
...Selamat membaca...
...************...
Sepulang kerja, Aisyah menyimpan tes pack ke dalam laci. Meski ingin segera mencoba, nyatanya rasa ragu itu masih meraja. Ia tak ingin gegabah hingga berakhir kecewa. Dengan sisa tenaga yang ada, Aisyah segera menyiapkan makan malam untuknya dan Bayu.
Sambal terasi, lalapan timun, telur dadar juga ada tahu serta tempe goreng terasa menggunggah selera. Air liurnya seakan tak sabar ingin segera bercampur dengan sambal yang tengah ia tumbuk. Tidak lupa kerupuk menjadi pelengkap.
“Semoga mas Bayu segera pulang biar aku lekas bisa makan,” gumamnya sambil menata semua makanan di meja makan. Sembari menunggu kedatangan Bayu, ia pun membersihkan diri.
Badannya yang letih terasa segar setelah mandi. Entah ada angin apa, tiba-tiba saja ia ingin berdandan. Hal yang tak pernah ia lakukan setelah mandi sore. Jika biasanya cukup dengan menyisir rambut dan bedak tabur, kali ini ia menambahkan polesan lipstik berwarna nude. Tidak tebal, hanya tipis saja, tetapi membuat wajah Aisyah semakin manis.
Ragu, ia mengusap perutnya dengan lembut. “Kamu benar-benar ada di sana, Sayang? Jika kamu benar-benar ada, kamu harus baik-baik di sana, ya, hingga waktunya kita berjumpa tiba.” Senyum merekah tak bisa ia sembunyikan. Ada rasa bahagia yang membuncah dalam dada.
Suara dering telepon menyudahi kegiatannya mengusap perut sambil bicara dengan sang calon buah hati. Nama Diana muncul di layar utama, gegas ia menggeser icon berwarna hijau. “Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Wa’allaikumsalam.”
“Kenapa, Dek?”
“Mbak Aish baik-baik saja?”
“Iya. Mbak sehat. Kamu di sana sehat juga, kan?”
“Di, sehat, Mbak.”
Percakapan antara sang adik dan kakak itu pun mengalir begitu saja. Terlihat begitu seru karena tawa juga terselip di sana. Sudah lama Aisyah tidak berjumpa dengan sang adik. Empat bulan yang lalu, Diana harus mengikuti event di Makassar, sampai sekarang belum pulang ke kampung halaman karena setelah dari Makassar, harus ke Bali.
“Oh, ya, aku kapan dikasih ponakan yang lucu?”
Aisyah hanya tertawa menanggapi pertanyaan sang adik. Pasalnya pertanyaan itu tak pernah luput setiap kali Diana menelponnya.
“Mbak Aish ngeselin. Mbak sama mas Bayu nggak berencana menunda momongan, kan?”
Di sisa tawanya, Aisyah menanggapi kekesalan sang adik, “Mbak sama mas nggak nunda, kok. Doakan saja, Dek. Semoga kali ini kamu benar-benar dapat ponakan yang lucu.”
“Wah ...,” seru Diana dengan heboh. Entah apa yang telah ia lakukan di sana karena saking senangnya. “Emang Mbak Aish udah telat?”
“Ini udah telat seminggu, tapi mbak belum berani tes.”
“Cepetan di tes, Mbak. Aku udah nggak sabar.”
“Percuma dikasih ponakan kalau kamu nggak mau ngemong.”
“Ish, siapa bilang? Pasti bakal aku jagain ponakanku.”
“Mana bisa kamu jagain, orang kamunya aja keluyuran, nggak pernah pulang.”
“He ... he ....”
Hampir 30 menit mereka menghabiskan rindu lewat panggilan telepon, hingga suara pintu diketuk membuat Aisyah dan Diana mengakhiri sambungan teleponnya.
__ADS_1
“Habis telepon sama siapa, Dek? Seru banget kayaknya.” Ternyata suara Aisyah terdengar hingga luar rumah.
“Sama Diana, Mas.”
“Oh, kapan dia pulang? Udah lama, kan, Diana nggak pulang.”
“Katanya dua bulan lagi kalau jadi, habis dari Bali, Di mau ke Manado.”
“Pasti seneng, ya, bisa jalan-jalan terus.”
“Diana kerja, Mas,” protes Aisyah.
“Kan, bisa sambil jalan-jalan,” tutur Bayu, “aku mandi dulu.” Bayu berlalu untuk segera mandi. Ia sendiri sudah tidak tahan dengan bau bensin dan juga oli yang menyengat, bagaimana dengan Aisyah.
Usai mandi dan berganti pakaian, Bayu bergegas ke meja makan, tetapi pandangannya tertuju pada wajah manis istrinya.
“Kenapa, Mas?” tanya Aish saat Bayu menatapnya lekat.
“Tumben pakai lipstik. Ada angin apa?”
“Lagi pingin dandan aja, Mas.”
“Beneran cuma pingin dandan aja?”
Aisyah memicing menatap Bayu, “Maksud, Mas?”
Seketika Aisyah mendorong dada Bayu dengan pelan. Dilihatnya wajah Bayu yang tengah tersenyum tengil. “Pikirannya tolong dikondisikan, ya! Aish udah laper, Mas. Ayok makan!” ajak Aisyah.
Bayu tersenyum melihat tingkah sang istri. Meski kesal, nyatanya pipi Aisyah tetap merona karena ucapan sang suami. Bayu dan Aisyah makan dengan lahap.
“Tumben nambah, Dek?” tanya Bayu saat melihat Aisyah menambah nasi dalam piringnya.
“Aish laper banget.”
Bayu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri, hingga di suapan terakhir, Aisyah berhenti mengunyah. Rasa mual tiba-tiba saja menyerang.
“Kenapa?” Bayu keheranan melihat perubahan raut wajah sang istri.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Bayu, Aisyah membekap mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Semua makanan yang berhasil masuk ke dalam perut terpaksa ke luar semua. Aisyah memegang perutnya yang terus bergejolak hebat.
Bayu yang sedari tadi memperhatikan akhirnya menyusul Aisyah ke kamar mandi. Tangan kanannya memijat tengkuk Aisyah, sedangkan tangan kiri ia pakai untuk menutup hidungnya karena bau muntahan yang tidak sedap. Setelah membersihkan kamar mandi akibat muntahan, Bayu membawa Aisyah untuk duduk kembali di meja makan.
“Makanya jangan maruk. Makan, kok, kayak orang yang nggak makan seminggu aja. Makan itu sedikit juga nggak pa-pa, yang penting perut ke isi.” Bayu menggerutu karena ulah Aisyah nafsu makannya hilang. Namun, meski begitu ia tetap mengambilkan segelas air putih untuk Aisyah.
Aisyah hanya terdiam mendengar ocehan Bayu. Ia menyeka sudut matanya yang berair karena muntah tadi. Tubuhnya terasa lemas 80% kini ia meyakini bahwa apa yang ia pikirkan benar.
“Mas,” panggil Aisyah dengan lirih.
__ADS_1
“Hem.”
“Aish mau ngomong.”
Bayu yang tengah membereskan piring kotor untuk ditaruh di wastafel mengalihkan atensinya pada Aisyah.
“Apa?” tanya Bayu setelah duduk di sebelah Aisyah.
Aisyah mencoba mengumpulkan tenaga juga keberaniannya untuk membicarakan perihal ia yang sudah terlambat haid. “Aish sudah telat seminggu,” ucapnya lirih.
Bayu memicing, mencoba mencerna apa yang baru saja Aisyah sampaikan padanya. “Kamu hamil?” tanyanya setelah mengerti arah pembicaraan sang istri. Matanya berbinar penuh harap.
“Ehm, sebenarnya Aish belum tes. Tapi, melihat gejala yang Aish rasakan, sepertinya Aish hamil.”
“Kenapa nggak segera di tes?”
“Ehm, Aish ragu. Menurut Mas, Aish harus tes sekarang apa nunggu telat dua minggu?”
“Tes sekarang, Aish! Kalau memang kamu hamil, kita bisa segera langsung periksa ke bidan,” ujar Bayu penuh semangat.
Senyum terukir di wajah Ais melihat Bayu yang antusias untuk menyambut calon buah hati. Hatinya merasa lega, saat melihat Bayu bahagia. Bukan tanpa alasan Aisyah sebahagia itu. Pasalnya selama ini, Bayu tak pernah menyinggung soal anak. Yang Bayu mau hanya membuat dedek bayi, tapi tidak serta merta membicarakan tentang mau berapa anak atau ingin segera mendapatkan sang calon buah hati.
“Kalau begitu Aish tes dulu, ya.”
Bayu mengangguk penuh semangat. Hatinya diliputi rasa yang berkecamuk saat melihat Aisyah menutup kamar mandi. Aisyah membaca petunjuk penggunaan alat tes pack. Ia tidak ingin melakukan kesalahan karena hanya punya satu. Setelah menampung urinenya dalam gelas plastik bekas air mineral, Aisyah pun mencelupkan alat itu ke dalam urine. Tidak lupa kata ‘Bismillah’ menyertai dalam hati.
Hati Aisyah bertalu-talu. Deg-degan melanda. Ia takut jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia dan Bayu harapkan.
Setelah hampir satu menit Aisyah mencelupkan alat itu, kini ia dengan tangan gemetar melihat hasilnya. Air mata meluncur begitu saja dari sudut matanya. Penuh rasa syukur ia ucap ‘hamdallah’. Aisyah bergegas ke luar dari kamar mandi. Bayu yang sedari tadi tidak tenang karena menunggu segera menghampiri Aisyah.
“Bagaimana?”
Tidak ada jawaban dari Aisyah. Namun, dengan adanya dua garis merah yang tampak dari tes pack itu sudah meyakinkan Bayu jika istrinya kini tengah hamil.
“Alhamdulilah,” ucap Bayu sembari membawa Aisyah ke dalam pelukan. Hening, tidak ada lagi suara yang terdengar kecuali isakan Aisyah. Lama mereka berpelukan dalam diam.
“Semoga dengan hadirnya buah hati kita kamu bisa berubah, ya, Mas. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita kelak,” batin Aisyah sembari mengeratkan pelukannya.
...*******************...
...to be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1