadi? Apa hubungan kamu dan suamimu sedang tidak baik-baik saja?” Witri memberondong Aisyah dengan berbagai macam pertanyaan.
“Ini bukan tentang masalah Aish dan mas Bayu, Mbak. Tapi tentang pak Tian,” jawab Aisyah lirih.
“Maksud kamu apa Aish?” tanya Witri dengan ekspresi bingung.
Akhirnya Aisyah menceritakan semua yang ia alami beberapa bulan ini, semua kebaikan Tian yang ternyata ada maksud tertentu di dalamnya. Hal itu sontak membuat Witri terkejut dan tidak habis pikir. Witri tidak menyangka jika bosnya yang sudah memiliki istri, mencintai bawahannya yang notabene adalah istri orang.
...***********...
Hari mulai sore, Aisyah pun sudah berada di rumah bersama Zahra, putri kecilnya yang selalu menjadi pengobat di saat rasa lelah menerpa tubuhnya. Ya, hari ini sama seperti hari kemarin, Aisyah memilih pulang menggunakan ojek online. Ia selalu teringat kalimat Bayu beberapa waktu yang lalu.
“Dek, kalau kamu dapat shift pagi dan pulang sore sebaiknya kamu naik ojek online saja. Tidak usah memintaku untuk menjemputmu karena hari masih terang. Pasti tidak akan terjadi apa-apa padamu. Lagi pula menjemputmu di sore hari itu juga sangat merepotkan. Pasti jalanan sangat macet. Jam segitu pekerja pabrik baru keluar semua dari kantor.”
Aisyah mengingat dengan jelas semua perkataan Bayu tersebut, maka dari itu Aisyah lebih memilih menggunakan ojek online dari pada harus minta di jemput oleh Bayu.
Di saat sedang menggendong Zahra, Aisyah tampak terdiam dan berpikir.
__ADS_1
“Apa aku resign saja, ya, dari pekerjaan ini. Toh, sekarang mas Bayu juga sudah bekerja,” batin Aisyah gamang.
Aisyah masih merasa tidak nyaman karena kejadian di tempat ia bekerja hari ini. Sebenarnya bukan tidak enak karena teguran dari Arseno melainkan lebih karena sikap Tian padanya.
Hari ini Bayu pulang menjelang Maghrib karena harus ikut lembur. Bayu mulai semangat kejar target demi mendapatkan penghasilan tambahan. Setelah memarkirkan motornya, Bayu lekas beranjak masuk dan memberi salam.
“Assalamualaikum,” ucap Bayu. Namun, hanya Aisyah yang menjawab salam darinya.
“Waalaaikumusalam, Mas,” jawab Aisyah kemudian mencium punggung tangan Bayu dengan takzim.
“Loh, kok sepi, Dek. Yang lain pada kemana?” tanya Bayu.
“Zahra, lagi tidur di kamar, Mas. Ibu sedari sore setelah Aish pulang bekerja langsung pamit pergi ke rumah bude. Katanya, sih, ingin menengok keluarga bude yang sedang sakit. Kalau Bapak sepertinya lembur, Mas. Dan kalau Erina, Aish, nggak tahu. Sedari pulang kerja tadi, Aish sudah tidak melihatnya,” terang Aisyah.
“Oh, ya, sudah kalau begitu, Dek. Sekarang mas mau mandi dulu. Kamu siapkan makan malam untuk mas, ya. Mas sudah lapar sekali,” pinta Bayu pada istrinya karena sebenarnya ia memang sudah sangat lapar.
Saat setelah selesai menyiapkan menu terakhir di atas meja makan, saat itu pula Bayu keluar dari kamar mandi. Bayu mencium aroma sayur sop dan telur balado yang menggugah selera makannya. Tidak lupa terhidang pula kerupuk udang dan teh hangat sebagai pelengkap makan malamnya.
Betapa nikmat makan malamnya kali ini, mungkin karena perut Bayu yang terasa lapar, makanya apa pun yang ia makan terasa begitu nikmat.
“Dek, kamu nggak makan?” tanya Bayu.
“Enggak, Mas. Tadi sepulang dari kerja Aish sudah makan,” jawab Aisyah singkat. Bayu hanya menatapnya kemudian fokusnya kembali pada makanan yang berada di hadapannya.
“Mas, setelah ini, Aish mau bicara,” ucap Aisyah lirih.
“Kamu mau bicara apa, Dek?” tanya Bayu tanpa berpaling dari makanan yang ada di hadapannya.
“Mas, kalau misalnya Aish resign dari perusahaan tempat Aish bekerja gimana?” pertanyaan dari Aisyah sontak membuat Bayu mendongak.
“Kamu yakin mau resign, Dek? Kalau mas, sih, nggak masalah. Mas malah senang karena kamu akan selalu berada dekat dengan Zahra,” terang Bayu.
“Kamu tidak perlu pusing soal masalah keuangan keluarga kita. Sekarang gaji mas sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kita," lanjut Bayu lagi.
Mendengar Bayu menyetujui keputusan resignnya membuat hati Aisyah menjadi tenang. Ia berharap dengan cara ini Septian tidak akan lagi berusaha untuk mendekatinya.
...************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift 🙏
Readers tersayang, karena hari ini hari Senin, jangan lupa kasih Vote, ya buat Authornya. Biar Author makin semangat nulisnya 😘😘😘😘
__ADS_1