Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
34_Kembali Bekerja


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**************...


Kalau kamu tidak dapat membuatku tersenyum, paling tidak  jangan membuatku menangis.


Aku bukan bidadari dan kamu pun bukan malaikat.


Aku punya kekurangan,  begitupun kamu juga punya kekurangan.


Kalau aku salah rangkullah aku, jangan malah pergi menjauh.


Aku tulang rusukmu yang ada dekat di hatimu maka dari itu selalu dekatlah dan sayangi aku.


 


Di kamar yang bercahaya lampu tidur, Aisyah menumpahkan segala rasa sesak di dadanya. Inikah ujian cinta dan rumah tangganya, terkadang ia lebih baik berpura-pura bahagia dengan keadaan ini demi menutup rasa sakitnya. Lelaki yang diharapkan menjadi sandaran di kala ia bersedih ternyata tidak sesuai dengan harapannya. Haruskah ia menyerah kalah? Entah jam berapa matanya terlelap pulas di samping putri cantiknya Zahra.


 


Tidak terasa waktu cuti Aisyah tinggal beberapa hari lagi, setelah hampir kurang lebih tiga bulan ia cuti melahirkan.


 


Aisyah akan kembali bekerja dan menjalankan semua rutinitas seperti biasanya. Zahra sang putri gembulnya akan ia titipkan ke keluarga Bayu, mertuanya bersedia mengasuh cucu cantiknya itu, biar nggak kesepian kalau semuanya sedang beraktifitas di luar. Aisyah jadi lebih tenang saat bekerja.


...***********...


Pagi ini Aisyah telah siap bekerja dengan setelan kemeja dan celana panjang serta tas hadiah dari kawan sekantornya ia selempangkan ke pundak. Semua Mata yang melihat pasti setuju, begitu cantik istri Bayu Laksmana itu. Entah bagaimana ceritanya hingga pagi itu Erina datang dengan tatapan sinisnya.  Bibir judesnya pun kembali beraksi dengan pedasnya.


 


"Ayah dan bundanya  bekerja, lalu anaknya dititpkan ke orang tua. Nggak sopan banget, sih. Luar biasa, ya, emak-emak zaman sekarang," celetuk Erina dengan ketusnya. Aisyah hanya memandang wajah adik iparnya yang sungguh menyebalkan dengan tatapan datar. Aisyah tidak mau meladeni omongan Erina.


 


"Erina, kamu ngomong apaan, sih? Mulutmu itu, loh, yang nggak sopan sama yang lebih tua. Mbak Aish itu kakak iparmu, Nak. Nggak seharusnya kamu berkata seperti itu. Masalah Zahra memang ibu yang mau untuk mengasuhnya, ini cucu ibu, Nak." Ambar yang berdiri di dekat pintu untuk mengantar kepergian Aisyah merasa kesal atas ulah Erina.


 


"Sudah Aish, berangkat saja ya, Nak!" kata Ambar lembut, "jangan dipikirkan omongan Erina, ya! Kerja yang rajin, soal Zahra serahkan sama Ibu."


 


Aisyah hanya mengangguk saja tanda setuju, daripada semakin sakit hati mendengarkan omongan Erina yang tidak penting.


 


"Iya, Bu. Aish berangkat kerja dulu. Titip Zahra, ya, Bu." Aisyah mencium kening anaknya yang berada di gendongan Ambar. Kemudian, ibu muda itu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.


 


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan, ya!"


 


"Iya, Bu. Aish pamit."


 


Erina terus saja memandang Aisyah dengan tatapan tidak suka, entah kenapa dia begitu membenci Aisyah.


 


Berjalan keluar dari gang Melati, ternyata jalan sudah sangat ramai dan macet. Aisyah berburu angkot dengan para pekerja lainnya. Kurang lebih tiga puluh menit ia sampai di gerbang pabrik di mana ia mengais rezeki. Teman-teman kantor berebut memberi ucapan selamat.

__ADS_1


 


"Aisyah, apa kabarnya? Wah, sudah melahirkan ya. Laki-laki atau perempuan? Dia pasti secantik kamu kalau perempuan dan seganteng ayahnya kalau laki-laki."  Beberapa rekan dari bagian lain pun ikut memberi ucapan selamat kepada Aisyah.


 


"Lihat fotonya, dong, Aish. Aku penasaran, nih. Maaf, kemarin nggak bisa ikut nengokin debay-nya." Semua rekan kerja  Aisyah melontarkan pertanyaan seputar anaknya, dengan sabar ia menjawab satu per satu sambil membuka galeri ponselnya untuk menunjukan foto Zahra kepada mereka.


 


"Wah, lucu banget. Jadi gemes deh aku, cantik lagi," celetuk salah satu rekan kerjanya  dari bagian produksi yang kebetulan datang bersamaan dengan Aisyah.


 


"Sudah dulu, ya. Aku mau ke ruanganku dulu," pamit Aisyah dengan sopan. Mereka pun berpisah karena arah ruangan mereka yang berbeda.


 


Aisyah melangkah menyusuri lorong di mana ruangannya berada.  Dengan hati bahagia ia berhenti di pintu. Tatapan matanya menyapu seluruh isi ruangan itu. Bibirnya sedikit terangkat. Senyum manis menghiasi wajahnya yang ayu. Ya, Aisyah begitu merindukan ruangan ini.


 


"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya."


 


"Aisyah!" Witri segera membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara yang tidak asing baginya. "Ya ampun kamu dah masuk aja. Aku kangen sama kamu." Witri berlari mendekati Aisyah dan segera memberi pelukan hangat.


 


"Aku juga kangen, Mbak." Aisyah membalas pelukan Witri.


 


"Emang cuti kamu dah selesai? Nggak terasa, ya, dah tiga bulan aja," ucap Witri begitu melerai pelukannya. Mereka berjalan beriringan menuju meja kerja yang kebetulan memang bersebelahan.


 


 


"Hei! Memangnya selama ini tim kita nggak normal?" Witri melotot ke arah lelaki itu.


 


"Lah, aku nggak ngomong gitu, Mbak. Tapi kalau mbak Witri merasa nggak normal selama Aisyah cuti, ya, alhamdulilah. Artinya mbak Witri masih waras telah menyadari ketidaknormalannya."


 


"Dasar curut kamu!" Witri melempar kertas yang ia gulung ke arah lelaki itu. Sedangkan yang mendapat lemparan kertas justru semakin tertawa.


 


Hal itu membuat suasana dalam ruangan mereka begitu hangat. Keramain yang sudah tiga bulan tidak Aisyah temui dan selalu membuat Aisyah merindukan kehangatan dan kekompakan dari tim kerjanya.


 


"Selamat datang kembali, Aisyah. Kamu pasti merindukan suasana ini. Bagaimana kesan selama cuti?" tanya seorang wanita anggun yang tidak lain adalah sekertaris managernya.


 


"Iya Mbak, aku sangat merindukan teman-teman. Rasanya sudah bosan juga di rumah. Tapi tidak pernah bosan kalau bersama Zahra," jawab Aisyah penuh semangat.


 


"Ayuk, ah, kita cerita sambil duduk!" ajak Mbak Witri sambil menggandeng lengan Aisyah.

__ADS_1


 


"Iya, Mbak. Gimana Mbak Witri dan keluarga? Sehat semua kan?" tanya Aisyah ke sahabatnya itu.


 


"Alhamdulillah sehat, Aish. Tapi temen-temen bilang aku lebih kurusan. Tahu nggak, kamu yang bikin aku kurus."


 


Aisyah yang mendengar hal itu tentu merasa tidak enak. Ia takut jika masalah ekonomi keluarganya membuat Witri kerepotan.


 


"Maafkan Aish, Mbak. Aish selalu merepotkan mbak Witri," lirihnya begitu Aisyah mendaratkan tubuhnya di kursi yang sudah ia tinggalkan selama tiga bulan.


 


"Loh, kenapa minta maaf? Kamu enggak salah apa-apa, Aish. Aku kurusan karena nggak ada yang aku ajak makan siang bareng. Lihatlah, aku jadi lebih menarik kan?"  tawa renyah Mbak Witri seketika menguar sambil memutar tubuhnya agar di lihat oleh Aisyah kalau dia benar-benar kurus


 


Aisyah hanya tertawa tanpa suara, dia bingung bagian mana yang disebut kurus oleh Mbak Witri.


 


Tanpa Aisyah sadari, ada sosok baru di ruangan itu yang sedari tadi hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Laki-laki berwajah tampan itu begitu terpesona pada Aisyah. Wajah cantik keibuan dan tatapan teduh itu membuat Septian tidak ingin melepaskan pandangannya barang sedetik.  Pesona ibu muda beranak satu itu, telah membius indra pengelihatannya.


 


"Aish, aku sampai lupa. Nih, kenalkan Bapak Septian Pamungkas yang menggantikan Pak Dadan Hamdani."


 


"Septian Pamungkas,"  laki-laki itu mengulurkan tangan ke arah Aisyah.


 


"Aisyah Khumairah." Aisyah menyambut  ramah tangan lelaki itu yang tidak lain adalah staff baru di divisinya.


 


"Nama yang cantik sesuai dengan wajahnya," ucap Septian dalam hatinya. Ia begitu mengagumi Aisyah.


 


Septian  mudah  berbaur dengan rekan kerja lainnya termasuk Aisyah. Sikapnya yang ramah dan perhatian membuat orang-orang di ruangan itu menyukainya.


 


Setelah berbincang santai dengan rekan kerja barunya, Aisyah  melanjutkan semua pekerjaan yang menumpuk walau sudah di bantu oleh staf yang lainnya. Namun Pak Arseno  ingin Aisyah yang mengerjakannya. Hari semakin siang dan jam istirahat pun tiba, mereka hendak makan siang bersama, Septian, Aisyah dan Witri. Di kantin kantor sekarang mereka berada.


...***************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2