Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
12_Hadiah untuk Erina.


__ADS_3

...Selamat Membaca...


...**************...


Suara Aisyah yang sedikit sumbang pagi-pagi sudah memenuhi dapur. Sambil memasak, suaranya mengalun mengikuti lirik lagu yang tengah ia putar lewat aplikasi berwarna merah. Lagu milik ungu feat Rossa yang berjudul terlanjur cinta menjadi pilihannya. Entah karena sudah berbaikan dengan Bayu atau karena adegan ranjang semalam yang membuatnya semangat memulai hari di pagi ini.


“Mencoba bertahan di atas puing-puing cinta yang tla’h rapuh. Apa yang kugenggam, tak mudah untuk aku lepaskan. Aku terlanjur cinta kepadamu. Dan tla'h kuberikan s’luruh hatiku. Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan, kau pertanyakan cintaku?”


Semua lirik ia dendangkan penuh penghayatan, sampai lagu itu berakhir dan diputar ulang.


“Seneng banget, sih, Dek, sama lagu itu. Diputer terus dari tadi.”


Aisyah terlonjak, kaget akan suara Bayu yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dan tengah meminum segelas air putih.


“Eh, Mas. Tumben udah bangun?”


“Hem, iya. Mau mandi junub. Kan, semalam kita habis olah raga bikin dedek bayi.” Bayu menaik turunkan kedua alisnya menggoda sang istri.


“Mas, ih. Jangan dibahas. Aish malu.” Kedua pipi Aisyah sudah merona bak tomat yang sudah masak. Wajahnya tertunduk, tapi kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan indah.


“Kenapa mesti malu, sih, Dek? Semalam gak pakai baju juga nggak malu,” goda Bayu lagi. Ia senang mendapati pipi istrinya merona. Terlihat sangat menggemaskan menurutnya.


“Mas, udah, dong.”


“Nanti malam, lagi, ya?”


“Nggak mau, ntar shamponya cepet habis.”


“Beneran nggak mau? Padahal enak, kan?”


“Mas, ih .... Udah buruan mandi sana!” Aisyah mendorong tubuh Bayu agar segera masuk ke dalam kamar mandi.


“Jawab dulu. Enak, nggak?”


“Nggak mau jawab! Udah sana, mandi.”


Bukannya masuk ke dalam kamar mandi, Bayu justru mendekap Aisyah, membuat Aisyah mendelik. Bukannya marah, Bayu justru tergelak melihat ekspresi istrinya. Aisyah yang merasa ditertawakan oleh sang suami menjadi cemberut. Bibirnya mengerucut dengan pipi mengembung. Tanpa aba-aba, Bayu justru mengecup bibir Aisyah.


“Mas, Ih ...,” protes Aisyah setelah mendapat serangan tiba-tiba.


“Enak, kan?”


Entah apa yang terjadi dengan Bayu, hari ini ia senang sekali menggoda Aisyah. Setelah puas menggoda istrinya, ia bergegas masuk ke kamar mandi. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Ia harus segera mandi agar bisa melaksanakan kewajiban pada Tuhannya.

__ADS_1


...************...


Tiga hari ini, Bayu selalu pulang malam. Kondisi bengkel yang ramai membuat dia harus lembur.


“Mas mau makan dulu apa mandi dulu?”


“Mandi aja dulu biar seger.”


“Ini udah jam sembilan, mau pakai air hangat?”


“Nggak usah. Mas pakai air dingin aja.”


Bayu berlalu, sepuluh menit kemudian ia sudah terlihat segar. Di meja makan sudah terhidang sepiring nasi juga sayur lodeh terong. Tidak lupa ikan asin dan tempe goreng menjadi lauknya.


Aisyah menemani Bayu yang tengah makan, “Enak, Mas?”


“Enak.” Meski Bayu menjawab dengan singkat, Aisyah tersenyum puas mendapati suaminya makan dengan lahap.


Usai mencuci piring bekas makan Bayu, Aisyah segera masuk ke dalam kamar. Ia ingin membaringkan tubuhnya yang sudah terasa lelah. Saat masuk ke dalam kamar, netranya menangkap bungkusan plastik hitam yang teronggok di atas meja.


“Ini apa, Mas?” Aisyah membolak-balik kantong plastik itu. Ingin membukanya, tapi takut Bayu marah karena ia lancang.


“Oh, itu tas buat Erina.”


“Tas?” lirih Aisyah.


“Iya. Erina ingin sekali tas baru yang sama kayak punyamu. Tiap hari dia chat Mas. Jadi, daripada diteror terus, mas belikan dia tas. Oh, ya, ini hasil kerja mas tiga hari ini.” Bayu mengangsurkan uang 50 ribu pada Aisyah. “sebenarnya tiga hari kemarin mas dapat 250 ribu, yang 150 mas pakai untuk beli tasnya Erina, yang 50 mas simpan, dan ini 50 untuk kamu. Cukup, kan, untuk belanja tiga hari?”


Aisyah termangu, dipandangnya uang 50 ribu yang masih berada di tangan Bayu.


“Kenapa?” tanya Bayu.


“Be-beras kita juga udah habis, Mas. Minyak goreng juga tinggal sedikit,” cicit Aisyah. Ia tertunduk. Entah kenapa dadanya terasa semakin sesak.


“Ya sudah. Pakai uangmu dulu, kan, bisa?” Bayu meletakkan uang 50 ribu di atas meja karena Aisyah tidak segera menerimanya.


Merasa lelah, Bayu pun lekas membaringkan tubuhnya. Tidak lama kemudian dengkuran halus itu terdengar. Aisyah hanya menatap nanar suaminya yang sudah tertidur. Butiran bening yang sedari tadi ia tahan melesak begitu saja. Mengaliri pipinya yang putih.


“Haruskah? Haruskah seperti ini? Ya Tuhan, kenapa ada rasa tidak terima di dalam hatiku?” batin Aisyah.


Aisyah membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan. Bergegas ia ke luar dari kamar. Di ruang tamu ia menumpahkan tangisannya. Ia mencoba menenangkan diri.


“Sudahlah Aish, nggak pa-pa. Bayu cuma membelikan Erina sebuah tas. Pasti nanti kalau ada rezeki lebih, Bayu juga penuhi kebutuhan kamu.” Malaikat sebelah kanan Aish mencoba menenangkan hati Aisyah yang tengah bergejolak karena rasa kecewa.

__ADS_1


“Ck! Suami apaan kayak gitu. Masa nggak bisa ngerti mana yang urgent dan yang nggak urgent. Harusnya kebutuhan rumah tangga itu didahulukan, baru kalau ada uang lebih kasih ke adeknya. Itu baru namanya suami bertanggungjawab.” Kali ini setan yang di samping kiri Aisyah memprovokasi, membuat dada Aisyah kembang kempis menahan amarah.


“Udah nggak pa-pa, udah terlanjur juga. Kalau diungkit nanti malah berantem. Emang kamu mau berantem lagi sama Bayu?” Malaikat itu kembali menyurutkan emosi Aisyah.


Akan tetapi, si setan tetap saja tidak mau kalah. “Harus ditegur itu. Kalau nggak ditegur malah makin nglunjak.”


Aisyah menggelengkan kepalanya. Mengusir bisikan-bisikan yang ada dalam hati. “Astagfirullah,” lirih Aisyah.


...***********...


Pagi ini Aisyah terlihat murung. Ia galau. Sedangkan Bayu terlihat cuek, makan dengan anteng. Selesai sarapan, Aisyah mencoba memberanikan diri untuk bicara.


“Mas.”


“Hem?”


“Aish boleh ngomong?”


Bayu melirik Aisyah, “Ya, ngomong aja.”


Aisyah menghela napas panjang sebelum bicara. “Mas, kalau boleh jujur, Aish agak keberatan dengan tindakan Mas membelikan tas untuk Erina tanpa ngomong dulu sama Aish.”


“Maksud kamu apa? Itu uangku sendiri. Aku nggak minta sama kamu, ya!” Suara Bayu langsung meninggi mendengar perkataan Aisyah.


“Aish tahu. Tapi setidaknya Mas bisa ngerti, mana yang lebih penting dulu. Kebutuhan rumah tangga atau tas yang bisa dibeli kapan saja. Inget, Mas sudah punya istri yang juga harus dipenuhi kebutuhannya. Di sini Aish merasa nggak dihargai. Mas bisa bertindak sesuka hati tanpa memedulikan perasaan Aish.” Aisyah terpancing emosi. Dadanya sudah naik turun karena gemuruh emosi yang meledak.


“Selama ini apa Mas sudah mencukupi kebutuhan Aish? Apa Mas pernah membelikan sesuatu untuk Aish?” Melihat Bayu yang sudah melotot, nyali Aish menciut. “maaf. Aish bukannya menuntut yang macam-macam. Aish hanya minta Mas lebih menghargai perasaan Aish.”


“Ck! Ternyata kamu sama saja dengan wanita lainnya. Katanya kamu bisa diajak hidup susah, nyatanya baru segini aja kamu udah protes. Ini masalah kecil Aish. Ini hanya masalah sepele. Kamu keterlaluan hanya karena sebuah tas kamu iri dengan Erina. Childish!”


Bayu berlalu dengan amarah yang membakar hati. Tanpa pamit, ia meninggalkan Aisyah. Sedangkan Aisyah yang mendengar penuturan Bayu semakin deras mengalirkan butiran bening dari pelupuk mata.


“Tuhan, apa iya aku yang keterlaluan? Apa iya, aku salah?” Aisyah semakin tergugu dalam tangisnya.


 


...**************...


...To be continued...


Jangan lupa kasih like, komentar dan gift, ya 🙏


 

__ADS_1


 


__ADS_2