
Bayu dan Aisyah begitu bahagia. Meskipun baru dilihat dari hasil tes pack, entah mengapa Bayu sangat yakin kalau Aisyah memang hamil. Saking bahagianya sudut mata Bayu mulai berair, tetapi segera ia usap agar tak sampai jatuh. Bayu melerai pelukannya dari Aisyah.
"Dek, besok kita periksa ke bidan, ya! Biar tahu sudah berapa minggu, dedek bayinya di sini." ucap Bayu sambil mengusap-usap perut Aisyah yang masih terlihat rata.
"Duduk dulu, Dek. Kamu pasti lemas, kan?" Bayu menuntun Aisyah untuk duduk di kursi yang terletak di dekat ruang TV mereka.
"Mas buatkan teh hangat ya, Dek. Biar kamu agak segeran. Tadi, kan, semua makanannya kamu muntahin, pasti perut kamu nggak enak banget rasanya. Tunggu sebentar di sini, ya! Mas rebus air dulu." Bayu mengusap pucuk kepala Aisyah, sebelum ia berlalu ke dapur.
"Makasih, ya, Mas," jawab Aisyah sambil tersenyum. Tak dipungkiri Aisyah begitu senang dengan perlakuan Bayu padanya kali ini. Hanya dengan sedikit perhatian saja, nyatanya sudah mampu membuat hati Aisyah luluh dan berbunga-bunga.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Semoga dengan kehamilan Aisyah, sikap Mas Bayu bisa berubah. Semoga Mas Bayu bisa mulai perhatian sama Aisyah dan calon anak kami, Aamiin," lirih Aisyah, saat Bayu sudah beranjak ke dapur.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, akhirnya segelas teh hangat yang dijanjikan Bayu tiba. "Ini tehnya Dek, cepetan diminum ya! Biar perut kamu lebih enakan dan hangat," ucap Bayu sambil mengusap bahu Aisyah. Kemudian Bayu pun ikut duduk di samping Aisyah.
Mata Aisyah mulai berkaca-kaca. Kali ini bukan karena ia bersedih. Melainkan karena ia begitu terharu dengan sikap dan perhatian yang diberikan Bayu. Selama beberapa bulan pernikahan mereka, baru sekarang Bayu mau membuatkan teh untuk Aisyah bahkan tanpa Aisyah yang meminta.
"Mas Bayu, seandainya kamu tahu, hanya dengan seperti ini saja, aku sudah sangat bahagia. Aku merasa menjadi yang kamu prioritaskan, Mas," batin Aisyah. Ia menyesap sedikit demi sedikit teh yang dibuatkan suaminya.
Malam ini rumah tangga Aisyah dan Bayu terlihat layaknya suami istri pada umumnya. Sebelum tidur, keduanya sepakat akan periksa ke bidan besok. Mumpung belum akhir bulan, jadi Aisyah bisa pulang cepat tanpa harus lembur. Bayu juga berjanji akan minta ijin untuk pulang lebih cepat besok, supaya bisa mengantar Aisyah periksa ke bidan.
Sekitar pukul 21.00 WIB Aisyah sudah terlelap. Sebenarnya sejak tadi Bayu juga berusaha memejamkan mata, tetapi ia tak kunjung terlelap juga. Entah mengapa hanya melihat istrinya tertidur pulas, membuat jiwa lelaki Bayu sedikit bergejolak. Mungkin karena beberapa malam terakhir ini mereka sering bertengkar, hingga Bayu tak sempat melihat wajah cantik istrinya saat tidur.
Bayu semakin gelisah, ingin ia membangunkan Aisyah. Namun ia tak tega, apalagi jika benar Aisyah hamil. Bayu jadi teringat obrolan teman-temannya saat nongkrong kemarin.
"Jika istri sedang hamil muda, suami harus bisa menahan diri dulu untuk tidak mengganggu istrinya. Kang Asep bilang gitu kan kemarin," batin Bayu, ia pun akhirnya mencoba memejamkan mata kembali. Setelah beberapa saat mencari posisi ternyaman, Bayu pun terlelap disamping Aisyah.
...*************...
Waktu masih menunjukkan pukul 04.10 WIB, tetapi suara Aisyah yang sepertinya kembali muntah di kamar mandi membuat tidur Bayu terganggu. Bayu mengerjap, dengan malas ia pun membuka matanya.
__ADS_1
Sebenarnya ia masih malas untuk bangun, tetapi rasa khawatir pada Aisyah membuatnya segera beranjak dari tidurnya.
"Dek, kamu muntah lagi?" Bayu mengetuk pintu kamar mandi sambil memastikan kondisi Aisyah.
"Gimana, udah mendingan belum? Apa kamu ijin aja hari ini, bilang aja lagi sakit, Dek," ucap Bayu lagi.
"Enggak usah, Mas. Aish nggak apa-apa. Bentar lagi juga mendingan," jawab Aisyah dari dalam kamar mandi.
"Ya sudah kalo gitu, Mas tidur lagi. Masih ngantuk, gara-gara suaramu tidur Mas jadi keganggu, kan, Dek," gerutu Bayu. Ia kemudian kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Tak berselang lama, Bayu pun kembali terlelap.
Untung saja saat Bayu menggerutu, Aisyah kembali menyalakan kran air di dalam kamar mandi. Sehingga Aisyah tidak mendengar ocehan Bayu yang menyalahkannya. Jika Aisyah sampai mendengarnya sepertinya perang dunia rumah tangga akan dimulai lagi.
Setelah melaksanakan salat subuh, Aisyah segera berkutat di dapur. Sebelum itu ia memasang alarm di ponsel Bayu, agar saat ia memasak di dapur nanti ia tak perlu membangunkan Bayu. Cukup dengan suara alarm di ponsel, Bayu pasti akan segera bangun.
Setelah selesai sarapan pagi, keduanya segera bersiap untuk berangkat bekerja. Seperti biasa Aisyah berangkat sendiri menuju ke halte dan Bayu melajukan motornya ke bengkel.
Namun kali ini Aisyah tidak kecewa, karena tadi Bayu bilang mau merayu bosnya supaya nanti diperbolehkan untuk pulang cepat, makanya Bayu ingin berangkat lebih pagi dari biasanya ke bengkel.
***
"Alhamdulillah... Selamat ya, Pak, istri Bapak positif hamil dan sekarang kandungannya sudah berusia enam minggu. Semuanya normal, kondisi ibu dan janinnya alhamdulilah sehat. Kalau untuk mual-mual dan muntahnya jangan khawatir, itu wajar dan biasa terjadi pada ibu hamil di usia kehamilan trimester pertama. Nanti kalau sudah trimester kedua biasanya akan berkurang. Ibu Aisyah, ini sudah saya beri beberapa suplemen, anti mual, juga vitamin ya, Bu, silakan diminum sesuai petunjuknya, ya! Jangan lupa tetep jaga pola makan sehat ya, Bu. Supaya nutrisi ibu dan janin terpenuhi," tutur bidan Siti sambil memberikan sebuah kantong plastik berisi beberapa suplemen dan vitamin kepada Aisyah. Kebetulan bidan Siti adalah bidan yang tinggal tidak jauh dari kontrakan Aisyah.
Aisyah sengaja mengajak Bayu periksa ke bidan Siti, karena dekat dengan kontrakannya. Sehingga jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuan bidan bisa dengan mudah menemuinya.
Aisyah dan Bayu pulang ke kontrakan dengan hati yang bahagia, sesampainya di kontrakan Aisyah tak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada Diana. Begitu pula dengan Bayu, ia juga tak sabar ingin segera mengabarkan kehamilan Aisyah kepada keluarganya.
"Dek, kita kerumah ibu, yuk! Besok kamu libur kan? Nggak enak kalau harus ngasih kabar bahagia ini lewat telepon. Lebih pas kalo kita ngasih tahu mereka langsung, Dek. Pasti kesannya beda. Mereka pasti bahagia banget sebentar lagi akan punya cucu," bujuk Bayu pada Aisyah saat mereka duduk di ruang TV.
__ADS_1
"Aish, capek Mas. Lagian di telepon juga bisa, kan. Nggak ada bedanya, Mas. Sama saja. Sama-sama ngasih kabar kalau Aish hamil ‘kan?" jawab Aisyah. Aisyah jadi badmood saat Bayu mengajaknya untuk ke rumah ibu. Jujur Aisyah masih malas jika mengingat sikap Erina, apalagi mengingat Bayu yang sudah membelikan tas baru untuk Erina. Aisyah masih sedikit kesal.
"Kamu kok gitu, sih, Dek. Kan sekalian kita berkunjung ke rumah orang tua. Kok kayaknya malas gitu," ucap Bayu lagi.
"Lain kali ya, Mas, Aisyah beneran capek." Aisyah masih kekeh dengan pendiriannya.
Bayu tak menanggapi, sepertinya ia kecewa karena Aisyah menolak ajakannya. Ia pun berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar. Bayu menelepon ibunya untuk menyampaikan kabar kehamilan Aisyah. Benar saja, ibunya begitu bahagia mendengar kabar itu, Bayu juga meminta maaf belum bisa berkunjung dan berjanji jika akan pulang dalam waktu dekat. Setelah berbincang beberapa saat, Bayu mengakhiri panggilan teleponnya.
Sementara di ruang TV, terlihat Aisyah begitu semangat menyampaikan kabar kehamilannya kepada Diana.
"Alhamdulillah... Akhirnya sebentar lagi aku bakal jadi aunty," ucap Diana yang begitu antusias di seberang sana.
"Janji ya, Na. Nanti pas Mbak lahiran kamu pulang. Mbak pengen ditungguin sama kamu nanti," Aisyah terkekeh sendiri mendengar ucapannya. Itu hanya alasan agar Diana cepat pulang. Pasalnya Adiknya itu selalu sibuk bekerja, hingga belum mau untuk memikirkan masalah jodoh sampai sekarang.
...**************...
...to be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1