
...Selamat membaca...
...*************...
Ketika Aisyah pulang ke rumah, ia sudah disambut oleh wajah suaminya yang sudah siap pergi bekerja.
Bayu yang melihat Aisyah langsung menghampirinya. "Dek, kamu habis dari mana? Kok dari luar?" Bayu mencium Zahra kemudian menggendongnya.
"Tadi Ais ngajak Zahra jalan-jalan, Mas. Udara pagi kan masih bagus untuk kesehatan. Tadi juga sekalian jemur Zahra. Kata orang dulu, terik matahari saat pagi bagus untuk bayi." Senyum Aisyah terkembang melihat Zahra yang masih tertidur nyenyak dalam gendongan suaminya.
"Tapi jam segini sudah banyak kendaraan yang lewat. Apa itu masih bagus untuk kesehatan bayi?" tanya Bayu lagi.
"Belum terlalu ramai, Mas. Lagi pula di sini masih asri, kok."
Herman yang baru selesai sarapan dan ingin keluar rumah mendengar percakapan Bayu dan Aisyah. Ia pun ikut menimpali ucapan Bayu dan kembali menyudutkan Aisyah.
"Tadi sudah bapak bilang, Yu. Istrimu saja yang nggak mau dengerin omongan bapak sama Erina. Nanti kalau ada apa-apa, baru bingung. Cari obat sana sini, keluarin uang lagi. Sedangkan uang kalian itu masih pas-pasan."
Tidak ada hal lain lagi yang Aisyah lakukan selain bersabar. Ia tidak ingin mengalami baby blues yang nanti akan berpengaruh pada psikologis Zahra. Ia harus tenang agar Zahra juga merasa tenang.
Ikatan ibu dengan bayi sangat kuat. Aisyah takut apa yang ia rasakan berdampak buruk pada Zahra. Lebih baik ia diam dan bersabar.
"Mas, lebih baik Mas Bayu segera berangkat kerja. Takutnya nanti terlambat. Mas bayu sudah sarapan, kan? Oh ya, nanti pulang mau dimasakin apa?" tanya Aisyah mengalihkan pembicaraan Herman.
"Mas sudah sarapan, Dek. Untuk nanti, terserah mau dimasakin apa, Mas pasti makan."
"Ya udah, sini! Zahra biar Aisyah yang gendong." Aisyah mengambil Zahra dari tangan Bayu. Ia juga menyempatkan untuk memperbaiki baju suaminya yang sedikit berantakan setelah menggendong Zahra.
"Aku berangkat dulu ya, Dek. Assalamualaikum." Bayu berpamitan dengan Aisyah. Membawa tangannya untuk dicium oleh istrinya. Tak lupa ia juga mencium kening Aisyah dan Zahra.
"Waalaikumusallam, Mas. Hati-hati. Nanti pulang kabari, ya," pinta Aisyah dan Bayu pun tersenyum.
__ADS_1
Sebenarnya kepergian Bayu membuat Aisyah sedikit khawatir juga lega. Leganya, Bayu tidak perlu mengetahui permasalahan antara dirinya dan Herman pagi tadi. Namun, ia juga khawatir ayah mertuanya itu tidak berhenti memojokkannya sampai di sini.
Pasti seharian ini ia akan disuguhi masalah-masalah yang akan membuatnya tidak tenang. Itulah yang diyakini Aisyah, melihat seperti apa watak mertuanya, juga adik iparnya.
Aisyah akhirnya memilih untuk menidurkan Zahra di kamarnya, meninggalkan Herman yang masih duduk di ruang tamu dengan menyesap kopinya.
...**************...
Benar dugaan Aisyah. Seharian ini, saat Aisyah mengurus Zahra, omongan pedas dari Herman tidak pernah berhenti barang sejenak. Ada saja topik permasalahan yang dibuat oleh bapak mertua dan adik iparnya itu. Beruntung, ibu mertuanya sangat menyayanginya dan akan membela siapa yang benar. Ambar tidak pernah berhenti mengingatkan dirinya untuk banyak bersabar menghadapi Herman dan Erina.
Aisyah pun berniat mengutarakan hal itu pada Bayu setelah pulang kerja. Ia juga ingin mengajak suaminya itu kembali ke kontrakan. Walaupun kecil, yang penting tidak ada yang ikut campur dalam rumah tangga mereka.
Sekitar satu jam yang lalu, Aisyah mendapat kabar jika suaminya sudah pulang. Ia pun berusaha merias diri, agar terlihat cantik di depan suaminya.
Tepat saat Aisyah selesai merias, pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok Bayu dengan muka yang begitu lelah.
Aisyah pun menghampirinya dan mencium tangannya. Saat Bayu ingin mencium Zahra, Aisyah pun mencegahnya. "Mas sudah cuci kaki, tangan dan muka?" Bayu menggeleng pelan.
"Iya, Dek." Bayu lekas mengambil bajunya dan pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi, Bayu pun membawa Zahra untuk bertemu Aisyah di ruang makan, tepat saat Aisyah sudah selesai menyiapkan makanan untuknya. "Dek, ini tadi Zahra bangun."
"Iya, Mas. Mungkin dia tahu Ayahnya sudah pulang. Mas mau makan dulu atau main sama Zahra?"
"Makan dulu, Dek. Mas udah lapar. Ini semuanya nggak ikut makan? Kamu juga nggak makan, Dek? Ayo, makan bareng sama Mas," ajak Bayu sambil menyerahkan Aisyah.
"En—"
"Waah, Mas Bayu udah pulang?" teriak Erina memotong pembicaraan Aisyah. Ia pun segera duduk dan mengambil makanan.
Aisyah masih geram melihat Erina jika mengingat kejadian tadi pagi. Barang miliknya dipakai tanpa seizinnya terlebih dahulu, padahal mereka satu rumah. Aisyah pun memilih meninggalkan mereka. "Mas, Aisyah ke kamar dulu."
"Ke kamar aja terus. Anak dijadikan alasan buat nggak bantu-bantu rumah." Erina mengoceh bersamaan dengan kepergian Aisyah. Walaupun begitu, telinga Aisyah masih cukup sehat untuk bisa mendengar semua yang diucapkan oleh Erina. Aisyah tidak peduli dengan hal itu, dan memilih untuk tetap pergi ke kamar. Bersama Zahra akan membuatmya jauh lebih bahagia daripada harus memikirkan orang lain.
__ADS_1
Sedangkan Bayu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pasti sudah terjadi sesuatu di rumahnya. Namun, ia memilih diam, membiarkan Aisyah yang bercerita padanya.
Setelah Bayu menghabiskan makanannya, ia segera menyusul Aisyah. "Zahra sudah tidur?" tanya Bayu setelah menutup pintu kamar.
"Sudah, Mas. Mas, Ais mau bicara sama Mas Bayu."
"Aisyah pengen kita kembali ke kontrakan. Boleh, Mas?"
Bayu menghela napasnya. "Kenapa? Ada masalah?"
"Jujur, Ais sebenarnya beberapa kali agak tersinggung dengan perkataan bapak dan Erina."
Aisyah mulai menceritakan kejadian tadi pagi saat ia bersama Erina dan Herman, termasuk saat barangnya dipinjam tanpa sepengetahuan dirinya. Ia juga bercerita bahwa seharian ini Herman maupun Erina tidak berhenti memojokkan dirinya.
"Apa yang dikatakan bapak benar, Dek. Udara pagi nggak semua bagus untuk bayi. Kalau kita berada di daerah pegunungan mungkin udaranya masih bagus, sedangkan kita di lingkungan perkotaan. Saat pagi pun sudah banyak yang beraktifitas menggunakan kendaraan bermotor. Kamu sebagai ibu seharusnya lebih mengerti itu dari pada bapak. Mengapa justru kamu yang sepertinya tidak becus mengurus anak kita? Kalau seperti ini, justru aku semakin tidak yakin dengan pilihanmu yang ingin kembali ke kontrakan. Coba kamu pikir, kalau kita kembali ke kontrakan, siapa yang jaga Zahra?" terang Bayu.
"Aku bisa berhenti bekerja, Mas," sanggah Aisyah.
"Dek, kondisi keuangan kita sedang tidak baik-baik saja dan saat ini kita sedang memperbaikinya. Sudahlah, kamu tidak perlu mengambil hati atas ucapan mereka. Beres, kan? Soal baju, Erina itu kini sudah menjadi adikmu. Mengapa kamu jadi orang yang pelit sekarang?"
"Bukan maksud Ais pelit, Mas. Seandainya saja Erina meminta i—." Aisyah memcoba menjelaskan, tetapi langsung dipotong oleh ucapan Bayu.
"Sudah, aku mau keluar dulu. Pulang ke rumah semakin membuatku pusing. Jangan tunggu aku, tidurlah lebih dulu!"
Baru saja Bayu menunjukan kemajuan sikapnya beberapa hari terakhir. Namun, mengapa hari ini kembali seperti dulu? Aisyah kembali dibuat sedih dengan sikap suaminya.
Sesaat setelah Bayu keluar dari kamar, Aisyah kembali menangisi kondisinya. Ia berharap semoga hatinya diberi kekuatan saat mendengar ucapan Herman dan Erina.
...**************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1