Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
44_Terlalu Cuek


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**************...


 


Tengah malam, tiba-tiba Aisyah dilanda lapar. Semakin besar Zahra, semakin kuat pula bayi cantik itu menyu*u.


 


Dengan perlahan, Aisyah meletakkan Zahra ke pembaringan. Ia rapikan kembali celana lucu dengan corak polkadot, agar melingkar sempurna di pinggang Zahra yang semakin gembul. Asi eksklusif yang di rencanakan Aisyah benar-benar membuat Zahra berkembang dengan sangat baik.


 


Sejenak, Aisyah pandangi wajah cantik anaknya. Berkali-kali ia mengecup tangan mungil Zahra dengan penuh cinta. Lalu, pandangannya bergeser pada Bayu yang kini juga sudah terlelap.


 


Masih jelas teringat rentetan tausiyah panjang berisi gerutuan dari Bayu selama perjalanan pulang tadi. Tentu karena ucapan yang selalu saja menusuk hatinya. Apalagi, selama seminggu ini ia mendapat shif kedua. Namun, dari semua itu Aisyah masih bersyukur. Setidaknya selama seminggu ini, akhirnya Bayu menyempatkan waktu untuk menjemputnya.


 


Mengabaikan rasa sakit yang kini semakin ia anggap biasa, Aisyah beringsut dari tempat tidur untuk pergi ke dapur.


 


Sampai di sana, lagi-lagi ia harus memendam kecewa. Isi dari tudung saji tinggalah sisa bumbu rica ayam dan satu potong tempe goreng. Padahal seingatnya tadi pagi, ia masak lebih dari cukup. Bahkan sangat cukup untuk sarapan besok pagi.


 


"Ya, ampun," keluhnya memandangi isi tudung saji di meja.


 


Tak apa, yang penting, perut terisi. Daripada air sus*nya berkurang. Akan lebih membuatnya sedih bila sampai Zahra jadi rewel, bukan?


 


Aisyah mengambil piring di rak lalu membuka penutup mejicom. Namun, pemandangan di sana tidak kalah pedihnya. Hanya beberapa bagian saja yang masih bisa di makan. Selebihnya, nasi sudah mengering dan menempel di dinding mejicom.


 


Lagi dan lagi, Aisyah dibuat kembali menghela napas besar. Berharap kesabaran masih akan terus berteman dengannya. Setiap saat, setiap waktu.


 


Dalam diamnya ia menyendokkan nasi ke mulutnya, Aisyah kembali teringat akan perhatian Tian beberapa waktu yang lalu. Dia yang hanya orang luar. Namun, perhatiannya melebihi anggota keluarga. Apa salah berharap keluarganya akan memberi kepedulian padanya?


 


Lagi-lagi kata andai lebih banyak berada dalam angannya.


 


Keesokan harinya, kembali Aisyah memulai rutinitasnya. Kali ini, sambil menggendong Zahra ia mengupas bawang untuk ia jadikan bumbu. Pagi-pagi, ibu mertuanya harus pergi takziah ke tetangga jauh. Meskipun ada Erina yang terlihat nganggur, lebih baik ia mengerjakan sendiri untuk memasak. Daripada satu tegurannya akan menjadi masalah baru nantinya.


 


Saat masakan ala kadarnya sudah siap di meja makan, Aisyah kembali dibuat kesal. Hadirnya Erina yang sudah duduk di meja makan membuatnya menghela napas. Tanpa sungkan sedikit pun tentunya. Mungkin ia harus punya stok sabar lebih banyak lagi.


 


Sehingga, hampir tengah hari Aisyah masih dibuat kerepotan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Aisyah sampai belum sempat makan sama sekali sampai hendak kembali bekerja.


 


Baru saja Aisyah sampai di meja kerjanya, ia dibuat terkejut saat mendapati nasi box bertuliskan label rumah makan yang tidak jauh dari pabriknya.


 


 Aisyah melihat seisi ruangan untuk menanyakan siapa yang meletakkan makanan di mejanya. Witri tidak ada di bangkunya. Untuk yang lain, ia sedikit canggung bila harus bertanya perihal ini. Sungkan saja bila ia menjadi satu-satunya penerima nasi box itu.


 

__ADS_1


"Cari siapa, Ais?" tanya Tian seraya menepuk bahu Aisyah. Ia muncul dari kamar mandi, terlihat dari ujung rambutnya yang masih ada titik-titik air.


 


"Ngg ...." Aisyah bingung sendiri jika harus menayakan kebingungannya pada Tian. Sedangkan ia baru saja melihat Tian meletakkan satu cup teh hangat di samping nasi box yang menjadi letak kebingungan Aisyah.


 


"Dimakan, ya! Aku lihat dari tadi di depan gerbang pabrik, kamu lemes banget. Jadi aku kasih itu ke kamu. Biar nanti nggak lemes kerjanya." Penjelasan Tian dengan dagunya yang menunjuk letak nasi box menjawab kebingungan Aisyah.


 


"Ng... Ngapain repot-repot, sih. Aku jadi nggak enak."


 


"Nggak repot juga. Kan, kalau kerjaan kamu beres yang untung, kan, aku juga," jelasnya sambil berlalu dengan senyum simpul. Meninggalkan Aisyah yang masih diam termangu.


 


Hingga, untuk hari-hari selanjutnya, Tian semakin banyak menunjukkan perhatiannya. Tentu Aisyah merasa semakin janggal dibuatnya. Terlebih, sesekali Witri justru menambah rasa tak nyaman di benaknya.


 


Seperti hari ini, Tian sengaja mengambil alih pekerjaannya dengan dalih takut salah karena berkali-kali melihatnya menguap. Memang sepulangnya dari pabrik kemarin, Zahra agak rewel karena habis imunisasi. Alhasil, Aisyah ikut begadang dan hanya bisa memejamkan mata tidak kurang dari dua jam.


 


Aisyah sempat menolak. Namun, Tian terus memaksa. "Nggak apa, Ais. Kita ini kan satu tim, harus saling membantu. Kamu ke kamar mandi sana, cuci muka biar lebih seger. Ini biar aku yang handle."


 


Itu yang terjadi sebelum waktu ashar tadi. Sekarang, lagi-lagi Tian memanggil Aisyah dengan berlari kecil. Ia menenteng dua kresek berbeda warna dari arah parkiran.


 


Aisyah berhenti untuk menunggu Tian mengungkapkan maksudnya. Barangkali ada kesalahan atau pesan penting untuknya.


 


 


"Apa ini?" tanya Aisyah sedikit membuka isi kresek putih yang sudah berpindah di tangannya.


 


"Tadi beli di depan. Pas aku cari keperluan tadi, ketemu kenalan lama lagi pertama kali jualan. Itung-itung ikut ngelarisin, aku beli dua. Jadi, aku kasih ke kamu satu."


 


Aisyah kembali merasa tidak enak, tapi jika untuk mengembalikan, rasanya tidak nyaman. Dikira, tidak menghargai pemberian orang.


 


Meskipun terlihat kaku. Aisyah tersenyum hingga membentuk lengkungan manis di sana setelah berucap terimakasih pada Tian.


 


Lagi-lagi, Tian dibuat terpikat oleh senyuman Aisyah. Meskipun tampak lelah lebih mendominasi.


 


Saat Aisyah hendak berbalik, Tian lekas menahan lengannya.


 


"Ada lagi," ucap Tian seiring satu tangan berisi satu kresek berwarna khas minimarket di sodorkan ke arah Aisyah.


 


"Ini apalagi, Pak Tian?" tanya Aisyah dengan alis hampir tertaut.


 

__ADS_1


"Itu punya keponakan. Katanya, beli trus kesempitan. Nitip buat diretur ke tokonya. Eh, kata kasirnya udah lebih dari 1x 24 jam, jadi nggak bisa diretur. Yaaa ... daripada nggak kepake aku kasih ke kamu. Kali aja bisa berguna buat anak kamu." Sesungguhnya Tian hanya mengarang cerita. Ia hanya ingin sedikit memberikan ala kadarnya pada ibu muda yang perlahan membuat hatinya menghangat.


 


Rasa segan sekaligus kurang nyaman kembali menghinggapi Aisyah. Meskipun ia sangat terbantu akan pemberian Tian, Aisyah tetap merasa jika ini terlalu banyak kebetulan. Khususnya untuk hari ini.


 


"Diterima, ya. Jangan kebanyakan mikir. Tuh, jemputannya sudah datang." Tunjuk Tian dengan dagunya mengarah pada Bayu yang sudah berada di luar pagar.


 


Aisyah mengangguk kaku setelah melihat Bayu memang sudah ada di luar pagar. "Sekali lagi, terimakasih, ya,  Pak Tian. Kalau gitu aku duluan," pamitnya dan mendapat anggukan dari Tian dengan senyum tak pernah luntur dari bibirnya.


 


Saat Aisyah meletakkan dua jinjingan di antara dasboard motornya, Bayu sudah bergumam mengomentari banyaknya bawaannya.


 


"Bukannya popoknya dedek masih banyak? Kok, udah beli lagi. Nggak sayang uang kamu. Kan bisa beli yang lebih penting dulu."


 


Dibanding meladeni ucapan suaminya, Aisyah lekas naik ke atas motor. Lelah seharian bekerja membuatnya malas beradu mulut apalagi saat di jalanan. Ditambah lagi, segala perhatian Tian dari pertama kenal hingga hari ini membuatnya benar-benar tidak nyaman.


 


Sampai di rumah, Aisyah segera membersihkan diri. Mencuci muka, dan mengelap tubuhnya dengan washlap. Ia tidak berani mandi di malam hari karena Zahra masih menyusunya. Menurut kerabat jauhnya bila sehabis bepergian hendaknya mencuci dulu bagian-bagian yang terbuka. Sedangkan untuk dua pusat kehidupan Zahra juga tak luput dari sasaran untuk dibersihkan.


 


"Mas, ini ada martabak manis. Mau?" tawar Aisyah saat sudah masuk ke kamar.


 


Bayu yang baru saja akan merebahkan tubuhnya urung karena tawaran Aisyah.


 


"Katanya hemat, kok bisa-bisanya jajan di tanggal tua begini?" ucap Bayu. Namun, tangannya tetap terulur untuk mengambil potongan martabak manis yang menggoda lidah.


 


Mungkin ini saatnya Aisyah menceritakan resahnya dari tadi. "Jadi gini, Mas. Aku kan ada teman baru di divisi aku. Nah dia itu yang kasih ini semua. Bukan aku yang beli."


 


"Terus?" ujar Bayu pura-pura antusias. Kali ini ia kembali memasukkan potongan kedua ke mulutnya. Rasa martabak manis lebih menggiurkan daripada menanggapi rentetan cerita istrinya yang tidak menarik sedikit pun.


 


"Ya, itu. Dia itu udah punya istri loh, Mas. Masa' iya kasih perhatian gini ke aku." Aisyah kembali menceritakan perhatian-perhatian lain dari Tian. Namun, itu tak mengubah apa pun untuk Bayu bereaksi pada umumnya. Bereaksi sebagaimana seorang suami yang mendengar istrinya mendapatkan perhatian lebih dari lawan jenisnya.


 


"Oh, hanya itu."


 


Jawaban Bayu membuat Aisyah melongo sejenak. Sungguh ini di luar perkiraannya. Bila di tokoh-tokoh novel yang ia baca atau setidaknya suami pada umumnya, pasti ada rasa khawatir bukan, jika menghadapi hal semacam ini?


 


Tapi, inilah respon Bayu yang justru membuat Aisyah semakin bingung.


 


...**************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏

__ADS_1


 


 


__ADS_2