Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
82_Kabar Buruk


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**************...


Akhir pekan bagi Bayu adalah hari yang menyesakkan. Bagaimana tidak? Pada hari itu, sebagian besar buruh pabrik mempergunakan akhir pekan mereka untuk keluarga, tetapi Bayu hanya bisa menahan rasa. Ingin sekali ia seperti keluarga kecil lainnya. Mengajak sang putri jalan-jalan menikmati udara sore yang hangat. Atau nongkrong di angkringan bersama istri tercinta.


Namun, semua itu khayalan semata. Nyatanya Aisyah selalu menolak kehadirannya. Meskipun tidak secara terang-terangan, tetapi Bayu bisa menebak pikiran Aisyah.


Bayu tidak pernah putus asa. Ia tetap mengunjungi putrinya ketika hari libur. Ia tidak menghiraukan Aisyah yang terkadang bersikap ketus padanya. Sebab Bayu benar-benar ingin mempertahankan rumah tangga mereka.


Matahari semakin tinggi ketika lelaki itu memanasi motor di depan rumah. Seperti biasa, Bayu akan mengunjungi putri kecilnya. Selama sepekan ia menumpuk rindu, kini saatnya Bayu menumpahkan rindunya kepada sang putri.


"Bayu pamit dulu, Bu. Doakan Bayu, semoga hati Aisyah bisa luluh," ucap Bayu seraya mencium punggung tangan Ambar, beberapa saat sebelum ia berangkat menuju ke rumah Agung.


"Hati-hati di jalan, Nak. Ibu selalu mendoakan kalian. Ibu juga berharap Aisyah mau kembali padamu." Ambar melepas kepergian sang putra hingga bayangannya menghilang di belokan gang.


Semenjak Zahra tinggal di rumah Agung, kegiatan Ambar berubah. Sejatinya wanita paruh baya tersebut kesepian. Dulu, kesibukan mengasuh Zahra menjadi hiburan untuk Ambar. Namun sekarang, ia harus mencari kegiatan baru agar pikirannya tidak dipenuhi senyum Zahra.


Kini Ambar lebih sering merawat bunga-bunga yang tumbuh di halaman depan. Ia berusaha untuk tidak peduli dengan suami dan anak bungsunya yang sering kali membuat amarahnya mencuat.


...************...


Sementara itu di sebuah kamar kecil, Aisyah merebahkan diri di samping putri kecilnya. Ia ingin menikmati hari libur ini dengan mendampingi Zahra bermain. Hari menjelang siang ketika Zahra sibuk dengan mainan di lantai kamar. Aisyah pun dengan sabar menemani dan menanggapi celotehan-celotehan putri kecilnya.


Hari semakin siang. Matahari sedang terik-teriknya ketika memasuki jam makam siang bayi itu.


"Mbak, ini makan siang Zahra udah Diana siapin," ucap gadis itu setelah membuka pintu kamar Aisyah.


Aisyah yang hampir tertidur segera terjaga. Ia melirik jam yang menempel pada dinding kamarnya.


"Udah siang ternyata, makasih, ya, Di." Aisyah bangkit dan segera menggendong Zahra untuk ia bawa ke ruang makan.


Setelah mencuci tangan Zahra dan tangannya sendiri, Aisyah mendudukkan bocah itu di kursi kecil di dekat televisi.


"Anak bunda maem dulu, ya. Aaa ...." Aisyah dengan sabar menyuapi putri kecilnya seraya mengajak bercerita.


Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan makan siang bayi itu. Akhirya Zahra pun tertidur, 20 menit setelah makan. Aisyah menidurkan Zahra di atas kasur. Ia ikut menikmati tidur siang di sisi putrinya.


Waktu menunjukkan pukul dua siang ketika suara dering ponsel mengganggu Diana. Gadis itu sedang menonton drama di depan televisi. Fokusnya terganggu ketika suara ponsel dari kamar Aisyah berdering berulang kali. Gadis itu penasaran hingga ia mendatangi kamar Aisyah yang pintunga tidak tertutup sempurna.


Diana melihat Aisyah tertidur pulas di samping Zahra. Sedangkan ponsel yang berdering itu berada di atas meja rias yang berjarak sekitar dua meter dari ranjang. Diana menghampiri ponsel tersebut. Ia melihat nama ibu mertua kakaknya tampak pada layar.


Perlahan Diana menghampiri Aisyah dan mengguncang tubuh kakaknya dengan lembut.


"Mbak, bangun. Ini ibunya mas Bayu telpon," ucap Diana sambil terus mengguncang tubuh kakaknya.

__ADS_1


"Mbak, bangun, Mbak!" Diana mengulang lagi ketika Aisyah tetap bergeming.


Pada panggilan ketiga, Aisyah mulai terusik oleh suara Diana. Ia menggeliat dan menatap Diana yang ada di dekatnya.


"Ada apa, Di?"


"Ini ibunya mas Bayu dari tadi telepon," terang Diana. Ia menyerahkan ponsel Aisyah yang masih terus berdering.


Aisyah segera menerimanya. Ia menggeser tombol dial dan segera menjawab, "Halo, assalamualaikum, Bu."


"Waalaikumsalam, Aish. Aish sekarang lagi ada di mana?"


"Di rumah, Bu. Habis ngelonin Zahra. Ada apa, Bu," tanya Aisyah. Ia menangkap kekhawatiran dari setiap helaan napas yang terdengar di indera pendengarannya.


"Ibu sekarang ada di RSUD. Aisyah bisa datang sekarang?" pinta Ambar.


"RSUD? Ibu sakit? Ibu sama siapa? Apa mas Bayu tidak mengantar Ibu?" Aisyah mencerca dengan berbagai pertanyaan. Wanita itu sedikit dongkol dengan Bayu, sebab ia pikir Bayu pasti tidak mau mengantar ibunya ke rumah sakit.


"Nanti ibu jelaskan di sini, Nak. Yang penting Aisyah datang sekarang!"


"Iya, Bu. Tunggu sebentar Aisyah segera kesana," jawab Aisyah dengan raut muka panik.


Aisyah begegas turun dari tempat tidur dan segera mengganti bajunya dengan baju yang lebih layak.


"Ada apa, Mbak? Apa bu Ambar baik-baik saja?" tanya Diana ketika melihat Aisyah terburu-buru. Ia sedikit mendengar perkataan Aisyah tadi.


Diana tersenyum dan mengangguk, "Iya, Mbak. Masalah Zahra nggak usah khawatir. Mbak hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Diana."


"Makasih, Di. Mbak pergi dulu."


Di luar sana, ojek online sudah menunggu. Aisyah segera duduk di kursi belakang setelah memakai helm yang diberikan sang driver. Mereka segera melaju menuju RSUD. Selama perjalanan, perasaan Aisyah tidak karuan. Ia tidak bisa tenang memikirkan Ambar yang sendirian di rumah sakit.


...***********...


"Ibu ada di ruang mana? Aish sudah tiba di pintu utama," tanya Aisyah melalui ponselnya.


"Ibu ada di depan kamar operasi, Nak. Ibu ...."


"Baik, Bu. Aisyah segera tiba," potong Aisyah.


Wanita itu bergegas menuju ruang operasi setelah bertanya pada perawat yang jaga. Ia berjalan sesuai petunjuk yang diberikan oleh perawat tadi.


"Ibu!" pekik Aisyah.


Wanita itu terkejut melihat Ambar berdiri di depan ruang operasi. Di kursi tak jauh dari Ambar, tampak Herman duduk dengan kepala tertunjuk. Kedua tangannya menopang kepala dengan siku diletakkan di atas lutut.

__ADS_1


Aisyah semakin heran, ia mendekati Ambar. "Ibu kenapa? Ini ada apa, Bu?"


Aisyah melihat mata sembab sang ibu mertua. Ambar pun segera memeluk Aisyah dan mengelus punggung sang menantu.


"Ada apa, Bu? Apa Erina mau melahirkan? Kenapa Ibu menangis?" Aisyah semakin bingung, pasalnya ia tidak melihat suami Erina di sana jika memang Erina mau melahirkan.


"Ini semua gara-gara kamu. Bayu nggak akan seperti ini kalau dia tidak ngotot datang ke rumahmu!" seru Herman.


Ambar segera melerai pelukannya ketika suara Herman mengejutkan mereka.


"Bapak nggak seharusnya ngomong begini! Lebih baik Bapak pergi dari sini kalau hanya ingin memperumit masalah!" bentak Ambar pada sang suami.


Baru kali ini Ambar terlihat marah kepada Herman. Padahal selama ini Ambar selalu bersabar menghadapi sikap suaminya.


"Memangnya mas Bayu kenapa, Bu?" lirih Aisyah. Ia begitu bingung dengan keadaan saat ini. Apalagi ketika melihat Herman pergi dari ruangan itu dengan raut muka yang sedih.


"Duduk, Aish." Ambar mengajak Aisyah duduk di bangku besi tak jauh dari posisinya saat ini.


"Kita sedang diuji, Nak. Ibu tidak tahu seberapa besar masalah kalian. Tapi ibu mohon, tolong maafkan Bayu. Ibu mohon keikhlasan Aisyah untuk memaafkan putra ibu agar dia diberi kelapangan dalam menghadapi maut," lirih Ambar sembari menyeka air matanya. Sekuat apa pun ia berusaha menahan air mata, tetapi seorang ibu tak akan sanggup menerima kabar yang begitu mengejutkan.


"Maksud Ibu apa?" tanya Aisyah. Wanita itu pun mulai menitikkan air mata. Ia merasa bahwa ini adalah jawaban dari rasa tidak tenangnya selama di perjalanan tadi. Ia yakin bahwa suaminya saat ini sedang tidak baik-baik saja di dalam kamar operasi.


"Bayu mengalami kecelakaan tadi pagi waktu perjalanan menuju ke rumahmu, Nak. Polisi baru memberi tahu ibu satu jam yang lalu. Saat ini Bayu ada di kamar operasi. Kita doakan untuk keselamatannya, ya," pinta Ambar dengan air mata berderai.


Bagaikan disambar petir di siang bolong, Aisyah membeku mendengar penuturan Ambar. Walau bagaimanapun, Bayu masih suaminya, ayah dari putri kecilnya.


"Apakah ini karma untukku karena tidak menuruti mas Bayu?" lirihnya dalam hari.


Aisyah merasa bersalah. Beberapa hari yang lalu, Aisyah bertekad untuk memperbaiki sikapnya pada Bayu. Setelah mendengar pengajian di rumah saudaranya tempo hari, Aisyah berjanji akan memberikan kesempatan kedua pada sang suami. Akan tetapi, sebelum janjinya terlaksana, Aisyah dikejutkan oleh kenyataan yang begitu menyakitkan.


"Bayu kritis, Aish. Dokter bilang dia banyak kehilangan darah. Ibu mohon, Aish bisa memaafkan semua kesalahan Bayu, ya."


Suara tangisan sang ibu mertua semakin membuat dada Aisyah sesak. Ia pun menangis sambil menganggukkan kepalanya.


"Aisyah sudah memaafkan mas Bayu, Bu. Aisyah minta maaf. Aisyah yang salah sudah mengabaikan mas Bayu selama ini. Aisyah janji, Aisyah akan kembali merawat mas Bayu seperti dulu. Aisyah janji nggak akan ninggalin mas Bayu lagi!"


Tangisan pilu kedua wanita itu menjadi perhatian beberapa orang yang melintas. Hingga mereka tidak menyadari jika lampu indikator di atas pintu ruang operasi sudah padam.


"Keluarga bapak Bayu," ucap seseorang yang baru saja keluar dari kamar operasi mengalihkan atensi kedua wanita yang masih berpelukan di kursi ruang tunggu.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏

__ADS_1


 


 


__ADS_2