
...Selamat membaca...
...*************...
"Beneran, Mas?" Aisyah menyakinkan pendengarannya atas persetujuan Bayu tentang keinginannya untuk resign. Bayu menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
Aisyah tersenyum lagi. Rasa bahagia tersirat dari sorot matanya yang berbinar cerah. "Terima kasih, Mas. Berarti kita bisa tinggal di rumah kontrakan lagi, kan? Kalau aku resign, Zahra tidak perlu dititipin sama ibu lagi."
Untuk pertanyaan itu, Bayu sejenak berpikir. Ia mengingat sang ibu yang begitu menyayangi cucunya. Mungkin saja Ambar tidak rela jika harus berpisah dengan Zahra secara tiba-tiba.
"Kalau itu nanti mas tanyakan ibu dulu, ya. Mas takut ibu kaget kalau kita tiba-tiba pindah dari sini. Lagipula butuh waktu untuk mencari kontrakan baru. Sepertinya kontrakan kita yang dulu sudah terisi sama orang baru," tutur Bayu setelah berpikir beberapa saat.
"Baiklah, Mas. Aish juga butuh waktu untuk mengajukan surat resign ke perusahaan."
Bayu tersenyum lalu melanjutkan lagi sesi makan yang sempat terjeda karena ucapan Aisyah.
...*****...
Waktu berjalan tanpa bisa dijeda. Sebulan sudah Aisyah melakoni peran sebagai ibu rumah tangga. Ia begitu bahagia, walaupun keputusannya untuk resign dari tempat kerja mendapatkan penolakan keras dari rekan-rekan kerja Aisyah. Terutama dari Septian yang merasa kecewa sekaligus merasa bersalah atas keputusan Aisyah.
Septian yakin jika alasan Aisyah mengundurkan diri adalah karena untuk menghindari dirinya.
"Aish, kamu tidak perlu mengundurkan diri jika ingin menghindar dari aku saja," tutur Septian kala itu.
Aisyah tidak bisa menjawab apa adanya. Mau berkata jujur, juga tidak tega. Jadi, terpaksa Aisyah berbohong saja. Aisyah memberikan alasan kepada Septian, jika Bayu-lah yang meminta dirinya untuk resign dari pekerjaan.
Hari itu Aisyah tengah mengajak Zahra bermain di depan kontrakan, bersama dua orang ibu muda penghuni kontrakan di kompleks tersebut. Mereka saling berbagi pengalaman tentang bagaimana cara mereka mengurus anak pertama sebagai seorang ibu baru.
Gelak tawa kerap terdengar dari kerumunan para ibu tersebut. Aisyah memang orang yang supel, ia mudah beradaptasi dengan orang lain jika orang tersebut juga welcome terhadapnya.
"Aku juga sama, Mbak. Pertama kali pegang bayi tanganku sedikit gemetaran gitu," cicit Aisyah saat tetangganya berkata hal yang sama. Tawa kecil kembali terlontar setelah ia berkata demikian.
Namun, bibirnya yang semula mengembang karena senyuman perlahan menciut dan terlihat datar, lantaran melihat seseorang yang datang dari arah gerbang kontrakan. Seseorang itu mengendarai motor, lalu berhenti tepat di depan kontrakan Aisyah. Perempuan itu pun sontak berdiri, lalu pamit kepada kedua tetangganya untuk undur diri.
"Mbak, aku pulang dulu, ya. Ada mertuaku datang," pamit Aisyah.
__ADS_1
"Oh, iya," balas Sari—salah satu dari tetangga Aisyah. Kedua ibu muda tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda hormat kepada tamunya Aisyah yang tidak lain adalah Herman—mertuanya.
"Bayu mana?" Tanpa mengucapkan salam, Herman langsung bertanya kepada Aisyah.
Aisyah terlebih dulu meraih tangan Herman untuk ia cium punggung tangannya, sebelum ia menjawab pertanyaan sang mertua, "Mas Bayu belum pulang, Pak."
"Jam berapa dia pulang?" tanya Herman dengan raut wajah datar.
"Mungkin sebentar lagi sampai, Pak. Sekarang sudah jam empat lewat lima belas menit. Mas Bayu keluar kerja jam empat," jawab Aisyah.
"Kalau gitu bapak tunggu suami kamu saja." Lelaki tua itu pun masuk ke dalam rumah kontrakan tanpa dipersilakan oleh si empunya.
Aisyah menarik napas panjang sebelum mengeluarkannya dengan perlahan. Sikap mertuanya itu memang selalu menyebalkan. Beruntung dia sudah berhasil keluar dari rumah sang mertua, sehingga dia tidak perlu menampung rasa sabar setiap harinya.
Beberapa saat menunggu, akhirnya Bayu pun pulang. Mendengar suara deru mesin motor yang terparkir di depan kontrakan membuat Aisyah segera berjalan keluar, untuk menyambut suaminya.
"Ada bapak?" Bayu bertanya lebih dulu, lantaran dia melihat motor orang tuanya tersebut di depan kontrakan. Aisyah hanya mengangguk mengiyakan, setelah mencium punggung tangan suaminya.
"Nggak tahu, katanya mau nunggu Mas pulang dulu," jawab Aisyah.
Bayu yang penasaran segera masuk ke kontrakan, lalu menemui Herman.
"Pak, udah lama?" Bayu mencium punggung tangan Herman.
"Dari sepuluh menit yang lalu," jawab Herman.
"Bapak ada perlu penting sama Bayu? Tumben langsung ke sini. Biasanya juga telepon," tanya Bayu. Kerut di keningnya menunjukkan rasa penasaran.
"Iya, bapak lagi bingung. Bapak sengaja keliling-keliling karena butuh udara segar, lalu kepikiran untuk menemui kamu. Bapak sedang kesal sama adik kamu, Bay. Bapak kecewa sama dia."
"Ada masalah apa, Pak? Kenapa dengan Erina?" Bayu mencecar Herman. Rasa penasarannya kian bertambah.
__ADS_1
"Adikmu ... adikmu hamil, Bay."
Tentu saja pernyataan tersebut membuat Bayu dan Aisyah sontak terperangah tidak percaya. Bagaimana bisa Erina hamil, sedangkan perempuan itu belum menikah.
"Dasar anak itu! Bisa-bisanya dia hamil sebelum menikah!" Bayu pun tersulut emosi, tetapi Aisyah langsung memberikan usapan lembut di bahu sang suami.
"Sabar, Mas! Lebih baik kita ke rumah bapak dulu. Kita temui Erina dan bertanya langsung padanya," kata Aisyah.
Bayu menghela napas kasar. Ia pun setuju dengan usulan Aisyah. Mereka pun bergegas menuju rumah Herman, setelah Bayu selesai membersihkan badan.
...*************...
Bayu dan Herman datang beriringan. Herman lebih dulu memarkirkan motornya di halaman rumah yang bercat warna hijau tua, diikuti oleh Bayu yang memarkirkan motornya tepat di sebelah motor sang bapak. Ia membonceng Aisyah yang menggendong Zahra.
Ketiganya berjalan beriringan memasuki rumah. Di dalam sana Ambar langsung menghambur memeluk Aisyah. Air matanya berderai tanpa bisa dicegah. Kedua mata Ambar terlihat sembab dan merah.
"Ibu yang sabar, ya!" Aisyah mencoba menenangkan Ambar, sembari memberikan usapan lembut di punggung mertuanya tersebut.
"Erina benar-benar bikin malu, Aish." Ambar meraung di balik punggung menantunya. Ia begitu terpukul atas kehamilan putri bungsunya.
"Di mana Erina sekarang, Bu?"
Pertanyaan Herman membuat Ambar melerai pelukannya dengan Aisyah.
"Dia di kamarnya," jawab Ambar lirih.
"Panggil dia ke sini!" titah Herman. Meskipun malas, Ambar tetap melakukan perintah suaminya.
Selang beberapa menit, Erina menemui keluarganya yang berkumpul di ruang tamu. Ia langsung bersimpuh dan menangis di hadapan Bayu, meminta ampun sekaligus perlindungan dari kakak kandungnya itu. Erina takut dengan kemarahan kedua orang tuanya. Hanya kakaknya yang dia punya sebagai pembela.
Benar saja. Respon Bayu tidak seperti saat ia berada di kontrakannya. Ketika pertama kali dia mendengar kabar kehamilan Erina, emosinya langsung membara. Namun, kini saat adik kesayangannya tersebut menangis di hadapannya, emosinya tersebut langsung menguap entah ke mana. Bayu hanya diam tak memberi tanggapan saat bapaknya bertanya tentang pendapatnya.
Aisyah yang melihat itu hanya bisa menghela napasnya sambil mengelus dada. Sikap Bayu yang terlalu memanjakan adiknya harus segera diubah.
...************...
__ADS_1
...To be continued ...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏