Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
72_Ayo Kita Pulang!


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**************...


 


Sudah tiga hari Aisyah bergabung kembali di tim produksi. Hari ini ia mendapat shift siang. Mau tidak mau, nanti malam ia harus pulang ke tempat kost. Aisyah membawa travel bag berisi beberapa lembar pakaian. Ia sengaja berangkat lebih awal dan mampir ke minimarket dekat pabrik untuk membeli beberapa kebutuhan.


 


Aisyah sengaja belanja siang ini, sebab sepulang kerja nanti, tidak memungkinkan untuk wanita itu berbelanja. Travel bag dan belanjaan ia titipkan di pos satpam. Aisyah berpikir akan lebih mudah jika dititipkan di sana, sebab ia tidak harus membawanya hingga ke ruangan Aisyah.


 


Seperti biasanya, hanya ada tiga orang di ruangan itu setelah jam lima sore. Aisyah segera fokus dengan pekerjaannya. Ia tidak ingin hal yang dulu terulang kembali. Meskipun Aisyah tahu, Tian masih sering mencuri pandang ke arahnya. Namun, Aisyah berusaha untuk tetap profesional.


 


Begitu pula dengan Tian. Lelaki itu berusaha menahan diri untuk tidak mendekati Aisyah. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya merasa bahagia atas kembalinya Aisyah di kantor ini. Tian juga berusaha untuk tidak mencampuradukkan perasaannya dengan pekerjaan. Selama mereka berada di kantor, mereka hanyalah sebatas rekan kerja.


 


...************...


 


Sementara itu di sebuah kontrakan sederhana, Bayu menatap langit-langit kamar yang mulai terlihat kusam. Hari ini lelaki itu mendapat shift pagi. Sepulang dari pabrik ia mendapat kabar dari Diana jika Aisyah masuk siang. Bayu berinisiatif untuk menjemput wanita yang masih menjadi istrinya itu di pabrik tempat Aisyah mengais rezeki.


 


Detik demi detik terasa begitu lama bagi Bayu. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Aisyah. Bahkan jika Bayu boleh mengakui, ia begitu merindukan sosok Aisyah. Akan tetapi, keberaniannya saat itu tidak lebih besar dari penyesalan yang memenuhi hatinya.


 


Untuk saat ini, Bayu hanya ingin berperan sebagai suami yang sesungguhnya. Mengantar jemput sang istri dari dan ke tempat kerjanya. Memijit kaki sang istri ketika ia lelah dan hal lain yang selama ini belum pernah Bayu lakukan untuk Aisyah.


 


Bayu bangkit dari tempat tidur ketika azan Maghrib berkumandang. Ia bergegas mengambil kain sarung dan peci untuk segera ia kenakan. Tidak lama berselang, lelaki itu keluar dari kontrakan dan pergi ke masjid tidak jauh dari kontrakan.


 


Bayu sengaja berlama-lama di masjid. Sebab jika ia menunggu jam kepulangan Aisyah di rumah, Bayu merasa waktu berhenti hanya sampai di situ.


 


"Tidak pulang, Bay?" tanya Pak RT ketika melihat Bayu duduk di serambi masjib selepas Isya.


 


"Sebentar lagi, Pak. Masih pengen cari udara segar. Di rumah rasanya panas sekali," jawab Bayu.


 


"Memang sekarang cuaca tidak menentu, ya. Kadang panas, kadang hujan. Bikin udara gerah gini. Ya, sudah, bapak duluan, ya." Pak RT berlalu dari tempat itu setelah berpamitan kepada Bayu.


 


Sepeninggal pak RT, Bayu yang semula berencana untuk lebih lama di serambi masjid, mendadak harus kembali ke rumah ketika perutnya terasa tidak nyaman. Gegara pikirannya tertuju pada Aisyah, Bayu sampai lupa membeli nasi bungkus sepulang dari pabrik tadi sore.


 


Setibanya di rumah, Bayu segera berganti baju dan mengambil kunci motornya. Kemudian ia pergi ke sebuah angkringan yang letaknnya berada di sekitar pabrik tempat Aisyah bekerja.


 


...*************...


... ...


"Mbak Aish mau aku bikinin kopi?" tanya seseorang yang duduk di dekat pintu.


 


Aisyah mengalihkan pandangannya dari layar datar di depannya. Ia menatap lelaki muda yang baru saja menawari kopi."Terima kasih, jika tidak merepotkan, bolehlah."


 


"Pak Tian mau? Tapi kopiku nggak seenak buatan Pak Tian," tawarnya.


 


Tian hanya mengangguk menanggapi tawaran itu.


 


Hari semakin malam, jam di dinding pun terus berputar mengikuti jalannya sang waktu. Aisyah bersiap-siap untuk kembali ke tempat kost. Sejak sepuluh menit yang lalu, shift siang berakhir. Wanita itu berdiri setelah mencangklong tas slempangnya.


 

__ADS_1


"Saya duluan, Pak Tian," pamit Aisyah.


 


Tidak berniat menunggu jawaban dari lelaki itu, Aisyah segera mengayunkan kaki meninggalkan ruangan itu. Sebenarnya ia merasa sungkan untuk keluar lebih dulu dari dua lelaki yang ada dalam ruangan itu. Namun apa boleh buat, Aisyah tidak ingin terlalu larut berada di tempat itu. Ada sedikit rasa takut ia harus berjalan sendiri menuju tempat kost barunya.


 


"Aish, tunggu!"


 


Teriakan itu menghentikan langkah Aisyah yang hampir tiba di depan lift. Wanita itu menoleh dan mendapati Tian tergopoh-gopoh menuju ke arahnya. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Tian berusaha mengatur napas ketika ia tiba di samping Aisyah.


 


"Ada apa, Pak?" tanya Aisyah.


 


"Aku antar sampai kost! Aku nggak tega lihat kamu jalan sendiri malam-malam begini," titah Tian penuh penegasan. Dari nada kalimatnya, ini tidak terdengar seperti tawaran. Namun, lebih kepada sebuah perintah.


 


"Insyaallah, Aish berani, Pak. Kan nggak jauh dari sini," jawab Aisyah sopan. Wanita itu terpaksa berbohong sebab tidak ingin merepotkan orang lain.


 


Pintu di lift akhirnya terbuka. Beberapa karyawan bergegas masuk agar segera tiba di lantai satu. Termasuk Aisyah dan Tian yang ikut berdesakan di dalam ruang berjalan itu.


 


Septian memosisikan dirinya di samping Aisyah. Tubuh tegapnya tetap siaga melindungi tubuh kecil Aisyah dari sesaknya orang-orang di ruang itu. Tidak ada yang mereka bicarakan, karena memang Aisyah tidak berminat untuk membuka percakapan di antara mereka.


 


Lift berhenti di lantai satu. Begitu pintu terbuka, mereka berhamburan keluar sesuai dengan tujuannya. Aisyah segera menuju pos satpam di depan kantor untuk mengambil barang yang ia titipkan tadi siang. Sedangkan Tian masih setia mengekori Aisyah.


 


"Tidak apa-apa kamu enggak berbicara denganku, Aish. Setidaknya biarkan aku menjagamu dengan cara seperti ini," lirih Tian dalam hati.


 


Selama perceraiannya dengan Ajeng, Tian belum berkeinginan untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita. Sebab, Tian masih berharap jika dirinya akan dipertemukan kembali dengan wanita yang sudah membuatnya tetap bertahan. Wanita itu adalah Aisyah Khumaira, wanita sederhana yang selalu terlihat menyimpan luka di setiap senyum yang ia terbitkan.


 


 


"Terima kasih, Pak," ujar Aisyah dengan sopan.


 


"Sama-sama, Neng Aish," jawab Bapak itu dengan logat sunda yang kental.


 


Melihat hal itu, tanpa berpikir lama Tian segera menghampiri wanita itu dan meraih travel bag yang tergeletak di lantai.


 


"Aku bantu, Aish. Siniin kantong yang satu!" seru Tian.


 


"Aduh, maaf jadi merepotkan Pak Tian." Aisyah tidak memberikan salah satu kantong plastik di tangannya, hingga secepat kilat Tian sudah memindahkan kantong itu ke tangannya.


 


"Ayo, ntar keburu malam. Kamu pasti capek."


 


Tidak ada alasan untuk menolak bantuan Tian kali ini, karena ia memang benar-benar membutuhkannya. Mereka berjalan beriringan keluar dari gerbang pabrik. Rumah kontrakan Tian yang tidak jauh dari pabrik membuat lelaki itu sering berjalan kaki ke kantornya. Ia berpikir, ke depannya ia akan lebih sering berjalan kaki karena kost Aisyah juga searah dengan kontrakannya.


 


Sementara itu, Bayu yang duduk di atas motornya saat ini berhenti di tepi jalan. Dia berjejer dengan orang-orang yang sama-sama ingin menjemput keluarga mereka di pabrik. Bayu menajamkan pandangannya untuk menemukan sang istri. Ketika satu per satu orang-orang di dekatnya mulai pergi, Bayu dikejutkan oleh pemandangan yang membuat darahnya mendidih.


 


Rahangnya mengeras begitu melihat Aisyah keluar dari gerbang bersama seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Apalagi mereka tampak akrab. Bayu mengenali travel bag yang ada ditangan Tian. Ya, tas itu milik Asiyah--istrinya.


 


Bayu segera turun dari motor dan mengejar langkah Aisyah. Ia tidak peduli lagi dengan sekitarnya yang masih ramai oleh karyawan pabrik.


 

__ADS_1


"Aisyah!"


 


Merasa dirinya dipanggil oleh suara yang tidak asing, Asiyah segera menoleh. Begitu pula dengan Tian.


 


"Mas Bayu!" pekit Aisyah.


 


Matanya membulat sempurna melihat kehadiran suaminya di situ. Pasalnya selama mereka menikah, baru kali ini Bayu berada di tempat ini di malam hari tanpa permintaan Aisyah.


 


Bayu menghampiri mereka, ia menatap sinis ke arah Tian dan segera merebut travel bag dari tangan Tian.


 


"Mas Bayu apa-apaan?" lirih Aisyah. Ia merasa tidak enak dengan Tian.


 


"Ayo kita pulang!" Bayu mencekal pergelangan tangan Aisyah dengan kasar.


 


Aisyah segera menepis tangan Bayu. "Mas, kamu sudah tidak sopan!"


 


Mata Bayu nyalang menatap kedua orang itu bergantian. "Kamu mau ke mana? Kamu nggak mau pulang ke kontrakan?"


 


"Maaf, Mas. Aish mau pulang ke tempat kost. Mas tidak perlu repot mikirin Aish," jawab Ais masih berusaha untuk bersabar.


 


Tian yang melihat pemandangan di depannya merasa sungkan. Ia bingung harus bagimana.


 


"Kenapa kamu malah pulang ke kost? Ayo, kita pulang ke kontrakan!" titah Bayu.


 


"Mas, jangan paksa Aish! Tolong hargai keputusan Aish. Mas Bayu jangan seenaknya main perintah!" Kali ini kesabaran Aisyah benar-benar diuji.


 


Bayu terdiam, ia tersadar jika tujuannya kali ini adalah untuk memperbaiki hubungan mereka. Tidak seharusnya Bayu terpancing emosi yang bisa membuat segalanya berantakan.


 


"Baiklah. Maafin mas. Izinkan mas mengantarmu ke tempat kost kamu."


 


Melihat beberapa orang memperhatikan mereka sedari tadi, Aisyah pun mengalah. "Pak Tian, terima kasih atas bantuan Bapak. Tapi, sepertinya malam ini biar suami saya yang mengantar saya pulang."


 


"Oh, iya, Aish. Nggak apa-apa." Tian menyerahkan kantong plastik di tangannya kepada Aisyah, "kamu hati-hati, ya. Kalau begitu saya pulang duluan."


 


Tian segera meninggalkan pasangan itu. Ia tidak mau terlibat terlalu jauh dalam urusan mereka.


 


"Aku hargai niatan kamu, Mas. Tapi Mas harus tahu jika hal ini tidak akan membuat keputusan Aish berubah."


 


Bayu dan Aisyah berjalan ke arah motor Bayu. Malam ini Aisyah membiarkan Bayu mengantarnya karena ia tidak ingin orang-orang yang melihat kejadian itu salah paham.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


Haii gaess, jangan lupa tinggalkan pesan kalian untuk Bayu, ya.


Tolong kasih saran juga untuk Bayu, bagaimana cara meluluhkan hati Aisyah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2