Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
7_Rengekan Erina


__ADS_3

...****************...


Ambar memandang Aisyah dengan wajah senang, sebab menantunya itu bersedia menginap di rumahnya. Suasana jadi tambah ramai. Aisyah anak yang santun, sopan, rajin, dan juga pekerja keras. Waktu diperkenalkan oleh Bayu saat itu, Ambar sudah jatuh hati dengan Aisyah, terutama dengan sikap dan sifatnya. Suasana di rumah Bayu terkadang sepi karena hanya mereka saja bertiga.


Herman hanya diam saja, itu lebih baik bagi Aisyah. Ayah dari suaminya itu suka ceplas-ceplos, kalau bicara sesuka hati. Tidak dipikirkan lawan bicaranya sakit hati atau tidak. Setelah semuanya selesai berbincang mereka pun memasuki kamar masing-masing.


Aisyah melangkah dengan gontai ke kamar Bayu. Kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Erina –sang adik ipar. Ia merebahkan tubuh lelahnya itu. Sedari pagi tadi ada saja yang ia kerjakan, entah membantu mertua atau bebenah rumah yang sedikit berantakan.


“Akhirnya ketemu ranjang juga.” Ia bernapas lega.


Lelah terasa di pinggang dan punggungnya. Aisyah berniat memejamkan mata karena ngantuk sudah menyerang, tetapi suara pintu kamar yang berderit memaksa Aisyah untuk membuka mata kembali. Dilihatnya Bayu masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di samping Aisyah. Bayu hanya diam saja tanpa memulai pembicaraan seperti biasa, dan Aisyah sudah sangat paham akan hal itu, ia pun tertidur pulas malam ini.


...***...


Matahari pagi memancarkan cahaya hangatnya, warna yang kontras dengan langit biru. Aisyah sudah terbangun dari subuh tadi, ia langsung ke dapur hendak membuat sarapan pagi untuk semuanya. Namun, ibu mertuanya sudah berada di sana dengan gesitnya membuat nasi uduk dan kelengkapannya.


“Ibu masak nasi uduk?” Aisyah menghampiri Ambar dengan senyum yang menghiasi wajah manisnya.


“Iya. Bayu suka sekali dengan nasi uduk.”


“Aish bantu apa, Bu?”


Ambar tersenyum, “Ini sudah hampir selesai semuanya. Bantu ibu pindahkan ke meja makan aja, ya?”


Aisyah mengangguk setuju. Setelah semuanya selesai dan ditata di meja makan, satu persatu anggota keluarga hadir di meja makan. Bayu langsung tersenyum bahagia sebab menu favoritnya ada di meja tersebut.


"Wah, Ibu masih ingat menu kesukaannya si Bayu?” Herman memulai pembicaraan di pagi ini.

__ADS_1


"Iyalah, Pak. Pasti ibu ingat, dong. Masa, sih, nggak ingat apa yang anak kita sukai. Ya, nggak, Aish?” Ambar menatap menantunya dengan lembut.


"Iya, Bu.” Aisyah menjawab dengan segan.


"Kalau Aish bisa, nggak, buat nasi uduk kayak gini?" tanya Herman.


"InsyaAllah bisa, Pak,” jawab Aisyah pelan.


“Jadi istri, tuh, harus bisa semuanya. Masak, cuci baju, sampai hal-hal kecil pun harus mandiri. tidak boleh mengandalkan laki-laki.”


Barisan kalimat yang Herman ucapkan sedikit menyentil hati Aisyah. Bayu yang ada di sana pun hanya diam saja mendengar istrinya dicerca oleh sang ayah. Belum sempat Aisyah menjawab apa yang diutarakan sang ayah mertua, Ambar sudah menginterupsi.


"Ayo, sudah kita sarapan dulu. Nggak usah membahas yang lain. Kita nikmati saja apa yang sudah ada di meja makan ini, jangan berbicara di depan rezeki yang Allah berikan buat kita hari ini.”


Ambar memicing menatap ke arah Herman. Laki-laki berkaos hitam itu hanya diam saja tidak lagi menjawab. Mereka sarapan dengan lahap dan tanpa tersisa. Semua orang merasa cocok dengan apa yang Ambar masak pagi ini.


"Jangan lupa cuci piringnya! Jangan numpang makan aja," sarkas Herman sebelum menuju ruang tamu. Ambar dan Bayu sudah berlalu lima menit yang lalu, meninggalkan Herman, Aisyah, dan Erina.


Erina hanya memandang tidak suka ke arah kakak iparnya itu. Melihat Aisyah berkutat dengan piring kotor, ia tidak berniat sama sekali untuk membantu. Erina meninggalkan dapur menuju ruang tengah. Ia berjalan ke arah TV, sebab melihat Bayu sedang berada di sana.


"Mas Bayu.” Erina mendekati Bayu. Laki-laki itu menoleh ke arah suara dan ternyata Erina yang memanggilnya.


"Kenapa?" jawab Bayu pelan sambil memperhatikan sekitar. Netra hitamnya mencari keberadaan sang istri.


"Nyari Mbak Aish, ya?" tanya Erina, “Mbak Aish lagi nyuci piring dan beres-beres di belakang.” Melihat tatapan Bayu yang memicing, ia pun bergegas melanjutkan kalimatnya. “Bukannya harus begitu, ya, kalau lagi main ke rumah mertua? Mesti rajin.”


Bayu yang merasa enggan menanggapi omongan adiknya memilih diam. Ini masih terlalu pagi untuk berdebat dengan sang adik.

__ADS_1


"Ehm … tasnya Mbak Aish betul dapat dari kado pernikahan, ya? Bagus banget, Erin suka lihatnya. Apalagi kalau Erin juga dibelikan tas kayak gitu, Mas. ”


Bayu hanya melirik Erina sekilas. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini, tetapi terlalu malas untuk meladeni. Ia tak ada uang untuk membeli tas bermerek. Untuk makan sehari-hari saja ia mendapatkan dengan penuh perjuangan. Melihat Bayu hanya diam saja, Erina gemas sendiri.


“Kalau aku minta dibelikan sama Mas Bayu bisa, kan, ya? Aku suka sekali dengan warna dan model tasnya, Mas,” rengek Erina sambil bergelayut manja di lengan sang kakak.


Satu detik, dua detik, hingga lima menit berlalu, Bayu masih bungkam.


"Mas Bayu! Jangan diam saja. Jawab, dong! ini malahan bengong. Masa nggak mau beliin tas buat adiknya. Mas Bayu udah nggak sayang, ya, sama Erin?” cerca Erin.


Bayu mendengkus. Mengenal dengan baik watak Erina yang tidak bisa dibantah, ia pun akhirnya menyetujui permintaan sang adik. "Iya, nanti kalau mas sudah gajian, mas belikan. Tapi mas nggak bisa janji kapan belikan tasnya.”


“Kok, gitu? Nggak bisa minggu ini belikan tasnya? Bukannya Mas gajian tiap Minggu?” kesal Erina.


“Nggak usah sok tahu soal gaji mas. Intinya, sekarang mas sudah menikah. Ada tanggung jawab lain yang mas emban. Mas harus bisa memberikan nafkah juga buat Mbak Aish. Kalau soal tas, itu bukan hal yang harus disegerakan, bukan?”


“Aku juga masih tanggung jawab Mas!”


“Iya, mas tahu. Tapi tolong kamu ngerti, keadaannya sekarang nggak memungkinkan untuk membelikan kamu tas. Doakan rezekinya mas lancar, nanti kalau udah ada uang, mas belikan tas buat kamu.” Bayu mencoba memberikan pengertian pada sang adik.


"Betul, ya, Mas. Janji, loh, mau beliin tas kayak punyanya Mbak Aisyah."


Bayu hanya bisa mengangguk pasrah. Entah kapan ia bisa membelikan sang adik tas seperti janjinya. Sehari saja ia hanya mampu membawa uang paling banyak enam puluh ribu. Ia juga pernah pulang hanya membawa uang sepuluh ribu karena bengkel sepi. Sudah beruntung Ais tidak pernah menuntut apa pun. Bayu hanya bisa berharap ke depan ia diberikan kelancaran rezeki.


Erina bersenandung ria meninggalkan Bayu yang duduk termangu. Aisyah yang mendengar perbincangan kakak-adik itu hanya bisa menghela napas pasrah. Ia genggam uang lima belas ribu pemberian Bayu kemarin. Seandainya ia tidak bekerja, pasti kondisi ekonomi mereka akan semakin merana.


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


__ADS_2